Bab 2

Seseorang membuka kain penutup di mana keranda besi tempat Aurora di sekap. Sinar matahari menyilaukan langsung menyentuh kulit putihnya yang indah.

"Kita jual saja dia ke rumah hiburan!" Ucap seorang pria yang tersenyum licik, Aurora menggertakkan giginya.

'Aku sangat ingat, bila Aurora akan di jual pada seorang pria jahat yang mengerikan. Meski di jelaskan dalam novel itu bila wajahnya sangat tampan, ah padahal dia tipe ideal ku. Tapi sayang dia malah mengurung Aurora dalam istananya hingga akhirnya membuat Aurora frustasi dan bunuh diri. Padahal menurut ku pria itu baik hati, hanya caranya saja yang terlalu mengerikan.' Gumam Aurora dalam hati, dia bergidik mengingat bertapa posesifnya pria itu.

'Setelah kematian Aurora, pria itu berubah menjadi ganas. Bahkan dia membunuh seluruh pelayan yang ada di istananya, sampai pemeran utama wanita juga hampir tewas di tangannya. Namun protagonis pria ternyata berhasil menyelamatkan Protagonis wanita dan membawanya ke istana. Pria itu pada akhirnya akan memberontak dan menjadi pembunuh yang mengincar Protagonis pria, tapi sayang siasat licik Protagonis pria malah membuat pria itu tewas keracunan.' Aurora bergidik ngeri, bila dia mengambil jalur yang sama seperti pada novel maka akan di pastikan bila nasibnya tidak akan baik.

'Aku tidak boleh masuk ke wilayah singa itu, aku harus memilih cara lain karena bila aku tidak kembali pada keluarga ku. Maka mereka akan dalam kesulitan, bahkan kedua orang tua ku akan mati akibat perang internal.' Gumam Aurora, dia memperhatikan tingkah orang-orang yang membawanya.

'Aku harus mencari cara agar bisa lepas dari keadaan ini!' Aurora celingukan hingga menemukan sebuah gerombolan para pria yang mengenakan pakaian budak.

'Sepertinya mereka akan di jadikan petarung di arena Gladiator.' Gumam Aurora, senyum terukir si bibirnya.

'Dari pada aku mati sia-sia, setidaknya aku bisa mati lebih cepat sebelum tersiksa. Dari pada jadi wanita penghibur yang hanya akan jadi pemuas setiap malamnya, aku lebih baik bertarung di arena Gladiator!' Pikir Aurora, dia harus mencari cara agar dapat bertukar tempat dengan seseorang di sana.

"Cepat pindahkan mereka!" Teriak seorang pria berbaju hitam, Aurora menatap seorang pria yang memiliki postur ramping dengan kulit putih.

"Akh! Perut ku sakit sekali!" Aurora menggenggam perutnya yang sakit. Semua orang nampak kesal dan akhirnya menyeret Aurora ke area istirahat.

Kedua tangan Aurora di borgol bersama denan kakinya, dia menatap pria yang saat ini berada di sampingnya. Aurora tersenyum dan mulai membuat siasat agar dapat masuk bersama orang-orang yang akan di bawa ke arena Gladiator.

"Shut! Kau tidak mau mati bukan?" Bisik Aurora pada pria itu, pria itu mengangkat wajahnya hingga terlihat adanya bekas luka bakar yang mengerikan di wajahnya.

"Ayo kita tukar tempat!" Ajak Aurora pria itu tak merespon apapun, Aurora berdecak kesal.

"Sekarang kamu punya keluarga di luar sana bukan? Setidaknya, bila kamu bisa tukar tempat dengan ku, kamu masih memiliki kesempatan untuk melarikan diri bodoh!" Umpat Aurora, pria itu menatap Aurora sekali lagi.

Aurora menatap pria itu lagi hingga pria itu akhirnya mengangguk, Aurora tersenyum dan membuka kerudung yang menutupi wajahnya. Dia memindahkan kerudung dan membuka rok miliknya hingga tubuh indahnya terlihat.

"Buka baju mu!" Gertak Aurora memperhatikan sekeliling karena takut ada yang memperhatikan mereka. Pria itu membuka pakaiannya dan mereka bertukar tempat.

Aurora mengambil tanah yang nampak basah dan lumpur untuk menutupi kulit putihnya, pria yang kini bertukar tempat dengan Aurora nampak terkesima dengan kemampuan kamuflase yang di miliki oleh Aurora.

"Saat kau berada di arena penjualan budak, jangan buka penutup wajah mu dan kabur saat ada kesempatan." Ucap Aurora, pria itu mengangguk setuju.

"Cepat mana lagi budaknya!" Teriak seorang pria berbaju hitam. Dia menarik lengan Aurora dan memakaikan rantai di kedua tangannya, senyum terukir di bibir Aurora.

Aurora di suruh berjalan kaki di bawah terik matahari, dia di bawa pada sebuah tempat yang begitu ramai. Ada banyak bangsawan dan rakyat biasa di sana.

Arena Gladiator memang menjadi arena paling ramai dan sangat di minati oleh banyak orang di tempat tersebut. Aurora memperhatikan orang yang di bawa bersamanya, hampir semua bertubuh besar dan berotot.

"Hei Nak, kenapa kau di jadikan budak seperti ini?" Tanya serang pria di hadapan Aurora.

Aurora diam, dia tak menyahut ucapan pria itu. Aurora pada akhirnya di bawa pada perkumpulan Gladiator, semuanya nampak di rantai seperti mereka, ada beberapa pria bertubuh besar yang tidak di rantai. Aurora sangat yakin bila mereka telah menang dalam turnamen sebelumnya.

Sebuah sorak terdengar menggema di bangku penonton, Aurora tak bergeming. Dia tak gentar sedikitpun untuk mati atau melawan kematian.

"Hanya akan ada satu orang yang bisa selamat di arena ini, siapapun yang terakhir masih hidup maka dia akan mendapatkan pilihan lain." Ucap seorang pria yang nampak berpakaian rapi.

"Meski kalian tidak akan bebas dari tempat ini, tapi kalian akan memiliki kesempatan untuk dapat menjadi pengawal bangsawan." Ucap pria itu lagi, Aurora hanya diam.

Seorang pria mendorong tubuh Aurora masuk ke dalam arena, bersama dengan beberapa pria besar lainnya. Aurora menatap orang-orang yang saat ini tengah bersorak.

"Hadirin sekalian, saat ini para pemain baru telah tiba. Kita akan menyaksikan pertandingan seru yang sebentar lagi akan di lakukan. Keluarkan senjatanya!" Sorak pemandu acara, hingga beberapa senjata dalam jumlah yang begitu banyak di keluarkan.

Aurora dan para pria yang di rantai tertegun, borgol di tangan mereka di lepaskan. Namun sayang, borgol yang di tangan Aurora memang berbeda dengan yang lainnya hingga membuat petugas itu kebingungan.

"Menyusahkan saja, tubuh mu kecil! Meski kau di lepas juga pada akhirnya akan mati!" Ucap pria itu tak melepaskan borgol Aurora, Aurora berdecak kesal namun agaknya hal itu juga adalah sesuatu yang menguntungkan untuknya.

Para pria besar itu tak mewaspadai Aurora, mereka mengincar para pria lain yang bertubuh besar. Aurora menyeringai dan menatap banyaknya senjata di sana.

Semua senjata itu berukuran sangat besar, bahkan Aurora sepertinya tidak akan sanggup untuk mengangkat satu pedang itu dengan lengannya yang kecil.

Pandangan Aurora tertuju pada sebuah pisau berukuran kecil, senyum terukir di bibir Aurora. Pisau kecil itu pasti tidak akan di ambil oleh para pria bertubuh besar yang akan saling menyerang itu.

Aurora memperhatikan para penonton yang nampak bersorak, sungguh para manusia yang tidak memanusiakan sesama manusia itu telah membuatnya muak setengah mati.

"Pertandingan di mulai!" Sorak pemandu acara, hingga para penonton akhirnya ikut bersorak juga.

Terpopuler

Comments

Sri Wahyuningsih

Sri Wahyuningsih

lanjut,tambh seruh sj

2024-05-08

2

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!