Heartbeat Fades into the Dawn.
“Dua orang, Ah Fu..” jawab Amisha langsung lari menuju tangga ke lantai dua.
“AH HENG! DUA ORANG LANTAI DUA!!!” teriak Ah Fu dari bawah.
Scarlett memberi salam, lalu ikut Amisha ke atas. Ah Fu tidak membalasnya.
“OKEEEE!!!” balas orang yang dipanggil Ah Heng dari lantai dua.
Ah Fu kebingungan melihat kedua gadis itu buru-buru sekali ke lantai dua. Ia berjalan ke arah tangga juga, kemudian melihat ke atas.
“Tim kai a?” Ah Fu bergumam dalam dialek Kanton.
Amisha langsung memilih tempat duduk dekat tangga, Scarlett hendak menengok ke jendela tapi langsung ditarik Amisha “Jangan ke situ! Jangan ke situ!”
Scarlett mundur.
“Pesan apa?!” tanya Ah Heng berteriak.
“Air mineral!” jawab Scarlett memalingkan pandangannya dari jendela ke arah Ah Heng.
“AIR MINERAL!!!” Ah Heng teriak ke arah dapur yang mengagetkan Scarlett karena Ah Heng berteriak tepat di dekat telinganya.
Kemudian ada suara dari dapur dalam dialek Kanton membalas teriakan Ah Heng.
“Chinese Tea!” tambah Amisha.
“LUK CHA!!!” Ah Heng kembali memalingkan mukanya ke arah dapur. Kali ini Scarlet sudah berhasil menjauh supaya telinganya tidak diteriaki lagi.
“Dan dua mangkok mie!”
“Mie apa?” tanya Ah Heng.
“Apa saja, Heng..” Amisha langsung menelungkupkan kepalanya di atas meja.
“MIE APA SAJA 2 MANGKOK!!! LANTAI ATAS!!” teriak Ah Heng.
Scarlett masih kuatir dan mencuri-curi pandang ke arah jendela lantai dua yang terbuka lebar.
Ia menoleh ke arah Amisha, tapi Amisha hanya menelungkupkan dirinya ke dalam lipatan tangannya sendiri di atas meja.
“BRAK!!”
“YAM CHA!!!”
Scarlett dan Amisha sama-sama kaget ketika air mineral dan Chinese tea datang dengan tiba-tiba. Pesanan datang seperti halilintar tak terduga di pagi hari.
“Apakah mereka selalu begini? Mengagetkan pelanggan?”
“Mungkin efisiensi waktu..” jawab Amisha lemah, “Cari uang di London susah, makin cepat dapat cash, makin baik. Aku di McDonald’s juga dilatih untuk melayani dengan cepat.”
Scarlett segera membuka tutup botol air mineral dan memberikannya kepada Scarlett “Ini! Kau dehidrasi!”
Amisha langsung menerima air mineral itu.
“Kenapa kau pesan Chinese tea?”
Amisha tidak menjawab, ia hanya minum sambil melirik Scarlett. Habis setengah botol ia minum, lalu mengatur nafasnya yang terengah-engah, “Jika tidak pesan itu, Ah Heng marah..”
“Kau kenal mereka?” bisik Scarlett hati-hati.
Amisha mengangguk sambil menunjukkan 4 jari.
Scarlett menebak bahwa Amisha mengenal restoran ini 4 hari yang lalu. Padahal bisa jadi maksud Amisha adalah sudah kenal selama 4 tahun.
Scarlett kembali ingin menengok ke jendela tapi ditahan oleh Amisha. Amisha tidak berkata apapun tapi menunjuk ke arah cermin berukuran besar di lantai 2 yang menuju ke jendela yang memantulkan suasana di jalan Chinatown.
Scarlett menghentikan langkahnya dan memandang cermin.
Ia mengerti maksud Amisha.
Mereka kemudian saling diam mengatur nafas yang sudah mulai normal. Hanya suara keributan dalam dialek Kanton yang masih terdengar dari dapur beradu dengan suara peralatan masak, minyak panas yang menggoreng, dan api dapur merebus sebuah panci raksasa. Ditambah teriakan dari bawah bertanya berapa orang, berkali-kali terdengar.
Scarlett mulai merasakan panasnya panci tersebut dan segera melepaskan scarf dan jaket kuningnya. Amisha pun mengikutinya.
Nampak Amisha masih menggunakan seragam McDonald’s Leicester Square.
“Jadi.. siapa yang mengejar kita?” tanya Scarlett.
“Dia.. dia Scott..”
“Scott? Scott yang mana? Kan ada tiga orang..”
“Scott Gittelbaum, yang rambutnya gaya crew cut. Dia kepala sekuriti eksekutif di kantorku yang lama. Beberapa pegawai lain menyebutnya sebagai anjingnya Derig. Sepertinya bukan sekuriti, tapi tangan kanannya Derig.”
Scarlett diam saja.
“Kau tau Derig?” tanya Amisha, “Dia mantan bos-ku.”
Scarlett mengangguk, “Ya, Charlotte cerita. Lalu si Spiderman itu?”
“Spiderman yang mana?”
“Yang lincah, di pipi kiri ada bekas luka.. Lompat ke sana ke sini...”
Tiba-tiba Amisha terkejut dan terbelalak.
“Ah sial!!!” Amisha menepuk kepalanya sendiri, “Aku baru ingat! Dia yang datang tadi malam ke McDonald’s Leicester Square! Bodohnya aku!”
“Kau mengenalnya?”
“Tidak juga, tapi aku baru ingat namanya Boris Aldriche.. “ jawab Amisha, “Kalau tidak salah, dia kepala data center kantor yang dulu. Julukannya The Phantom. Teman-teman kantor menjulukinya demikian.”
“Dia yang paling mengerikan.. Loncat sana, loncat sini..”
“Satu lagi yang gondrong, ada tattoo di lehernya, aku kenal… dia adalah adik Scott, Jorg Gittelbaum. Perangainya kurang lebih serupa dengan kakaknya, julukannya The Knuckles. Dia manajer keuangan yang sering menghajar meja dengan buku-buku jarinya.”
“Kau ini dulu kerja di kantor atau atau di kelompok gangster sih? Orang di kantormu begitu mengerikan semuanya!” tanya Scarlett, “Lalu.. Mengapa level manajer yang mengejarmu? Bukan anak buahnya?”
“Karena manajer ke atas jahat semua,” jawab Amisha, “Anak buahnya rata-rata baik.”
Scarlett menghela nafas panjang, “Aku tahu bahwa aku amnesia, tapi aku bisa menyakinkan diriku bahwa perusahaan itu sepertinya sekumpulan gangster.”
“Amnesia?” Amisha terhenyak.
Scarlett diam saja.
“Oh..” kata Amisha memegang tangan kiri Scarlett, “Ternyata bukan aku saja yang hidupnya sengsara.. Turut prihatin Scar..”
“Aku baik-baik saja. Cheers!” jawab Scarlett, “Sudah sembuh, tapi belum ingat apa pun.”
Amisha kemudian mengambil teko teh.
“Aku dulu kerja di perusahaan forex trading.. Hinderston Investments.” jawab Amisha sambil menyodorkan secangkir Chinese Tea kepada Scarlett “Minum ini, nafasmu akan lebih baik.”
Scarlett menerima cangkir tersebut dan meminumnya perlahan.
“Sepertinya ini bukan kali pertama kau dikejar ya?”
“Hidupku begini, Scarlett.. Jadi pelarian sejak insiden itu..” Amisha membenamkan diri dalam pangkuan tangannya sendiri di meja dan kembali menangis. Scarlet hanya bisa menepuk punggung Amisha perlahan.
“Kau tahu aplikasi Star Stock Option dan Brexit Fund Trade?” tanya Amisha sambil mengusap air matanya.
“Er.. apakah itu aplikasi terkenal?” tanya Scarlett.
Amisha mengangguk.
“Er.. Aku baru satu bulan dinyatakan pulih dari rehabilitasi amnesia retrograde, yaitu gangguan daya ingat yang membuat seseorang sulit mengingat informasi atau peristiwa yang terjadi sebelum mengalami amnesia.” jelas Scarlett, “Aku belum tahu banyak mengenai aplikasi tertentu.”
“Ya.. itu aplikasi terkenal sekali, Scar. Tidak hanya di Inggris, tapi di seluruh dunia. Apalagi moment-nya cocok.. Pas negara kita sudah menyatakan akan keluar dari Uni Eropa. Hampir semua orang di Britania Raya menaruh uang di aplikasi itu.”
“Oke nanti aku coba pelajari ya. Setelah aku sembuh dari luka cedera yang aku tidak ingat, aku menjalani evaluasi mental dan fisik, kemudian dilanjutkan rehabilitasi bersama tim medis dan terapis kembali mengingat cara menggunakan transportasi umum, membeli keperluan sehari-hari, dan mengenali kembali kota London.
Amisha mendengarkan dengan baik. Ciri khas seseorang dengan kepribadian HSP atau Highly Sensitive Person adalah sering memiliki kemampuan untuk menangkap nuansa emosional yang halus dalam situasi, dan mengenali perasaan orang lain dengan lebih baik.
“Lalu aku menjalani latihan-latihan untuk mengingat informasi praktis sehari-hari, termasuk kembali menggunakan telepon seluler dan internet. Setelah itu aku harus menjalani konseling dan ikut terapi dukungan mental untuk membangun kembali kepercayaan diri.”
“Oh sepertinya latihannya cukup berat ya?” Amisha cenderung lebih peka terhadap lingkungan sekitar dan perubahan-perubahan kecil. Ia dapat menciptakan pemahaman yang lebih baik terhadap perasaan dan keadaan orang Scarlett.
“Yang paling berat adalah ketika sadar tanpa ingatan sama sekali. Rasanya ingin menangis setiap kali ingat saat itu,” Scarlett menutup wajahnya.
Amisha segera memeluk Scarlett dari samping. Perasaannya mengatakan bahwa ia sudah mengenal Scarlett sejak lama. Namun seingatnya, ia tidak punya teman bernama Scarlett, kecuali beberapa menit sebelum bersembunyi di Yat Hei ini.
“Saat ini aku diminta membantu jadi relawan di WEE. Ini bagian dari reintegrasi sosial. Aku dibantu dengan fasilitas pertemuan dengan orang-orang dari lingkungan, seperti teman baru - karena ternyata aku tidak memiliki keluarga. Reintegrasi sosial ini untuk memberikan dukungan orang yang amnesia seperti aku untuk membantu proses adaptasi kembali.”
“Semoga semua ini cepat berlalu ya Scar,” kata Amisha sambil mengusap punggung Scarlett, “Apakah setelah proses reintegrasi sosial, ingatanmu perlahan akan kembali?”
“Diharapkan demikian. Tapi aku tetap harus mengikuti program pemulihan berkelanjutan di London, walau aku tinggal di Folkestone. 1 jam naik kereta Southeastern.”
“Folkestone?” Amisha terkejut, “Aku tinggal di Ashford!”
“Oh ya? Ashford yang di Kent atau Surrey?” tanya Scarlett
“Yang di Kent! Tadinya aku tinggal sekitar 1,5 jam perjalanan mobil di Barat Laut kota London. Lalu aku pindah ke Ashford.”
“Tadi aku ke London lewat stasiun kereta Ashford. Tim medis menempatkanku di Folkestone, tidak jauh dari trauma center. Kabarnya suasana Folkestone akan membantu ingatanku kembali daripada tinggal di London.””
“Menurutku bukan London tidak membantu ingatan kembali, tapi London akan mencekik dompetmu jika kau tinggal di London.” kata Amisha tertawa, “Berapa sewa bulanan flat di Folkestone?”
“£300 sebulan, tapi bukan flat. Flat terlalu mewah untukku.” jawab Scarlett, “Hanya sebuah kamar kecil di atas toko. Ditambah biaya transport ke London pulang pergi setiap hari, aku hitung sebulan bisa £630.”
“Oh..”
“Biaya transportasi di sini cukup tinggi ya?”
“Iya.. Tapi masih lebih murah daripada kau tinggal di London.” kata Amisha, “Di sini setidaknya kau harus punya £1,500 sampai £2,000 untuk biaya tempat tinggal sebulan. Kecuali seperti Charlotte menyewa kamar di atas toko di Camden, kalau tidak salah £850 sebulan.”
Scarlett menyodorkan cangkir kosongnya ke hadapan Amisha, dan Amisha segera mengisinya kembali dari teko teh, “Jadi bagaimana tadi soal Brexit Fund Trade dan Star Stock Option?”
“Ya itu masalahnya.” jawab Amisha, “Aku menemukan algoritma di aplikasi itu yang ternyata 100% judi yang menguntungkan bandar, yaitu Derig. Semua produk dari kantor itu adalah scam. Ketika Brexit nanti terjadi, para investor dalam tanda kutip akan kehilangan uangnya, dan sebelum Brexit terjadi, Derig sudah menyiapkan rencana kabur.”
“Investor tanda kutip?”
“Ya, mereka yang jadi nasabah mayoritas bukan 100% investor, lebih ke spekulator dan penjudi. Tapi mereka merasa dirinya sebagai investor karena salah mengerti. Aplikasi itu yang menipu mereka. Seakan mereka jadi investor ketika setor uang.”
“Oh..”
“Aku berencana resign waktu itu.. Tapi belum sempat mengajukan, tiba-tiba Derig malam itu ke ruanganku.. lalu..”
“Stttt..” tiba-tiba Scarlett kaget meletakkan jari telunjuk di bibirnya.
Scarlett hati-hati melihat ke arah cermin.
“Menunduk..” bisik Scarlett, “Lihat di cermin, si Spiderman ada di jalan.”
“Phantom!” balas Amisha berbisik juga “Spiderman terlalu bagus namanya.”
Tiba-tiba terdengar sebuah langkah cepat mendatangi mereka, “BRAKKKK!!!”
Scarlett dan Amisha terhenyak kaget seperti para petani tomat yang tiba-tiba mendengar harga tomat turun 500% di pasar tanpa ada jaminan harga dan subsidi pengganti dari pemerintah.
“DUA MANGKOK MIE APA SAJA DATANG!!!!” Seorang pelayan mengagetkan mereka berdua yang sedang konsentrasi mengamati cermin.
“Makanannya datang..” bisik Amisha.
“Makan di sini membuatku jantungan!” balas Scarlett berbisik juga.
Mereka terdiam sesaat.
Tampak dari pantulan cermin, Boris pun kaget dengan teriakan tadi. Untunglah dari lantai dasar juga ada teriakan-teriakan lain.
“Tunggu sampai Spiderman pergi, baru lah kita makan…”
Tiba-tiba insting Boris memberi indikasi bahwa ia harus memeriksa restoran Yat Hei. Dia menuju pintu masuk.
“Gawat!” bisik Scarlett Corbyn sambil melihat cermin.
“Kenapa?”
“Sepertinya ia masuk ke sini!”
Benar saja, Boris membuka pintu masuk Yat Hei.
“BERAPA ORANG???!!!!” muncul teriakan yang sama.
Boris tidak menjawab. Ia melihat di lantai satu hanya ada beberapa orang duduk sendiri dan makan makanannya sendirian. Ada yang menyantap nasi dengan ayam asam manis yang sepertinya menggugah selera.
“BERAPA ORANG???!!!” kembali teriakan tersebut ditujukan kepada Boris.
Boris diam saja, lalu beranjak ke luar restoran. Ia tidak tahu jika ternyata di Yat Hei itu jika yang datang sendirian, makannya di lantai dasar. Tapi jika lebih dari seorang, harus makan di lantai atas.
Jantung Amisha dan Scarlett berdegup sangat kencang. Untung saja Boris tidak melanjutkan mencari dengan naik ke lantai atas.
Beberapa detik kemudian, tampak The Phantom atau Boris Aldriche melihat-lihat ke sekitar Chinatown seperti seekor rubah merah mencari tikus tanah yang hendak dimangsanya. Lalu ia berlari ke arah Shaftesbury Avenue.
“Ayo cepat makan, lalu kita kabur lagi!” bisik Amisha.
“Berapa harga mie ini?” tanya Scarlett.
“Murah, £2.75! Aku yang bayar nanti!”
“Mie apa ini? Tadi dia sebut mie apa saja..”
“Aku yang salah tadi tidak menyebutkan yang spesifik..”
Amisha melihat mangkok mie yang datang, “Dasar Ah Heng.. dia memasukkan semua daging, ayam, udang, dumpling dan ikan dalam satu mangkok. Ini semangkok bisa 5 quids!”
Scarlett menarik satu mangkok mie ke hadapannya “Setelah ini kita harus kabur lagi, mereka pasti berkerumun di daerah ini.”
“Scarlett..” tiba-tiba Amisha menahan tangan Scarlett “Maaf aku menanyakan ini, apakah kau vegetarian? Maaf aku bertanya..”
“Er… Aku juga mengalami amnesia disosiatif, gangguan daya ingat yang membuat aku lupa tentang informasi pribadi yang penting, seperti nama, alamat, atau keluarga. Tapi sepertinya aku bukan vegetarian. Kenapa kau menanyakannya?”
Amisha menunjuk mangkok mie yang penuh daging hingga mie nya tak terlihat.
“Aku akan memakannya, nona Catterson,” kata Scarlett, “Sebulan penuh aku hanya makan roti lapis dan makanan murah lainnya, bahkan makan di McDonald’s pun masih dalam impian.”
“Serius? Bahkan makan di McDonald’s hanya impian?”
Scarlett mengangguk, “Aku belum ada penghasilan tetap, tapi sudah ada biaya bulanan dan simpanan uang di bank tidak banyak.”
“Oh kasihan sekali..” kata Amisha, “Bahkan para homeless yang ditunjang pemerintah pun pada makan Big Mac di Leicester Square…”
“Berapa ya tunjangan gelandangan di London? Delapan quids sehari?” tanya Scarlett.
“Sepertinya segitu,” jawab Amisha, “Ada tambahan 6 quids (£6) jika mereka punya hewan peliharaan kalau gak salah.”
Scarlett mengambil sumpitnya dan mulai makan mie yang lebih tepat disebut kumpulan aneka daging dengan topping mie.
“Kenapa tanya tunjangan homeless?”
“Tidak apa-apa,” jawab Scarlett dengan mulut penuh mie, “Persiapan, siapa tahu aku berakhir jadi gelandangan.”
“Amit-amit, jangan bilang begitu..” bisik Amisha tersenyum, “Aku menang taruhan catur pagi ini, aku yang bayar.”
Amisha terharu melihat Scarlett makan mie seperti orang baru keluar dari hutan bertahun-tahun. Ia lalu makan mie-nya juga.
“Oh ya!” kata Amisha, “Tadi di Trafalgar Square kau bilang kepada Ann dan Charlotte bahwa kau sudah kenyang, tapi..”
“Kau yang membuatku kelaparan, nona Catterson! Lari kesurupan membuat gula darahku turun. Lari seperti tadi mengingatkan aku saat Tony Adams menjaga area belakang.” Scarlett sibuk melahap mie-nya.
“Kau suka sepak bola?” tanya Amisha, “Tapi Tony Adams kan pemain senior, sepertinya kau masih bayi ketika Tony bermain untuk timnas Inggris.”
“Tim medis dan fisioterapis sehari-hari menonton tayangan sepak bola era 1996 dan tayangan ulang Top Gear. Kata mereka, aku harus menonton tayangan jaman dahulu supaya membentuk kembali ingatan kognitif.”
“Kalau Top Gear masuk akal.. Itu tayangan sekitar 4 sampai 6 tahun lalu.. Tapi kalau Liga Inggris tahun 1996 sih jamannya kau masih bayi mungkin, bahkan aku baru umur 1 tahun!”
Scarlett tertawa sambil mengunyah mie yang ternyata memang sedap.
Tiba-tiba lewat wangi minyak wijen dari menu ayam goreng wijen yang dipesan pelanggan lain yang aromanya khas, sepertinya lezat sekali. Kedua gadis itu jadi lebih lahap lagi berusaha mengosongkan mangkok masing-masing.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 110 Episodes
Comments
Darien Gap
ohh itu arti hsp
2024-04-18
1
Mirabella
bahkan hewan peliharaan ditanggung. keren sih ini 👏
2024-04-13
0
Mirabella
homeless lebih terjamin di luar negeri... kalau di sini, yah tahu sendiri...
2024-04-13
1