Si perantara kembali datang. Kami bertemu di sebuah stadion yang sedang dipakai untuk konser grup musik dari luar negeri yang sangat terkenal. Penontonnya membeludak. Bahkan sampai ada yang rela datang ke venue meski tidak mendapatkan tiket. Para penggemar fanatik itu hanya menunggu di luar stadion untuk melihat idola mereka datang ke tempat pertunjukkan.
Aku dan perantara bertemu di bangku VIP A. Dia duduk di kursi tepat di depan ku. Ia memberiku smartphone dan headset. Dia memintaku melihat sebuah video. Aku harus mengeraskan volume suara dari adegan yang sedang aku putar. Suara gemuruh di tempat konser itu tidak mungkin ditandingi.
Sebuah video berdurasi 2 menit 33 detik. Itu adalah sebuah video tindak asusila. Seorang perempuan yang diperkosa saat dalam keadaan mabuk oleh orang yang dikenal. Selain berisi teriakan perlawanan dan tangisan, video itu juga berisi ancaman dan perlakuan kasar dari sang perekam tunggal.
Video itu sudah tersebar luas di jagat maya. Siapa pun bisa melihatnya. Orang tua dari perempuan itulah yang akan menjadi klienku. Lewat perantara mereka memintaku untuk mengeksekusi orang yang sudah melakukan tindak kejahatan yang biadab itu. Putri mereka sangat trauma.
Klienku adalah orang penting. Mereka sangat malu imbas dari tersebarnya video tersebut. Ini adalah sebuah aib yang mencoreng martabat dan nama besar mereka.
Bayaran yang tidak main-main. Aku menerima tawaran pekerjaan tersebut.
Sang perantara memberikan identitas pelaku pemerkosaan dan perekam video itu yang tidak lain adalah pacar korban. Ia juga lah orang yang menyebarkan rekaman tersebut ke dunia digital. Awalnya si laki-laki berniat mengancam dan memeras korban yang merupakan pacarnya sendiri. Tapi sang perempuan menolak dan melaporkan peristiwa tersebut kepada orang tuanya.
Target yang harus aku eksekusi adalah satu orang. Yang perlu aku lakukan adalah bergegas. Kerena pihak yang berwajib juga sudah menerima laporan kasus ini dari pihak keluarga.
*
Laki-laki pengecut itu memilih kabur ke luar kota. Sekarang ia berada di kota yang merupakan tempat kelahirannya. Sudah dua hari ini ia tinggal sendiri di sebuah kontrakan yang berada di rusun yang kumuh. Ia juga sudah mengubah penampilannya untuk mengelabui petugas kepolisian yang sedang mencarinya. Orang itu sekarang masih buron.
Pihak berwajib belum menemukan keberadaan laki-laki muda yang telah menghancurkan masa depannya sendiri itu. Hanya demi uang yang tidak seberapa ia rela mengkhianati dan menyakiti kekasihnya.
Tapi aku sudah berada di sini. Di kota yang sama dengannya.
Si tampan berbadan cungkring itu sekarang dalam kondisi mental yang stres. Setiap harinya ia jarang keluar kamar kontrakannya. Ia hanya pergi untuk membeli minuman keras. Hari-harinya ia lalui dengan mabuk alcohol. Dan inilah celah bagiku untuk menghabisinya.
Ketika orang itu pergi keluar untuk membeli minuman aku menyelinap masuk ke dalam kontrakannya. Aku memeriksa dengan teliti apa saja yang ada di dalam ruangan itu yang bisa aku gunakan untuk menyelesaikan pekerjaanku. Aku tidak boleh terlalu santai dan harus cepat. Setiap saat polisi bisa datang dengan tiba-tiba dan mendahului misiku.
Situasi dan keadaan yang ada benar-benar memudahkan ku. Jujur aku juga tidak menyangka akan semudah ini aku melakukannya.
Aku datang ke kontrakannya ketika laki-laki itu sedang mabuk berat. Kemudian aku membekapnya tanpa kesulitan hingga ia akhirnya benar-benar tidak sadarkan diri.
Aku mengunjunginya tidak dengan tangan kosong. Aku membawa satu botol 870 mL cairan pembersih porselen. Sebuah selang dengan diameter 8 mm dan panjang 25 cm. Dan juga corong.
Dengan posisi berdiri aku mendudukkan lelaki itu. Kemudian aku memegangi kepalanya. Aku angkat dagunya. Sebelumnya selang bening itu sudah aku masukkan ke mulutnya. Aku menuangkan satu botol cairan pembersih porselen dengan bantuan corong. Semuanya 870 mL masuk ke dalam perutnya.
Setelah selesai aku merapikan tempatnya sama seperti apa yang aku lihat saat pertama kali masuk ke sana. Aku membawa kembali benda-benda yang aku bawa yang seharusnya tidak ada di sana. Aku meninggalkan laki-laki itu dalam keadaan sudah mati.
Cairan pembersih porselen yang aku gunakan untuk membunuh targetku adalah cairan pembersih porselen yang sama dengan merek dan ukuran cairan pembersih porselen yang ada di kamar mandi kontrakan itu. Sebelum pergi aku memastikan botol yang ada di rumah itu isinya habis tak tersisa. Botol itu aku taruh di samping mayat dengan keadaan tertidur dan tutup yang terbuka. Aku tumpahkan sedikit cairan pembersih porselen yang punya bau sangat menyengat itu di sekitar tubuhnya. Di pakaian dan di sekitar tempat tidurnya. Dan yang terakhir aku habiskan isi botol itu dengan cara aku tegukan ke mulutnya.
Aku sudah meninggalkan kota tersebut ketika mayat si laki-laki ditemukan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Comments