Ini adalah sebuah pengecualian. Perkara ini terjadi karena aku merasa terganggu dengan apa yang sedang berlangsung di sekitar lingkungan tempat tinggal ku.
Belum genap satu minggu aku tinggal di wilayah yang baru. Aku membeli sebuah rumah dengan desain minimalis untuk diriku sendiri. Tempat ini menjadi yang kesekian kalinya aku pindah rumah. Tidak hanya karena rumahnya tapi juga karena wilayahnya yang aku pilih dengan penuh pertimbangan. Tentunya semua keputusan yang aku ambil tidak lepas dari perhitungan pekerjaanku sebagai seorang eksekutor bayaran.
*
Pagi itu aku bangun setelah melewati malam pertama di rumah baruku ini. Aku minum kopi sambil iseng menonton televisi.
Ada sebuah berita kriminal yang cukup menghebohkan terutama bagi diriku sendiri. Ada kasus anak hilang. Bocah laki-laki berusia 7 tahun yang sudah dua hari tidak pulang ke rumah. Orang tuanya sudah mencari kemana-mana dan melaporkannya ke kantor polisi.
Yang membuatku sedikit terkejut adalah ketika di siaran berita televisi yang sedang aku saksikan menampilkan gambar kawasan tempat tinggal anak hilang tersebut. Aku mengenalinya. Itu adalah kawasan tempat tinggal ku yang baru. Bahkan rumahku sempat tersorot oleh kamera TV.
“Ting tong”,
Hari pertama aku menjadi warga di sini. Aku langsung sudah mendapatkan tamu.
Aku pun membukakan pintu dengan kopi panas yang sengaja aku bawa dengan tangan kananku. Aku membuka pintu dengan tangan kiri.
Rupanya yang datang adalah dari pihak kepolisian bersama warga setempat. Mereka mewawancarai ku tentang bocah hilang yang baru saja ku saksikan beritanya di televisi.
Aku bersikap kooperatif. Aku berbicara jujur kepada pihak yang berwenang. Aku sama sekali belum pernah melihat anak laki-laki berusia 7 tahun yang sekarang wajahnya sudah viral. Aku berharap anak itu bisa segera ditemukan dalam keadaan baik-baik saja.
Warga di sana juga tahu bahwa aku baru kemarin pindah di lingkungan mereka. Aku mempersilahkan warga dan para petugas dari pihak yang berwenang untuk memeriksa rumah ku secara seksama untuk menghilangkan rasa kecurigaan mereka kepadaku.
*
Beberapa jam kemudian aku turut bergabung dengan warga untuk membantu pencarian kasus anak hilang ini. Aku mencari informasi tentang kronologi hilangnya bocah itu dengan bertanya seperlunya kepada warga yang lain. Aku mendengarkan percakapan-percakapan para petugas dengan pihak keluarga terutama kesaksian orang tua bocah yang belum kunjung ditemukan.
Sosialisasi ini bagus untukku sebagai warga baru. Walau pun sebetulnya aku tidak ingin sedekat ini bergaul dengan masyarakat. Tapi ini terpaksa aku lakukan karena ada kejadian seperti ini. Justru kalau aku tidak ikut berempati maka akan menimbulkan kecurigaan.
Kronologi hilangnya anak laki-laki.
Pukul 10:00 pagi ibu bocah itu seperti biasa menjemput anaknya di sekolah. Tapi di hari itu sang ibu tidak mendapati anaknya. Mengejutkannya lagi dari pihak sekolah baik guru dan teman-teman sekelasnya mengatakan bahwa si anak di hari itu tidak masuk sekolah.
Sang ibu syok mendengarnya. Jelas-jelas di pagi harinya ia sendiri yang mengantarkan anaknya untuk berangkat ke sekolah.
Tapi ketika dimintai keterangan oleh petugas, ibu memberikan jawaban yang menjadi kunci dari hilangnya bocah tersebut. Hari itu sang ibu tidak mengantarkan anaknya sampai masuk gerbang sekolah. Ia hanya mengantar anaknya sampai di pinggir jalan. Sang ibu keburu pergi sebelum melihat anaknya benar-benar masuk ke sekolah.
Beberapa murid yang pagi itu sang ibu kenali tidak bisa memberikan kesaksian yang jelas kemanakah si bocah hilang itu pergi.
Sialnya lagi kamera CCTV di area jalan dan depan sekolah tersebut sedang rusak. Bahkan sudah lama belum diperbaiki.
Para petugas juga sudah memeriksa sekolah bocah tersebut. Tapi anak itu tidak ditemukan di sana. Sama sekali tidak ada saksi dan petunjuk yang berarti.
Sejauh ini aku harap kalian bisa menggambarkan sendiri seperti apa lingkungan tempat tinggal ku yang baru di kisah ini.
*
Pada malam hari sebagian warga berhenti untuk membantu proses pencarian. Mereka tetap harus beraktivitas seperti biasanya di tengah musibah ini. Ada beberapa warga yang masih membantu pencarian bersama para petugas dan anggota keluarga lainnya.
Aku memilih untuk pulang ke rumah baruku.
Tapi aku tidak tidur. Ini baru hari pertama aku ikut bergabung membantu proses pencarian. Rasanya aku tak ingin melakukannya lagi.
Aku pun melakukan pencarianku sendiri. Dan aku sangat bersungguh-sungguh. Aku ingin segera menemukan bocah hilang itu. Supaya aku tidak perlu lagi membuka diriku kepada orang-orang asing itu. Jika berlama-lama dengan mereka identitasku bisa terganggu.
Aku mencurigai salah seorang warga yang tinggal di lingkungan ini. Tadi siang saat membantu melakukan pencarian aku sempat berkenalan, berbasa-basi dengannya sebentar. Selebihnya informasi tentang orang itu aku dengar dari warga yang lain.
Orang itu adalah seorang yang bekerja sebagai personal trainer di gym yang letaknya tidak jauh dari tempat kami tinggal. Aku juga melakukan investigasi ku sendiri terkait kasus hilangnya bocah laki-laki berusia tujuh tahun ini.
Anak kecil yang rumahnya tidak jauh dari rumah baruku itu hilang tiga hari yang lalu. Dan ada 2 lagi kasus serupa yang lokasinya saling berdekatan dengan wilayah ini yang terjadi dalam kurun waktu satu bulan terakhir.
1) Seorang anak laki-laki berusia 8 tahun juga dilaporkan hilang. Anak itu tinggal di kawasan tempat gym yang aku sebutkan tadi. Bahkan setiap hari ia selalu lewat di depan gym tersebut. Waktu hilangnya sudah seminggu yang lalu. Anak itu tidak pernah pulang ke rumah lagi setelah terakhir kali berangkat untuk les pelajaran tambahan. Hari itu anak tersebut mengikuti les dan pulang seperti biasa jam setengah 5 sore.
2) Seorang anak laki-laki berusia 6 tahun dilaporkan hilang. Anak itu tinggal tidak jauh dari lokasi gym. Sudah 15 hari berlalu anak itu belum ditemukan. Anak itu terakhir kali terlihat di rumah di hari minggu pagi. Saat anak itu hilang ART sedang menjemur cucian di halaman belakang. Sedangkan kedua orang tuanya sedang pergi ke gym.
Sebuah kata kunci yang aku dapatkan ketika mendengar orang yang bekerja sebagai personal trainer itu mengatakan bahwa ia libur di hari minggu. Setiap harinya ia pergi ke gym tempatnya bekerja pukul 9 pagi dan biasanya pulang dari tempat gym jam 5 sore. Gym tempat orang itu bekerja adalah tempat dimana orang tua dari anak berusia 6 tahun itu pergi.
Dari data yang aku jelaskan di sini, ada kronologi waktu kenapa aku mencurigai personal trainer tersebut.
Tidak itu saja. Setelah itu aku mengamatinya lebih dalam lagi.
Dalam pencarian tadi siang ada juga anak-anak kecil yang bergerombol untuk melihat ramainya orang-orang dewasa yang sedang mencari bocah hilang. Anak-anak kecil itu juga kenal dan berteman baik dengan anak yang hilang. Mereka sudah dimintai keterangan dan kesaksian.
Aku memperhatikan orang yang berprofesi sebagai personal trainer itu. Tangannya begitu usil ketika ia bersama anak-anak kecil di sana. Pupil matanya juga melebar ketika ia melihat anak-anak kecil yang masih polos-polos itu. Aku semakin curiga dengannya ketika orang itu sempat menggoda salah satu anak kecil yang tidak tahu apa-apa. Bahkan orang bertubuh besar itu beberapa kali menyentuh pantat anak kecil itu secara sengaja. Ia berhenti bersikap demikian ketika aku dan salah seorang warga mendekati kerumunan anak-anak kecil itu lalu berpura-pura bertanya tentang sosok bocah yang hilang.
*
Pukul 01:00 dini hari.
Tidak diragukan lagi aku akan mendatangi rumah personal trainer itu. Meski rumah-rumah di lingkungan tempat tinggal kami semuanya telah diperiksa oleh petugas. Tapi instingku sangat meyakini orang itu punya ruangan yang disembunyikan. Dan aku akan menemukannya untuk mengakhiri kegilaan ini.
Rumah orang itu berada di ujung jalan masuk kawasan lingkungan tempat kami tinggal. Saat hendak masuk ke lingkungan ini pasti melewati sebuah rumah dengan halaman yang luas yang berada tepat di belokan pertigaan jalan masuk ke tempat tinggal kami.
Aku keluar secara sembunyi-sembunyi, diam-diam pergi ke sana. Aku juga memakai pakaian serba hitam dan mengenakan penutup kepala yang hanya menyisakan kedua bola mataku untuk dilihat layaknya seorang maling yang hendak beraksi. Yang terpenting adalah aku tidak boleh meninggalkan sidik jari.
Cukup dengan 3 menit 21 detik. Aku mengendap-endap berlindung di kegelapan untuk sampai di rumah itu. Bagusnya lagi rumah itu tidak dipasang kamera pengawas. Aku yakin orang itu juga tidak mau mengambil resiko untuk merekam bukti kejahatannya sendiri.
Aku masuk dengan cara melompati dinding pagar belakang rumah yang tingginya ku perkirakan sampai dua setengah meter. Ada tiang listrik yang membantuku. Dengan sekali pijakan aku masih bisa langsung melompat untuk menggapai pucuk pagar yang dibiarkan polos tanpa kawat berduri atau pun pecahan beling tajam.
Aku berhasil masuk ke dalam area rumah. Kemudian aku mengelilingi rumah itu dengan hati-hati. Aku mencari petunjuk dimana ruang rahasia yang tidak dapat ditemukan oleh para petugas itu berada.
Rumah itu hanya terdiri dari satu bangunan tinggi yang ukuran luasnya tidak lebih luas dari halamannya. Sama seperti kebanyakan rumah-rumah besar yang dibangun di kawasan tempat kami tinggal.
Setelah 3 kali mengelilingi rumah orang itu, baru aku menemukan sebuah petunjuk.
Ada yang tidak wajar. Pemilik rumah menaruh satu bak sampah di samping rumah. Pada umumnya bak sampah kami taruh di halaman depan rumah dekat dengan pintu pagar. Dimana letak posisi itu memudahkan petugas kebersihan yang setiap pagi biasa mengambilnya.
Penemuan petunjuk ini menguatkan tuduhan jika orang ini memang bukan orang baik-baik.
Di rumah itu ada 2 bak sampah. 1 bak sampah di taruh di bagian depan rumah dan itu wajar. Dan 1 bak sampah lagi di letakkan di samping rumah. Janggal.
Aku menggeser bak sampah yang berada di samping rumah tersebut. Pemilik rumah memang tidak meletakkannya di sana secara menempel ke dinding. Tapi ada ruang selanya.
Kecurigaanku terbukti. Ketika aku menggeser bak sampah yang ternyata juga kosong itu, aku menemukan sebuah jendela ventilasi yang di pasang di bawah. Di lantai, tepat di samping dinding rumah. Bak sampah itu menutupi separuhnya.
Bentuknya kotak persegi panjang dengan ukuran kira-kira panjang 50 cm dan lebar 30 cm. Ada 4 teralis besi yang mengunci lubang ventilasi itu.
Aku mencoba melihat ke dalam ruangan bawah tanah dengan mata telanjang tanpa bantuan pencahayaan. Aku kesulitan untuk menemukan apa pun di sana. Tampaknya ruangan bawah tanah itu cukup tinggi. Aku mencoba mencuri dengar dengan memasukkan telingaku melewati teralis besi-besi itu. Tapi aku juga tidak berhasil menemukan apa-apa.
Aku yakin itulah tempat rahasia si pemilik rumah yang selama ini belum ada orang yang tahu. Kecuali anak-anak kecil yang telah dibawa masuk ke dalam sana.
Sekarang tinggal bagaimana aku masuk ke dalam rumah tersebut lalu menemukan ruang bahwa tanah tersembunyi itu tanpa ketahuan oleh pemiliknya.
*
Aku memeriksa tiga pintu masuk yang dimiliki rumah itu. Ada satu pintu yang belum dikunci. Yaitu pintu samping.
Hal ini bisa mengartikan setidaknya dua hal. Yang pertama karena si pemilik rumah lupa menguncinya. Tapi bagi seorang personal trainer yang pola hidupnya sangat teratur dengan baik. Kemungkinannya kecil jika ia hanya sekedar lupa mengunci pintu samping rumahnya.
Yang kedua karena memang sudah menjadi kebiasaan untuk tidak menguncinya. Yang artinya si pemilik rumah memiliki kepercayaan diri yang tinggi dengan kemampuannya. Aku tidak boleh memandang dia remeh. Ia adalah seseorang dengan tubuh yang besar dan kekar. Aku akan menghindari untuk beradu gulat dengannya.
Aku beruntung. Aku bisa masuk ke dalam rumah itu tanpa harus bersusah payah. Sejatinya aku juga sudah membawa alat pembuka kunci pintu. Jangan terlalu berlebihan membayangkan bagaimana bentuknya. Satu set alat professional pembuka kunci pintu dan gembok sekarang sudah dijual dimana-mana.
Aku sudah berada di dalam rumah. Di lantai satu. Kini aku hanya tinggal mencari dimana ruang rahasia bawah tanah itu berada lalu mencari jalan masuknya.
Seperti yang aku jelaskan tadi. Aku sudah berkeliling rumah ini sebanyak 3 kali. Aku telah menghafal dengan seksama denah rumahnya.
Aku menemukan ruang tersembunyi itu berada di bawah lantai dapur dan ruang makan. Aku sekarang berdiri di balik dinding dimana lubang ventilasi ruang rahasia terpasang di samping luar rumah yang tadi aku temukan. Kini aku tinggal mencari dimana pintu masuk ke ruang rahasia bawah tanah rumah ini.
Aku mengambil senter yang bisa aku temukan di rumah itu. Aku menggunakan penerangan untuk mencari pintu yang disembunyikan. Aku memulainya dari dapur dan ruang makan sesuai dengan letak lokasi dimana ruang bawah tanah itu berada.
Ada kemungkinan lain jalan masuknya berasal dari ruangan yang lain. Aku berharap tidak akan serumit itu. Aku harus tetap tenang dan tanpa suara supaya si pemilik rumah yang sedang tidur di lantai atas tidak terbangun.
*
Setelah mencarinya di setiap detail kecil di ruangan itu akhirnya aku menemukannya. Aku berhasil menemukan pintu tersembunyi yang akan membawaku ke ruang rahasia di bawah tanah.
Aku sudah menyusuri semua lantai dan dinding. Tidak ada celah petunjuk. Aku juga memeriksa bagian dinding dan lantai yang tertutup oleh lemari, kulkas, dan karpet. Di balik itu semua tidak ada ruang kosong. Semuanya rapat.
Tinggal satu yang belum aku periksa. Sebuah lukisan gambar air terjun yang mempunyai tinggi lebih dari satu meter dan lebar sekitar setengah meter. Lukisan itu dipasang di ruang makan di sebelah kulkas. Apakah termasuk hal biasa memajang lukisan pemandangan di tempat kita akan makan setiap harinya?
Aku segera memindahkan lukisan itu. Dan benar, di balik lukisan itu ada sebuah pintu yang warnanya sama dan rata dengan dinding.
Pintunya tidak terkunci. Aku membukanya. Langsung terlihat sebuah anak tangga yang menurun. Sebuah lorong gelap yang akan membawaku kepada bukti terungkapnya kebenaran.
Terlebih dahulu aku memasang kembali lukisan gambar pemandangan itu seperti semula. Kemudian aku menutup pintu rahasia itu dari dalam. Aku tetap tidak ingin kedatanganku diketahui oleh si pemilik rumah.
Tangga kayu mengantarkan ku berjalan menurun cukup jauh. Hingga aku tiba di lantai bawah yang masih beralas tanah.
Aku hanya mengandalkan mata telanjang ku. Aku meninggalkan senter di tempat semula untuk menghilangkan kecurigaan.
Aku masih bisa melihat dalam gelap di ruang bawah tanah tersebut meski tidak optimal. Aku kemudian menghidupkan lampu.
Sebelum aku melanjutkan cerita ini, ambilah nafas dalam-dalam.
*
Kalian tidak akan pernah membayangkan apa yang aku temukan di dalam ruangan ini. Orang ini benar-benar pesakitan.
Ada sosok anak kecil yang terlihat digeletakkan begitu saja di atas sebuah meja. Parahnya lagi anak kecil laki-laki itu dalam keadaan telanjang bulat. Dan sudah mati.
Aku mendekatinya. Tampak tanda-tanda kekerasan di tubuhnya. Wajahnya penuh memar kebiru-biruan bekas hantaman benda tumpul. Begitu juga dengan punggungnya. Di sekitar alat vitalnya terdapat noda-noda bekas kekerasan seksual, seperti sperma dan bercak darah di sekitar anusnya.
Posisi tubuhnya tengkurap dengan kepala miring ke kanan. Kondisi mayat anak ini sungguh mengenaskan.
Aku bisa memastikan bocah laki-laki ini adalah anak laki-laki berusia 7 tahun yang hilang yang sedang kami cari-cari. Dan pelakunya adalah orang yang sudah dikenal oleh korban. Yaitu orang yang bekerja sebagai personal trainer di gym, yang merupakan tetangganya sendiri.
Di ruang bawah tanah itu ada juga sebuah lemari pendingin yang biasanya digunakan di sebuah restaurant untuk menyimpan bahan baku makanan seperti daging dan yang lainnya.
Aku membukanya. Dan yang kutemukan adalah. Benar sekali. 2 mayat bocah laki-laki yang sampai sekarang belum ditemukan sebagai kasus anak hilang. Kondisi mereka lebih parah lagi.
Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki yang menuruni anak tangga. Aku pun segera bersembunyi. Semoga pemilik rumah ini tidak menghiraukan lampu yang memang sengaja tidak aku padamkan. Aku ingin melihatnya secara jelas apa yang hendak ia lakukan.
Orang itu datang dengan hanya mengenakan kaos oblong. Badannya benar-benar macho. Berisi dan berbentuk. Ia sama sekali tidak memakai dalaman atau pun celana.
Orang ini sungguh biadab. Ia datang di jam selarut ini hanya untuk menyetubuhi bocah laki-laki yang sekarang sudah menjadi mayat. Selain pedofil rupanya orang ini juga mempunyai penyimpangan sexual lainnya yaitu nekrofilia, berhubungan intim dengan mayat.
Aku tertegun menyaksikannya. Aku ditambah semakin tidak percaya lagi setelah menemukan bukti dan fakta lainnya.
Di ujung ruangan ada sebuah lemari kaca. Dan di dalamnya terpajang tengkorak dan tulang-tulang yang masih kecil. Tulang-tulang itu adalah tulang manusia dari anak-anak.
Dapat disimpulkan bahwa orang yang sekarang sedang menyetubuhi mayat di hadapanku ini adalah seorang penjahat kelamin kambuhan. Dengan kata lain dari dulu ia sudah pernah melakukannya. Tengkorak dan tulang-tulang itu adalah trofi baginya.
*
Emosiku yang tadinya biasa saja kini memuncak. Aku menjadi terdorong untuk menghabisi orang ini setelah melihat kenyataan yang terjadi. Aku tidak sudi ia ditangkap dan hanya mendapat hukuman penjara.
Bahkan aku akan melakukan secara terbuka untuknya.
Aku membuka penutup kepalaku. Aku ingin orang itu melihat siapa yang segera akan menghakiminya. Seseorang yang baru ia kenal siang kemarin. Aku akan menyiksanya.
Ia belum sempat orgasme. Aku menimpuk kepalanya dengan alat pembuka kunci pintu yang kubawa.
Ia kemudian berpaling kepadaku menghentikan aktivitas binatangnya. Aku memperlihatkan diri.
“Kamu!”,
Ia membentak. Ia masih mengingatku.
“Mati kamu!”, teriaknya sambil menyerang ku.
Aku melumpuhkannya dengan tiga kali pukulan di titik vital. Aku terlebih dahulu harus menghindari serangan pukulannya yang ternyata sangat lambat dan tidak bertenaga.
Pukulan pertama aku melakukan upper cut tepat di bagian dalam dagunya saat ia menoleh ke arah ku setelah aku berhasil menghindari serangan pertamanya. Kemudian aku pukul lagi di bagian tengkuknya dengan menggunakan siku yang membuat satu lututnya jatuh ke tanah. Dan yang terakhir aku tendang ulu hatinya. Ia pun rubuh tergeletak. Aku melakukannya dengan sangat cepat.
Seperti yang aku bilang. Aku ingin menyiksanya dulu sebelum benar-benar membunuhnya. Aku cabut penis predator pemangsa anak kecil itu dengan menggunakan tangan kosong. Aku menariknya sangat kuat hingga penisnya terputus. Orang itu sangat kesakitan.
Setelah itu aku menghabisi nyawanya dengan cara mematahkan lehernya. Orang itu mati.
*
Seketika aku sadar. Aku telah bertindak terlalu berlebihan karena terbawa emosi. Aku kehilangan kontrol amarahku.
Sekarang aku harus memikirkan bagaimana caranya supaya mayat bocah-bocah yang hilang ini bisa ditemukan. Aku juga harus menyiapkan alibi untuk diriku sendiri. Meski aku yakin para petugas di wilayah ini tidak akan mencurigai ku. Mereka juga tidak begitu sulit untuk aku kelabui.
Aku membawa penis yang telah terputus dari tubuh pemiliknya.
Aku meninggalkan ruang bawah tanah dengan keadaan pintu terbuka. Setiap langkahku dari ruangan itu aku tinggalkan jejak darah dari tersangka pelaku kejahatan. Darah itu aku teteskan dari penisnya yang aku bawa.
Aku berhenti di pagar pintu rumah. Aku meninggalkan jejak darah itu hingga ke jalan utama di depan pagar pintu bagian luar rumah tersebut. Aku membuang penis itu ke tengah jalan.
Aku segera pulang ke rumah baruku. Beberapa jam lagi pagi akan datang. Kasus telah terpecahkan. Aku tinggal menunggu narasi kehebohan seperti apa yang akan diberitakan.
*
Aku terbangun jam 8 pagi karena suara sirine mobil para petugas. Lalu aku menyalakan televisi. Siaran langsung tentang terpecahkannya kasus anak hilang selama satu bulan terakhir di wilayah ini sedang tayang. Bahkan rumahku juga sempat tersorot oleh kamera TV.
Sosok tersangka adalah orang yang sudah menempati rumah tersebut selama belasan tahun. Sekarang para petugas sedang melakukan penyelidikan lebih lanjut tentang latar belakang tersangka dan siapa saja identitas korban yang ditemukan di ruang bawah tanah itu.
Mengenai korban terakhir yaitu anak yang hilang dari lingkungan tempat tinggal ku yang baru. Dugaanku adalah tersangka berhasil membujuk anak itu untuk datang ke rumahnya saat ia sedang lari pagi melewati depan sekolah korban. Tersangka melakukannya karena ada kesempatan.
Para petugas juga sedang mencari sosok pahlawan gelap itu. Orang yang telah menyelesaikan kasus tersebut dengan catatan bertindak main hakim sendiri.
Sudah jelas aku tidak akan lama tinggal di rumah baru ini.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Comments