The City Breathes the Future’s History.
“Mengapa kau selalu parkir di Soho Square, Char?” tanya Ann, sambil memasukkan potongan Jambon Beurre terakhir ke mulutnya lalu mengibaskan kedua tangannya dari remahan roti baguette.
“Di sini, Broadwick Street kan bisa.. Lebih dekat ke kantor.” Ann berbicara dengan mulut penuh makanan.
“Hemat biaya parkir, nona Loughty.” jawab Charlotte.
“Ah, paling beda cuma berapa? Beda 2 quids per dua jam kan? Pelit sekali! Lagipula kan itu mobil kantor.” Ann Loughty kembali mengeluh “Apakah kau ini sebenarnya Yahudi pelit atau apa?”
“Oh… sejak kapan kau rasis, nona Loughty?!” Charlotte menjawab dengan rasa tidak senang terhadap perkataan Ann dan tetap berjalan tanpa menoleh.
“Bilang saja ke nyonya Fiona Sterling..” tukas Ann, “Bu bos, musim dingin ini London sering hujan, jadi kita perlu dana lebih untuk parkir. Gitu..”
“Lalu?” tanya Charlotte.
“Lalu apa lagi?” balas Ann.
“Lalu, jika dana parkir ditambah tapi Bu Sterling tidak lagi membayar bibi Elara, apakah kau siap kehilangan Jambon Beurre, Crumpets, BLT dan Scotch Egg?” jawab Charlotte.
“Itu tidak akan terjadi..” kata Ann, “Itu tidak akan pernah terjadi. Bu Sterling mendapat dana banyak dari kontribusi pemerintah - dari PBB, IMF, World Bank - CSR sumbangan pengusaha, dan banyak lagi yang mendukung SDG.”
SDG atau Sustainable Development Goals adalah program yang berlangsung sejak 2015 sampai 2030 dari United Nations atau PBB - untuk mencapai tujuan-tujuan spesifik, yaitu mencapai sustainability atau keberlanjutan di tahun 2030 di bidang sosial, ekonomi, dan lingkungan.
SDG nomor 5 adalah kesetaraan gender, di mana diharapkan di tahun 2030 nanti sudah terbentuk cara atau jalan untuk mencapai keberlanjutan kesetaraan pria dan wanita dalam karir, rumah tangga, keluarga dan lingkungan.
Tujuan yang dicapai adalah menurunnya tingkat kekerasan dalam rumah tangga, berkurangnya kejahatan berdasarkan gender seperti pemerkosaan dan pelecehan seksual, bertambahnya akses untuk mendapatkan pendidikan yang layak, dan meluasnya kesempatan untuk mendapat dukungan ekonomi yang berlanjut dari masa ke masa.
Tahun 2019 masih merupakan tahun awal bagi SDG - apalagi SDG nomor 5. Jadi, masih banyak pekerjaan rumah yang harus dilaksanakan. WEE dan berbagai kantor relawan lain di Eropa dan benua lainnya adalah langkah awal untuk mencapai tujuan.
“Sudah hampir sampai, nona Loughty.” kata Charlotte sambil berjalan, “Gak lama kan jalannya? Sebaiknya simpan saja keluhanmu dan belajarlah berhemat, kita bukan crazy rich yang sarapan di Mayfair seharga £74.”
“Kalau sarapan orang Italia di seberang tadi berapa quids?” tiba-tiba Scarlett bertanya sambil mengikuti Charlotte dari belakang.
“Orang Italia?”
“Oh yang di seberang kantor tadi ya?” tanya Ann berusaha menyusul Scarlett dan Charlotte, “Aku tidak tahu.. Aku belum pernah makan di seberang. Enak gak ya? Sepertinya mahal..”
“Er, Ann..” kata Charlotte menoleh ke belakang sambil tetap berjalan, “Cafe di seberang kan biasanya buka jam 10 pagi ya? Kok jam segini sudah buka ya?”
“Iya aneh.. mungkin kejar target akhir tahun.”
Di sisi jalan Soho Square, nampak beberapa mobil berjajar parkir. Semuanya dengan emisi Euro 6, sebuah ketentuan bagi kendaraan bermotor yang boleh masuk ke kota London.
Di samping tikungan Soho Square dan Barclays Bank nampak sebuah mobil blind van merah bertuliskan Royal Mail.
Charlotte menekan remote, blind van merah itu berbunyi dan kedua lampu sign-nya menyala.
“Peugeot Partner?” tanya Scarlett.
“Ya, tahun 2016.” jawab Charlotte, “Kau nampaknya mengerti mobil ini?”
“Sepertinya.. Mungkin iya, mungkin tidak.. Aku tidak yakin.” jawab Scarlett, “Mungkin aku punya kenangan dengan mobil ini tapi aku tidak bisa mengingatnya sekarang.”
“Ya begitulah..” kata Charlotte, “Ini mobil kantor kita saat ini, bekas Royal Mail yang kabarnya bu Sterling akan menyerahkan mobil ini ke sebuah Lycée di Perancis tahun depan. Sementara belum dikirim ke Perancis, kita menggunakannya.”
“Apakah bu Sterling itu atasan kita?” tanya Scarlett.
“Eh iya… Sorry, Scarlett..” potong Ann, “Kau duduk di belakang ya? Ada satu tempat duduk kok di belakang, tidak sepenuhnya lapang untuk barang. Apakah kau keberatan?”
“Ah tidak sama sekali.” jawab Scarlett, “Aku tidak keberatan sama sekali.”
Charlotte Alison duduk di belakang kemudi, Ann Loughty duduk di sebelahnya, dan Scarlett Corbyn duduk di kursi penumpang belakang sambil mengurungkan niat untuk bertanya ulang tentang siapa itu Fiona Sterling.
“Oke berangkat!” seru Charlotte.
“Kita akan sampai sekitar 08.30 menurut Google Map!” kata Ann.
“Padahal dari sini ke Trafalgar Square dekat, bisa jalan kaki.” gumam Charlotte.
“Ah, naik mobil aja!” Ann tidak setuju, “Dingin begini, bisa beku kakiku.”
“Bener gak, sampai tujuan jam 08.30?” jawab Charlotte sambil menyalakan mesin mobil, “Jaraknya kan dekat!”
“BENAR! 08.30 kok! Dan berbaik hatilah dengan Peugeot ini, Nona Allison.” kata Ann, “Kemarin kau hampir membuat mobil lain terbalik seperti Mr Bean menyerang Reliant Regal biru muda.”
“Baiklah, tuan puteri..” jawab Charlotte, “Aku kemarin belum terbiasa dengan Peugeot Partner ini, biasanya kan aku menyetir Land Rover Serie 3.”
“Wow.. Land Rover Serie 3!” kata Scarlett “That car is grand!”
“Mobil rongsok, tidak bisa masuk ke kota London karena emisi belum sesuai Euro 6…” timpal Ann sambil tertawa terbahak-bahak.
Charlotte cemberut - menoleh kepada Ann yang masih tertawa. Ia mengawasi kaca spion kanan dan mulai menginjak gas.
“Ah ya, Scarlett!” Charlotte membuka pembicaraan, “Aku dan Ann sudah membaca berkas kemarin, turut sedih dengan apa yang menimpamu ya.”
“Oh iya!” Ann menoleh ke belakang, “Dikatakan di dalam laporan, kau mengalami amnesia, bahkan kau sendiri tidak ingat apa-apa! Apakah itu benar?”
“Ya, benar..” jawab Scarlett lirih, “ketika aku sadar, aku ada di trauma center dan tidak tahu alasannya. Bahkan aku tidak ingat namaku sendiri. Menyiksa rasanya ketika teringat hari pertama sadar tanpa ingatan apa pun.”
“Ya ampun!” Charlotte kaget “Lalu apakah Scarlett.. Er… siapa nama belakangmu?”
“Corbyn..” tambah Ann.
“Iya, Scarlett Corbyn adalah nama lengkapmu?” tanya Charlotte.
“Entahlah..” jawab Scarlett, “Sepertinya demikian..”
“Jadi kau tidak ada ingatan mengenai hal itu?” tanya Ann.
“Tidak ada..” jawab Scarlett, “Hanya ada kartu identitas saja dengan nama tersebut dan fotoku di kartu itu”
“Oh, mengerikan..” kata Ann menepuk dahinya sendiri, “Sekaligus menyedihkan..”
“Bahkan kau tidak ingat asal kotamu?” tanya Charlotte.
“Er… tidak.” jawab Scarlett, “Aku tidak ingat sama sekali..”
“Logatmu seperti Inggris bagian Timur, apakah mungkin kau dari Liverpool?” tanya Charlotte lagi, “Atau Irlandia barangkali?”
“Sadio Mané is the best football player in the weeeeyyrrrld.. I’m being seeeyyrieeesss…” Ann menirukan logat Liverpool seperti di media sosial, tapi tidak begitu mirip aslinya.
Charlotte menyentil bibir Ann yang sengaja dimonyong-monyongkan.
“Awww!! Sakitt!! Anj..” Ann tidak bisa meneruskan umpatan kasarnya karena mulutnya ditutup Charlotte.
“Liverpool ya?” Scarlett memandang hampa ke depan, “Sepertinya aku tidak mempunyai kenangan apa pun dengan kota itu, aku tidak tahu. Kalau Irlandia, tidak tahu juga sih.”
“Sudahlah, santai saja!” kata Charlotte melepaskan tangan yang membungkam mulut Ann, “Siapa tau setelah kau sibuk bersama kami menjadi relawan, ingatanmu kembali.”
“Benar!” jawab Ann sambil membersihkan mulutnya - Ada sisa baguette dari telapak Charlotte, “Siapa tau tidak sengaja kau membentur benda keras, kemudian ingatanmu kembali.”
“Hei.. tidak adakah cara yang lebih manusiawi selain terbentur benda keras?” Charlotte menoleh kepada Ann.
“Di film-film kan seperti itu..” Ann membela diri, “Awas, ada BMW hitam mau pindah jalur, Char.. jangan sampai kau membuat Peugeot ini jadi bulan-bulanan Jeremy Clarkson dan Richard Hammond karena menyerempet BMW!”
“BMW itu masih jauh, Ann..” tukas Charlotte “Kau terlalu lebay, nona!”
“Jangan menuduh aku lebay, nona Alison!” jawab Ann ketus sambil memandang pengemudi BMW hitam tersebut. Seorang wanita dengan rambut diikat menyetir. Di sampingnya seorang pria keturunan Timur Tengah melakukan komunikasi radio, “Aku HSP. Highly Sensitive Person, aku tidak terima disebut lebay!”
“Ah, kau sih bukan HSP!” Charlotte tidak setuju, “Hanya tidak suka disebut lebay, bukan berarti kau HSP!”
“Eh, aku ingat Jeremy Clarkson, Richard Hammond dan James May!” kata Scarlett sambil tertawa kecil, “Acara TV Top Gear kan ya?”
“Nah!” seru Ann sambil masih memperhatikan BMW hitam tersebut, “Sudah ada progres, mungkin sebentar lagi kau mulai ingat.. Er kapan ya Top Gear berakhir? 2016? Eh tidak, 2015! Ini bisa jadi permulaan untuk mengingat 4 tahun ke belakang!”
“Hahahaha…” kata Scarlett tertawa, “Sayangnya aku menonton tayangan ulangannya bulan lalu di trauma center, bukan di tahun 2015.”
“Yah! Itu tidak dihitung!” kata Charlotte, “kau harus mengingat hal-hal lain di masa kecilmu atau kira-kira 5 tahun yang lalu.”
“Oh BMW hitam itu polisi!” seru Ann.
“Tau dari mana?” tanya Charlotte.
“Ada lampu rotator biru di samping kaca spion mobil mereka! Blue light car! Apa ya mereka? Detektif atau apa ya?”
Charlotte berusaha melihat ke arah kaca spion BMW di samping kirinya tapi tak terlihat apa-apa.
“Siapa ya mereka?” Ann bertanya-tanya sambil melihat penumpang BMW hitam, “Sepertinya kenal!”
Tiba-tiba pengemudi BMW hitam itu menoleh ke arah Ann yang sibuk mengamati. Ann segera membuang muka mengalihkan pandangan, seolah tidak terjadi apa-apa.
“Atau ingat-ingat nama teman-temanmu!” Ann menoleh ke belakang untuk menghindari kontak mata dengan pengemudi BMW hitam, “Dari situ kita bisa mencoba cari tahu!”
“Siapa ya?” Scarlett menengadahkan kepalanya “Aku… aku hanya kenal dokter di trauma center, perawat, teknisi radiologi, fisioterapis, konselor psikologis, dan seorang pria bernama Dayton Hughes. Aku tidak tahu dia sebenarnya bagian apa di trauma center itu, tapi dia lah yang menyarankan aku bergabung dengan WEE setelah dinyatakan selesai rehabilitasi pasca cedera traumatis.”
“Oh iya.. Dayton! Ia yang merekomendasikan kamu untuk bergabung bersama kami. Dia datang ke kantor kemarin! Dayton Hughes adalah teman sekolahku di Skotlandia, dia kakak kelasku. Beda dua tahun!” jawab Ann. “Kami sama-sama dari kota Killin! Kau tahu tidak kota Killin?”
Scarlett menggelengkan kepalanya.
“Mereka berpacaran!” tiba-tiba Charlotte menyela pembicaraan.
“Oh, uruslah urusanmu sendiri nona Alison!” Ann membuat muka yang ditekuk dan melakukan gerakan pengusiran setan.
Charlotte hanya tertawa.
Ann kemudian kembali menoleh ke belakang “Kota kami ada di ujung barat Loch Tay.. Ingat? Geografi?”
“Maaf..” Scarlett tersenyum, “Sepertinya aku harus mencarinya di internet, aku tidak ingat geografi.. hehe…”
“Oke!” jawab Ann Loughty bersemangat. “Killin adalah kota kecil yang terkenal dengan air terjunnya yang mengesankan, yaitu Falls of Dochart…”
“Di sana lah Ann dan Dayton berciuman untuk kali pertama..” tambah Charlotte meniru gaya pembaca puisi Shakespeare.
“Tutup mulutmu nona….” Ann merebahkan badannya ke jok depan sambil mendorong bahu Charlotte “Jangan sok tau..”
“Eh!” teriak Charlotte “Aku sedang menyetir!”
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 110 Episodes
Comments
Mirabella
baca puisi shakespeare kak? 😍
2024-03-30
1
Mirabella
mereka di sana sudah santuy mengklasifikasikan atau mengkategorikan diri dengan istilah psikologi atau perilaku tertentu... sementara di sini... asudahlah 🤣
2024-03-30
1
Mirabella
gak kebayang sih gimana rasanya...
2024-03-30
1