Bab. 7

Hari ini adalah jadwal operasi ku,

Hati ku berdebar tidak karuan, apakah Bela akan datang ?

Apakah operasi nya akan lancar?

Perasaan ku campur aduk, ketakutan yang lebih banyak aku rasakan.

Aku sebatang kara di dunia ini hanya Bela harapan ku, awal nya aku pesimis untuk hidup kembali tapi melihat keceriaan nya aku jadi termotivasi.

Aku sudah menjalan kan perintah dokter agar berpuasa sebelum operasi, seharusnya aku kelaparan saat ini, tapi itu tidak lagi aku rasakan kerna terlalu gugup.

Bela belum juga datang, gimana ini,

Perasaan dan fikiran ku sudah mulai berkecamuk tidak karuan, bukankah seharusnya dia sudah datang saat ini? Apakah dia membatalkan nya?

Apakah Rio ngomong sesuatu sehingga dia membatalkan nya?

Aku pusing sendiri, keringat dingin sudah mulai timbul di kening ku.

Tapi masih tetap sabar menunggu di atas bangsal rumah sakit tempat ku di rawat,

Duh, kerna terlalu tegang aku merasa hendak ke kamar mandi buang air kecil.

Aku mulai duduk dengan menahan sakit di tubuh ku, aku pelan pelan berjalan ke kamar mandi,

Sebenar nya aku takut setiap kekamar mandi, apa lagi untuk buang air kecil.

Sebelum masuk ke kamar mandi sudah aku bayangkan sakit nya duluan.

Tapi aku tetap paksa kan juga, ini harus d keluar kan,

Ku mulai duduk di toilet, aku menarik nafas dalam dalam.

Aku mencoba mengeluarkan air seni ku pelan - pelan duhh, masih terasa sakitnya tapi aku tahan, dan terkadang darah ikut keluar tetap aku tahan rasa sakitnya.

Keringat di kening ku makin banyak, aku hendak menangis tapi harus aku tahan.

Perlahan lahan tetap aku keluarkan cairan yang tersimpan di tabung urine ku, dan akhir nya sampai di tetesan terakhir.

Aku menarik nafas

Aku mulai membersikan area bawah ku, dan ku perhatikan bagaimana warna cairan itu,

Hmm, masih ada darah yang keluar.

Setelah aku melapnya, berlahan aku kembali kebangsal tempat tidur,

Ku rebahkan diriku dengan pelan, perasaan capek di sekujur tubuh ku berlahan sedikit berkurang.

Di saat aku berbaring tiba tiba terlintas di pikiran ku, gimana tiba tiba aku meninggal saat menjalan kan operasi, apakah Bela akan menyesal,

Kenapa mereka lama, apakah Rio memarahi Bela karena syarat permintaan yang di ajukan Bela,?

Ku perhatikan jam di ponselku, sudah pukul sepuluh, kenapa lama ya ?

Hanya kalimat itu yang ber ulang ulang di kepala ku.

Tapi tak berapa lama kemudian pintu ruangan yang aku tempati terbuka,

Muncul seorang dokter lengkap dengan maskernya.

"Hallo, nona Rena, sudah siap untuk operasi? Tanya sang dokter, jantungku berdetak sangat kencang.

"Dimana Bela teman saya dokter, bukankah dia yang akan pendonor untuk saya, ?"

"Tenang nona, teman anda sudah selesai operasi, pengangkatan ginjalnya berhasil, dan dia saat ini sedang istirahat, "

"Dan sekarang giliran anda yang di operasi, siap?"  Jelas sang dokter dengan senyum yang tidak lepas dari bibirnya.

"Saya siap dokter" jawab saya serius, saya menjadi tegang karena mendengar ternyata Bela sudah di operasi duluan, saya harus kuat, harus bertahan, agar pengorbanan Bela tidak sia sia.

Kemudian dokter tersebut keluar sebentar, saya mengira dia memanggil seseorang karena setelahnya pintu di buka lagi dan dua orang petugas rumah sakit masuk dengan berpakaian tertutup lengkap memakai masker mulut dan sarung tangan.

Saya di bawa ke sebuah ruangan tertutup, kemudian pakaian saya di ganti, bangsa tempat saya berbaring juga di ganti, dan tiba tiba saya mendengar suara.

Çhiiisssssss, sebuah udara menerpa saya

Ahh, mungkin ini sterilisasi.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!