Anggi berjalan didampingi oleh Fitri dan Ica di samping kiri dan kanannya. Cewek dengan gaun mewah dan mahkota mermotif mawar yang didominasi warna soft pink itu dituntun menuju meja penghulu. Pandangannya menyapu sekeliling. Tidak banyak orang yang datang. Hanya ada Vina dan Bakri, yakni orang tua Prana serta Prana sendiri. Wajah cowok itu terlihat datar dan biasa saja, bahkan seperti orang yang terpaksa. Di sampingnya juga ada Rizal yang tersenyum menatap Anggi.
Cewek itu didudukkan di samping Prana. Gugup? Tentu saja. Sempat sekilas cowok itu melirik ke arah Anggi, namun masih dengan sikap dinginnya. Tanpa senyum yang menghiasi wajahnya. Kenapa hati Anggi berdesir saat melihat wajahnya? Auranya berbeda kali ini. Bahkan, cowok itu terlihat sepuluh kali lebih tampan dari biasanya. Prana menggunakan setelan beskap beserta songkok senada dengan gaun yang dikenakan oleh Anggi. Anggi tidak berbohong, Prana memang sangat tampan. Anggi memang pernah mengaguminya dulu. Namun, untuk mencintainya? Sepertinya tidak pernah.
"Siap, Nak Prana?"
Cowok itu lantas mengangguk pelan. Ia pun sempat mengembuskan napas gusar. Mungkinkah dia juga gugup?
Bapak penghulu mulai menjabat tangan Prana. "Bismillahirrahmanirrahim."
Anggi melirik ke arah Fitri serta Rizal dan disambut senyum tulus oleh mereka. Ia kemudian melirik ke arah Vina dan Bakri. Kedua calon mertuanya itu juga terlihat melempar senyum khas mereka padanya. Oh, degup jantungnya semakin tak keruan. Cewek itu bahkan sampai berkeringat dingin karena terlalu gugup.
"Saya nikahkan dan kawinkan Mahaprana Virgo bin Muhammad Bakri dengan Anggia Soraya binti Almarhum Notosumo dengan mas kawin logam mulia 50 gram tunai."
Prana mengembuskan napas sekali lagi. "Saya terima nikah dan kawinnya Anggia Soraya binti Almarhum Notosumo dengan mas kawin tersebut tunai," ikrarnya dengan lancar dan tegas.
"Alhamdulillah," ucap seisi gedung dengan serentak, menggema hingga ke setiap sudut gedung. Raut bahagia sekaligus lega terpancar di setiap wajah dari mereka.
Seketika Anggi merasa merinding dari ujung kaki sampai ujung kepala. Hatinya amat berdesir saat mendengar kalimat ijab kabul yang keluar dari mulut sahabatnya. Tidak, lebih tepatnya kini Prana telah sah menjadi imam sekaligus sahabat hidup seorang Anggia Soraya.
Cewek itu pun segera menyalimi suaminya dan mencium punggung tangannya dengan lembut. Ditatapnya kedua mata di depannya disertai dengan senyuman canggung oleh Anggi. Namun, Prana masih belum menunjukkan senyumnya sedari tadi. Sorotan matanya justru sangat tajam menghunus Anggi membuat cewek itu resah. Pelan tapi pasti, Prana mengecup kening istrinya sama lembutnya. Lagi-lagi jantung Anggi dibuat berpacu lebih hebat dari biasanya.
Cewek itu lantas melempar senyum manisnya kepada semua orang di gedung itu dan dari pengamatannya, sepertinya mereka semua amat bahagia. Tidak, senyum Anggi itu palsu. Ia masih belum bisa menerima ini sepenuhnya. Haruskah ia bahagia sekarang ini? Atau justru bersedih membayangkan bagaimana hidup Anggi ke depannya?
***
Hening menyelimuti seisi mobil mewah milik Prana. Seusai akad, cowok itu segera memboyong Anggi ke rumah yang sudah disiapkan orang tuanya sejak jauh hari. Setelah ini tidak akan ada resepsi tentunya karena pernikahan mereka benar-benar tertutup. Hanya keluarga inti dari kedua mempelai saja yang menghadiri akad tadi. Tentunya dengan alasan bahwa mereka masih berstatus pelajar SMA.
"Mas?" Anggi berusaha mencairkan suasana. Ia tidak betah dengan kecanggungan ini.
"Hm?" balas Prana dingin.
Cewek itu melirik Prana ragu. Sepertinya cowok itu benar-benar terpaksa dengan pernikahan ini sampai ia tak mau menatap Anggi saat mengobrol dengannya. Semenjak perjodohan ini, Prana memang menjadi berubah total. Padahal, dulu cowok itu begitu manis dan banyak bicara saat bersama sahabat SMA-nya itu.
"Kenapa nggak ke rumahku aja, Mas? Kan, di sana sepi, nggak ada yang nempati. Aku juga nggak enak sama Ayah Mama," terangnya yang akhirnya membuat cowok di kursi kemudi itu menoleh padanya.
"Gue kepala rumah tangga di sini dan gue harus bertanggung jawab sama semuanya, termasuk urusan tempat tinggal. Dan satu hal yang harus lo tau, gue nggak suka diatur." Ya, kalimat itulah yang akhirnya terucap dari mulut Prana. Dingin dan terdengar sarkas. Dan dia menggunakan 'gue-lo' saat mengobrol dengan istrinya sendiri? Prana benar-benar berubah. Ke mana sapaan 'aku-kamu' yang biasa digunakannya saat berbicara dengan Anggi dulu?
Anggi akhirnya memilih untuk bungkam. Berdebat di hari pertama pernikahannya tidak baik, bukan? Ia mengalah demi menjaga janjinya pada Fitri dan juga mertuanya, yakni Vina untuk tetap mempertahankan pernikahan ini bagaimanapun keadaannya nanti.
Mobil Prana terparkir di hamparan pekarangan rumah mewah nan luas, sudah seperti sebuah istana. Rumah itu terlampau megah hingga mata Anggi tak berkedip saat memandangnya. Mereka lalu segera turun dan masuk. Melihat Anggi yang kesusahan membawa koper dan barang-barangnya, Prana tidak diam. Ia dengan cepat merebut koper-koper dari tangan Anggi dan membawa semuanya sendirian ke dalam. Cewek itu sempat terhenyak dan mematung di tempat. Setelah sadar, ia lantas cepat-cepat menyusul suaminya itu.
"Mbak Anggi!" Ijah yang baru selesai menyiapkan kamar untuk pengantin baru itu berhambur memeluk Anggi.
Cewek itu juga membalas pelukannya. "Mbak Ijah kerja di sini?" tanyanya ramah.
Sementara, Prana hanya melewati mereka berdua dan bergegas menaiki tangga di bagian tengah membelah ruang tamu dan dapur yang amat luas.
"Kalau sama majikan itu jangan panggil nama," sindir Prana dari arah tangga yang langsung membuat Ijah menunduk malu.
Anggi yang melihat Ijah seperti itu menjadi tidak enak hati lalu mengusap bahunya. "Jangan dimasukin hati ya. Panggil kaya biasanya aja, Mbak," tuturnya membuat Ijah mengangguk paham.
"Ya udah, aku masuk dulu ya," lanjutnya.
"Silakan, Non."
Anggi melangkah cepat menaiki setiap anak tangga dalam rumah mewah itu. Matanya tak bisa lepas dari setiap detail penjuru rumah itu. Di sebelah kanan tangga terdapat dapur dan ruang makan yang luas. Sementara, di sebelah kirinya terdapat ruang keluarga yang juga tak kalah luas. Sebuah televisi berukuran jumbo pun terpajang di sana. Juga ada perapian di sebelah sofa ruang keluarga. Dan di ruang tamu tadi, sofa-sofanya begitu indah dan besar.
Lebih dari kata mewah, ini begitu memukau dan Anggi tak bisa mendeskripsikan kekagumannya. Tapi, dengan harta melimpah begini akankah ia bisa terus bahagia? Langkahnya terhenti saat sampai di lantai dua dan melihat Prana baru saja masuk ke dalam sebuah ruangan. Mungkin, itulah kamar mereka nanti. Anggi pun mengikuti Prana dari belakang.
Lagi, kamarnya lebih dari kata sempurna. Setiap dindingnya seakan dilapisi oleh emas dengan warna rosegold yang begitu memanjakan mata. Tidak hanya itu, corak mawar juga menghiasi kamar tersebut. Pun dengan sprei yang membungkus ranjang di tengah-tengah ruangan. Sepertinya memang sengaja dibuat demikian mengingat Anggi meyukai mawar dan warna pink.
Anggi melihat suaminya sedang membongkar koper miliknya dan mulai memasukkan pakaian-pakaiannya satu per satu ke dalam lemari putih berukuran jumbo di samping kiri ranjang. Cewek itu lantas menghampirinya. "Sini, Mas biar aku aja," ujarnya halus.
Tanpa menoleh, Prana masih fokus memasukkan barang-barang milik istrinya ke dalam lemari sembari berkata, "Biar aku aja. Kamu bersihin diri kamu dulu terus istirahat. Pasti capek, kan?" tuturnya.
Entah mengapa, hanya dengan kalimat itu saja sudah bisa membuat hati Anggi sedikit lebih bahagia. Anggi merasa Prana sangat perhatian padanya. Apa ia mulai suka pada suaminya?
Setelah urusannya selesai, cowok itu langsung melenggang begitu saja tanpa meninggalkan sepatah kata pun. Anggi yang sepertinya menyadari sesuatu segera menghampiri Prana. "Barang-barang Mas nggak dimasukin sini juga? Biar aku ambil dan bantu beresin ya," katanya seraya melangkahkan kakinya hendak keluar kamar.
Belum sempat Anggi keluar, tangan Prana sudah terlebih dahulu mencegahnya. "Kamu mau aku tidur sini? Sekamar sama kamu?" tanyanya sinis.
Kedua alis Anggi terpaut menyiratkan kebingungannya. "Maksudnya, Mas?" tanyanya kembali.
Prana memajukan badannya, meninggalkan jarak hanya sejengkal dari tubuh cewek itu. "Gue nggak mau kalau kita sekamar bakal terjadi hal yang nggak-nggak. Kita masih SMA. Gue belum mau punya anak dulu. Masih banyak yang belum gue kejar. Lo pasti juga gitu, kan?" ujarnya berhasil membuat Anggi panas dingin di tempat. Napas suaminya begitu terasa berembus di wajahnya membuat cewek itu semakin gugup.
"Biar gue tidur di kamar lain."
Hanya satu kalimat itu yang terucap sebelum akhirnya Prana benar-benar menghilang dari balik pintu kamar. Anggi hanya bisa memandang punggung suaminya dari dalam dengan perasaan kacau. Jadi, ini ya malam pertamanya? Mungkin, memang lebih baik begini. Lagipula, Anggi memang tidak begitu mengharapkan merayakan malam pertamanya dengan Prana. Ia sudah menduga akan menjadi seperti ini. Cewek itu juga sadar diri. Akan tetapi, tetap saja seperti ada yang mengganjal di dalam hatinya.
***
[Baca sampai akhir, ya]
Halo, semua! Kabar baik, ya kalian semoga.
Yuk! Dukung author dengan cara rate BINTANG 5, VOTE, LIKE, COMMENT, SHARE ke teman-teman kalian, dan tambahkan ke FAVORIT supaya author makin semangat buat nulis kelanjutan kisah mereka. Oke?
COMMENT pendapat dan saran kalian buat bab ini, dong ya? Biar gak sider juga, hehe.
TERIMA KASIH BANYAK!
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 75 Episodes
Comments
Radin Zakiyah Musbich
up up up.... 🎉🎉🎉
ijin promo thor 🍿🍿🍿
jgn lupa mampir di novelku dg judul "AMBIVALENSI LOVE",
kisah cinta beda agama 🍿🍿🍿
jgn lupa tinggalkan like and comment ya 🍿❤️❤️❤️
2020-10-16
1
Anita Jenius
Dan memberi like kembali pada kamu
2020-09-26
1
🌺 Gafana🌺
lama lama bucin ni si prana ..
2020-09-21
1