Prana dan Anggi baru saja rampung salat Subuh berjamaah. Harus bagaimana cewek itu mendeskripsikan rasa yang meletup-letup di dadanya itu. Rasanya ia amat bersyukur karena kejadian begal itu, Prana jadi mulai berubah meski belum sepenuhnya.
"Sering-sering gini ya, Mas."
Prana mengangguk pelan. Segaris lengkung senyum pun tak lupa tercetak di bibirnya, membuat hati Anggi kian berdesir karenanya.
"Aku mandi di kamar kamu, boleh?"
"Ya boleh lah, Mas. Kan ini rumah kamu," sahut Anggi dengan gelak tawanya yang menggema ke setiap sudut ruangan.
"Rumah kita."
Prana itu aneh. Sedikit-sedikit romantis. Sedikit-sedikit cuek. Sedikit-sedikit ngeselin. Akan tetapi, mengapa Anggi justru semakin jatuh ke dalam cinta suaminya itu?
Cewek itu pun segera menyiapkan handuk dan seragam untuk suaminya sembari Prana mandi di dalam kamar mandinya. Setelahnya, Anggi menyiapkan barang-barang yang ia bawa ke sekolah nanti. Tak lupa, buku roman kesukaannya itu ia masukkan ke dalam tas ransel abu-abunya.
Di sela-sela kegiatannya, Anggi melirik ke arah kamar mandi untuk memastikan apakah suaminya sudah keluar dari sana atau belum. Alangkah terkejutnya Anggi saat bola matanya mendapati Prana sedang telanjang dada. Hanya sekain handuk putihlah yang menutupi bagian tubuhnya mulai pusar hingga paha. Ia pun refleks menutup kedua matanya cepat.
"Kok malu-malu gitu sih?" ujarnya sembari terkekeh geli.
Anggi lantas melotot ke arahnya. "Ih, Mas! Ya malulah," protesnya.
Prana berusaha sekuat tenaga untuk menahan tawanya supaya tidak meledak. Lucu sekali istrinya itu. Dengan suami sendiri malu?
"Udah. Aku udah selesai ganti nih. Buka mata kamu sekarang," suruhnya setelah ia mengenakan seluruh seragam putih abu-abunya.
"Makasih ya, Nggi udah disiapin."
Namun, bukannya membalas ucapan suaminya, Anggi justru kalang kabut kabur dari kamarnya. Ia berusaha menutupi semburat merah di kedua pipinya. Sementara, Prana hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah istrinya itu.
***
"Pagi Mbak Ijah."
"Pagi, Mbak. Mau dibuatin sarapan, Mbak?" tanya Ijah sopan. Perempuan itu sangat memerhatikan keadaan rumah. Kerja keras Ijah diakui oleh Anggi dan Prana. Maka dari itu, Prana sering menaikkan gaji asisten rumah tangga mereka itu.
"Nggak usah, Mbak. Pokoknya kalau urusan masak-memasak biar aku aja, ya? Mbak Ijah tinggal handle yang lain aja. Nggak usah khawatir," ujar Anggi sambil mengacungkan jempolnya dan mengulas senyum lebarnya. Ia kini sudah bersiap berangkat ke sekolah.
"Waduh-waduh, Mbak Anggi. Ada apa ini kok kelihatannya berseri-seri gitu?" celetuk Ijah seakan menyadari keceriaan majikannya yang tidak seperti hari-hari biasanya itu.
Anggi lantas menepuk setiap bagian di wajahnya. "Masa sih, Mbak?" tanyanya polos. Cewek itu tak mengerti apa yang dimaksud oleh Ijah.
"Semalem habis itu ya sama Tuan Muda?"
"Ah, eng-"
"Pertanyaan kaya gitu pantes buat asisten rumah tangga ke majikannya?"
Belum sempat Anggi menanggapi, Prana sudah lebih dahulu menyahut. Cowok itu baru turun dari tangga lalu duduk di meja makan. Memang, Prana terlihat judes dan kaku. Mulai dari sikap sampai perkataannya. Namun, sebenarnya cowok itu punya hati yang lembut dan baik.
"Maaf, Tuan Muda." Ijah akhirnya undur diri dan mengurus pekerjaan rumahnya.
Anggi yang melihat respon ketus suaminya lantas segera menghampirinya dan ikut duduk di seberang meja makan. "Kamu jangan ketus gitu dong, Mas sama Mbak Ijah. Kasihan dianya," tukasnya.
"Cuma nasehatin dia aja, Nggi supaya tau batasannya. Lagian kamu juga udah hafal, kan kalau suamimu ini memang judes?"
"Ya, tapi kan Mbak Ijah itu udah aku anggap keluarga sendiri. Maka dari itu, Mas coba deh kamu ubah sikapmu yang dingin itu. Lagian, dulu waktu kita masih sahabatan juga kamu nggak kaya sekarang." Anggi jadi geregetan sendiri karena sikap suaminya itu.
Prana tersenyum samar. "Udah nggak perlu dibahas. Kamu nggak mau nyiapin sarapan buat suami kamu?" sindirnya sambil menyunggingkan senyumnya.
"Emangnya kamu mau aku masakin? Aku itu trauma tau nggak sih, Mas? Dulu itu kamu sering banget nggak mau makan masakan aku," ujar Anggi sekenanya. Cewek itu memang suka sekali ceplas-ceplos.
"Udah, sana bikinin."
Anggi mendengus kesal. Suaminya itu jarang sekali bersikap romantis. Baru saja sikapnya manis beberapa menit lalu, sekarang sudah kembali seperti semula saja. Cewek itu dengan sigap dan cekatan menyiapkan roti kesukaan Prana dan sesudahnya segera menyodorkannya pada suaminya.
"Aku tuh seneng banget tau nggak sih, Mas? Kalau kamu mau makan masakan aku kaya gini. Ya, meski kamu sukanya roti sama selai cokelat aja sih," cerocosnya sambil cengengesan tidak jelas. Anggi benar-benar sedang berbunga-bunga hari ini sehingga dia bisa secerewet itu.
"Gitu, ya?" respon Prana masih dengan nada datarnya, namun ada senyum tipis menghiasi wajah super tampannya. Anggi pun mengangguk semangat.
***
"Mas. Bentar deh."
Tiba-tiba tangan Anggi terulur membenarkan rambut suaminya yang sedikit acak-acakan pagi ini. Karena mereka naik motor ke sekolah, maka dapat dipastikan kalau rambut Prana yang tadinya sudah rapi jadi berantakan karena tertutup helm.
Kini, mereka jadi bahan tontonan banyak orang. Siapa yang tidak kenal mereka? Yang satu ganteng dan satunya lagi cantik, sangat serasi. Banyak anak di sekolah itu menyimpan rasa kagum dalam diam pada Anggi maupun Prana. Banyak juga yang suka menjodoh-jodohkan mereka berdua karena terlihat cocok. Dan kata-kata mereka tidak salah, kini muda-mudi itu ternyata memang ditakdirkan berjodoh.
"Nit, lo gak panas apa lihat mereka berdua mesra-mesraan kaya gitu?" Salah satu cewek di antara barisan anak-anak yang sedang mengamati Prana dan Anggi itu bersuara.
"Biarin dulu kaya gitu. Puas-puasin dulu aja. Nanti kalau waktunya udah pas, gue pasti lakuin apa yang udah gue rencanain dari dulu," balas Nita sambil menatap tajam ke arah Prana dan Anggi.
"Pipi kamu kok merah gitu sih?"
Mendengar pertanyaan istrinya, Prana jadi kalang kabut menutup kedua pipinya dengan tangannya. "Masa sih? Enggak kok." Prana segera melenggang dari sana dan berjalan cepat menuju kelas. Cowok itu amat malu karena ketahuan blushing di depan istrinya.
"Kamu itu lucu banget sih, Mas," gumam Anggi sembari menatap punggung suaminya yang semakin menjauh.
***
"Nggi."
"Hm?" Anggi mengeraskan suaranya karena tenggelam bersama bisingnya suara kendaraan.
"Kafe yuk? Yang di pinus." Prana pun ikut mengeraskan suaranya karena termakan angin.
Beruntung jalanan cukup sepi sehingga Prana bisa sedikit mengebut. Cowok itu sudah bersemangat sekali mengajak Anggi ke tempat favorit mereka dulu.
"Serius? Mau dong," jawab Anggi antusias. Cewek itu terlihat melebarkan senyumnya dari kaca spion. Prana jadi senang melihat senyum sumringah istrinya itu.
"Pegangan yang kuat. Aku mau ngebut," suruh Prana.
"Siap." Anggi benar-benar mengencangkan pelukannya pada pinggang suaminya hingga membuat cowok itu terkejut karena perlakuan mendadak dan terlampau antusias dari Anggi.
***
Prana tidak kaget saat melihat banyaknya es krim di hadapan mereka. Siapa lagi kalau bukan Anggi yang memesan? Istrinya itu memang suka sekali ngemil. Walau begitu, berat badannya tidak pernah naik drastis dan selalu stabil.
"Kamu itu lucu, ya kaya anak kecil."
"Biarin," balas Anggi sambil menjulurkan lidahnya. Persis seperti anak umur lima tahun. Bahkan, es krimnya pun masih belepotan sana-sini.
Tangan Prana terulur membersihkan sisa-sisa es krim di ujung bibir Anggi secara tiba-tiba. Cewek itu terperangah melihat perlakuan mendadak dari suaminya. Ia hanya bisa diam menyambut tangan Prana yang membersihkan belepot di bibirnya. Degup jantungnya sampai tidak bisa ia kendalikan.
"Sengaja banget ya kamu biar aku yang bersihin," ujar Prana membuat Anggi salah tingkah.
"Udah puas belum? Mau pulang sekarang?" tawarnya yang disambut anggukan oleh Anggi.
Seusai membayar seluruh pesanan Anggi, Prana segera pergi dari sana. Ia berjalan lebih dulu, sementara Anggi mengikutinya di belakang.
"Mas tuh nggak bisa apa gandeng istrinya? Romantis dikit kek," gerutu Anggi kesal karena suaminya kurang romantis.
"Kamu bilang apa, Nggi?"
"Ah, enggak Mas." Anggi jadi cengar-cengir sendiri. Ia tidak sadar kalau keluhannya tadi ternyata keluar dari mulutnya.
Prana tiba-tiba menghentikan langkahnya sehingga Anggi juga ikut berhenti di sampingnya. Cowok itu memutar tubuhnya menghadap Anggi. Detik berikutnya, ia mencondongkan tubuhnya mendekati tubuh istrinya.
Jantung Anggi berdebar melihat suaminya seperti itu. Ia hanya bisa berdiri kaku di hadapannya. Keringat dingin keluar dari kedua telapak tangannya. Degupan itu semakin tidak terkontrol saat embusan napas Prana begitu terasa di wajahnya.
Apakah suamiku hendak menciumku?
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 75 Episodes
Comments
Desi Efriyani
jangan lupa follback akun aku ya kak 😊
2020-12-11
0
Wahyu Fatmawati
5 like mendarat thor, always semangat buat nulisnya 😁 . Prana dan Anggi itu membuatku iri. apalagi saat Prana bersikap tsunder begitu, sekali mode romans bikin gemes sama Prana😙😊
2020-10-10
2
rin's
lanjut lagi
2020-09-08
1