Sejak kejadian tadi pagi Amel masih enggan menemui Dion hingga jam pulang, beberapa teman Amel juga mencoba terus menghibur Amel.
" Mel pulang bareng yuk " ajak Dika yang baru saja masuk kedalam ruangan Amel
" Ehh Iyah Kak, sebentar yah " Amel pun segera memasukkan barang barang miliknya kedalam tas
Setelah selesai Amel dan Dika keluar dari ruangan Amel bersamaan, dan bersamaan itu pula mereka berpapasan dengan Dion yang baru saja akan pulang.
" Sore Pak " sapa Dika, tapi Amel hanya menunduk
Dion tak menjawab apapun, ia jalan lebih dulu melewati keduanya.
Amel cukup lega karena setidaknya Dion tak mengganggu dirinya saat bersama Dika, dan Amel juga harus menekankan hubungannya dengan Dion memang tidak benar.
" Sini aku bantu " ucap Dika memakaikan helm untuk Amel
" Makasih Ka " ucap Amel sembari melemparkan senyuman
" Kita makan dulu yah, soalnya tadi siang kamu juga makan sedikit. Aku akan ajak kamu makan sate di tempat dulu kita makan, gimana kamu mau ? " ucap Dika, Amel dengan wajah gembira menggangguk
Motor Dika mulai melaju meninggalkan kantor, dalam hati Amel kini mulai kembali tumbuh perasaan kepada Dika. Namun jika ia mengingat Dion, ia juga teringat malam itu yang membuat semuanya hancur.
Motor Dika melaju melewati kemacetan sore hari, hingga akhirnya mereka tiba di tempat dimana dulu mereka sering makan bersama.
" Bang 20 tusuk yah, daging ayam aja jangan campur ' ucap Dika kepada penjual
" Baik kang " jawab penjual tersebut
Setelah mendapatkan tempat duduk, keduanya pun menunggu makanan mereka tiba.
" Udah lama banget aku ga kesini kak " kata Amel sambil menatap tempat sekitar
" Iyah, sama Mel aku juga " jawab Dika yang masih asik menatap Amel di depannya
Dika meraih tangan Amel yang ada di atas meja, Amel merasa terkejut dan langsung menoleh kearah Dika.
" Andai dulu yah aku langsung nembak kamu Mel, dan andai aku ga pergi " kata Dika dengan rasa bersalah
" Ga apa kak, udah ah gausah di bahas lagi " jawab Amel sembari melempar senyuman
Tiba tiba pesanan yang mereka tunggu pun tiba, keduanya mulai menyantap makanan mereka.
Sambil makan, terkadang keduanya saling melempar cerita. Entah cerita masalalu, atau cerita yang sempat mereka lalui sendiri.
" Kenyang? " tanya Dika saat semua makanan habis
" Kenyang lah kak " jawab Amel sambil tertawa kecil
Saat Dika menatap lurus kedepan, tiba tiba ada hal yang membuat dirinya panik.
" Kita pulang sekarang yuk " ajak Dika dengan cepat
" Kenapa emang kak ? " tanya Amel dengan bingung
" Ga apa apa, ayo " jawab Dika dan Amel menurut
Selesai membayar Dika dan Amel bergegas pergi dari tempat itu, Amel tak tau mengapa Dika dengan cepat dan panik saat itu.
Dika langsung mengantar Amel kerumahnya, namun keduanya menyadari ada sebuah mobil milik Dion yang berhenti tepat di halaman rumah Amel.
" Ini mobil pak Dion, ngapain dia kesini ? " tanya Dika yang khawatir
" Ka Dika pulang aja, aku ga apa apa " jawab Amel agar Dika tak mengetahui semuanya
" Tapi Mel —" ucapan Dika terpotong
" Ga apa apa Kak, udah biar ini jadi urusan aku sama Pak Dion " ucap Amel dan Dika mengangguk
" Kalau ada apa apa, segera hubungi aku yah Mel " ucap Dika dan Amel mengangguk
Motor Dika meninggalkan halaman rumah Amel, dan tak lama Dion pun keluar dari dalam mobil miliknya.
" Kita perlu bicara" kata Dion dengan cepat
" Ini sudah bukan jam kantor, jadi saya rasa tidak perlu ada yang dibicarakan pak " kata Amel sambil melangkahkan kakinya masuk kedalam
" Amel, denger saya dulu " Dion terus mengejar Amel hingga masuk kedalam rumah
" Amel saya mau bicara, tolong dengar " ucap Dion dengan nada sedikit tinggi dan Amel pun langsung berbalik badan kearah Dion
" Apa pak ? Apa yang mau bapa bicarakan lagi sama saya ? " Amel tak mau kalah, ia pun ikut meninggikan suaranya
" Saya minta maaf, atas kejadian tadi pagi. " kata Dion mulai melembut
" Udah ? Itu aja kan ? " jawab Amel
" Mel saya ga suka sama celin, saya—" ucapan Dion terputus
" Kita cuma sekretaris dan atasan, ga lebih dari itu Pak " tegas Amel memotong ucapan Dion
" Engga Mel, kamu itu milik saya dan sampai kapanpun milik saya. Kamu kekasih saya Amel " Dion mencoba meraih tangan Amel, namun Amel dengan cepat menepis
" Oke kalau gitu, mulai sekarang kita putus kitaa udahan. Selesai kan ? " ucap Amel sambil tersenyum ketir
" Saya gamau, sampai kapanpun kamu milik saya Amel cuma milik saya " tegas Dion sambil memegang kedua lengan Amel
" Kenapa gamau ? Saya juga gamau jadi kekasih kamu Dion, tapi kamu memaksa saya..!! Lalu sekarang, saya ingin mengakhiri kamu juga memaksa saya untuk tetap sama kamu" ucap Amel dengan emosi
Dion yang mulai kehilangan kesabarannya, langsung menggendong Amel hingga masuk kedalam kamar.
" Bapa mau ngapain, lepasin turunin saya " kata Amel sambil memukul dada Dion
Dion tak perduli, begitu sampai dikamar Dion langsung menutup pintu dan merebahkan Amel diatas kasur.
" Bapa mau ngapain ? Jangan macem macem yah Pak, saya akan teriak kalau bapa macem macem " ucap Amel sambil terus memukul Dion
Dion tak menjawab apapun, ia langsung mencium bibir Amel. Amel terus melawan Dion, namun sekuat ia menolak Dion semakin memperkuat dirinya.
Tangan Dion mulai melepaskan pakaian Amel dengan kasar, Amel mulai ketakutan dengan apa yang Dion lakukan.
" Bapa mau ngapain lagi hah, " ucap Amel begitu ia terlepas dari Dion
" Saya gamau kamu jadi milik orang lain Amel, laki laki itu dia bukan laki laki yang baik " kata Dion
" Lalu ? Bapa pikir bapa sendiri laki laki baik ? Ka Dika itu laki laki baik, bahkan dia berniat untuk serius dengan saya. Bukan seperti bapa, bahkan untuk menjalin hubungan serius saja bapa ga berani " tegas Amel dengan nada tinggi
" Amel Cukup, tolong beri saya waktu. Saya cuma minta itu dari kamu Amel " kata Dion kembali
" Saya ga punya banyak waktu pak, apalagi membuang waktu untuk laki laki pengecut seperti bapa. Sekarang bapa pergi dari sini, dan seperti yang sudah saya katakan hubungan kita sekarang hanya sekretaris dan atasan ga lebih dari itu " ucap Amel memperteguh
Dion tak menjawab apapun, ia pun akhirnya mengalah dan pergi meninggalkan Amel.
Setelah Dion pergi, Amel langsung menumpahkan air matanya. Entah kenapa hatinya begitu sakit sekarang, ia tau ia tak bisa menghindar dari Dion bagaimana pun.
Didalam mobil Dion dengan kerasa memukul stangnya dengan tangan, pikirannya semakin kacau karena Amel.
Ia harus bisa mendoakan Amel kembali bagaimana caranya, ia harus bisa kembali menjadikan Amel miliknya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 92 Episodes
Comments
Masya Allah tabarakaAllah 🙏🤲
aseyeek.... makin seruu dn menarik maraton bacanya next lanjuuut....
2024-07-03
0
Arsuni Gustaf
pelajaran buat para gadis...jangan mudah menyerahkan milikku yg paling berharga pd laki laki.
2024-05-30
0
sasip
kalau mobil adanya stir ya thor, kalau sepeda atau motor baru pake stang.. /Chuckle/✌🏻
wkwkwkwk..
2024-05-19
10