Straight from the Horse's Mouth.
“Tuan-tuan..” kata seorang pria dengan setelan jas rapi di sebuah ruangan tertutup yang sepertinya bunker bawah tanah, “Straight from the horse's mouth!”
Di depan pria itu nampak lima layar video conference dengan visual lima orang pria yang rata-rata berusia 50-70 tahun. Semua pria tersebut menampilkan muka serius, bahkan bisa dibilang tegang. Tidak ada senyum yang tampak di wajah mereka. Bisa dibilang, suasananya mencekam.
“Silakan melakukan polling, tuan-tuan..” tambah pria berjas dihadapan lima pria lainnya yang terlihat di layar.
Tampak kelima pria di layar video conference call menggunakan ponselnya untuk melakukan polling.
Pria tersebut melirik kepada rekan di sampingnya, seorang pria kulit putih dengan rambut pirang potongan militer di balik laptop-nya.
Beberapa pria di layar video conference tampak menghela napas beberapa kali sebelum melakukan polling. Ada yang menyeka dahinya seakan berkeringat, padahal cuaca yang tampak di layar sama-sama di musim dingin.
Beberapa menit kemudian, pria pirang di samping pria yang berdiri di depan layar video conference tersebut menganggukan kepala setelah memeriksa layar laptopnya.
“Tuan-tuan, dari hasil polling, semua memilih Go, tidak ada yang memilih No Go. Maka kita sepakati bahwa Operation Black Death dilaksanakan besok, 11 Desember 2019 pukul 11:12 waktu London.”
“Si vis pacem para bellum,” ujar seorang pria berambut putih di layar video conference dalam bahasa Latin, sambil kembali menghela napas panjang.
“Gunther, bisakah kau sekali lagi konfirmasi sebelum besok? Entah lah aku merasa tidak yakin untuk besok..” tanya seorang pria di layar video conference yang usianya sekitar 70 tahun.
“Ya, aku juga tidak yakin..” jawab yang menyeka dahinya beberapa kali, “Tapi aku sudah memilih dan memutuskan.. Entah kekacauan apa yang akan aku perbuat..”
Beberapa orang di layar video conference pun ikut menganggukan kepala.
“Tentu, Bapa.” jawab pria berjas rapi yang dipanggil Gunther.
Gunther merapikan setelan jas nya, kemudian menaruh kedua tangannya di belakang punggungnya, berdiri tegak menghadap layar video conference, “Mama Goose terlihat siang ini bersama Baby Goose di Phrygia. Kemungkinan besar besok Abigale datang menjemput paket Mama Goose.”
Tiga orang lainnya di video conference mengangguk. Dua lainnya menggeleng-gelengkan kepala tapi kemudian membentuk gesture seolah berkata “apa boleh buat?”
"Operasi ini mencegah Abigale menarik paket dari Mama Goose. Semoga saja besok Abigale tidak datang, sehingga operasi yang.. well.. bisa dibilang.. ilegal ini.. tidak perlu dilaksanakan di tanah yang bukan negara kita sendiri." kata Gunther menjelaskan.
“Baiklah jika demikian..” kata pria berambut putih itu lagi, “ Operasi ini sangat mengandalkan ketepatan waktu, detik demi detik. Maaf aku mengatakannya kembali, jangan sampai meleset.”
“Ya!” tambah seorang pria paruh baya di video conference yang tidak ikut mengangguk sebelumnya, “Abigale tidak akan luput walau sedetik sekali pun. Jangan bertindak sebelum Abigale terlihat di posisi dan mengambil paket. Batalkan operasi jika Abigale tidak terlihat atau tidak mengambil paket. Operasi ini adalah melindungi, bukan eliminasi.”
“Siapa yang ditugaskan dalam operasi ini, Gunther?” tanya pria lainnya di layar video conference.
“Tiga agen terbaik kita dari The Fourteen Holy Helpers, yaitu Agen Erasmus, Agen Vitus, dan Agen Catherine of Alexandria.” jawab Gunther.
“Deus nobiscum,”
“Baik, tuan-tuan sekalian. Jika tidak ada tanggapan dan pertanyaan lain, mari kita tunggu berita besok.” kata pria berumur 70-tahunan tadi.
Yang lain menggelengkan kepala
“Untuk Fourteen Holy Helpers!”
Gunther membalikkan badannya, mengambil gelas di meja di belakangnya lalu mengangkat gelas menegak Scotch yang berumur tua, “Fourteen Holy Helpers!”
“Ini mengakhiri pembicaraan hari ini.” kata pria cepak yang menjadi operator, “Anda sekalian disilakan untuk mengakhiri sambungan.”
Beberapa detik kemudian, satu per satu layar video conference gelap saat transmisi video dimatikan.
Pria pirang cepak di samping Gunther sekali lagi menganggukkan kepala setelah ia menekan tombol Enter di laptop-nya.
Gunther menghabiskan Scotch-nya lalu memperhatikan layar monitor yang lain, “Kerja bagus, Heinrich. Danke!”
“Erasmus dalam perjalanan, Gunther.” jawab pria cepak yang bernama Heinrich.
Gunter mengangguk.
Di lokasi lain, sekitar 130 km dari Gunther berada, seorang pria di dalam sedan Mercedes-Benz hitam menerima pesan Heinrich dalam perjalanannya di New Oxford Street.
Pria muda tersebut menengok sedikit ke ponselnya kemudian melajukan mobilnya menuju Bloomsbury Way.
Sampai di depan Stedham Place, ia berhenti karena lampu merah menyala dan dua kendaraan di depannya berhenti. Ia mengirim pesan singkat, kemudian kembali menginjak pedal gas ketika lampu lalu lintas berubah hijau.
Ia tidak bisa memacu mobilnya karena di depan ada penyempitan jalan, sehingga ia hanya bisa melaju dengan kecepatan rendah.
Sementara itu di Bloomsbury Square Garden, tampak seorang wanita muda berambut pirang berusia sekitar 20 tahun sedang duduk di taman. Gadis itu melihat ponselnya kemudian siap-siap berdiri.
Tak jauh dari tempat duduk wanita itu, tampak BMW biru yang ditumpangi Jorg, Boris, Scott dan supirnya parkir tidak jauh dari taman tersebut.
Supir BMW biru mengamati wanita itu dari dalam mobil, dan kemudian membuka pintunya.
“Mau ke mana, Yasser?” tanya Jorg.
Supir BMW biru itu kemudian menunjukkan bungkus rokoknya yang kosong, “Aku tidak mau dituduh bahwa imigran di London tidak berbudaya dalam membuang sampah.”
Yasser membuka pintu mobil dan beranjak ke tempat sampah di dekat Bloomsbury Square.
“Oke..” kata Jorg, “Alasan yang bagus..”
“Boris!” teriak Scott sambil menghembuskan asap rokoknya yang ke tujuh. “Bagaimana statusnya? Lama sekali! Putz!!”
“Nem Zich a vaneh!” Boris membalas umpatan Scott.
Gadis muda tersebut menyebrang jalan kecil dari taman, menuju BMW biru diparkir dan berdiri menunggu, berpapasan dengan Yasser.
Yasser tidak menoleh ke arah gadis itu, ia lurus saja menuju tempat sampah.
“SUDAH BISA!” teriak Boris menepuk-nepuk jok yang diduduki Jorg, “Ayo ayo kita sudah terhubung!”
“Feh!” Scott menoleh ke arah Boris.
“Lign in drerd un bakn beygl!” balas Boris sambil memperlihatkan ponselnya, “Mau mu apa sih Scott? Lihat sendiri, sudah berfungsi! Schlump!”
Jorg membuka kaca depan dan langsung memanggil Yasser dengan siulan keras. Yasser menoleh dan memberi tanda bahwa ia mengerti dan segera lari ke arah mobil.
Tak lama kemudian, Mercedes-Benz hitam berhenti di depan BMW biru tersebut. Gadis tadi langsung membuka pintu depan lalu masuk ke dalam mobil.
“Lambat sekali, Yasser! Beheyme!!” Scott menggerutu dan membuang puntung rokoknya sembarangan lalu menutup kaca mobil.
Jorg kembali memanggil Yasser dan memberi isyarat untuk cepat datang.
“Scott, kau buang puntung rokok sembarangan?” protes Yasser.
Scott diam saja. Dari tadi Scott tampak kesal dan menggerutu dalam bahasa Yiddish.
“Khalleek 'ala adab!” Yasser menyarankan untuk berperilaku baik dalam bahasa Arab Palestina sambil menggelengkan kepala melihat puntung rokok Scott di tengah jalan Bloomsbury Place.
“Ayo cepat! Cepat!” teriak Boris.
Yasser membuka pintu mobil.
Boris memberikan ponselnya ke Jorg untuk dipasang di dashboard. Yasser masuk kembali ke dalam mobil dan menyalakan mesin.
“Ayo cepat! Ikuti titik ini!” Jorg memberi petunjuk kepada Yasser untuk mengikuti titik yang tampak di ponsel.
"CEPAT CEPAT CEPAT!!"
Yasser menoleh sebentar ke belakang lalu mendengus, menggelengkan kepala dan menancap gas.
BMW biru itu segera melesat dari Bloomsbury Square menuju Montague Street.
Ketika BMW itu belok ke kanan, tampak seorang pria dengan rambut dreadlocks pendek mengamati mobil tersebut, kemudian beranjak ke tempat sampah.
Sampai di tempat sampah, ia melihat ke sekeliling, berjalan sebentar menyusuri Bloomsbury Square, lalu diam sejenak. Sekali lagi ia melihat ke sekeliling, lalu kembali ke tempat sampah dan mengambil bungkus rokok Yasser.
Ia memeriksa sebentar bungkus rokok tersebut, kemudian memasukkannya ke dalam sling bag-nya.
Pria tersebut dengan hati-hati menengok ke arah Montague Street, kemudian berjalan ke arah sebaliknya.
Ia bergegas menuju sebuah tempat, sambil mengeluarkan amplop yang sudah diberi alamat.
Pria itu terus berjalan dengan cepat sampai ia tiba di sebuah kantor pengantaran paket, lalu ia masuk ke dalam.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 110 Episodes
Comments
Mirabella
apa itu operation black death?
2024-04-13
1
Rona Risa
ini bikin novelnya pakai google translete atau ai deep? 😅
2024-04-06
1
Rona Risa
translete please 😭😭😭
2024-04-06
1