Setelah dua hari, Leo akhirnya tiba di depan gerbang kerajaan Estasia.
Tembok besar dengan tinggi sekitar lima puluh meter mengelilingi seluruh kerajaan seperti benteng sementara gerbang kota memiliki tinggi dan lebar sepuluh meter.
Saat Leo sampai di gerbang kerajaan Estasia dan hendak memasukinya, dia hadang oleh dua orang prajurit yang menjaga gerbang sebelum salah satu prajurit itu berkata "Tolong perlihatkan kartu identitas anda!"
Leo Mengangguk, memasukkan tangan kanannya ke dalam jubah dan mengambil kartu identitas dari storage sebelum menyerahkannya kepada penjaga.
Itu adalah kartu identitas yang diam-diam Leo buat saat dia masih di kerajaan Velgia untuk berjaga-jaga jika suatu hari ada masalah yang melibatkan identitas, dan sekarang kartu identitas itu akhirnya terbukti berguna.
Prajurit atau penjaga gerbang mengambil kartu identitas Leo dan mengeceknya. Kemudian dia mengembalikannya kepada Leo setelah melihat tidak ada yang salah.
"Anda boleh masuk."
Leo mengangguk sambil mengambil kembali kartu identitasnya sebelum memasukkan tangannya ke dalam jubah dan meletakkan kartu identitasnya ke dalam Storage.
Setelah itu, Leo berjalan masuk ke dalam Kerajaan Estasia dengan lancar.
Berjalan menyelusuri kota dengan langkah santai, matanya melihat sekeliling, mencari tempat penginapan untuk dia tinggali. [Kenapa kau tidak bertanya kepada orang lain saja?] Eve bertanya dengan rasa ingin tau.
"Aku ingin mencarinya sendiri sambil melihat-lihat pemandangan kerajaan ini."
Leo menjawab pertanyaan Eve di tengah-tengah keramaian, yang membuat orang-orang di sekitarnya menatap Leo dengan aneh karena dalam pandangan mereka Leo tiba-tiba berbicara sendiri. Namun Leo mengabaikan tatapan tidak menyenangkan itu karena dia tidak peduli.
"Hm?" Leo berhenti saat dia merasakan sesuatu sebelum dia menoleh ke belakang, dimana ada seorang pemuda berambut merah dengan pedang dipunggungnya yang berjalan ke arah sebaliknya dari dirinya.
"Orang itu..." Leo bergumam pelan sambil menatap punggung pemuda berambut merah itu, yang membuat Eve merasa penasaran dan bertanya, [Kenapa kau memperhatikan bocah berambut merah itu?]
"Tidak, tidak ada ada." Leo menggelengkan kepalanya sebelum suara Igrum terdengar di dalam kepalanya, [Pemuda berambut merah itu cukup kuat.]
'Kau juga merasakannya?'
[Ya, dia mungkin sekuat dirimu.]
'Begitu ya!' Leo lanjut berjalan.
Setelah berjalan-jalan selama tiga puluh menit, dan membeli beberapa makanan di pinggir jalan, Leo menemukan penginapan yang terlihat sederhana di pinggir jalan.
Leo segera pergi ke penginapan itu, dan pada saat yang sama bunyi lonceng terdengar saat pintu penginapan itu terbuka, Leo menatap ke arah lonceng yang terpasang di balik pintu itu sebelum dia berjalan ke arah Resepsionis.
"Apa ada yang bisa kubantu, tuan!" Tanya Resepsionis dengan sopan.
"Aku ingin memesan satu kamar selama satu minggu."
"Silahkan. Biayanya 45 koin perak."
Leo menyerahkan uangnya ke resepsionis, dan kemudian seorang pelayan datang dan mengantarnya ke salah satu kamar.
Ada banyak barang Magnus yang ada di Storage, termasuk uang. Jadi Leo tidak kesulitan untuk membayar biaya penginapan karena ada ratusan koin platinum dan jutaan koin emas di Storage.
Setelah pelayan itu pergi, Leo membuka pintu masuk kamarnya dan masuk ke dalam kamarnya sebelum menutup kembali pintunya. Tanpa membuang waktu lagi, Leo langsung melemparkan tubuhnya ke atas kasur dan berbaring dengan ekspresi puas.
"Sudah lama sekali aku tidak tidur di tempat yang nyaman seperti ini."
[Leo, apa rencanamu untuk kedepannya?] Eve bertanya karena dia merasa bosan.
"Entahlah, aku belum memikirkan soal itu. Mungkin aku akan berkeliling dunia sambil mencari musuh yang kuat."
[Hahaha, rencana yang bagus partner.] Igrum berkata dengan semangat sebelum Eve menghela nafas tak berdaya, [Apakah lelaki hanya tau tentang bertarung dan tidak bisa memikirkan hal lain?]
[Kau menanyakan pertanyaan bodoh, Eve.]
[Hah? Apa kau baru saja menyebutku bodoh? Sepertinya kau perlu diberi pelajaran.]
[Tidaaak, Leo, tolong aku! Pacarmu akan membunuhku...]
[Sialan, siapa yang kau sebut pacar Leo! Aku akan benar-benar menghapusmu.]
[Tidaaaaaak...]
"Eve, aku ingin bertanya sesuatu!"
Ditengah pertengkaran mereka berdua, Leo bertanya kepada Eve, yang menghentikan pertengkaran mereka saat Igrum menghela nafas lega karena akhirnya dia berhasil lolos dari kemarahan Dewi kematian.
[Hah? Ada apa?]
"Apakah aku bisa memanggil seseorang dari bumi ke dunia ini?"
[Sebenarnya Itu tidak terlalu sulit. Aku bisa melakukannya dengan mudah.]
"Benarkah?" Leo sangat bersemangat.
[Ya. Lalu apakah kau ingin memanggil adik perempuanmu? Jika begitu, sihir pemanggilan garis darah seharusnya bisa memanggil adikmu ke dunia ini.]
"Ya, cepat bantu aku!"
[Aku tidak bisa melakukannya dalam kondisiku saat ini. Tapi naga jelek itu seharusnya bisa melakukannya juga. Bukankah begitu, naga jelek?]
[B-benar, aku bisa melakukannya.] Igrum berkata dengan suara sedikit gemetar.
"Hehe, kalau begitu ayo lakukan sekarang."
[Lakukan, Igrum.] Eve memberi perintah.
[B-baik. Tapi sebelum itu izinkan aku untuk menggunakan tubuh Leo.]
[Tidak masalah.]
"Baik, aku akan meminjamkan tubuhku."
[Aku akan melakukannya sekarang.]
Setelah mengatakan itu, Igrum tidak membuang waktu dan segera mengambil alih tubuh Leo, yang membuat Leo merasa seperti tidak bisa mengendalikan tubuhnya sendiri.
'Rasanya cukup aneh!' Pikir Leo
Saat Igrum berhasil mengambil alih tubuh Leo, mata Leo yang dulunya bernama abu-abu sekarang berubah menjadi warna merah.
Igrum melambaikan tangannya dan memasang sihir penghalang di ruangan itu agar tidak ada yang bisa merasakan energi sihir yang berasal dari ruangannya.
Mengangkat tangannya ke depan, dan mengaktifkan sihir pemanggilan garis darah, saat lingkaran sihir berwarna merah muncul di permukaan lantai, Igrum segera menggigit ujung jarinya dan kemudian meneteskan setetes darah Leo di atas lingkaran sihir.
"Kalontas syngeneis ex aimatos."
Setelah Igrum mengatakan itu, lingkaran sihir tiba-tiba bersinar semakin terang hingga menerangi seluruh ruangan sementara di tengah-tengah lingkaran sihir itu partikel cahaya putih berkumpul sebelum partikel cahaya itu berubah menjadi tubuh manusia.
Setelah proses selesai, Igrum langsung mengembalikan tubuh Leo, yang membuat warna mata Leo kembali menjadi abu-abu. Selain itu, Leo juga merasakan kalau energi sihirnya hampir habis.
Saat lingkaran sihir menghilang, wujud orang itu menjadi jelas. Dia adalah seorang gadis cantik yang terlihat berusia lima belas tahun dengan rambut hitam dan mata ungu.
Gadis itu perlahan membuka matanya sebelum dia melebarkan matanya ketika dia melihat orang yang ada didepannya. Tanpa ragu, dia melompat ke arah Leo, yang menyebabkan mereka terjatuh ke atas kasur.
"Kakak..." Gadis itu memeluk Leo sambil mengeluarkan air mata dari matanya.
"Hiks... Kak, kau tiba-tiba menghilang... Hiks... Aku... Aku takut kau telah... Hiks... Uwaaa..." Gadis itu menangis sambil membenamkan wajahnya di dada Leo.
Melihat adiknya menangis, Leo mengusap kepala adiknya dengan lembut untuk menenangkannya, seperti yang biasa dia lakukan dulu ketika adiknya menangis.
"Tidak apa-apa. Tidak ada yang perlu ditakutkan. Aku tidak akan pernah pergi meninggalkanmu sendirian." Leo berkata dengan lembut.
"Um." Alice menganggukkan kepalanya pelan dan berhenti menangis.
"Apa Alice ingin tau alasan aku dan semua teman sekelasku tiba-tiba menghilang!" Leo berkata sambil mengusap kepala adiknya dengan lembut.
"Um, aku akan mendengarkannya."
"Waktu itu, aku tiba-tiba berada di dunia lain bersama teman-teman sekelasku. Sebuah dunia dimana sihir dan monster itu ada, lalu ada juga kekuatan aneh yang disebut skill. Alice seharusnya mendapatkannya ketika aku memanggilmu ke dunia ini."
"Um, aku mendapatkannya."
Leo menghela nafas lega setelah mengetahui adiknya mendapatkan skill, tidak seperti dia dulu saat dia dipanggil oleh kerajaan Velgia bersama teman sekelasnya. Waktu itu, hanya dia yang tidak mendapatkan skill apapun.
"Lalu, apa yang terjadi?" Alice bertanya.
"Setelah itu, karena berbagai alasan, aku berpisah dengan teman sekelasku. Lalu aku pergi ke dungeon dan melawan monster sampai aku menjadi kuat."
Alice memeluk kakaknya dengan lebih erat setelah Leo selesai mengatakan alasannya menghilang dari bumi.
"Kau masih suka berbohong seperti dulu ya kak!" Alice berkata dengan suara rendah sebelum melanjutkan, "Kau selalu menyimpan rasa sakitmu untuk dirimu sendiri dan tidak pernah mengatakannya kepadaku."
"...Maaf." Leo berkata dengan suara pelan.
"Tidak apa-apa." Alice menggelengkan kepalanya pelan sambil tersenyum lembut sebelum berkata, "Aku tau kalau kakak melakukan ini karena khawatir denganku."
Mendengar ini, Leo hanya diam sambil mengelus-elus kepala Alice dengan lembut karena dia tidak tau harus berkata apa.
[Leo, aku punya usulan. Bagaimana kalau aku menghubungkan sistem dengan adikmu!]
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 81 Episodes
Comments