Hari ini aku sengaja berangkat terlambat. Ada seseorang yang sedang aku tunggu. Orang itu sudah berada dalam radarku dalam beberapa malam terakhir ini. Dua hunian di lingkungan tempat aku tinggal sudah disatroni maling malam itu. Ia mengincar rumah-rumah kosong yang sedang ditinggal oleh pemiliknya. Aku menduga dengan akurat bahwasanya tempat tinggal ku adalah incaran si pencuri kecil berikutnya.
Ia datang masuk melalui jendela samping rumah yang memang sengaja belum aku kunci. Aku bersembunyi di gelapnya ruangan yang sudah aku kuasai. Ia terlihat asik sendiri mencari-cari benda berharga yang bisa dia bawa. Sikapnya yang tidak terburu-buru menunjukkan bahwa ia sudah sering melakukannya. Tapi kali ini ia datang kepada tuan rumah yang salah. Karena rumah yang sedang ia datangi adalah rumahku.
Sebuah buku anatomi fisiologi dengan ketebalan lebih dari 600 eksemplar aku adukan keras dengan tengkuknya hingga membuatnya jatuh pingsan. Aku ingin membuatnya jera.
Aku ikat kaki dan tangannya dengan kuat. Aku tutup matanya dan aku sumbat mulutnya. Tiga hari kubiarkan dia. Setelah tiga hari dia akan ditemukan dengan keadaan serupa di tempat pembuangan sampah itu pun jika ada orang yang segera menemukan dan berbaik hati padanya.
Ada seorang yang datang ke toko di jam sif ku bekerja. Orang yang sudah aku hafal itu hendak membeli obat luka, kasa dan juga plester. Dia tampak gugup setelah masuk ke apotek. Aku mengambilkan apa yang dia minta. Setelah mendapatkannya dengan tangan gemetar ia menyerahkan uang pembayaran dan langsung kabur begitu saja. Hari ini adalah hari keempat untuknya. Sepertinya ia sudah mengenali siapa pemilik rumah yang terakhir kali ia datangi untuk melakukan aksinya.
***
Pantas saja dia bersikap seolah mengenaliku. Ternyata perempuan muda yang aku ceritakan di bab sebelumnya dulu pernah datang ke resepsi pernikahanku. Untuk ketiga kalinya aku berjumpa dengannya pada saat aku menuju apotek sedangkan dia baru saja pulang dari tempat kerjanya larut malam karena lembur.
Bahkan ia memanggil namaku. Perempuan itu masih kerabat dari keluarga mantan istriku. Tidak bisa dihindari untuk tidak melakukan sebuah percakapan. Ia juga sudah tahu kalau aku dan saudaranya sudah lama berpisah. Bahkan ia mengabarkan kalau mantanku sudah kembali berkeluarga dan memiliki anak. Dia bertanya tentangku dan aku pun sebaliknya sebelum jalan yang berbeda menghentikan itu semua.
Sudah aku rencanakan untuk memutus ikatan dengan perempuan itu sebelum ia bertindak lebih jauh. Suatu hari aku menghampirinya terlebih dahulu. Aku datang bersama dengan seorang wanita yang kukenalkan kepadanya sebagai kekasihku yang baru. Aku menceritakan bagaimana awal pertemuan kami dan bagaimana aku dengan perempuan yang sedang aku gandeng itu kedepannya. Dari sorot matanya ia seperti terpukul ketika mendengarkan penjelasanku. Sementara ia lebih banyak diam. Setelah cukup menanamkan ide di pikirannya aku beranjak pergi darinya untuk selamanya.
Wanita yang bersamaku adalah anggota kami juga. Ia berada di divisi penyamaran. Aku menghubunginya untuk mengatasi permasalahan ini demi kepentingan pekerjaan kami.
Sudah aku sebutkan beberapa divisi yang berperan di dalam pekerjaan kami. Divisi eksekusi, divisi penyamaran atau mata-mata, divisi lapangan atau olah TKP, dan divisi ku divisi kebersihan.
Lawan kami adalah mereka orang-orang yang berperilaku sesuka hati demi kepentingan diri sendiri dengan menindas masyarakat kecil dengan cara yang begitu lembut bahkan sampai tidak ada yang menyadari.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Comments