Selesai sudah apotek 24 jam sebagai kedok tempat pembersihan. Aku sudah memberitahukan status ini secara resmi kepada semua rekanan kerja yang masih aktif. Aku menutup rapat ruko kami termasuk menyembunyikan ruang bawah. Hanya tampilan secara wajar yang akan dilihat.
Masihkah kalian ingat dengan deskripsi adanya dua ruko dekat pertigaan yang masih buka di setiap paginya? Salah satu ruko tersebut adalah anggota dari kami dari divisi penyamaran.
Ketika berjalan pulang untuk terakhir kalinya aku melewati ruko tersebut, rupanya ia juga sudah menutup operasinya terlebih dahulu dengan begitu rapi.
“Bagaimana? Apa kau mau menceritakannya lagi?",
"Sungguh aku tidak pernah bosan mendengar ceritamu itu",
"Aku tidak akan berpura-pura untuk menyukainya. Bicaralah”, pintaku.
Aku mengunjungi kawan lama. Seorang pejuang yang dulunya juga bersama kami. Ia berhenti karena faktor usia. Ia sempat menghabiskan waktu pensiunnya untuk berkeliling dari satu tempat eksotis ke tempat eksotis lainnya. Kini ia menikmati setiap harinya di sebuah panti khusus untuk lansia seperti dirinya yang hanya tinggal seorang diri tidak ada lagi yang mau mengurus.
“Lalu apa yang kau dengar baru-baru ini tentang kami?”, tanyaku setelah mendengar ia bercerita panjang lebar tentang zamannya dulu ketika masih aktif bersama kami. Kisah-kisah yang selalu sama diulanginya ketika ada orang dari kami yang datang padanya. Pertanyaanku ini membuat mantan anggota divisi mata-mata itu memasamkan mukanya.
“Apa yang ingin kau dengar? Mengapa kau menginginkan pendapatku tentang masalahmu?”, ia menjadi serius.
“Bukankah kau harusnya mempercayai instingmu? Kau adalah salah satu yang terbaik di antara kami”, bualnya.
“Ikuti saja kata hatimu yang bengis itu. Kami semua tidak bisa lebih kejam dari padamu”, katanya.
“Dan jangan pernah datang lagi mengunjungi ku!”, teriaknya setelah aku tinggalkan.
Aku bisa mengambil kesimpulan dari pertemuanku dengan orang tua itu. Kepingan-kepingan yang aku susun untuk mengungkap secara jelas apa yang terjadi sebenarnya dibalik kekacauan ini. Memperhatikan penuturannya tadi aku mempunyai firasat bahwa kami sudah tidak akan lama lagi bertahan.
Duduk perkara menjadi semakin jelas ketika kami semua mendapatkan sebuah undangan untuk kembali ke tempat dimana kami kali pertama dibentuk menjadi seperti sekarang ini. Sebuah undangan yang tidak biasa mengumpulkan para anggota yang tersisa. Pertemuan yang melibatkan seluruh anggota hanya dilakukan untuk sebuah acara yang sangat penting. Apakah ini hanyalah sebuah jebakan belaka? Tentu saja aku wajib menaruh curiga.
Ketika aku selesai mengunjugi rumah jompo dimana orang tua itu berada aku tidak terburu-buru untuk pergi. Aku sempatkan untuk selalu mengawasi dari kejauhan siapa saja yang datang ke padanya setelahku guna mencari rangkaian jawaban. Dua orang yang sempat datang padaku ternyata juga mengunjungi orang tua itu. Mengetahui itu rasanya bukanlah lagi keputusan yang bijak untuk mempercayai orang penting dan eksekutor maut itu begitu saja.
Undangan itu beralamat di sebuah rumah yang teramat rahasia keasliannya. Sebelum hari pertemuan itu tiba aku terlebih dahulu datang ke sana untuk melihat apa yang sedang dipersiapkan oleh mereka untuk menyambut kami.
Datang secara mengejutkan aku bertemu dengan anggota dari divisi eksekusi yang sudah menjadi legenda bagi para eksekutor-eksekutor lainnya. Dialah eksekutor maut berbahaya yang di bab sebelumnya juga sudah ku singgung.
Sesama muka lama aku tak sungkan memintanya membeberkan informasi tentang agenda apa yang sedang dipersiapkan untuk acara pertemuan yang akan berlangsung dua hari lagi.
“Kami sudah menemukan pengkhianat itu”, katanya.
“Apa kau sudah menangkapnya?”, tanyaku.
“Tidak. Kami belum bereaksi apa-apa. Pengkhianat itu akan datang bersama yang lain saat pertemuan lusa”, jelasnya.
“Kita akan mengadilinya bersama-sama”, tambahnya.
“Kau mau kemana?”, dia bertanya padaku ketika aku hendak pergi meninggalkan tempat itu.
“Kau tahu aku tidak bisa berlama-lama”, jawabku.
“Pastikan lusa kau datang”, ucapnya.
“Aku akan datang”, tegas ku.
Sudah ada beberapa dari kami yang datang terlebih dahulu karena undangan itu. Selain untuk menghadiri acara tersebut para anggota yang tersisa datang untuk meminta perlindungan. Rasa aman didapatkan ketika berada di rumah sendiri pikirnya.
Aku sendiri memilih untuk pergi dari sana dari pada menggantungkan nyawaku ditangan orang lain karena aku harus melakukan pengintaian terhadap aktivitas yang berhubungan dengan kami sendiri. Aku tidak mau jikalau menjadi tumbal makanan untuk orang-orang ku sendiri seperti mayat-mayat yang aku ketahui berasal dari anggota kami yang harus aku bersihkan.
Akhirnya waktu yang ditunggu tiba. Hampir semua anggota kami yang masih hidup memenuhi undangan pertemuan itu.
Diawali dengan perjamuan makan bersama yang tetap saja tersaji dalam suasana dingin. Orang-orang itu benar-benar sama sekali tidak peduli satu dengan yang lainnya. Terlihat hanya segelintir orang saja yang saling tahu dan mau berbasa-basi.
Para anggota masih menunggu seorang penting yang belum juga datang. Eksekutor maut yang menjadi pengawalnya pun belum terlihat. Di tengah kehikmatan menikmati santap malam, tiba-tiba langit-langit ruangan itu runtuh bersamaan dengan datangnya air yang warnanya tampak pekat kebiru-biruan mengguyur seisi ruangan. Mengetahui cairan apa yang baru saja menyiramnya orang-orang itu panik mencari jalan untuk segera keluar dari sana. Tapi itu sudah terlambat. Terlihat semua sudah direncanakan dengan sangat matang. Pintu-pintu telah terkunci. Di ruangan itu tidak ada jendela. Dan yang datang berikutnya dengan begitu cepat dari segala penjuru adalah api yang menyambar. Para anggota kami yang datang memenuhi undangan pada malam itu dibakar hidup-hidup tanpa bisa melakukan perlawanan apa pun. Dalam sekejap hangus habis tak ada satu pun nyawa yang tersisa.
Aku melihat itu semua dari kejauhan melalui binocular lamaku dari tempat yang aku perhitungkan sebagai titik aman.
Tapi nyatanya teropongku berhasil ditembak oleh eksekutor maut dengan tepat. Terlambat sepersekian detik saja aku menyadarinya, bukan hanya mata teropong sebelah kiriku yang tertembus peluru, tapi mataku juga bisa buta.
Aku ketahuan. Sekarang semuanya terbuka. Aku sudah mengetahui dengan pasti bahwa seorang penting dan eksekutor maut adalah dalang dari pembunuhan massal ini. Mereka benar-benar berniat menghancurkan rumah mereka sendiri yang selama ini telah memberi makan mereka. Merekalah pengkhianat bagi kami. Kini mereka akan memburu kami dengan terbuka sama seperti yang baru saja mereka lakukan, membidik kepalaku.
Bagaimana aku tahu siasat mereka hingga memutuskan untuk tidak berangkat lagi ke sana?
Pertemuanku dengan eksekutor maut di dialog sebelumnya membuat batinku tertawa. Memang ia adalah seorang pembunuh yang sudah terbukti keabsahannya. Tapi dia bukanlah seorang pembuat narasi yang baik. Jelas sekali aku bisa mencium kebohongan dari ucapan-ucapannya kepadaku.
Sebelum meninggalkan tempat penuh nostalgia yang kini telah dibumihanguskan itu aku terlebih dahulu berniat mengunjungi salah satu teman lamaku di sebuah ruangan untuk pekerja divisi keuangan. Tapi kawan yang kucari itu rupanya dinyatakan sudah meninggal beberapa waktu yang lalu. Dan ternyata bau yang aneh kucium saat meninggalkan ruangan itu adalah bau bahan bakar yang aromanya sudah disamarkan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Comments