The Second Stretch.
“Oke, mereka sudah di dalam tube.” kata Charlotte.
“Oke.. oke..” jawab Ann masih sedikit panik. Ia berusaha menenangkan diri.
Tak lama kemudian, tube dari stasiun Piccadilly Circus tiba di stasiun Leicester Square.
“Kalian turun dulu ya!” kata Charlotte di voice chat, “Nanti kita naik lagi bersamaan.”
“Oke, Charlotte!” jawab Scarlett.
Kereta bawah tanah Piccadilly Line mulai memperlambat kecepatannya dan beberapa detik kemudian akan berhenti.
“Charlotte!” panggil Scarlett di voice chat room, “Kami melihatmu dan Ann! Sepertinya pintu akan terbuka di depan kalian.”
Charlotte dan Ann menoleh ke arah datangnya kereta.
“Oh oke, kau melihat kami?!” kata Charlotte bingung campur kagum. Bagaimana Scarlett bisa melihat posisi mereka dengan jelas.
“Aku melihat kalian!”
“Mana mereka?” tanya Ann kepada Charlotte, “Kau benar melihat kami, Scar?” Ann melihat ke sana-sini tapi tidak mendapati siapa pun yang ia kenal.
Tebakan Scarlett benar, pintu kereta terbuka tepat di depan Ann dan Charlotte.
Ann masih heran mengapa Scarlett bisa melihat di kecepatan kereta bawah tanah yang tidak bisa dibilang lambat.
“This is Leicester Square Station. Please mind the gap between the train and the platform as you alight.” terdengar suara pengumuman dari dalam tube. Pintu terbuka dan beberapa penumpang keluar.
Ann dan Charlotte berdiri di pinggir pintu menunggu para penumpang yang turun.
Begitu tampak tidak ada lagi penumpang yang turun, Ann dan Charlotte langsung masuk. Ann segera memeluk Amisha. Charlotte pun memeluk Scarlett.
Seorang pria berusia 30-an yang berdiri menunggu kereta bawah tanah di belakang Ann tadi tergesa-gesa ikut masuk ke dalam Tube. Tangan kanannya memegang ponsel, tangan kirinya memegang rokok elektrik. Ia menatap layar telepon selulernya tanpa henti.
Ia duduk di seberang mereka berempat.
“Please stand clear of the doors.” kembali terdengar pengumuman ketika pintu tube hendak ditutup. Setelah itu, kereta bawah tanah ini mulai melaju dengan percepatan menuju stasiun berikutnya.
Tak lama kemudian terdengar suara telepon genggam berdering. Pria di depan mereka berempat itu menjawabnya dengan suara yang tergesa-gesa, “Aku sudah di dalam tube! Sampai jumpa di Saint Pancras.”
Kemudian ia menutup percakapan telepon selulernya dan menaikkan messenger bag-nya ke pangkuan. Tangan kirinya gelisah memainkan rokok elektrik yang bentuknya mirip USB flashdisk.
Tanpa sengaja Ann dan Scarlett membaca nama “R. Kirchmann” di depan tas tersebut.
Ann merangkul Amisha yang duduk di sebelahnya lalu mengusap pelan pungggungnya. Amisha menyandarkan kepalanya ke bahu Ann.
Charlotte mengobrol sedikit dengan Scarlett dengan berbisik, kemudian mereka diam kembali.
Pria tersebut mengambil kembali telepon selulernya dan menatapnya sambil melakukan scrolling di layarnya. Tak lama kemudian ia memasukkannya lagi, tapi setelah itu ia mengeluarkan telepon genggamnya lagi.
Kereta bawah tanah melewati stasiun Covent Garden, Holborn, Russell Square. Pria di depan mereka masih mengulang tindakan yang sama hingga Ann senewen. Ia kesal sekali, karena seperti sedang disuguhi pertunjukan sulap tapi versi gagal.
Amisha melihat Ann sepertinya kesal melihat ulah penumpang di depan. Ia segera berbisik kepada Ann “Sabar, Ann. Sebentar lagi berhenti di stasiun St. Pancras..”
Ann mengangguk. Diam-diam ia setuju bahwa di antara mereka berempat, yang mempunyai kepribadian HSP memang Amisha Catterson. Ia sendiri bukan HSP, hanya sekali waktu saja lebay seperti kata Charlotte.
“The next station is King’s Cross St. Pancras.” terdengar pengumuman dari dalam kereta.
Keempat gadis itu siap berdiri mendekati pintu keluar. Pria pemilik tas dengan inisial R. Kirchmann masih menatap layar telepon selulernya.
“Sepertinya pria di depan kita gelisah karena pembayaran langganan situs dewasanya gagal! Mungkin ketahuan istrinya!” umpat Ann sambil berbisik kepada Amisha.
Amisha hanya mengelus lengan kanan Ann perlahan sambil tangan kirinya menggandeng tangan kanan Ann dengan erat. Ann akhirnya mulai mengerti bahwa orang dengan kepribadian Highly Sensitive Person memang bisa berempati dan menyampaikan komunikasi dengan halus. Jika ia berkata hal yang sama kepada Charlotte, sudah sejak tadi ia dicubit atau dibungkam mulutnya seperti biasa.
"Ladies and gentlemen, we have now arrived at King's Cross St Pancras station. This is a major interchange station where you can connect to the Northern, Victoria, Circle, Hammersmith & City, and Metropolitan lines. For mainline train services, including Eurostar, please follow the signs to St Pancras International."
“Kita turun di sini, lads..” kata Charlotte.
Pintu kereta terbuka.
“Please mind the platform gap..” terdengar lagi pengumuman mengenai keselamatan stasiun kereta.
“Ya, ya, ya ya, mind the platform gap!” Ann kesal, “Aku mengerti!”
Amisha hanya senyum supaya Ann lebih sabar. Ia mengerti bahwa Ann kesal sekali dengan ulah pria di depannya tadi yang berulang kali melakukan tindakan yang sama.
Ann menggandeng Amisha keluar, Charlotte di belakangnya dan kemudian Scarlett menyusul.
Baru melaju beberapa langkah, tiba-tiba Scarlett dikagetkan dengan tubrukan dari belakang.
“Aduh!” Scarlett terhuyung hampir jatuh dan langsung ditahan oleh Charlotte supaya tidak tersungkur.
Tampak pria tadi berjalan tergesa-gesa dan tidak memalingkan muka atau minta maaf setelah menabrak Scarlett. Ia langsung berlari menjauhi mereka.
“Ada apa?” Ann dan Amisha menengok ke belakang.
“Sepertinya dia tadi fokus ke telepon selulernya sampai tidak sadar kalau sampai di tujuan,” kata Charlotte masih memegang Scarlett, “Baru sadar keluar kereta ketika pintu kereta mau ditutup kembali.”
“Kau tidak apa-apa Scar?” tanya Amisha.
Scarlett menggelengkan kepalanya.
“Tuh kan!” Ann meluapkan amarah yang sejak tadi tertahan, “Bandot kurap, iblis handphone! Seharusnya sejak tadi sudah kubunuh itu Siluman Lato-Lato Jahanam!”
Amisha kembali menenangkan Ann sambil mengajaknya beranjak jalan.
“Ayo, Scar..” ajak Charlotte.
“Eh.. itu,” Scarlett menunjuk sebuah buku kecil berwarna merah tua terjatuh di lantai dan mengambilnya.
“Apa itu?” tanya Charlotte.
“Mungkin punya pria yang menabrakku tadi!”
Scarlett dan Charlotte mencari-cari pria tersebut.
Sementara itu, Ann dan Amisha sudah berjalan di depan, “Kita pindah ke platform berapa, Amisha?”
“Pindah ke stasiun St Pancras International, naik kereta Southeastern.”
“Jauh sekali jalannya!” keluh Ann, “Tapi setidaknya kita tidak melewati jalan basah, bisa lewat jalur stasiun ini kan?”
Tiba-tiba Scarlett dan Charlotte berlari menyusul Ann dan Amisha.
“Ada apa lagi?” tanya Ann, “Masih urusan pria di depan kita tadi yang melihat Tinder terus?”
“Ini!” kata Scarlett sambil menunjukkan buku yang ditemukannya, “Pria tadi menjatuhkan miliknya.”
Ann melihat ke sekeliling “Sudah tidak terlihat orangnya, mungkin sudah dibunuh orang lain. Kita taruh saja nanti di bagian Lost and Found.”
“Benar juga.” jawab Charlotte, “By the way, kau tau dari mana dia sibuk dengan Tinder, Ann?”
“Ada pantulan layarnya tampak di jendela kereta,” jawab Ann, “Tapi yang membuat aku senewen sendiri itu dia bolak-balik buka tutup tas, bolak-balik lihat ponsel. Bolak-balik terus seperti setrika COD yang tidak dibayar lalu retur.”
“Omonganmu juga bolak-balik, Ann.” kata Charlotte, "Apa itu setrika COD? Aku tidak mengerti,"
“Huh!” Ann tidak peduli lalu merangkul Amisha kembali berjalan.
Scarlett memasukkan buku tersebut ke backpack-nya.
“Oh iya!” seru Ann menghentikan langkahnya, “Sebelum lupa!”
Ann membuka backpack-nya lalu mengambil tumbler pink milik Scarlett, “Tadi kau juga meninggalkannya di Trafalgar.”
“Terima kasih, Ann..”
“Kau sama cerobohnya dengan pria siluman itu. Meninggalkan barang sembarangan…”
Scarlett hanya tersenyum.
“Kita harus ke mana?” tanya Charlotte.
“Pindah stasiun, ke St Pancras International.” jawab Scarlett seperti Amisha menjawab Ann tadi, “Kita bisa lewat jalur ini lewat bawah tanah atau ke luar dulu.”
“Lewat luar saja ya.” kata Charlotte
“Bawah saja!” sahut Ann.
“Ke luar dulu saja, ada KFC dekat sini. Ada teman kita yang kelaparan!” kata Charlotte.
Ann tersenyum lebar, “Ayo kita keluar!”
Mereka berempat keluar dari stasiun kereta bawah tanah Kings Cross St. Pancras menuju pintu ke luar sambil mengobrol. Beberapa kali Amisha memberi kode untuk diam kepada Scarlett di saat Ann bertanya sudah lapar atau belum.
Scarlett setuju untuk diam, karena jika Ann mengetahui bahwa ia dan Amisha menikmati mie Yat Hei sementara Charlotte dan Ann keliling mencari mereka di Hyde Park, terbayang bagaimana Ann akan menanggapinya.
Sampai di luar stasiun, Ann menarik tangan Amisha ke arah kanan.
“Lho!?” tanya Charlotte tak mengerti, “Bukannya KFC ke kiri lalu menyebrang jalan?”
“Ke kanan saja!” jawab Ann.
“Memangnya ada KFC di sana?” Charlotte masih bingung, “Itu kan ke arah stasiun St Pancras International!”
“Ada!” jawab Ann tenang, “Di stasiun St. Pancras International ada outletnya kok. Baru buka minggu lalu!”
“Kalau ke arah sana, mengapa kita harus keluar dulu? Kan bisa terhubung dari bawah tanah tadi..”
Diam-diam Ann setuju dengan kata-kata Charlotte, tapi karena sudah terlanjur keluar ke jalan raya, ia memilih untuk pura-pura tidak mendengarnya. Trigger kata KFC tadi membuatnya tidak bisa berpikir jernih.
Mereka kemudian menyebrang jalan Pancras Road dan berjalan di sisi gedung stasiun St. Pancras International.
Selagi mereka mengobrol tiba-tiba ada BMW biru berhenti tepat di sebelah kanan depan mereka.
“BMW biru!!!!!!” seru Scarlett terhenyak. Ia tanpa sadar ketakutan hingga menutup wajahnya.
Mereka berempat kaget setengah mati. Scarlett langsung jatuh terduduk lemas, bahkan Amisha tampak hampir pingsan.
Ann dan Charlotte panik menyadarkan kedua temannya yang jatuh lunglai itu untuk segera berdiri dan lari. Ann merasa Amisha berat sekali bobotnya, mirip karung gandum.
“Gawat! Otot Amisha tegang dan bobotnya bertambah,” seru Ann, “Berat sekali!”
Ann tidak tahu jika Amisha habis menyantap mie aneka daging di restoran Yat Hei di saat ia sibuk berkeliling di sekitar Trafalgar Square sampai ke Hyde Park.
Tiba-tiba pintu kiri BMW biru itu terbuka dan seorang penumpang di depan mengenakan setelan jas dan pakaian hangat overcoat berwarna khaki bergegas membukakan pintu penumpang di kiri belakang.
Charlotte dan Ann tambah panik, menyita perhatian orang-orang sekitar karena teriakan-teriakan mereka, terutama logat kental pedesaan Ann yang tidak lazim terdengar di London.
Scarlett sudah pasrah dan Amisha matanya terbuka hanya setengah dan tidak ada perlawanan ketika diseret mundur oleh Ann.
Tampak seorang wanita hampir berumur 50 tahun dengan pakaian setelan biru muda elegan - dilengkapi pakaian hangat mewah yang menutupi leher hingga lututnya - turun dari BMW biru itu dan menoleh ke arah empat gadis itu, “Ada apa?”
Charlotte dan Ann langsung terdiam. Ternyata dugaan mereka salah. Kali ini penumpang BMW biru bukan pengejar mereka.
“Kau.. kau.. Pucat sekali!” kata wanita tersebut sambil menunjuk Amisha yang lemas, “Sepertinya stress ya!”
“Harold!” panggil wanita itu kepada pria yang mengenakan setelan jas rapi berwarna hitam tadi. Wanita itu terlihat berbincang sebentar lalu pria yang dipanggil Harold tersebut masuk ke dalam mobil berbicara dengan supir, lalu mengambil sesuatu.
Amisha walau masih terduduk lemas, tapi ia lega karena penumpang BMW biru ini bukan yang mereka kuatirkan. Scarlett masih gemetar, ia tidak berani memandang mobil itu dan penumpangnya. Ia membenamkan wajahnya ke dinding luar stasiun London St. Pancras International. Nafasnya tersengal.
Meskipun Charlotte menepuk pundaknya beberapa kali menyatakan bahwa BMW biru itu bukan mobil yang mengejar mereka tadi, tapi Scarlett masih memaksa menggeletak di lantai dengan wajah menghadap tembok.
Pria yang dipanggil Harold tadi lari menghampiri dan memberikan sebuah kantong kertas yang cukup berat kepada Ann, “Ini.. dari Duchess Harrington..”
“Your Grace?” Charlotte terkejut.
“Itu coklat dari Swiss, makan lah..” kata wanita yang ternyata adalah Duchess Harrington, “Coklat mengandung senyawa yang dapat meningkatkan kadar serotonin dalam otak. Selain itu ada senyawa tumbuhan flavanol dapat meningkatkan aliran darah ke otak. Bisa meningkatkan fungsi kognitif dan meningkatkan suasana hati. Dijamin kalian tidak lemas begitu.”
Ann menerima pemberian Duchess Harrington walau ragu-ragu karena rasa terkejut yang belum sepenuhnya hilang. Tanpa sadar ia memberikan kantong kertas itu kepada Amisha. Amisha kemudian mendekati Scarlett yang masih menutupi wajahnya.
“Jaga kesehatan kalian ya!” kata Duchess Harrington berlalu bersama Harold. BMW biru tersebut menyalakan lampu sign ke kanan, kemudian meninggalkan Pancras Road.
“Terima kasih, Your Grace!” kata Ann dan Charlotte bersamaan.
Ann dan Charlotte saling memandang dan menarik nafas lega.
Ann menyikut lengan Charlotte, “Apakah kita harus meletakkan salah satu kaki ke belakang lalu menunduk ketika menyapa Her Grace? Beliau kan masih saudara Ratu.”
“Jangan tanya aku..” jawab Charlotte, “Tanya mereka.”
Ann menoleh ke arah Amisha dan Scarlett yang terduduk di pinggir jalan.
“UNBELIEVABLE!!!” teriak Ann.
Tampak Amisha dan Scarlett dengan wajah tidak berdosa sedang menyantap coklat Swiss pemberian Duchess Harrington sambil duduk di lantai dan keduanya tetap menghadap ke tembok.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 110 Episodes
Comments
Mirabella
duchess yang baik hati
2024-04-13
0
Mirabella
paha ayam crispy memang menggoda iman 😁
2024-04-13
0
Rona Risa
coklatnya gak diracun kan?
suudzon mulu 😂😂😂
2024-04-06
1