In The Gallery Of Pain.
Ann langsung memeluk Amisha, Scarlett dan Charlotte ketika masuk. Baju Scarlett menjadi basah karena jaket Ann belum dilepaskan.
Scarlett kemudian melepaskan jas hujannya, - menggantungnya di dekat mesin cuci. Tampak bekas-bekas luka tadi siang yang sudah diobati petugas medis. Ann kaget dengan kondisi Scarlett seperti itu. Scarlett tampak seperti arena museum kepedihan yang harga tiket masuknya jauh lebih murah daripada Winter Wonderland di Hyde Park.
Ann mulai tidak bisa membendung air matanya, ia lalu memeluk Scarlett kembali sambil tangan kanannya masih menggandeng Amisha. Dalam hati ia merasa menyesal mengapa relawan yang baru masuk kerja sudah mendapat perlakuan tidak sepantasnya di hari pertama.
Charlotte bersandar di dinding. Ann melihatnya, ia tidak menyadari bahwa Charlotte ternyata juga mengalami memar, “Kau kenapa Char?”
Ann lalu memeluk lagi sahabatnya itu dan keduanya menangis dalam pelukan.
Charlotte yang tidak memakai sepatu, merasakan tiba-tiba kaos kaki yang dikenakannya basah. Rupanya kena sepatu Ann yang basah.
“Sepatumu basah, Ann..” kata Charlotte sambil memeluk.
Ann tidak menjawab, tapi ia diam-diam baru sadar juga bahwa ia barusan melalui jalan yang tergenang air bersama Dayton.
“Bukannya kau tidak suka jalan basah ya?” tanya Charlotte berbisik sambil masih memeluk Ann.
"Eejit!" jawab Ann sambil berusaha menghentikan tangisnya dan mulai mengingat kembali adegan romantis berjalan berdua dengan satu payung bersama Dayton seperti di film Romantic Blood. (padahal di dalam film tersebut tidak ada adegan itu)
“Halo jalan basah..” Charlotte mengolok-olok dengan kata-kata yang dilontarkan Ann tadi pagi.
Muka Ann berubah dari Cinderella menjadi Dementor dalam seketika.
“Ouch!”
Tiba-tiba Charlotte merasakan jepitan jurus kepiting meremas batu di punggung belakangnya.
Dayton selesai melipat payungnya, lalu Amisha menarik tangan Dayton ke sudut ruangan belakang.
Ia sangat gelisah. Tangannya bergerak terus ke sana ke mari, pandangannya juga ke mana-mana. Dayton hanya memperhatikan.
Scarlett juga melihat dari kejauhan sambil kemudian duduk di lantai dekat Ann dan Charlotte berpelukan. Scarlett heran mengapa di tempat ia duduk rasanya basah. Ternyata Ann tidak melepas sepatunya.
“Ini semua gara-gara aku..” kata Amisha, “Jika aku..”
“Nonsense, Amisha!” potong Dayton, “Mereka bertiga tidak akan menyalahkanmu.”
"Aku minta maaf atas apa yang telah aku lakukan. Aku tahu itu salah dan aku sangat menyesal. Seharusnya aku dari awal lapor ke polisi, bukan datang ke WEE. Aku ingin menebus kesalahan dan aku akan melakukan apa pun yang aku bisa untuk menyelesaikan masalah ini."
Dayton menghela nafas. Ia tidak tahu lagi harus bicara apa kepada Amisha.
Amisha diam dan menunduk.
Hanya Charlotte dan Ann yang tahu bahwa Amisha mempunyai kepribadian HSP atau Highly Sensitive Person. Tipe kepribadian seperti Amisha jika meminta maaf, maka permintaan itu sudah bisa dipastikan tulus dan orang-orang berkepribadian HSP berusaha untuk menebus kesalahan mereka.
Dayton tidak tahu jika Amisha adalah HSP. Amisha memiliki rasa empati yang tinggi, sehingga ia akan merasa sangat menyesal atas apa yang telah mereka lakukan. Sekaligus Amisha sebenarnya takut akan konsekuensi dari kesalahan yang ia lakukan.
“Berapa kali aku katakan di telepon tadi?” kata Dayton lagi, “Menyalahkan diri sendiri tidak akan membuat segalanya lebih baik. Move on, mate!”
Amisha paham bahwa Dayton sebenarnya tidak setuju jika sebab dari akibat yang terjadi ini merupakan kesalahan Amisha. Lagipula WEE memang sebuah organisasi nirlaba yang memberikan layanan berupa kelompok dukungan bagi para penyintas kekerasan seksual berdasarkan gender di Greater London.
“Tidak ada yang bisa prediksi hal ini terjadi seperti ini Misha,” Dayton menjelaskan lagi, “Kita hanya salah bertemu dengan komplotan penjahat itu di waktu yang tidak tepat, di tempat yang salah pula. Jangan terlalu menyalahkan dirimu.”
Amisha mengangguk pelan dan menyeka air matanya. “That’s easy for you to say!” kata Amisha dalam hati.
“Oke berikan kepadaku transmitter GPS yang kau ceritakan tadi.”
Amisha beranjak ke depan diikuti langkah Dayton. Ia merasakan bahwa kehadiran organisasi relawan seperti WEE memang penting. Dalam beberapa hal, memang ada sesuatu yang tidak bisa didiskusikan benar dengan seorang pria. Hampir semua pria yang ia kenal, merasa semua masalah bisa cepat selesai dengan mudah dan cepat.
“Itu..” Amisha menunjuk ke benda kecil yang menempel di jaketnya, “Belum aku lepas sesuai saranmu tadi di telepon.”
“Oke, bagus!” kata Dayton melepas pelacak lokasi tersebut, kemudian membawanya ke luar.
Ia membuka pintu depan. Hujan masih deras walau sudah tidak sederas tangis Ann ketika masuk ke rumah itu tadi.
“An donas ort!” Dayton mengumpat dalam bahasa Skotlandia Gaelic ketika melihat CCTV tenaga surya yang dipasang Jorg tadi siang. Logatnya benar-benar mirip Ann. Charlotte hanya memperhatikannya dari dalam.
Ia membungkukan badannya yang setinggi Jordan Pickford itu, lalu menempelkan transmitter di bawah bagian luar dinding. Dayton kemudian melihat ke sekitar, lalu menutup kembali pintu utama.
“Aye,” kata Dayton Hughes kepada ke empat gadis yang sudah berkumpul di ruang depan - yang penasaran semua dengan apa yang dilakukan Dayton di pintu masuk.
“Kalian mengobrol lah..” kata Dayton, “Aku keluar sebentar..”
“Tapi hujannya makin deras, Day!” kata Ann kuatir.
“Justru makin deras makin bagus!” kata Dayton di ruang belakang, siap-siap keluar.
“Day!” cegah Ann, “Nanti saja..”
Tapi terlambat, Dayton sudah keluar dari pintu belakang melalui tangga darurat dan menutup pintu belakang.
“Aneh..” kata Ann, “Pikiran cowok itu aneh banget! Mau ke mana sih hujan deras begini?”
“Sama saja…” kata Charlotte, “Suami istri sama-sama aneh, nanti anak-anaknya pun aneh semua. Tidak terbayang bagaimana kelak aku mengunjungi keluarga yang aneh!”
Ann langsung menyerang Charlotte begitu mendengar olok-olok tersebut, namun yang diserang sangat sigap menangkalnya sambil tertawa.
Ann tetap menyerang Charlotte bertubi-tubi sambil mengucapkan kata-kata dalam bahasa Skotlandia kampung yang tidak dimengerti ketiga temannya yang lain.
Mereka berdua bergulingan di karpet depan sambil berteriak-teriak bercanda. Saat itu adalah peristiwa pertama di ruangan itu keempatnya tertawa sampai terbahak-bahak.
“Er, permisi ya..” kata Scarlett, “Aku ke kamar kecil dulu..”
Scarlett beranjak dari kamar belakang.
“Wah!” seru Amisha, “Teh Dayton belum di minum, sudah keburu dingin nih!”
“Biarkan saja..” jawab Ann, “Tadi dia sudah minum teh Turki di kantor.”
“Kok tau?” tanya Charlotte.
“Aku yang memberikannya tadi..” jawab Ann sambil minum teh buatan Charlotte.
Charlotte kemudian memandang Ann dari sisi kanan.
“Selamat, nyonya Hughes.. Udah jadian ya?”
“KAU INI!!”
“Hei.. hei.. Hei!” cegah Charlotte sambil tertawa, “Jangan di situ, bekas dihajar Spiderman!”
“Siapa sih Spiderman! Dari tadi pagi Spiderman melulu!” protes Ann, “Mana Scarlett? Dia berhutang penjelasan kepadaku.”
“Scarlett di belakang, dia tidak mendengarmu..” kata Charlotte.
Mereka bertiga tertawa kecil, tapi beberapa detik kemudian setelah puas tertawa, mereka tiba-tiba terdiam bersamaan.
“Er, Charlotte..” Amisha membuka pembicaraan dengan berbisik, “Tadi ketika petugas NHS datang.. Kau tahu nona Feltham?”
“Oh, medis yang mengobati Scarlett di belakang?”
“Iya..” jawab Amisha menurunkan volume suaranya, “Aku merasa kasihan kepada Scarlett. Ketika nona Feltham membuka baju Scarlett, tampak luka-luka lainnya di badan Scarlett. Ada luka seperti kena benda panas selain pukulan Scott tadi. Lalu..”
Amisha tiba-tiba meneteskan air matanya. Charlotte dan Ann mendekatkan diri ke Amisha.
“Lalu?”
Amisha memandang kedua temannya, “Aku mendengar bahwa nona Feltham bilang di kedua pergelangan tangannya seperti ada bekas luka borgol!”
“Ya Tuhan!”
“Haud yer wheesht!”
Meskipun Amisha tertunduk sambil menyeka air mata - tapi tanpa harus melihat pun ia sudah paham siapa yang menanggapi dengan nada religius, dan siapa yang melontarkan sumpah serapah.
“Lalu..” tanya Charlotte lagi.
“Lalu..” kata Amisha, “Scarlett menjawab tidak tahu.. Ia tidak ingat apa-apa akan luka-luka yang dia dapat di tubuhnya.”
“Oh! Kasihan dia!” Charlotte menghempaskan badannya ke karpet.
“Char, sepertinya dia..” kata Amisha lagi, “Mungkin dia juga mengalami kekerasan, entah dengan pacarnya dulu, atau di rumah tangga, lalu ada kejadian apa begitu yang menyebabkan dia sampai amnesia.”
"Yang menyedihkan itu bahwa ia bilang tidak ingat.."
"Iya.."
“Atau jangan-jangan dia pelaku sadoo..”
“Plak!” Charlotte menampar pelan mulut Ann, “Jaga mulutmu Ann, yang ini tidak lucu..”
“Tapi, borgol Char..”
“Tetap gak lucu, Ann!”
“Maksudku, borgol!’ Ann membela diri, “Siapa yang pakai borgol kalau bukan untuk.. Kau tahu maksudku kan? Apalagi bekas benda panas, mungkin tetesan lilin..”
“Ann!” hardik Charlotte, “Hentikan! Disgusting!”
Ann memegang tangan Charlotte, “Maksudku, dia kan tidak mungkin penjahat atau buronan..”
Amisha dan Charlotte diam memandang Ann.
Ann terdiam sesaat.
“Kalian tahu!” Ann tidak sengaja berseru, “Pacarku kan tidak mungkin merekomendasikan..”
“PACARMU?” tanya Charlotte dan Amisha bersamaan.
Amisha sampai menganga dengan wajah yang ceria - seperti seorang homeless di dekat stasiun Waterloo mendapatkan undian hadiah rumah di Kensington.
“Pacarmu?” tiba-tiba muncul Scarlett dari belakang - ia heran, tapi kemudian beranjak menghangatkan tehnya di meja dapur.
Ann terbelalak. Mukanya memerah seperti buah peach matang.
“BLARRR!” suara halilintar di luar mengagetkan mereka. Suara petir itu mewakili Ann yang saat itu sama-sama “tersambar”.
Amisha dan Charlotte sudah tidak tahan lagi, mereka memasang wajah tertawa licik cekikikan seperti peri hutan yang menemukan lingkaran jamur.
Sedangkan Scarlett masih belum mengerti apa topik pembicaraan ketiga temannya ini, tapi ia ikut tertawa. Sesaat sebelum ia permisi ke belakang, yang ia ingat adalah momen ketika keempatnya tertawa terbahak-bahak.
Ann kesal sekali dengan dirinya yang tidak bisa mengendalikan mulut sendiri. Ia langsung berdiri melompat-lompat sambil berputar seperti tarian ritual Indian di depan pintu masuk.
“Brak!” tiba-tiba pintu depan dibuka.
Dayton muncul di depan pintu, membersihkan tetes air dari overcoat hitam-nya, lalu melipat payungnya.
Ann kaget setengah mati, seketika itu juga tubuhnya terasa lemas lalu terhuyung jatuh ke belakang. Untung Scarlett dan Amisha sempat menangkap tubuh tinggi gadis Skotlandia tersebut.
“Ada apa lagi ini?” tanya Dayton heran.
“Tidak apa-apa, Day!” kata Charlotte menyembunyikan fakta. “Paca.. eh temanmu ini sedang kebanyakan gula..”
Amisha dan Scarlett mendudukkan Ann di kursi. Charlotte membantunya dengan membelakangi Dayton, supaya wajah Ann tertutup dari rasa malu luar biasa di penghujung tahun 2019.
Tak sengaja Charlotte memegang dada Ann dan terasa di telapak tangannya, degup jantung Ann yang berdebar cepat.
Charlotte langsung menggembungkan pipinya lalu menirukan suara bass drum house music sesuai tempo degup jantung Ann. Amisha cepat tanggap, ia langsung menyanyikan lagu house music dalam bahasa Jerman.
Scarlett hanya tertawa geli sambil mengira-ira awal mula insiden ini terjadi.
Ingin rasanya Ann menendang semua temannya untuk menutupi rasa malu, tapi ia mengurungkan niatnya dan pasrah jadi olok-olokan Charlotte dan Amisha.
Dayton hanya bisa tertegun dan menggelengkan kepala. Ia tidak mengerti permainan apa yang sedang dilakukan empat gadis tersebut.
“Nona-nona, hujan sudah reda..” kata Dayton mengakhiri diskotik dadakan di Dover Place sore itu, “Amisha, bawa pakaian seperlunya.. Kau sementara pindah ke Folkestone, ke tempat Scarlett.”
Meskipun Dayton bukan boss mereka, namun Amisha langsung mematuhi suara tegas dengan logat Skotlandia yang kental itu. Diam-diam Amisha setuju jika Ann menikah dengan Dayton, maka kelak muncul Dayton dan Ann kecil-kecil yang tingkahnya kurang lebih sama dengan orang tuanya.
“Er.. aku akan membantu Amisha..” kata Scarlett tiba-tiba.
“Aku juga..” Charlotte menambahkan.
Mata Ann yang masih terduduk lemas beradu pandang dengan Dayton.
Dayton menghampirinya, lalu melihat wajah Ann dari dekat dengan seksama.
Ann pelan-pelan menutup kedua matanya. Ia mengira bahwa Dayton akan menciumnya.
“Berapa banyak Chupa Chups dan toffee yang kau konsumsi, Ann?” tanya Dayton kemudian beranjak ke dapur.
“DASAR TIDAK PEKA!!!” teriak Ann dalam hati. Ia kesal mengapa cerita romansa yang menimpa dirinya agak mirip dengan film Romantic Blood tapi sayangnya dengan soundtrack Shaun The Sheep.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 110 Episodes
Comments
Rona Risa
ibaratnya angan film romantis kenyataan kocak kayak film domba... yah pertanda bertepuk sebelah tangan kalau begini 😂
2024-05-11
1
Rona Risa
kayak fifty shades of grey gitu? 😂
2024-05-11
1
Rona Risa
ditangkap lalu disiksa sampai amnesia?
2024-05-11
1