Bab. 3

Aku bingung atas keputusan Bela, apakah aku harus senang atau harus sedih. kerna kedua hal itu bercampur jadi satu di saat bersamaan.

Aku bisa hidup lebih lama lagi, tapi di saat yang sama aku harus melepaskan orang yang aku cintai Rio, Rio Erlangga.

Pria yang telah menumbuhkan bunga bunga cinta di hatiku. Selalu mendampingi dan menghiburku, di saat ibu meninggalkanku dia yang membantu pemakamannya.

Dan tanah kuburan ibu masih basah, aku sudah terbaring tak berdaya.

Rio mungkin masih sibuk saat ini mengurus skripsi dan tugas prakteknya.

Dia sudah semester akhir, aku dua tahun dibawahnya.

Rio, cowok yang belum lama dekat denganku,

walaupun dulu aku mengetahui tetang namanya saja, kerna kesibukanku kuliah sambil bekerja jadi tidak terlalu mengenal orang secara personal.

Pertemuan kami tanpa sengaja, enam bulan lalu, ketika aku dan Bela sedang jalan jalan di Mall,

Kami bertabrakan tanpa sengaja, saat Bela menarik tanganku ketika selesai pembayaran di kasir, aku hanya memperhatikan tas belanjaku di tangan kananku, sementara tangan kiriku di tarik Bela dengan tergesa gesa, ketika aku mau mensejajarkan langkahku dengan bela dan dia muncul dari samping akhirnya.

Bum, aku menabraknya atau dia yang menabrakku.

Entah lah tapi saat itulah pandangan kami beradu.

Kesan pertama,

Tapi saat itu kami tidak saling menyapa, hanya melihat dan pergi.

Pertemuan kedua saat di bioskop, sungguh memalukan kalau aku mengingatnya.

Ketika itu aku dan Bela menonton film terbaru yang ada adegan romantisnya. Dan karena baru booming jadi banyak yang nonton.

Seingatku Bela duduk di sebelah kiriku,

Dan ketika ada adegan Kiss-nya aku menarik Bela yang ada di sebelah kiriku, tanpa melihatnya, yang mata masih fokus di layar.

Aku berbisik di dekat telinganya

"Apa adegan itu bener bener ciuman ya ? Bel, kamu pernah ngak di cium cowok ? Gimana rasanya ?" aku bertanya dengan mata masih fokus ke layar.

"Enak, kamu mau nyoba ngak?" bisik orang yang tadi aku bisikin.

Tapi aku sungguh terkejut, ternyata itu bukan suara Bela, dan setelah aku menoleh.

Aaaa aku menjerit 'cowok' pikirku.

"Heii, apaan sih Ren, berisik tau !" bentak Bela yang ternyata duduk di sebelah kananku.

Aduh, malu beneran, untung gelap, kalau tidak pasti dia bisa melihat wajahku sudah kayak kepiting rebus.

Dengan malu malu dan serba salah aku beranikan diri mencoba melihat cowok yang di sebelahku tadi.

Iiihh, reseh banget sih, dia malah senyum senyum melirikku, pasti dalam hatinya ngetawain aku.

Selesai nonton aku buru buru narik Bela agar nanti tidak ketemu dengan cowok itu.

Tapi tetap sial, dah di parkiran malah ketemu dengan dia.

"hai, " sapanya

Aku cuma nyengir nyengir, apaan sih nih cowok buat salah tingkah saja.

Sebelum kami masuk ke mobil Bela dia masih sempat bicara.

"neng, mau mencoba yang di tanyakan tadi itu ndak ?"

Aku cuma bisa memelototinnya.

"nyoba apa Ren ?" tanyak Bela

"Ndak ada apa apa" aku buru buru menjawab, cowok itu hanya tertawa, dan berlalu takut nanti aku gebuk in kali.

Kemudian kami masuk ke mobil, dan pergi dri situ, duhh gimana nih, fikirku.

Itukan cowok yang ketemu waktu d Mall itu,

Kok bisa ketemu lagi di sini.

Kok bisa dia tahu kami di sini ?

'Aaarrgghh, aku malu mama !' teriakku dalam hati.

Bela cuma heran melihatiku yang mengacak acak rambutku tak karuan.

"Sudah gila anak ini" timpal Bela sambil nyetir

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!