The King Cornered and Defenseless.
“Masih tidak kapok kau Hicks?” seorang laki-laki tua dengan jaket hitam dan baseball cap merah tua tertawa sambil memegang secangkir kopi panas melihat ke papan catur di tempat duduk depan The National Library di Trafalgar Square.
“Diam kau, Harold.” jawab seorang laki-laki sekitar usia menjelang 70 tahun dengan jaket hitam juga, dan memakai beanie hat biru tua dengan logo Tottenham Hotspur, “Hari ini anginnya segar, Bates tua. Aku merasa akan menang pagi ini.”
“Dia pemenang Chess Fest Juli lalu, Hicks!” tambah seorang pria pensiunan yang seumur dengan Harold Bates, duduk di samping Hicks Higgins, “Kau tidak akan menang, kawan. Kau tahu aku bertaruh pada nona Catterson?”
“Aku juga pemenang Chess Fest di Trafalgar Square sini, Ned.” jawab Hicks kepada pria yang duduk di sampingnya sambil memindahkan bidak kudanya di papan catur, “Tidak tahukah kau tentang hal itu? Bacalah surat kabar, kawan..”
“Biar aku tebak!” kata Harold Bates, “Pemenang Chess Fest tahun 1989? Tepat sebelum tembok Berlin diruntuhkan? Hahahahaha.. Bahkan nona Catterson saat itu belum lahir. Benar kan, Amisha?”
“Aku lahir tahun 1995, grandpa,” jawab Amisha Catterson tersenyum menoleh ke arah Harold setelah memindahkan bidak catur ratunya. “Aku tidak mengalami masa Cold War.”
“Well, Cold War itu masa susah, nona Catterson.” tambah Ned McCafferty, “Aku saat itu tidak berada di London. Aku tinggal di Derry tahun 1972, aku masih SMP.. Menakutkan..”
“Bloody Sunday, McCafferty?” tanya Harold Bates.
“Bloody Sunday, The Troubles, semua sudah berlalu, tuan Bates dan tuan McCafferty. Move on, mate!” jawab Hicks Higgins sambil memajukan pionnya memakan kuda Amisha, “Hati-hati nona Catterson, kau kehilangan kudamu!”
Amisha diam saja. Ia hanya menggerak-gerakan jarinya supaya tidak kedinginan.
“Hati-hati Hicks, awasi papan catur!” Ned McCafferty memberi saran, “Lepas sedetik pandangan dari papan catur, maka itulah The Troubles dalam arti sebenarnya hahahaha..”
“The Troubles… Mimpi buruk ketika aku masih bertugas di Second Battalion Parachute Regiment, chap. Friendly fire di Tullydonnell. Bagaikan skakmat untuk battalion kami. Defenseless!” Hick bercerita masa lalu.
“Tullydonnell di Forkhill?” tanya Ned McCafferty, “Aku tidak pernah tahu kau bertugas di Forkhill dulu.”
“Memang saat itu kita belum kenal, chap. Saat itu temanku satu-satunya adalah senapan L1A1. Aku baru lulus SMA, semua teman-temanku menghindari militer. Hanya aku yang berada di tempat yang salah, dan waktu yang tidak tepat! Terjerumus ke dalamnya. Siapa sangka tugas pertamaku ke Irlandia Utara, bukan ke Jerman Barat.”
“Aku tidak pernah tahu ada friendly fire di Tullydonell,” Harold Bates meminum kopinya pelan-pelan, “Sejujurnya, Hicks.. Jika tugas pertamamu ke Jerman Barat, mungkin kau tidak jadi pemarah seperti sekarang ini!”
“Permarah?” tanya Hicks tertawa, “Aku hanya marah jika Son Heung-min gagal membobol gawang lawan ketika Harry Kane sudah memberi bola bagus kepadanya. Selain itu aku tidak pernah marah, chap!”
“Apa itu skakmat di Tullydonell?” tanya Ned McCafferty, “Skakmat seperti apa, Hicks?”
“Skakmat, grandpa!” Amisha memindahkan bidak bentengnya yang kemudian mengancam bidak raja Hicks Higgins. Bidak raja Hicks terpojok dan tidak ada lagi yang bisa melindunginya.
Ketiga pria tua itu tiba-tiba terdiam dan terhenyak untuk beberapa detik. Hanya terdengar suara burung merpati yang habis minum air dari Trafalgar Fountain.
“Apa?” Hicks Higgins terkejut tak percaya.
Harlod dan Ned masih terdiam.
“Aku tidak percaya ini! Tunggu.. Tunggu! Tunggu sebentar!” Hicks menggerak-gerakkan jarinya di atas papan catur menganalisis semua pergerakan sebelumnya.
Burung merpati di Trafalgar Square itu seakan mengamati Hicks Higgins, lalu minum air kolam kembali.
“Ha! Ha! Ha!” tiba-tiba Ned tertawa terpatah-patah sampai memejamkan matanya setelah ia memahami gerakan bidak catur Amisha tadi.
“Bloody hell!” kata Hicks tak percaya, masih mengamati papan catur.
“Langkah yang bagus, nona Catterson.” Harold ikut tersenyum.
“Kudaku tadi adalah umpan, tuan Higgins.” jawab Amisha mengatupkan puffer jacket-nya sambil memandang langit London yang tiba-tiba sedikit lebih gelap, “Oh, apakah akan turun hujan lagi?”
Ned McCafferty dan Harold Bates saling berpandangan dan tertawa lebar sampai hampir tidak ada suaranya. Strategi Amisha sungguh di luar dugaan. Bukan langkah Queen's Gambit, bukan King's Attack, atau Serangan Fried Liver. Amisha membuat sendiri langkah catur yang bisa menjadi strategi baru.
“Apa kubilang, Higgins tua!” Ned menepuk punggung Hicks Higgins, “Tebakanku benar kan! Gadis muda ini akan mengalahkanmu!”
“Oh, tidak!” Hicks Higgins menutup muka dengan kedua telapak tangannya “Kau benar-benar jenius, Amisha! Tidak kusangka kuda tadi adalah umpan. Kau bersih sekali dalam deception. Apakah semua orang Armenia pandai dalam permainan catur?”
“Aku hanya kebetulan warga keturunan Armenia dan Indonesia, pak Higgins.” jawab Amisha Catterson, “Aku warga negara Inggris lahir di Preston, dan belum pernah ke Armenia atau Indonesia sama sekali.”
“Preston? Pantas logatmu mirip si tua McCafferty.” kata Hicks Higgins masih menatap papan catur.
“Sejak kapan logat Preston mirip dengan logat Irlandia-ku, Hicks?” kata Ned sambil masih tertawa dan bertepuk-tepuk tangan.
“Sedikit mirip lah, mate!” Hicks membela diri.
“Makan siang kita hari ini terjamin, nona Catterson!” Ned masih tidak bisa menghentikan tawa gembiranya.
“Apa?” Harold Bates hampir tersedak dari seruputan kopinya, “Kalian bertaruh lagi? Kalian tahu bahwa bertaruh adalah ilegal di Trafalgar Square. Kalian akan menghadapi hal serius di sini.”
“Santai, Harold… Ini hanya permainan hiburan, bukan taruhan seperti yang kau pikirkan.” Hicks menoleh kepada Ned, “Berapa kerugianku, Ned?”
“100 quids, kawan..” jawab Ned, “60 quids untuk nona Catterson, dan 40 quids untukku yang bertaruh untuk Amisha.”
“Tutup dulu papan caturnya!” cegah Harold ketika melihat Hicks mengeluarkan dompet. “Tidak bagus jika dilihat polisi lewat!”
“Harold..” kata Hicks, “Tidak ada polisi lewat, kau lihat sendiri.. Trafalgar Square itu tempat para turis melakukan swafoto dan sekumpulan merpati berkumpul. Santai saja kawan. Satu-satunya pos polisi di Trafalgar Square adalah itu.”
“Hahaha!” Ned tertawa terbahak-bahak sambil menoleh ke arah pos polisi terkecil di London, “Itu pos polisi perang dunia pertama, Harold.. Tidak ada Constable yang bertugas di situ sekarang. Lihat! Hanya ada turis berfoto! Kau berfoto-lah dengan mereka! Hahahaha..”
Tapi tetap saja Harold meletakkan gelas kopinya dan segera merapikan papan catur, “CCTV, gentlemen.. Mereka di mana-mana!”
“Paranoid tua!” Hicks hanya tertawa menggelengkan kepalanya melihat Harold membereskan papan catur sambil menyerahkan dua lembar uang kertas berwarna ungu kepada Ned.
“Terima kasih kawan!” Ned menerima dua lembar £20 dari Hicks sambil masih tidak bisa menghentikan tawanya.
“Ini untukmu, nona Catterson.” kata Hicks sambil menyerahkan selembar uang kertas berwarna coklat kemerahan “Terima kasih untuk permainan yang menyenangkan. Aku belajar banyak hari ini.”
“Ini £100, pak Higgins.” kata Amisha, “Ini di luar kesepakatan kita.”
“Sebelum aku berubah pikiran, nona.”
Amisha ragu-ragu tapi terlihat senang melihat selembar uang £100 tersebut.
“Ambilah, anggap biaya kursus pagi ini,” kata Hicks, “Kapan-kapan ajari aku mengenai strategi baru tadi.”
“Dengan senang hati!” Amisha langsung menerima selembar £100 itu dari tangan Hicks Higgins, “Terima kasih atas kemurahan hatimu, Sir Hicks Higgins..”
Hicks tertawa perlahan, “Siapa kau? Apakah kau dari Buckingham Palace sehingga bisa menganugerahkan gelar Sir kepadaku?”
“Anda bertugas di Parachute Regiment dulu, pak.” jawab Amisha langsung berdiri dan memberi hormat ala militer Inggris, “Thank you for your service, Sir!”
"Dia dulu ikut Cadet, Hicks!" tambah McCafferty.
“Hahahaha.. Anak ini..” Hicks Higgins tertawa, “Pergilah, kau bilang jam 9 nanti sudah ada janji. Aku sekarang akan melawan si tua dari Derry ini.”
“Baru jam 08.29, Sir..”
“Sudah sana pergi.. Ini giliranku, Amisha!” kata Ned tertawa, “Aku akan mengalahkan si tua Higgins ini! Aku juga akan menciptakan strategi Irish’s Gambit yang akan jadi warisan kebanggan keluarga McCafferty! Hahahahahahha..”
Ned langsung bergegas pindah tempat duduk ke depan Hicks “Oke… Kita taruhan berapa quids?”
Ned menggosokkan telapak tangannya berkali-kali.
Hicks tidak menjawab, hanya tersenyum memandang Ned sambil membuka kembali papan catur yang sudah ditutup Harold sebelumnya.
“Harold, kau ikut bertaruh?” tanya Ned.
“Tidak, Ned…” jawab Harold sambil menikmati kopinya, “Kau tahu aku tidak bertaruh.”
“Jangan munafik, Harold.” kata Ned, “Aku tahu kau pasang taruhan untuk Chelsea di pertandingan lawan Hotspur 22 Desember nanti.”
“Apa?!” Hicks terkejut, “Kau memihak Chelsea?”
“Kau percaya si Irlandia tua ini?” Harold membela diri “Lagipula itu kan hanya Premier League, Hicks! Bukan piala dunia, mate!”
“Kau lihat logo di beanie hat-ku? Jadi kau memihak Chelsea?” tanya Hicks lagi.
Harold tidak menjawab hanya menggerakkan tangannya berkali-kali menandakan bahwa Hicks tidak perlu bertanya lebih lanjut.
“Sampai jumpa teman-teman, cheers!” Amisha Catterson pamit dan melambaikan kepada ketiga rekan seniornya lalu mengeluarkan telepon selulernya dari saku jaketnya dan memasang headset.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 110 Episodes
Comments
Darien Gap
aku tamat loh nonton band of brothers..keren filmnya/Good//Good/
2024-04-17
1
Mirabella
bisa jadi ratu catur dari inggris ini si amisha 🤭
2024-04-13
0
Mirabella
song heung min siapanya song hye kyo? 🤭😂
2024-04-13
0