Sepertinya ini akan menjadi sebuah konflik besar pertama di cerita ini. Terdapat sebuah kejanggalan. Dua jenazah yang dikirimkan kepadaku secara bersamaan minggu ini adalah dua anggota dari divisi eksekusi yang masih aktif. Siapa yang menghabisi mereka?
Aku sampai ke toko dengan keadaan apotek sudah terkunci rapat. Ketika aku masuk di lantai bawah sudah ada dua kantong jenazah. Supervisi sudah pulang terlebih dahulu. Dokumen dua jenazah itu berbeda. Profil itu menunjukkan identitas siapa pemilik dua tubuh yang membisu itu. Mereka berdua adalah kolegaku. Dan pesan tambahan yang aku terima adalah “waspada.”
Dua jasad yang harus ku bersihkan dibunuh oleh seorang pembelot dari divisi yang sama. Sejatinya dua korban itu diperintahkan untuk mengeksekusi si pembelot. Pembelot adalah seorang anggota dari divisi eksekusi yang sudah cukup lama bekerja bersama kami. Akhir-akhir ini kejiwaannya terganggu dan ia melakukan berbagai penyimpangan yang sudah merugikan kami dan jika tidak dihentikan bisa jadi ia akan berbalik menyerang kami. Sebenarnya kami ingin menolongnya dengan jalan yang baik menempatkannya di rumah sakit jiwa. Tapi karena kemampuannya sebagai seorang eksekutor pembunuh yang ulung ia sulit untuk ditaklukan.
Beberapa hari kemudian setelah kejadian itu untuk pertama kalinya aku ditemui oleh supervisi dari divisi lain yaitu divisi eksekusi untuk sebuah kesepakatan. Aku dimintanya untuk menghabisi si pembelot. Kenapa ia menunjukku alasannya karena aku bukanlah seorang eksekutor. Aku dibebaskan dengan metode dan cara sesuai keinginanku untuk menghentikannya. Itulah yang dinilai sebagai siasat jitu untuk mengelabui si pembelot karena jika dihadapkan dengan sesama eksekutor si pembelot sudah jauh mempunyai kemampuan yang lebih unggul dan itu sudah terbukti. Aku menerima tugas dan kesepakatan itu. Beserta itu supervisi yang mengunjungi ku di tengah malam itu juga memberikan semua data yang ia punya mengenai targetku yaitu si pembelot.
Aku memulainya dengan mempelajari data yang ada. Dan selama aku memburu buruanku, aku tangguhkan kewajibanku di divisi kebersihan hingga aku selesai menyelesaikan misiku ini.
Pertaruhannya sangat jelas. Aku yang hidup dengan berhasil membunuhnya atau aku yang akan dibunuh olehnya. Jika aku berpikir sedikit saja dengan perasaan berbelas kasihan untuk menangkapnya lalu menaruhnya di rumah sakit jiwa maka aku sudah kalah. Ingatlah si pembelot adalah seorang anggota dari divisi eksekusi yang sudah kerap kali mencabut nyawa.
Yang aku serang adalah titik lemahnya. Setelah menghafal segala kebiasaan dan rutinitasnya aku mulai beraksi. Dua minggu sudah aku mengintai dan mengikutinya dengan sangat hati-hati. Aku yakin waktunya sudah tepat.
Sesuai kebiasaanya ia akan menghabiskan malam minggunya dengan bersenang-senang dengan para wanita penghibur di sebuah bar karaoke dan menghambur-hamburkan uangnya. Setelahnya ia akan pulang dengan keadaan setengah sadar. Meski terlihat sempoyongan dalam kondisi ini dia masihlah berbahaya.
Kemudian ia akan keluar dari apartemennya di waktu siang untuk berenang di sebuah tempat pemandian umum yang tidak terlalu ramai. Setelah selesai berenang dia akan menuju ke sebuah restoran Chinese food kesukaannya dengan memesan tiga menu berat yang akan ia habiskan di saat itu juga. Kemudian setelah selesai makan ia akan kembali ke apartemennya yang tidak jauh jaraknya dari tempatnya makan dengan berjalan kaki untuk kembali tidur.
Ia datang memasuki lift untuk naik ke lantai 9 dimana apartemennya berada. Sedangkan aku sudah berada di dalam lift dengan memencet tombol nomor 24 lantai paling atas dari gedung itu.
Inilah jarak terdekat antara aku dengan si pembelot. Aku berdiri di pojok kiri sementara ia berada tepat di depanku tidak bergeser satu langkah pun dari tempatnya setelah menekan tombol.
Di angka 9 lift berhenti. Ketika pintu mulai terbuka ia melakukan langkah pertamanya untuk keluar dari lift, bersamaan dengan itu dengan cepat aku mengeluarkan senjata yang sudah kulengkapi dengan peredam untuk merubuhkannya yang sedang dalam kondisi lengah. Tepat di tempurung belakang kepalanya aku sarangkan peluru yang akan menghentikan kebiadabannya untuk selamanya. Seketika ia jatuh mati. Aku membawanya ke lantai 24 untuk kemudian aku masukkan ke kamar yang sudah aku persiapkan. Misiku berhasil sebagai seorang eksekutor. Aku menghubungi divisi olah TKP untuk melanjutkan pekerjaan selanjutnya. Setelah semua prosedur kulaksanakan aku pun pergi untuk menghilang dari tempat kejadian.
Seseorang bisa dinyatakan mati apabila ada tanda-tanda berikut ini. Berhentinya fungsi jantung. Berhentinya nafas. Berhentinya fungsi otak.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Comments