"A-anu, Rayyan pasti buat susah ya? Rayyan biar sama saya saja tidurnya." Ucap Latica gugup.
"Ck, ngapain harus bawa Rayyan? Sebaiknya kamu yang pindah dan tidur di sini tau!" Gerutu Elvin tanpa sadar bila ucapannya barusan terdengar oleh sosok pria yang tengah memelototinya sekarang.
"Gak Papa Kak, Kakak saja yang tidur di sana. Rayyan? Sama bunda yo?" Ajak Latica mengulurkan tangannya. Rayyan menatap Elvin, dan terlihat Elvin yang mengangguk kepadanya.
"Ini muat kok buat bertiga kalo kamu gak keberatan Ca," Elvin nyengir kuda.
"Ehem!" Pak Ica kembali berdehem dengan sangat keras.
'Berani sekali pemuda ini, ada aku saja begitu kelakuannya. Bagaimana bila Latica berada di kota?' Bisik Pak Ica menatap tajam ke arah Elvin.
"Bapak kenapa sih, negatif thinking mulu bawaannya. Maksud saya, biar Latica, Ibu sama Rayyan tidur di sini. Biar kita berdua bisa tidur di kamar belakang sebagai sesama pria." Ucap Elvin nyengir kuda.
'Sok sekali, aku tahu ya apa yang kamu fikirkan!' Ucap Pak Ica menatap Elvin yang hanya senyam-senyum tak jelas.
"Saya lebih baik ada di sini, bila saya tidur di kamar. Bisa saja saya tidak tahu kamu keluar kamar dan ngintip anak saya yang sedang tidur." Gerutu Pak Ica, Latica mengapa dada mendengar ucapan sang Abah.
"Abah, maksud Kak Elvin baik." Ucap Latica menggelengkan kepalanya saat Rayyan sudah datang ke dalam pelukannya. Elvin tersenyum saat mendengar pujian dari Latica sedangkan Pak Ica hanya berdecak kesal.
Tak berapa lama kemudian suara azan menggema menandakan sudah waktunya sholat subuh, Latica menidurkan Rayyan kembali dan mulai bertempur di dapur untuk memasak. Sedangkan Elvin yang bahkan belum memejamkan mata sebentar saja malah asyik memperhatikan Latica yang menyalakan sebuah tungku kayu bakar.
"Ca, gak ada kompor?" Tanya Elvin menatap sekeliling.
"Ada, cuma di masukin lagi ke kardus sama Emak, katanya akut karatan." Kekeh Latica, Elvin tersenyum melihat keceriaan Latica yang sangat jarang dia lihat sebelumnya.
"Ca? Menurut kamu, bagaimana dengan yang aku katakan kemarin?" Elvin menatap Latica yang hilir mudik, mungkin karena gugup hingga membuat Latica sok sibuk.
"M-maksudnya apa Kak?" Latica memalingkan wajahnya dan pergi ke belakang rumah, dia mengambil beberapa lembar daun bawang dan cabe. Sedangkan Elvin tahu, bila Latica berusaha mengalihkan pembicaraan.
"Nak, sini ngeteh dulu!" Teriak Pak Ica, sedangkan Elvin akhirnya menghela nafas panjang dan berjalan menuju ke arah depan di mana Abah nampak asyik dengan kopinya.
"Pak? Bapak suka ke sawah?" Tanya Elvin, dia merasa mengantuk sekali saat itu.
"Iya, sebentar lagi saya mau berangkat ke sawah." Ucap Pak Ica, Elvin menatap arloji di tangannya.
"Saya boleh ikut?" Pak Ica nampak mengernyit.
'Bisa apa dia kalo ke sawah? Yang ada di ketawain sama belut di sawah.' Ucap Pak Ica dalam hati, namun dia cukup senang dengan perjuangan yang di lakukan Elvin.
"Hem, memang mau apa ke sawah?" Tanya Pak Ica, dia tidak yakin bila pria itu bisa bekerja di sawah.
'Pasti dia cuma mau jadi beban ku saja bila ke sawah.' Ucap lagi Pak Ica dalam hati, dia sama sekali tak percaya bila pria kota seperti Elvin dapat bekerja.
"Mau liburan lah Pak, kan saya niatnya ke sini buat liburan." Ucap Elvin mendekati Pak Ica, "Bapak tenang aja, nanti saya pakai jasa Bapak gak percuma kok. Bapak jadi seperti pemandu wisata gitu, gimana?" Elvin mulai mengangkat alisnya memberikan kode.
"Ada uang rokok juga?" Tanya Pak Ica mulai masuk ke dalam bujuk rayu Elvin yang mematikan.
"Ada Pak, gimana mau gak?" Elvin tersenyum menyenggol lengan Pak Ica.
"Gajinya gimana?" Mata Pak Ica yang memang selalu tergiur pada sesuatu yang bersangkutan dengan uang, dia pasti akan setuju. Asalkan itu halal, dia pasti mau melakukan pekerjaan apapun demi keluarganya.
"Per jam Pak, satu Jamnya lima puluh ribu." Tutur Elvin, Pak Ica mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Wah, boleh juga tuh. Kalo saya ketiduran, Bapak bisa pergi ke sawah duluan ya? Nanti sore kita mulai jalan-jalannya. Badan saya sakit semua, mau istirahat sekarang." Ucap Elvin menyeruput teh dalam gelas kaca sampai tandas dan langsung masuk ke dalam kamar.
'Kok saya terasa di jebak ya?' Pikir Pak Ica dalam hati, namun entah bagaimanalah nantinya, asalkan dapat pekerjaan Pak Ica tak keberatan asalkan itu halal.
.
.
.
Elvin tertidur hingga waktu menunjukkan pukul 9 pagi, nampak matahari belum sepenuhnya menyinari desa tersebut karena cuaca mendung pagi itu.
Latica juga ada di rumah kala itu, dia merapikan barang-barang yang di berikan oleh Elvin. Dua buah pakaian nampak di dalam sebuah paper bag berpita merah jambu.
Sedangkan ada pula dua kerudung cantik dalam paper bag yang berbeda. Berwarna merah maroon dan hitam, Latica melihat kerudung tersebut yang nampak begitu menawan.
"Di pakai dong, kenapa di liatin aja?" Tanya Elvin yang kini menatap Latica dari ambang pintu kamar.
"Eh?" Latica menundukkan pandangannya seketika, sedangkan Elvin terkekeh dan berjalan menuju ke belakang, sudah jelas apa tujuannya karena handuk telah ada di pundak Elvin.
"Di pakai ya Ca? Itu buat kamu." Ucap Elvin lagi dan langsung masuk ke dalam kamar mandi, sedangkan di tempat lain Latica malah memperhatikan dua kerudung itu dengan seksama.
"Ya Allah, ini harganya segini?" Latica tanpa sengaja menemukan cap di kerudung itu dan mendapati harga yang sangat fantastis.
Latica akhirnya membuka kembali belanjaan yang di bawa Elvin dan ternyata harganya sangat di luar nurul, bahkan total dari barang yang di bawa oleh Elvin dapat setara dengan gaji Latica 3 bulan bekerja.
Latica yang sudah tercengang-cengang makin tercengang tak kala mendapati Elvin dengan rambut yang basah dan hanya menggunakan handuk yang terlingkar di perutnya.
Latica refleks menutup wajahnya dengan paper bag yang ada di tangannya, Elvin terkekeh dan masuk ke dalam kamar.
'Ica Ica, buat gemes aja si.' Ucap Elvin dalam hati, dia memakai pakaian lengkap dan kembali keluar kamar.
"Ca?" Tanya lagi Elvin yang kini duduk di samping Latica.
"Iya Kak?" Latica menatap Elvin, karena dia tahu bila Elvin tak suka berbicara dengan orang yang hanya menundukkan pandangannya.
"Kamu inget gak pas waktu di kampus dulu?" Latica terdiam, bagaimana dia bisa lupa masa-masa paling mengerikan tapi sekaligus banyak kebahagiaan yang Latica dapatkan kala itu.
"Tidak tahu Kak, kenapa ya?" Latica pura-pura bertanya, padahal di antara banyak orang. Elvin adalah salah satu orang yang tidak mungkin di lupakan Latica.
"Kamu ingat bunga mawar dari sedotan itu?" Tanya Elvin terkekeh, dia mengingat masa-masa indah itu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 43 Episodes
Comments