Just Another Day in the Big Smoke.
“Oh tidak!” kata Amisha dalam hati - ketika memeriksa ponsel-nya, “Mereka kok sudah sampai?”
Amisha menengok ke jam tangannya, “Padahal ini belum jam 9. Terlalu awal dari jadwal yang disepakati..”
“Halo?” Amisha berbicara di Discord voice chat room.
“HEEEEEEEY!!!!” teriak Charlotte di voice chat room.
“Hai Charlotte! Maaf aku baru menghubungi kalian.” jawab Amisha, “Kalian di mana?”
“Kami di seberang Canada House!” jawab Ann Loughty.
“Oke aku ke situ!” jawab Amisha “Eh ini di voice chat room ada akun scarbyn12, itu siapa ya?”
“Scarlett Corbyn!’ Jawab Charlotte, “Teman baru kita, baru bergabung pagi ini sebagai sukarelawan.”
“Hai, Amisha.. Aku Scarlett.” kata Scarlett di voice chat room.
“Hai, Scarlett!” balas Amisha “Aku add friend ya!”
“Tumben kau ingat nama belakang Scarlett, tadi lupa melulu.” kata Ann, “Jangan-jangan kau juga amnesia sesaat..”
“Jaga omonganmu!” Charlotte menyikut Ann sambil menengok ke arah Scarlett, kuatir kata-kata Ann menyinggung Scarlett.
Tak lama kemudian tampak seorang gadis berambut hitam kepang dua, tinggi sekitar 165cm, berbalut scarf berwarna fuchsia, newsboy hat warna pink di kepalanya, menggunakan puffer jacket warna pink dan hitam - dari kejauhan melambaikan tangan dan mendekati Charlotte dan Ann.
“Hai teman-teman! Mana Scarlett? ” kata Amisha sambil mencari wajah baru yang belum pernah ia temui, “Oh ini ya?”
Scarlett membalas salam Amisha Catterson yang memang memiliki wajah baby face. Tak heran jika Ann Loughty memanggilnya “bocah”. Ia nampak seperti masih seperti siswi SMA berumur 16 tahun.
“Kau ini ya!” protes Charlotte sambil melepas headset-nya, “Katanya Stress Call pagi ini, kami sudah buru-buru sampai sini, tapi apa ini? Wajahmu berseri begini, tidak ada stress sama sekali!”
“Maaf, Charlotte.” jawab Amisha sambil menunjuk ke arah patung King George IV, “Aku habis main catur di sana.”
Ann mendekati Amisha dan berbisik, “Kau menang taruhan?”
Amisha tertawa menengok ke atas membalas pandangan tajam Ann Loughty. Perbedaan tinggi badan sekitar 15 cm, selalu membuat Amisha mendongak setiap kali berbincang dengan Ann.
“Orang kaya..” tambah Ann setengah berbisik menarik jaket Amisha, “Jaket pun The North Face! Kerja di McDonald’s, tapi mampu belanja di Wembley..”
“Ah tidak!” Amisha membela diri, “Ini bukan baru.. jaket bekas kok.. aku beli di pasar loak Camden, semua yang melekat di tubuhku dari pasar thrift itu.”
“Aku tidak percaya!” jawab Ann tertawa, “Berapa penghasilanmu dari taruhan main catur?”
“Dia benar, Ann!” kata Charlotte, “Aku kan tinggal di Camden, dekat pasar loak itu. Tapi ada yang lebih murah sih.. Thrifting di Maltby Market biasanya lebih murah daripada Camden Market, karena di Camden sudah banyak turis dan influencer.”
“Tuh kan..” Amisha senang dirinya dibela Charlotte.
“Nah sekarang jelaskan soal Stress Call tadi pagi, nona Catterson.” kata Charlotte sambil menengok jam tangannya, “Seharusnya kami mulai kerja 1.5 jam lagi dari sekarang.”
Charlotte dan Ann memandang Amisha.
“Kami mendengarkan.” tambah Ann Loughty.
“Serius, aku tidak bohong soal Stress Call!” jawab Amisha
“I'm being seeeeyyyrriiieess..” Ann kembali menirukan logat Scouse dari media sosial seperti tadi. Charlotte langsung menyikut lengan Ann.
“Pagi ini aku terpaksa berhenti bekerja dari McDonald's karena 2 menit sebelum tengah malam ada orang mencurigakan datang ke McDonald’s dan aku yang melayaninya. Awalnya aku tidak sadar, tapi 5 menit kemudian orang itu melihat ke arahku terus-terusan dan berbicara dengan seseorang melalui telepon seluler.”
“Kau tahu persis waktunya?” tanya Ann, “kau lihat CCTV?”
“Bukan begitu!” jawab Amisha, “Aku terbiasa melihat waktu ketika pelanggan memesan.. Aku terbiasa melihat waktu untuk segala kejadian.”
“Kenal orang itu?”
“Gak sih..” jawab Amisha, “Tapi aku perasaan gak enak, seperti.. seperti.. Seperti Derig menyuruh orang memata-mataiku..”
“Jadi.. ini masih dugaan?” tanya Ann.
“Hmm… two minutes to midnight..” Charlotte melipat tangannya, “Itu kan lagunya Iron Maiden!”
“Beneran!” teriak Amisha pelan, “Aku takut sekali! Sepertinya ada kaitannya dengan Derig Mayountain! Mungkin.. Tapi aku belum tahu pasti! Aku takut akan terjadi sesuatu pagi ini! Er.. entah ancaman apa, tapi.. tapi aku merasakannya ada sesuatu yang tidak beres! Aku tidak tahu.. Tidak tahu harus bagaimana, aku takut sekali! Selesai shift malam tadi aku bilang ke manager bahwa aku mengundurkan diri. Aku takut!”
Scarlett diam saja, tapi ia mulai bisa menebak tentang apa yang disebut Stress Call. Dari cara Amisha menjelaskan saja, kata-katanya sudah menunjukkan bahwa ia stress.
“Apakah kau yakin bahwa orang itu ada kaitannya dengan Derig?” tanya Charlotte Alison.
“Tidak yakin sih… Aku.. aku..” jawab Amisha terbata-bata.
“Kapan ya Derig terakhir mengejarmu?”
“Hampir satu.. satu minggu yang lalu..” jawab Amisha, “Sejak aku kabur, ganti nomor telepon, ganti pekerjaan dan pindah tempat tinggal..”
“Dulu siapa yang sering mengejarmu? Derig sendiri?”
“Bukan! Scott..”
“Scott?”
“Yang datang tadi malam itu Scott?”
“Er.. bukan sih..”
“Kau ini ya!” kata Ann, “Belum ada satu menit, tadi mukamu ceria, sekarang sudah pucat pasi seperti turis bertemu kepala hantu melayang Anne Boleyn!”
“Aku.. aku kalau main catur langsung bisa tenang, Ann.” jawab Amisha Catterson pelan lalu menunduk, “Hanya itu lah satu-satunya obatku.”
Tiba-tiba Amisha menutup wajah dengan kedua tangannya, dan semua terdiam.
Ann menoleh ke arah Charlotte. Lalu Ann menghampiri Amisha.
“Kau sudah makan?” bisik Charlotte menepuk bahu Amisha.
Amisha menggelengkan kepala sambil menahan tangis. Ann mengisyaratkan Charlotte untuk minggir dan mendekati gadis kelahiran Preston itu.
“Tadi manajer membungkuskan aku untuk sarapan.” Amisha terisak-isak, “Tapi karena aku terburu-buru, aku lupa membawanya.”
“Oke Amisha.” kata Ann sambil menunduk lalu memegang kedua pipi Amisha - dan mendekatkan dahinya ke dahi Amisha, “Aku tahu bahwa ini masalah wanita dan hanya sesama wanita yang bisa membantu. Tapi kami perlu kau bercerita dengan tenang. Makan dulu ya?”
Scarlett melihat bahu Amisha turun naik dan kedua tangannya sibuk mengusap pipinya.
“Selain main catur apakah ada obat lain yang membuatmu tenang? Kita ke Cafe On The Square yuk. Apa obatmu yang lain? The Square Burger? Kopi?”
Amisha tidak menjawab Ann, air matanya masih terus menetes. Ann Loughty lalu memeluknya.
Charlotte menoleh kepada Scarlett dan menarik tangan Scarlett menjauh sedikit dari Ann dan Amisha.
“Amisha dulu hampir diperkosa Derig, mantan atasannya sendiri.” Charlotte berbisik kepada Scarlett, “Luka itu belum sembuh, karena kita, er maksudku…. mayoritas wanita pasti sakit hatinya dengan perlakuan pelecehan seperti itu. Trauma tidak bisa hilang dalam waktu singkat.”
“Jadi..” Scarlett mencoba menebak, “Yang Ann tadi bilang hanya sesama wanita yang bisa mengerti masalah wanita adalah tugas kita di WEE sebagai relawan?”
Charlotte mengangguk, "Pernah lihat poster You Are Not Alone kan? Nah itu tugas kita walau masih pilot project."
Satu hal lagi, deskripsi tugas yang dijanjikan akan dijelaskan di dalam mobil tapi tidak terlaksana, bisa ditebak sendiri oleh Scarlett.
Charlotte menoleh perlahan ke arah Ann yang masih mengusap-usap rambut Amisha dalam pelukannya.
“Jadi.. kasus Amisha ini belum ditangani polisi?”
Charlotte menggelengkan kepalanya, “Amisha alih-alih datang ke kantor polisi, malah datang ke kantor WEE.”
Charlotte menghela nafas. Tampak Ann berbicara dengan Amisha.
“Amisha belum siap menceritakan detail kejadian kepada seorang polisi, ia selalu kuatir bahwa ia harus menceritakan kejadiannya kepada seorang polisi pria.. Sedangkan polisi harus tahu cerita detailnya untuk menjadikannya kasus yang bisa menjadikan Derig tersangka.”
“Ya… itu awkward..” Scarlett mulai mengerti, “Kita hanya bisa cerita ke sesama wanita.. Tapi apakah kita di WEE bisa menyelesaikan masalah tersebut? Dan sebenarnya ada polisi wanita juga kan? Er.. atau Amisha diancam kalau lapor ke polisi, maka akan terjadi sesuatu yang lebih menyakitkan?”
Charlotte diam memandang Scarlett dan mengusap pipinya. Ternyata tanpa sadar air matanya pun ikut jatuh. Ia teringat bagaimana pertama kali Amisha bercerita hampir jadi korban pelecehan yang dilakukan atasannya sendiri.
“Oh, aku mengerti,” tambah Scarlett, “Kau dan Ann adalah sesama wanita yang dipercaya Amisha. Kalau sudah jadi kasus polisi, maka cepat atau lambat akan jadi sorotan publik dan media sosial. Mungkin Amisha belum siap mental untuk itu ya?”
“Kita belum tentu bisa menyelesaikan masalah siapa pun, Scarlett.” kata Charlotte perlahan supaya tidak didengar Amisha, “Kita hanya perlu bisa dipercaya supaya mereka yang memiliki trauma tidak memilih untuk bunuh diri atau merasa sendirian di dunia ini. Kita beri waktu Amisha untuk menyiapkan mental sebelum membuat laporan ke polisi.”
Scarlett terdiam. Ia hanya bisa memandang sekumpulan burung merpati yang berjalan-jalan di Trafalgar Square.
“Selain itu, kau tadi benar. Amisha juga sepertinya diancam Derig jika melapor polisi. Walau seharusnya ini urusan polisi. Anggaplah kita sebagai jembatan menuju kesiapan mental Amisha, supaya dia tidak terlalu down. Inilah salah satu tugas kita di WEE. Mendengarkan keluh kesah sesama wanita yang jadi korban, lalu menjadi teman untuk mereka.”
Scarlett mulai mengerti apa yang harus dilakukannya sebagai relawan di WEE. Mungkin memang lebih jelas dengan cara begini daripada misalnya tadi ia dijelaskan secara teori di dalam mobil.
Ann merangkul Amisha kembali masuk ke Trafagal Square dan memberi isyarat kepada Charlotte dan Scarlett untuk mengikutinya.
Charlotte menggerakkan kepala ke arah Cafe On The Square. Scarlett mengangguk dan mengikuti Charlotte.
“Sepertinya kau tidak akan memilih The Square Burger!” kata Ann berjalan sambil masih merangkul Amisha. “Di McDonald’s kau setiap hari melihat burger.”
“Sebetulnya kata burger itu tidak tepat..” jawab Amisha sambil mengusap pipinya yang basah, “Yang benar adalah Hamburger. Diambil dari kata Hamburg dan -er. Itu sandwich gaya kota Hamburg, orang Jerman menyebutnya Hamburger.”
“Oh jadi bukan Ham dan Burger, lalu disebut Hamburger?” tanya Ann Loughty.
Amisha menggelengkan kepala, “Hamburg dan -er. Seperti sandwich gaya kota Frankfurt disebut Frankfurter. Kita mengenalnya sebagai Hot Dog.”
“Jadi menu Cheeseburger itu sandwich dengan gaya kota Cheeseburg?”
Amisha tertawa di sela isak tangisnya, “Kesalahan penamaan yang sudah dianggap benar di seluruh dunia, jadi tidak perlu direvisi. Bahkan kata burger akhirnya diterima menjadi kata baku dari kamus Oxford dan Cambridge.”
Ann merangkul Amisha sambil berjalan menuju Cafe On The Square, “Lihat matamu sembab!”
Amisha segera menghapus sisa-sisa air matanya. Mereka melewati kembali tempat Ned, Hicks dan Harold sibuk dengan papan catur. Amisha tidak ingin terlihat sedih di depan para kakek tersebut.
“Níl sé sin go hiontach!!” teriak Ned mengomentari langkah bidak catur Hicks.
Scarlett kaget menengok ke arah suara.
“Ada apa, Scar?”
Scarlett kembali kaget dengan pertanyaan Charlotte.
“Ah, tidak apa-apa..” jawab Scarlett. Tapi diam-diam ia merasa tidak asing dengan bahasa yang terlontar barusan dari mulut Ned.
Tak lama kemudian mereka sampai di depan Cafe On The Square.
“Waduh, antriannya panjang ya?” kata Ann melihat penuhnya turis di Trafalgar Square di bulan Desember.
“Amisha, kau tunggu di sini bersama Scarlett ya.” kata Charlotte, “Aku dan Ann ke dalam membuat pesanan.”
“Scarlett, kau pesan apa?” tanya Ann.
“Aku baik-baik saja.” jawab Scarlett sambil mengeluarkan tumbler-nya, “Aku kenyang sekali dan aku bawa kopi dari kantor tadi. Itu tadi biji kopi Arabica Ethiopia ya?”
“Liberica, love.” jawab Charlotte tersenyum, “Bibi Elara selalu menyediakan yang terbaik.”
“Mencurigakan!” bisik Ann sambil tersenyum kepada Charlotte, “Seorang yang amnesia bisa mengerti kualitas biji kopi!”
“Mencurigakan apanya?” balas Charlotte, “Dia kan rekomendasi calon suamimu!”
“Bloody eejit!” Ann mencubit pinggang Charlotte.
“Hei.. itu kata kasar kan?” tanya Charlotte tertawa, “Aku tidak mengerti bahasa Skotlandia, tapi aku tahu itu tadi kata kasar!”
Ann Loughty masuk ke dalam sambil mengangkat bahunya, “Bagaimana mungkin kau tidak mengerti! Semua orang di TV dan di jalanan mengatakan hal yang sama denganku.”
“Tontonanku di TV, YouTube, dan lainnya berbeda denganmu!” Charlotte Alison juga masuk ke dalam cafe yang penuh dengan turis.
“Tidak hanya orang Skotlandia, orang Irlandia juga mengatakannya..” kata Ann, “Londoners juga..”
“Ah.. sudah, sudah! Ayo masuk!”
Walaupun pagi itu masih dingin, tetap tidak menghalangi para turis yang berfoto, influencer dengan berbagai bahasa membuat video, sampai beberapa remaja sibuk membuat video Tik Tok di seluruh area Trafalgar Square.
Burung merpati yang sudah menjadi penduduk tetap Trafalgar Square pun tidak bisa istirahat di saat influencer, turis dan Tiktokers datang. Mereka juga kadang sering menjadi objek konten.
“Hai Amisha, kita baru hari ini bertemu ya?” Scarlett mencoba basa-basi tapi masih canggung. “Kita duduk di depan sini ya?”
Tiba-tiba sekumpulan burung merpati terbang serentak, mengagetkan Amisha dan Scarlett.
“Kau baru masuk kerja hari ini?” tanya Amisha sambil tersenyum, tapi juga masih canggung.
Scarlett hanya duduk dan tersenyum mengangguk ke arah Amisha. Ia tidak tahu harus bicara apa, karena untuk menanyakan trauma Amisha dengan mantan atasannya akan membuat suasana jadi lebih buruk.
“Maaf ya, aku merepotkan kalian.” Amisha juga ikut duduk di outdoor terrace di depan Cafe On The Square. “Aku tidak tahu harus bicara kepada siapa, seharusnya aku menelepon polisi, tapi…”
Scarlett memegang tangan kiri Amisha dan menganguk perlahan.
“Aku sungguh tidak enak hati.” kata Amisha menunduk, “Tapi kalian lah yang pertama teringat ketika orang itu muncul.”
“Mari kita diam saja di sini menenangkan diri sambil menikmati hari Selasa yang dingin.”
Sebenarnya Scarlett ingin bilang bahwa mantan atasan Amisha harus diberi ganjaran setimpal, tapi ia memilih untuk menahan kata-kata itu supaya tidak keluar dari mulutnya.
Amisha juga diam saja. Ia belum mengenal Scarlett, jadi belum tahu harus bicara dari mana.
“Er..” Amisha memandang Scarlett, “Maaf, Scar.. Apakah kita pernah bertemu sebelumnya? Wajahmu tidak asing, tapi jika diingat.. Aku baru kali ini mendengar nama Scarlett Corbyn.”
“Maaf sekali Amisha,” kata Scarlett, “Aku tidak bisa mengingat..”
“Ah begitu ya?”
“Eh…” tiba-tiba Scarlett menunjuk ke arah bundaran di depan Trafalgar Square.
“Ada apa Scarlett?” tanya Amisha ikut melihat ke arah telunjuk Scarlett.
“BMW biru tadi..”
“BMW biru?”
“Yang hampir menyerempet Charlotte dalam perjalanan ke sini.. Itu mereka berhenti di dekat benda apa itu? Pos kecil?”
“Pos polisi kecil maksudmu?”
“Iya.. itu..”
Amisha melihat BMW biru yang ditunjuk Scarlett berhenti di dekat Pos Polisi Terkecil di London yang dipenuhi turis sedang swafoto.
Tiga orang keluar dari BMW itu, yang dua tegap sekitar usia 30-an, yang satu berperawakan kecil dengan bekas luka di pipi kiri, sepertinya lebih tua sedikit dari dua yang lain.
BMW biru itu tidak berhenti, tapi melaju ke arah halte bus Charing Cross Station. Kendaraan bermotor tidak boleh parkir di sekitar Trafalgar Square.
Tiba-tiba Amisha Catterson membeku seperti patung di Trafalgar Square. Nafasnya seakan tertahan, mulutnya menganga dan matanya melotot.
“LARI!!!!” teriak Amisha tiba-tiba.
“BRAKK!!!” Amisha tak sengaja menjatuhkan kursi dan segera melarikan diri ke arah Charing Cross Road dengan sekuat tenaga.
“Eh!” Scarlett kaget, “Tunggu, Amisha!” Ia segera mengambil backpack-nya dan lari menyusul Amisha.
Para turis yang sedang mengunjungi Trafalgar Square ikut kaget dan bertanya-tanya dalam bahasa ibu mereka. Para Tiktokers langsung mengarahkan ponselnya ke arah Amisha.
“Ada apa?” Hicks tiba-tiba ikut berdiri mencari-cari ada kejadian apa yang sampai membuat heboh.
“Itu Amisha!!” Ned ikut kaget sambil menunjuk Amisha yang berlari diikuti Scarlett. “Mengapa berlari?”
“Apa ku bilang!” kata Harold sambil memegang gelas kopi yang sudah mulai dingin, “Polisi mengetahuinya! Itu polisi wanita dengan jaket kuning sedang yang mengejarnya.”
“Omong kosong, kau Harold!” tukas Hicks sambil masih heran mengapa Amisha berlari kencang.
“Jaket kuning, mate!” kata Harold, “Siapa lagi yang pakai jaket kuning di negara ini selain Scotland Yard?”
“Sok tau, kau Harold!” tambah Ned, sambil diam-diam koreksi langkah bidak caturnya tanpa diketahui oleh Hicks.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 110 Episodes
Comments
Mirabella
seperti tontonan author yang beda 😁
2024-04-13
0
Mirabella
pasti berat itu...
2024-04-13
0
Mirabella
lumayan buat referensi belanja kalau ke inggris beneran 😁
2024-04-13
0