014

Menjadi seorang pembunuh bayaran. Pekerjaan itu tidak datang di setiap waktu. Tidak juga banyak yang tahu tentang bagaimana dan siapa yang harus mereka hubungi jika membutuhkan jasaku.

Setiap eksekusi punya nilai seni keindahannya masing-masing. Mengenai latar belakang, cara membunuh dan waktu. Ada yang bisa segera aku lakukan karena menuntut demikian. Tapi ada yang membutuhkan waktu sampai harus menunggu berbulan-bulan untuk bisa melakukannya.

Seperti pengalamanku baru-baru ini yang akan ku ceritakan.

*

Dunia mafia. Apalah sebutan untuk mereka. Aku dari dulu tidak pernah peduli atau pun menghiraukan keberadaan mereka. Jika dibandingkan dengan pekerjaanku dulu, mereka tak lebih dari remah-remah belaka.

Orang yang harus ku matikan kali ini adalah seorang bos mafia. Permintaan untuk mengeksekusinya disampaikan oleh perantara kepadaku. Bukan dari kelompok mafia lain yang ingin menggunakan tenagaku untuk menyingkirkannya. Tapi justru peringkat tertinggi penegak hukumlah yang meminta secara khusus agar aku yang melakukannya. Begitulah yang disampaikan oleh perantara.

Bahkan orang-orang yang menghubungi perantara sudah bersepakat dengan orang-orang dari dunia mafia lainnya. Mereka satu suara bahwa orang yang menjadi targetku kali ini sudah keterlaluan dalam berbisnis. Ia menjadi sangat rakus dan terlalu memonopoli.

Tapi itu semua bukan urusanku. Tugasku hanya mengakhiri hidupnya sesuai kontrak yang telah disepakati. Aku juga sama sekali tidak tertarik dengan organisasi mereka. Meski pernah berkali-kali mereka memintaku untuk bergabung.

Pekerjaan ini aku ambil sekaligus ingin mengetahui seberapa jauh jangkauan si perantara yang menjadi mitra kerjaku. Tak ku sangka perantara punya koneksi dengan orang-orang berkedudukan tinggi di pemerintahan. Meski begitu aku tetap harus selalu waspada. Terkadang arah angin bisa berubah tanpa diduga-duga. Dan ini sudah sering terjadi kepadaku.

*

Aku memilih satu celah waktu yang akan aku gunakan untuk memenuhi tugas permintaan klienku kali ini. Bos mafia setiap tiga bulan sekali pergi ke tempat barbershop yang sama untuk merapikan rambutnya.

Di tempat itulah aku akan melakukannya. Tempat potong rambut itu akan menjadi tempat terakhirnya untuk melihat wajahnya sendiri.

Aku harus menunggu sembilan bulan untuk melakukannya. Itu artinya aku memang sengaja melewatkan dua kesempatan ketika ia pergi ke barbershop langganannya. Karena tidak hanya butuh tempat, aku juga membutuhkan waktu.

Sore hari. Aku sudah terlebih dahulu berada di tempat potong rambut untuk menunggunya. Aku melakukan treatment mewarnai rambut supaya bisa berada di sana dalam waktu yang lebih lama.

Bos mafia itu datang seperti biasanya. Pukul lima sore.

Hari itu jam lima sore langit sudah mendung dan gelap. Tempat barbershop itu menyalakan seluruh lampunya. Karena jika lampunya tidak dihidupkan maka tempat mereka akan kurang penerangan dan cenderung gelap. Masuknya pencahayaan di tempat potong rambut itu menghadap ke arah timur.

Bos mafia duduk berjarak dua kursi kosong di sebelah kiriku. Orang yang sudah tua itu langsung dilayani oleh sang pemilik barbershop. Sementara aku sedang menunggu cat rambutku kering.

Momen yang aku tunggu akhirnya datang.

Listrik padam. Aku yang menyuruh orang yang bisa ku percaya untuk melakukannya. Aku juga sudah melatihnya untuk melakukannya.

“Listrik padam?”, kata bos mafia.

“Akhir-akhir ini sore hari suka mati lampu”,

“Biasanya hanya sebentar, lalu hidup lagi” kata pemilik barbershop.

Aku segera melakukan apa yang harus aku lakukan dengan cepat.

Aku mengambil sebuah pisau di tempat itu. Sebuah pisau cukur tajam yang sebelumnya sudah ku incar. Tanpa suara aku mendekati bos mafia. Aku putuskan vena berserta arteri di lehernya dengan satu sayatan yang kuat dan cepat hingga mengoyak tenggorokannya. Aku tancapkan dalam pisau tajam itu di wajahnya dengan hanya hitungan detik.

Setelahnya aku keluar dari sana lewat jalan yang sudah aku persiapkan.

Begitu lampu kembali menyala. Terdengar suara jeritan histeris dari orang-orang yang berada di dalam barbershop yang baru saja kutinggalkan.

Bos mafia sudah ku pastikan tidak akan bisa tertolong dari ajalnya.

Aku berjalan dengan tenang meniggalkan tempat itu. Aku ingin segera membilas rambutku untuk membersihkan pewarna rambut yang bersifat sementara ini. Aku juga ingin segera melepas wajah topengku yang aku gunakan untuk menyamar. Wajah palsu ini aku buat sendiri dengan teknik make up prostetik.

Kamera pengawas tidak akan mengetahui siapa aku yang sebenarnya.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!