A Melody of Resilience.
“Scarlett!”
“Amisha!”
“Bangun!”
Scarlett langsung terbangun.
“Sepertinya sudah hampir sampai Ashford,” Kata Charlotte.
Amisha membuka matanya, melihat jendela. Ia merasa kereta sudah di lokasi yang tidak asing baginya.
“Oh iya, ini sudah dekat!” kata Amisha.
Scarlett melihat surat kabar yang dititipkan tadi masih ada di pangkuannya, “Ini… kok gak jadi diambil?”
Ia menengok ke depan dan ke belakang. Tidak ada tanda-tanda bahwa pria bertopi hitam tadi akan kembali mengambil surat kabarnya.
"Aneh sekali ini, mengapa titipnya ke kita ya?"
Sementara itu di seberang Scarlett, masih tampak seorang gadis Asia yang tidak sengaja menabrak Ann tadi masih sibuk di depan laptop-nya dengan wajah yang terlihat cemas.
Sesekali ia membenarkan posisi kacamatanya lalu menggigit bibir bawahnya sambil mengetik sesuatu, kadang berhenti untuk memainkan rambutnya sendiri yang hitam seperti rambut Amisha.
Beberapa menit kemudian, kereta berhenti dan pengumuman bahwa kereta sudah sampai di stasiun Ashford International terdengar.
“Akhirnya aku lah yang jadi bagian lost and found..” kelakar Scarlett sambil memperlihatkan surat kabar titipan yang tidak jadi diambil, lalu melipatnya dan memasukkannya ke dalam backpack.
Gadis Asia di seberang Scarlett tiba-tiba menutup laptop-nya ketika mendengar pengumuman bahwa kereta sudah tiba di Ashford, lalu buru-buru berdiri dan bergegas menuju pintu kereta.
“Aduh!” tiba-tiba Scarlett merasakan kepalanya sakit sekali sampai ia harus menunduk. Pandangannya gelap sesaat.
Charlotte langsung menopang Scarlett supaya tidak jatuh.
“Sepertinya ini gara-gara Scarlett ditendang tadi di Piccadilly..” kata Amisha cemas, ikut memegang kedua bahu Scarlett.
“Kau harus ke rumah sakit, Scar..” kata Charlotte, “Sepertinya ada yang terluka akibat tendangan tadi.”
“Tidak apa-apa..” sahut Scarlett, “Hanya pusing sedikit. Tendangan tadi memang keras tapi hanya mengenai hidung dan pipiku saja. Sepertinya bukan itu.”
“Aku tahu bahwa kau sudah bosan melihat rumah sakit.” kata Charlotte, “Tapi aku merasa kau harus periksa..”
Scarlett mengangguk sambil memejamkan kedua matanya, “Setelah ini, oke? By the way, aku direhabilitasi di trauma center, bukan di rumah sakit Char,”
“Bukannya trauma center itu rumah sakit juga ya?”
Scarlett hanya tersenyum.
Kereta berhenti di stasiun Ashford International di Kent. Kent adalah sebuah county di Inggris, terletak di tenggara Inggris, tidak jauh dari Selat Inggris. County adalah unit pemerintahan lokal seperti pemda - yang terdiri dari beberapa district. District adalah unit pemerintahan lokal yang lebih kecil, terdiri dari beberapa borough. Dan Borough adalah unit pemerintahan lokal yang lebih kecil lagi, terdiri dari beberapa ward.
Scarlett, Amisha dan Charlotte memilih keluar dari gerbong depan.
“Aduh!” Amisha tersandung sesuatu.
Terlihat ada topi fedora hitam tergeletak di lantai dekat pintu keluar gerbong depan. Charlotte memungutnya, “J. Osbourne.. Ada namanya di topi ini..”
“Sir..” panggil Charlotte ketika melihat ada petugas kereta api berjalan ke arahnya. Charlotte kemudian menitipkan topi fedora hitam tersebut kepada petugas. Setelah itu ia bersama kedua temannya turun ke luar gerbong kereta.
Stasiun Kereta Api Internasional Ashford di Kent awalnya hanya bernama Ashford pada tahun 1842. Stasiun ini dibangun oleh South Eastern Railway sebagai stasiun akhir sementara dari jalur kereta api dari London ke Dover melalui Croydon. Sepuluh tahun kemudian, koneksi ke Folkestone, tempat tinggal Scarlett saat ini, serta ke Canterbury dan Hastings dibuka.
Stasiun ini kemudian berganti nama menjadi Ashford (Kent) di tahun 1923 dan kemudian berganti nama lagi menjadi “Ashford International” di tahun 1996.
Ashford International kini melayani jalur kereta domestik yaitu kereta High Speed One dan Southeastern yang ditumpangi Charlotte, Amisha dan Scarlett.
Ashford International juga merupakan jalur kereta internasional yang menghubungkan Inggris dengan Perancis melalui terowongan bawah laut yang dimulai dari Folkestone, Inggris ke Calais, Perancis. Namun perjalanan kereta internasional walau jalurnya melalui Ashford, keberangkatannya tetap harus melalui stasiun St. Pancras International di London, karena loket imigrasi termasuk pemeriksaan bagasi dan paspor hanya bisa dilakukan di stasiun tersebut.
Suhu di kota Ashford, Kent saat itu lebih hangat sedikit dari London, yaitu 4ºC di minggu kedua bulan Desember yang berangin dan bersahabat dengan hujan.
Mereka berjalan menyusuri kota Ashford yang tidak sepadat London, namun kota kecil ini memiliki beberapa peninggalan estetika, karena county ini memiliki beberapa kejadian bersejarah yang penting ketika Romawi datang ke Inggris.
Amisha menyewa tempat tinggal tidak jauh dari stasiun kereta, sehingga mereka tidak perlu menggunakan kendaraan ke tujuan.
“Kita sudah sampai!” kata Amisha sambil menunjuk tempat tinggalnya.
Amisha menyewa tempat tinggal kecil di lantai dua, tepat di atas bangunan yang sepertinya merupakan gudang penyimpanan toko makanan dan minuman yang beroperasi di seberangnya.
Mereka bertiga menaiki tangga yang bisa diakses dari luar tanpa harus masuk ke bangunan utama.
“Anggap rumah sendiri ya..” kata Amisha menyilakan teman-temannya masuk ke dalam.
Sebuah tempat tinggal yang sederhana di mana ruang tamu dan dapur menjadi satu, di sudut ruangan tampak meja sederhana dengan sebuah laptop dan beberapa buku di atasnya, dan kasur di lantai tanpa dipan.
Charlotte dan Scarlett melepaskan scarf dan jaketnya karena suasana di rumah Amisha ini tidak terlalu dingin. Mereka duduk di kursi dekat dapur.
“Aku siapkan teh dulu ya..” kata Amisha.
“Tidak usah repot-repot, Misha..” kata Charlotte sambil beranjak dari tempat duduknya, lalu berjalan ke jendela dan melihat ke sekeliling, “Aku baik-baik saja..”
“Aku juga..” tambah Scarlett mengeluarkan tumbler-nya, “Kopi dari kantor WEE masih ada nih..”
Amisha tersenyum lalu melepaskan scarf dan menggantungkan jaketnya di dinding.
"Kopinya ternyata masih hangat!" seru Scarlett, "Ada yang mau?"
"Aku mau, Scar.." kata Charlotte.
Scarlett juga menawarkan kopinya kepada Amisha. Tapi tiba-tiba Scarlett terkejut melihat sisi belakang jaket The North Face Amisha seperti ada tambalan.
“Misha!” kata Scarlett sambil menunjuk jaketnya yang digantung.
Amisha melihat arah telunjuk Scarlett. Tampak di jaketnya secarik kain yang menempel dan lampu led kecil berkedip. Ia menarik kain tersebut kemudian memeriksanya “Hah!? Transmitter?”
“Transmitter apa?” tanya Scarlett.
“Sepertinya.. Sepertinya.. GPS! Pelacak lokasi!” Amisha menutup mulutnya dengan panik.
"Astaga!" seru Scarlett kaget.
“Amisha..” kata Charlotte dari dekat jendela, “Apakah tetanggamu juga memiliki BMW biru? Topik BMW biru mendadak trending ya hari ini, tapi tidak mungkin kan itu mobil yang tadi pagi mengejarmu?”
Amisha segera lari ke arah jendela dan melihat keluar.
Jantungnya seakan berhenti berdetak ketika pandangannya beradu dengan Jorg Gittelbaum yang baru turun dari mobil diikuti Boris Aldriche.
“Blimey!” Amisha menutup mulutnya lagi sampai terjatuh di depan jendela.
“Amisha, kenapa?” tanya Charlotte.
Scarlett bergegas melihat ke jendela. Terlambat! Scott Gittelbaum, Jorg Gittelbaum dan Boris Aldriche sudah berlari menuju lantai atas tempat tinggal Amisha.
Scarlett langsung berlari ke arah pintu dan menahan pintu tersebut.
“BRAAKKK!!!!!” pintu terbuka paksa hingga Scarlett tersungkur beberapa meter ke belakang.
Jorg dan Boris masuk, diikuti Scott yang tampak tidak sabar menghampiri Amisha yang jatuh terduduk, sedang dibantu berdiri oleh Charlotte.
“Enyah kau, imigran!” teriak Scott dan dengan kasar menyingkirkan Charlotte ke samping hingga membentur kaca jendela.
Scott segera menarik kerah sweater Amisha kemudian mendorongnya ke dinding dan mencekiknya, “Jalang kotor sialan! Gey in drerd!!”
Amisha memegangi tangan Scott Gittelbaum sambil berusaha melepaskan cekikan. Tapi tenaganya tidak sekuat Scott, ia hanya bisa terpaku di tembok hingga wajahnya memerah.
Scarlett tiba-tiba berlari menuju Scott dan menabraknya dengan keras hingga Scott melepaskan cekikan di leher Amisha.
Amisha kembali jatuh terduduk memegangi lehernya sendiri sampai terbatuk-batuk.
“Hazir!” umpat Scott dalam bahasa Yiddish kepada Scarlett. Scarlett hanya terdiam memandangi Scott, tidak tahu apa yang harus ia lakukan kemudian. Charlotte hanya bisa menangis di pojok memberi isyarat kepada Scarlett untuk segera berhenti.
Dalam waktu beberapa detik, Scott melakukan tendangan memutar khas ilmu bela diri Savate, dan telak menghantam perut Scarlett hingga ia terlempar ke belakang menghantam meja dapur.
Scarlett langsung terkapar di lantai dapur, diam tak bergerak. Sebuah cerek teh aluminium kemudian jatuh menghantam kepalanya karena getaran yang kuat dari hasil tendangan Scott tadi. Untung saja Amisha tidak jadi memasak air di cerek tersebut.
“Scarlett!!” teriak Charlotte menangis.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 110 Episodes
Comments
Rona Risa
ketahuan
2024-05-10
0
Rona Risa
orang luar mah jujur, topi bukan miliknya dikasih petugas... coba kalau di negeri 62 🤣🤣🤣
2024-05-10
1
Rona Risa
sesuatu dalam otak yang ada hubungannya dengan ingatannya terpicu sesuatu, misal, gadis Asia misterius itu...?
2024-05-10
1