Setelah makan Elvin mencuci piring bekas makannya sendiri dan beranjak ke kamar, sayup-sayup dia mendengar isakan dari Latica, Elvin sedih mendengar isak yang tertahan sari bibir Latica.
'Memangnya siapa aku? Siapa aku bagi Latica? Aku hanya pria yang di lupakan olehnya.' Gumam Elvin dalam hati, dia ingin memeluk wanita itu, tapi tidak bisa.
Elvin ingin memberikan segalanya bagi Latica, tapi dia tidak bisa. Sebelum subuh dia melihat Latica yang menjemur pakaian dari atas jendela kamarnya. Sesak rasanya melihat orang yang di cintai bekerja dengan giat, dia ingin menjadikan Latica Ratu, tapi dia bahkan tak bisa bicara saat wanita itu menahan isak.
'Pecu*ndang!' Umpat Elvin dalam hati, dia mengatai dirinya sendiri. Elvin sangat berhati-hati agar menjaga perasaan Latica, dia tak ingin berbicara terlalu banyak karena takut membuat hati Latica yang rapuh menjadi hancur.
.
.
.
Setelah memasak dan menghidangkan makanan, Latica akhirnya meminta ijin pada Bu Lastri untuk pergi ke pasar. Dia tahu seperti apa pasar Jakarta, karena saat sekolah dulu dia pernah mengikuti lomba Nasional di Jakarta dan membeli oleh-oleh untuk kedua orang tuanya.
Latica mengambil dompetnya dan mengenakan kerudung merah muda, serta baju gamis panjang berwarna biru langit. Baju yang dia pakai pertama kali di tempat tersebut.
"Eh, Kak Elvin ada apa?" Latica tertegun saat melihat Elvin berada di depan pintu kamarnya, Elvin tersenyum lembut dan membeikan sebuah kotak panjang kepadanya.
"Itu sebagai bonus kerjanya, terima kasih untuk tadi pagi." Latica tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
"Sama-sama Kak," Latica menerima kotak itu dan hendak kembali masuk ke dalam kamarnya.
"Sepertinya mau pergi ya?" Tanya Elvin melihat Latica membawa dompet, sedangkan pakaian yang di kenakan Raisa terkesan itu-itu saja, tapi sekarang dia mengenakan pakaian terbaiknya.
"Iya, saya mau pergi ke pasar, beberapa kebutuhan saya sudah habis." Jawab Latica kembali berbalik dan menjawab pertanyaan Elvin.
"Ke pasar? Saya juga kebetulan kehabisan beberapa keperluan. Apa mau pergi sama-sama?" Latica tersenyum dan menggelengkan kepalanya.
"Tidak Kak terima kasih atas tawaran baiknya, saya juga akan membeli keperluan pribadi." Latica masuk ke dalam kamarnya dan menyimpan kotak itu dengan baik. Saat dia keluar kembali, Elvin nampak sudah tidak ada di sana. Latica menghela nafas lega dan melangkah menuju gerbang.
Latica pergi ke pasar sendirian, dia membeli beberapa keperluannya dan segera pulang karena harus membuat makan siang, karena saat libur Tuan Besar akan ada di rumah dan selalu makan siang di rumah itu.
Latica kembali tepat waktu, karena Bu Lastri baru saja akan mulai masak. Latica belum sempat melihat hadiah yang di berikan oleh Elvin, dia harua bergegas. Meaki Bu Lastri mungkin tak akan memberikan teguran, namun sebgai pekerja dia harus giat.
Hari itu Elvin juga ada di rumah, dia makan siang di rumah bahkan matanya nampak memerah. Mungkin baru bangun tidur, karena melihat raut wajahnya Elvin nampak sangat suntuk dan masih menguap saat turun tangga.
"Elvin, aku sudah mendengar kabar mengeni rumor yang beredar tentang mu sekarang. Awalnya aku akan diam saja, tapi usia mu juga sudah cukup untuk menikah. Katakan pada ku, apa yang sebenarnya terjadi Elvin?" Di depan meja makan, Tuan Besar Bagaskara nampak tengah menginterogasi putranya.
"Rumor apa? Aku bahkan tidak pernah mendengar apapun." Elvin balik bertanya, inilah yang membuat Elvin jarang di rumah, sang Ayah terus mendesaknya untuk segera menikah.
"Jangan pura-pura, aku bahkan dengar bila milik kamu tidak bisa berdiri." Elvin terkekeh mendengar penuturan sang Ayah, sangat mudah sekali mengutarakan hal seperti itu.
"Dari mana Ayah tau bila milik ku tidak bisa berdiri? Tapi ya sudahlah, setidaknya aku tidak pernah ketahuan melakukan hal menjijikan." Elvin terkekeh dan menyudahi makan siangnya.
"Aku sudah kenyang, jangan mudah terprovokasi oleh ucapan orang lain yang tanpa bukti dan bahkan kebenarannya saja masih di ragukan, aku sarankan biar Ayah berhenti membuat ku dalam kesulitan." Elvin hendak berjalan menjauh.
"Sepertinya Latica gadis yang baik bila Ayah jadikan menantu." Seketika langkah Elvin terhenti, dia berbalik menatap ayahnya yang kini terkekeh melihat sikap sang anak.
"Ternyata benar, baiklah kamu bisa kembali sekarang." Tuan Besar Bagaskara kembali menyantap makanannya, sedangkan Elvin tak membantah atau mengiyakan begitu saja.
"Bi Lastri, apa saya boleh saya bertanya sesuatu?" Tuan Bagaskara memanggil pembantu rumah tangganya.
"Ya Tuan, apa yang bisa saya bantu?" Bu Lastri datang mendekat, sedangkan Latica yang tengah mengemasi barangnya di kamar, belum mengetahui tentang ucapan Pak Bagaskara.
"Apa kamu mengenal keluarga Latica dengan baik?" Bu Lastri mengangguk dengan cepat.
"Ya, Ibunya adalah teman sekolah saya dulu. Sedangkan Latica sendiri sudah saya anggap seperti anak sendiri." Jawab Bu Lastri, Tuan Bagaskara tersenyum puas mendengarnya.
"Apa Latica adalah gadis yang baik?" Bu Lastri tersenyum, mungkin dia mengira bila Tuan Bagaskara sudah mempercayai Latica.
"Ya Tuan, dia adalah gadis yang baik. Bahkan sampai saat ini saya merasa bangga menjadi Ibu angkatnya, dia memiliki otak yang cerdas dan bahkan pernah Kuliah di Universitas I." Kini benang merah kusut yang terlihat Tuan Bagaskara mulai terurai.
Tuan Bagaskara memang melihat adanya perubahan pada diri Elvin saat Latica masuk ke dalam rumah ini, dia menjadi sering di rumah dan lebih tenang dari biasanya. Elvin juga nampak sering memperhatikan Latica.
"Jadi dia pernah kuliah ya, lantas kenapa dia malah memilih jadi pembantu rumah tangga?" Tuan Bagaskara nampak berfikir, secara orang-orang yang lulus dari Universitas I pastilah bukan orang biasa. Setelah lulus, mereka juga akan di kirim untuk melakukan pekerjaan yang mereka inginkan.
"Saya tidak bisa mengatakannya Tuan, itu adalah masalah pribadi Latica yang bahkan tidak dia bicarakan dengan pihak kampus-nya." Tuan Bagaskara mengangkat alisnya, mungkinkah terjadi sesuatu saat Latica kuliah?
"Terima kasih Bi Lastri, saya sudah selesai makan." Tuan Bagaskara di bantu asistennya berdiri dan beranjak menuju kamarnya.
.
.
.
Saat malam hari tiba, Latica memperhatikan kotak yang di berikan oleh Elvin dan membukanya, di dalamnya terdapat banyak coklat warna-warni yang nampak sangat enak.
"Bila Rayyan tahu pasti dia akan suka, harganya juga sepertinya tidak murah. Apa bisa ya bila coklat ini di paketkan ke rumah?" Latica tersenyum, dia membayangkan wajah ceria putranya bila menikmati coklat tersebut.
Latica akhirnya memutuskan untuk mengirimkan coklat itu ke rumahnya di kampung, bagi Latica saat ini. Kebahagiaan Rayyan dan kedua orang tuanya adalah hal paling penting.
Latica ingin menghirup udara segar, dia akhirnya keluar dari kamar. Namun, Latica kembali di kejutan oleh keberadaan Elvin yang berada tepat di depan pintu kamarnya.
"K-kak Elvin, maaf ada perlu apa ya?" Latica menatap Elvin yang msih terdiam hingga membuat Latica merasa gugup seketika.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 43 Episodes
Comments