Bab 13

Dengan sangat bahagia, Latica akhirnya pulang kampung bersama dengan Elvin. Saat di perjalanan Elvin mampir di sebuah restoran dan Latica sendiri tak tahu harus berbuat apa. Dia hanya di tarik Elvin ke luar dari mobil dan akhirnya duduk berhadapan dengan Elvin di sebuah restoran.

Padahal Latica tak pernah bermimpi seindah itu sebelumnya, namun sikap Elvin yang pemaksa namun lembut dan perhatian itu justru membuat Latica merasa tenang.

"Kemarin aku minta bicara bukan? Tapi aku tidak sempat ajak kamu bicara karena kamu nampak sangat senang. Padahal aku mau mengutarakan niat untuk pulang ke kampung tempat kamu tinggal." Ucap Elvin, Latica mengangguk mengiyakan.

"Maaf, saya lupa." Latica menundukkan pandangannya, sedangkan mata Elvin terus menatapnya tanpa berkedip hinga membuat Latica menjadi gugup dan salah tingkah.

Untunglah makanan yang di pesan Elvin tiba, hingga momen itu tidak berlanjut lama. Latica di paksa makan oleh Elvin, meski demikian Latica juga sangat menikmati momen tersbut.

.

.

.

Di sebuah desa yang sangat asri, sebuah mobil nampak sampai di depan pelataran rumah sederhana. Pemilik rumah itu nampak celingukan dan mendapati sosok yang mereka kenal keluar dari mobil itu.

"Mak, Abah?" Latica terisak dan langsung memeluk kedua orang tuanya, Elvin menghela nafas lega dan mendapati anak berusia 4 tahun yang menatapnya kebingungan.

"Namanya Rayyan ya?" Tanya Elvin ramah, Rayyan tersenyum dan menganggukkan kepalanya.

"Kok main tanah?" Tanya Elvin, Rayyan nampak menyembunyikan tangannya di belakang tubuh.

"Ayah ya?" Tanya Rayyan, seketika Mata Latica dan kedua orang tuanya langsung tertuju pada Rayyan dan Elvin.

"Bu-"

"Iya, sini peluk!" Jawab Elvin, seketika kedua orang tuanya terbelalak. Begitupun dengan Latica, dia menatap Elvin yang tanpa sungkan melebarkan tangannya untuk memeluk Rayyan.

"Tangan Ayan Kotor, Ayan cuci tangan dulu. Ayah jangan pergi lagi!" Teriak Rayyan saat dia berlari menuju ke samping rumah untuk mencuci tangan.

Latica seketika menatap Elvin yang tersenyum ke arahnya, kedua orang tua nampak kebingungan dengan kehadiran Elvin. Sangat banyak pertanyaan yang ingin di lontarkan keduanya pada Elvin.

"Ini Kak Elvin, beliau majikan saya di kota." Ucap Latica, Elvin menghela nafas berat.

"Assalamualaikum, saya Elvin." Elvin mengecup punggung tangan kedua orang tua Latica.

"Kak Elvin, kenapa Kakak tadi bilang iya? Nanti bila Rayyan tau yang sebenarnya pasti akan sedih." Bisik Latica, Elvin terkekeh.

"Jangan khawatir, aku pandai menghibur anak kecil." Jawab Elvin santai, Latica menghela nafas berat.

"Ayah, tangan Ayan udah bersih. Lihat?" Rayyan memperlihatkan kedua telapak tangannya yang sudah bersih, Latica langsung menyambar Rayyan dan memeluknya erat.

"Ini Om Elvin bukan Ayah sayang," Latica menjelaskan, dia takut kesalah fahaman yang tercipta akan membuat Rayyan menjadi terbawa suasana.

"Oh, jadi bukan Ayah ya Bunda?" Tanya Rayyan, Latica menggelengkan kepalanya.

"Bukan, Ayan salim dulu sana!" Rayyan mengangguk, wajahnya nampak sedih dan mengulurkan tangannya pada Elvin.

"Assalamualaikum Om? Maaf, Ayan tidak tahu kalo Om itu Om, bukan Ayah Ayan." Ucap Rayyan mengecup punggung tangan Elvin.

"Gak papa, lagi pula tadi kata Om juga bilang apa? Panggil Ayah juga gak papa," Elvin mengelus kepala Rayyan lembut, Rayyan tersenyum dan tanpa sadar air matanya ternyata jatuh beruraian.

"Kenapa nangis?" Tanya Elvin, Latica langsung panik saat anak semata wayangnya itu menitikan air mata.

"Ayan ingin Ayah, Ayan gak nakal kok, kenapa Ayah Ayan pergi ninggalin Ayan?" Latica tersentak kaget, dia ingin memeluk Rayyan namun Elvin yang di hadapannya justru bergerak lebih cepat.

"Gak papa kok, Ayan bisa panggil Om dengan Ayah bila Ayan mau. Oh iya, Ayah punya sesuatu loh?" Rayyan kebingungan, sedangkan Elvin langsung menggendong Rayyan menuju ke belakang mobilnya dan membuka bagasi.

"Taraaam!" Elvin menurunkan Rayyan di atas bagasinya dan memperlihatkan banyak mainan pada Rayyan, Rayyan tersenyum melihat banyak mainan untuknya.

"Nak, apa yang sebenarnya terjadi?" Tanya Bu Ica memperhatikan tingkah Elvin yang agaknya tidak bersikap layaknya majikan.

"I-ica juga enggak tau Mak, kenapa Kak Elvin kaya gitu ya?" Tanya lagi Latica, kedua orang tuanya nampak memahami niat Elvin.

"Yasudah, kamu masuk dulu. Kita bicaranya nanti saja, kamu pasti lelah bukan?" Latica menganggukkan kepalanya.

"Tuan Elvin, sebaiknya anda istirahat. Pasti anda lelah," Bu Ica kembali meminta pada Elvin untuk istirahat.

"Panggil nama saja," Ucap Elvin menatap Rayyan yang nampak bahagia, Elvin menghela nafas berat.

"Ayan, bagaimana bila Ayan bantu Ayah untuk ngambil semua barang ini ke dalam?" Rayyan mengangguk setuju.

Elvin membawa koper dan tas Latica sedangkan Rayyan membawa beberapa mainannya, Elvin kembali ke mobil dan mengambil semua barang sisanya. Semua barang yang kemarin dia beli bersama Latica.

Latica memperhatikan, melihat semua belanjaan yang kemarin di beli oleh Elvin, ternyata semua barang yang dipilih dengan hati-hati itu di peruntukan pada keluarganya. Elvin juga terlihat sangat dekat dengan Rayyan.

"Nek Elvin tidak akan tunggal di sini bukan?" Tanya Pak Ica, dia memang sangat tahu maksud dari para laki-laki yang mendekati Putrinya. Namun, bila laki-laki sepeti Elvin yang malah mendekati Putrinya mungkin akan sangat berat bagi Pak Ica untuk menghadapinya, karena Elvin adalah pria yang mendekati nilai sempurna.

"Iya saya akan tinggal di sini, saya juga sudah mengambil cuti selama satu minggu. Saya belum pernah liburan ke Desa, jadi agaknya akan menyenangkan." Ucap Elvin, dia tahu bila Pak Ica nampaknya adalah batu besar yang akan menghalangi segala rencananya.

"Hem, apa tidak punya kerabat di kampung?" Elvin tersenyum mengetahui maksud dari ucapan Pak Ica.

"Kebetulan tidak," Pak Ica menghela nafas panjang, sedangkan Raisa merapikan kamar depan yang biasanya dia tempati untuk di pakai oleh Elvin.

"Berarti Ayah akan tinggal sama kita?" Tanya Rayyan bersemangat, Elvin mengelus puncak kepala Rayyan.

"Iya, nanti ajakin Ayah main ya?" Pinta Elvin dengan senyum lebar, Rayyan mengangguk dengan semangat.

"Iya Ayah, nanti Ayan ajak Ayah ke sawah, di sana Ayan buat boneka besar pakai bajunya Abah." Ucap Rayyan menceritakan tentang pengalamannya.

Elvin sendiri dengan cermat mendengarkannya dan sesekali tertawa saat Rayyan menceritakan hal yang menggemaskan, meaki ada kalanya Rayyan menceritakan sesuatu yang menyedihkan namun hal itu tak membuat bocah itu berhenti untuk terus bercerita.

Latica keluar dari kamar depan dan akhirnya duduk bersama mereka, Rayyan yang berada di pangkuan Elvin sedangkan Latica yang duduk di samping Elvin. Sedangkan di hadapannya ada kedua orang tuanya yang nampak kebingungan.

"Ayan sama Bunda ya? Om-nya pasti capek." Latica mengulurkan tangannya pada Rayyan.

"Enggak mau, Ayan maunya sama Ayah." Gumam Rayyan dengan kedua tangannya langsung melingkari leher Elvin.

"Gak kangen sama Bunda?" Tanya Latica menggelitik pinggang putranya, Rayyan tertawa geli.

"Kangen, tapi hahahah Ayan takut Ayahnya gak ada lagi hahahah..." Tawa Rayyan, Latica juga ikut tersenyum mendengar tawa putranya, begitupun dengan Elvin. Bahkan Elvin sempat tersihir oleh senyum Latica yang nampak begitu cantik.

Terpopuler

Comments

Ani

Ani

semoga ini awal kebahagiaan Latica dan Rayyan

2024-05-05

2

Makassar Botlem

Makassar Botlem

yuk lanjut thor

2024-05-05

1

Hitori de

Hitori de

semangat

2024-05-05

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!