Silent Streets, Shadows Play.
“Ada apa di luar?” tanya Ann.
Beberapa pengunjung cafe juga menengok ke luar karena suara gaduh.
“Gak tau ada apa..” jawab Charlotte, “Mau cek ke luar? Mumpung masih antri nih, belum pesan.”
Ann mengangguk sambil kuatir, “Ayo kita cek! Jangan-jangan mereka berdua..”
Charlotte jadi terbelalak.
“Ayo cepat keluar!!” ajak Charlotte yang mulai kuatir juga.
Sampai di luar tidak ada apa-apa, hanya ada kursi cafe yang terbalik dan meja kosong dengan tumbler berwarna pink di atas meja.
“Itu.. itu..” Charlotte menepuk-nepuk bahu Ann berkali-kali.
“Apa Charlotte?”
“Itu tumbler-nya Scarlett! Aku melihatnya tadi di kantor!”
Ann mengambil tumbler itu dan memasukkannya ke dalam tas. “Ada apa ini?!”
Charlotte menoleh ke kiri dan kanan tapi dia tidak menemukan tanda-tanda kedua temannya.
Ann bertanya kepada orang-orang sekitar tapi tidak ada yang tahu. Tapi tiba-tiba seorang wanita paruh baya menghampiri, “Kalian mencari gadis yang tadi duduk di situ?”
“Iya..” jawab Ann.
“Aku hanya melihat dua orang gadis lari ke sana, dan tiga pria mengejarnya.”
“Ke mana, nyonya?”
“Entahlah.. Antara ke Utara Charing Cross Road atau ke Hyde Park..”
Ann menghampiri Charlotte yang kebingungan, “Char.. mereka dikejar tiga orang pria!”
“Hah!? Siapa yang mengejar?” Charlotte masih bingung, “Jangan-jangan.. Firasat Amisha benar mengenai orang yang datang ke McDonald’s tadi malam!”
“Ayo kita cari mereka!”
“Ya ampun!” Charlotte tambah bingung, “Astaga, ke mana mereka?”
“Katanya antara ke Utara Charing Cross Road atau ke Hyde Park!”
“Dua arah yang berbeda!” Charlotte bingung, “Kita berpencar?”
Ann tidak yakin, “Cari bersama saja!”
Sekitar 200 meter dari Trafalgar Square, tampak Scarlett kewalahan mengejar Amisha yang berlari cepat sekali seperti Kyle Walker dari Manchester City.
“AMISHA!!” teriak Scarlett, “TUNGGU AKU!!!”
Amisha tidak menjawab, dia hanya lari tidak menengok ke belakang. Para pejalan kaki minggir karena takut tertabrak gadis itu.
Amisha berlari kencang dari Charing Cross Road belok kiri ke Irving Street. Scarlett masih mencoba mengejarnya tapi jarak mereka masih terpaut sekitar 10 meter. Sekitar 100 meter di belakang mereka, ada tiga orang pria misterius yang mengejar.
Sebelum belok ke Irving Street, Scarlett sempat menengok ke belakang, tampak pengejarnya pun mempercepat larinya, salah satunya yang memiliki bekas luka di pipi kiri melompat ke sana ke sini seperti atlet parkour menghindari pejalan kaki yang menghalangi.
“Gawat! Siapa mereka?” teriak Scarlett dalam hati. Ia melihat ke depan, tampak Amisha seperti kerasukan tetap lari tanpa menoleh walau Scarlett memanggilnya.
Tampak Amisha menuju Orange Street dan mempercepat larinya.
“AWAAAASSSSSS!!!!” teriak Scarlett terkejut sampai berhenti jongkok dan menutup kedua telinganya.
“CIIIIIIITTTTTTT!!!!” sebuah van Renault Master berwarna jingga mendadak berhenti ketika Amisha menyebrang Orange Street di depan Steak and Company tanpa menengok kiri dan kanan.
“HEEIII!!!” Supir van itu turun meneriaki Amisha, “Kau membahayakan, nona! Jangan ulangi hal seperti ini!!”
Tampak seorang suami istri paruh baya juga ikut mengomentari penyebrangan gegabah tersebut.
Scarlett segera menuju ke belakang van Renault itu, tapi tiba-tiba ia melihat BMW biru tadi sedang melaju ke belakang Renault Master yang berhenti.
Supir van tersebut turun dari mobil memeriksa mobilnya dan nampaknya masih kaget, “Kalau aku tidak cepat menginjak rem, gadis itu berakhir di rumah sakit!”
Scarlett mengurungkan niat melewati belakang van. Ia berubah haluan menyebrang jalan Orange Street dari depan van yang berhenti, lalu kembali mengejar Amisha.
"Ada apa lagi ini?" pengemudi van tersebut terkejut melihat Scarlett, "Kejar-kejaran apa ini?"
Kali ini Scarlett tidak tahu Amisha lari ke mana - sosoknya sudah lenyap dari pandangan, tapi ia terus berlari karena tiga orang pria di belakangnya pun tidak lebih lambat.
Dari kejauhan terdengar suara beberapa pria berteriak-teriak dalam bahasa Yiddish, ditambah BMW biru tadi membunyikan klakson berkali-kali di belakang Renault Master jingga tadi.
“Sial! Ke mana dia?” tanya Scarlett dalam hati sambil terus berlari.
Sampai ujung Irving Street, Scarlett memutuskan mengambil jalan ke kiri - karena signage bertuliskan “Hampshire” di persimpangan itu menarik pandangannya.
“Sudahlah, ke kiri saja!” kata Scarlett dalam hati lalu mempercepat larinya.
Tiba-tiba di ujung sebuah bangunan kuno di seberang Leicester Square nampak seorang gadis menunduk terengah-engah dengan jaket The North Face warna pink.
“Itu dia!” Scarlett segera menghampirinya.
“Amisha!” bisik Scarlett, “Ayo cepat! Mereka mengejar kita!”
“Scarlett!” Amisha kehabisan nafas, “Aku.. aku tidak bisa melanjutkan!”
Tampak Amisha menarik nafas berat sekali seperti mengidap asma.
“Kau punya masalah pernapasan?”
Amisha berusaha menenangkan diri, “Tidak..”
Amisha merasa agak mual, tapi tidak bisa muntah. Ia batuk-batuk sampai matanya terpejam.
“Kau bisa! Ayo!! Kau harus bisa! Mereka akan tiba sebentar lagi!” Scarlett menarik Amisha untuk lanjut berlari, “Salah satu dari mereka mengerikan! Orang yang ada bekas luka di pipinya, mengejar kita seperti Spiderman! Lompat ke kiri dan ke kanan!”
Amisha berusaha kembali berlari, tapi baru beberapa meter berlari, ia menahan Scarlett “Kita.. kita sembunyi di sini saja, ini McDonald’s tempat aku bekerja!”
“Kau kan sudah mengundurkan diri!” tarik Scarlett lagi, “Justru tidak aman di sini karena mereka mungkin tahu kau bekerja di sini, lagipula aku tidak ada budget £15 untuk membeli Big Mac!”
“Big Mac £5.49! Bukan £15!”
“Ayo bertahan sedikit lagi! Lihat toko Lego itu?” tanya Scarlett.
Amisha diam saja, masih tersengal-sengal.
“Amisha! Sadarlah! Lihat toko Lego itu? Kita lari ke situ sebelum ketiga orang itu sampai di sini!”
Mendengar kata-kata itu, tiba-tiba Amisha langsung mengerahkan sisa tenaganya, melesat menuju toko Lego di seberang Leicester Square diikuti Scarlett.
Sesampainya di toko Lego, mereka belok kiri bersamaan, lalu keduanya langsung jatuh terduduk terengah-engah.
Gerakan mereka sekilas seperti saat John Terry melakukan sliding tackle legendaris di tahun 2010 ketika melindungi gawang kesebelasan nasional Inggris.
Mereka berdua berhenti berbicara, hanya mencoba mengatur nafas yang terengah dan memejamkan mata sejenak.
“Apakah mereka mau menangkap kita?” tanya Scarlett mulai kehabisan tenaga.
Scarlett melihat wajah Amisha yang memerah dengan bibir yang kering.
“Astaga!” seru Scarlett, “Kau perlu minum!”
Scarlett membuka tasnya “Sial! Tumbler tertinggal!”
Amisha sudah tidak bisa berkata apa-apa, dia hanya memejamkan mata, terengah-engah duduk di trotoar depan toko Lego yang belum buka.
“Lagi pula apa gunanya memberi minum kopi di saat seperti ini?” kata Scarlett kepada dirinya sendiri.
Tak lama kemudian terdengar bentakan beberapa orang pria dari arah Leicester Square. Scarlett mengintip dari balik tembok.
“Si Spiderman itu meloncat-loncat ke Leicester Square! Apakah mereka mencari kita? Pipinya.. Pipinya mengerikan sekali! Bekas luka apa itu? Disetrika istrinya karena selingkuh?”
“Scarlett..” kata Amisha lemah, “Sudah jelas mereka mau menangkapku.. Sepertinya kita harus lari lagi! Mungkin waktu kita tidak banyak…”
“Kau sanggup?”
Amisha tidak menjawab, tapi langsung bangkit berdiri dan kembali berlari menelusuri Swiss Court lalu belok ke kanan setelah M&M's London.
“Eh tunggu!!” bisik Scarlett.
“Ikuti aku, Scarlett” Amisha lari dengan nafas tersengal, “Ada persembunyian sempurna di Chinatown.”
Scarlett mengikuti Amisha berlari di sepanjang Wardour Street. Ia heran melihat Amisha yang tiba-tiba mendapat tenaga baru untuk lanjut berlari, sedangkan ia merasa nyaris tidak kuat lagi.
Mereka berdua melewati gerbang Chinatown yang berhiaskan banyak lampion merah di sepanjang Wardour Street - yang lebih dikenal orang sebagai Chinatown. Beberapa anak muda Asia duduk-duduk di situ dengan pakaian oversized memperhatikan temannya sedang membuat video koreografi K-Pop.
“Di depan sudah Shaftesbury Avenue, Amisha!” teriak Scarlett, “Jangan mengulangi penyebrangan maut seperti tadi!”
“Tidak, kita tidak ke sana! Ikuti aku!”
Di depan Amisha ada sebuah restoran Cina dengan asap masakan mengepul dari lantai dasar dan teriakan-teriakan dalam dialek Kanton yang terdengar dari dalam. Ada papan nama “Yat Hei” di depan toko mereka.
“Itu! Itu!” Amisha menunjuk, “Masuk ke Yat Hei!”
Sampailah mereka di restoran cina Yat Hei sebelum perempatan Shaftesbury Avenue. Secepat kilat Amisha segera masuk ke dalam diikuti Scarlett.
“BERAPA ORANG!!???” seorang pemuda berteriak bertanya tanpa membalikkan badan ketika tahu pintu dibuka dari luar.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 110 Episodes
Comments
Mirabella
kalau di indonesia udah pasti hilang... entah kalau di inggris 😅
2024-04-13
0
Mirabella
untung gak ketabrak
2024-04-13
1
Rona Risa
anxiety?
2024-03-29
0