Aku sungguh tidak pernah tahu sebagaimana peliknya urusan orang-orang yang juga berada di rantai yang sama dengan pekerjaanku.
Orang-orang yang membawa mayat-mayat ke tempat kami hanya sekedar mengantarnya saja kemudian pergi tanpa mengatakan satu patah kata pun. Hanya sebuah berkas yang berisi profil si mayat yang menjadi bahasa syarat kami bertransaksi.
Dua tahun belakangan ini ada sebuah kebijakan baru. Sebuah terobosan inovatif yang dibuat oleh kami. Sebuah kewenangan yang bagiku rasanya sah-sah saja dan positif.
Terjadi sedikit perubahan dalam peranku bekerja dan aku harus benar-benar menyesuaikan kemampuanku.
Dalam profil mayat akan ada sebuah label khusus yang menyertainya dan di sana akan ada sebuah list permintaan apa saja organ yang harus diambil dengan benar.
Untuk menguasai keterampilan itu aku cukup memerlukan waktu. Tidak perlu mendatangkan dokter bedah untuk melakukannya. Dengan melihat dari video-video dan buku-buku panduan aku mempelajarinya hingga berhasil menguasai apa yang harus dibutuhkan. Tentu saja aku menjadi mahir melakukannya karena banyaknya percobaan yang aku lakukan secara mandiri terhadap setiap tubuh-tubuh yang datang. Mengasah kemahiran dengan cara pelatihan seperti ini tidaklah pernah salah.
Tidak semua organ dari mayat yang dikirim harus diambil. Hanya untuk yang sudah ditandai saja. Indikatornya tentu saja adalah memilih organ yang sehat dan untuk kapan organ itu akan dibutuhkan.
Organ yang bagus didapatkan dari tubuh jenazah yang masih segar dari waktu meninggalnya. Faktor usia dan riwayat kesehatan dari orang sebelum mati juga penting. Dan yang terpenting apabila mengambil organ dari kami untuk digunakan sebagai kebutuhan donor adalah bagiamana cara si mayat itu meninggal. Cara eksekusi akan berhubungan dengan kondisi jenazah yang masih bagus atau sudah dalam keadaan hancur.
Apa yang sering kutemukan setelah selesai melarutkan mayat-mayat kejahatan itu? Yang paling sering aku dapatkan adalah peluru-peluru yang melubangi dan bersarang di tubuh mereka. Sebagian besar yang datang kepadaku bukanlah wajah-wajah yang tersenyum berseri. Mereka datang dalam keadaan tak karuan. Kepala hancur otak berhamburan. Darah mengucur tiada henti-hentinya. Tulang-tulang yang dipatahkan. Hingga isi perut yang muntah keluar.
Organ-organ yang berhasil diselamatkan akan aku simpan di dalam lemari pendingin yang terletak di lantai bawah. Hanya aku dan supervisi apotek yang punya akses untuk mengambilnya.
Terdapat 3 CCTV di ruko kami. Satu mengawasi halaman depan. Satu di dalam toko tepat di atas kasir. Dan satu lagi di dalam lemari pendingin yang baru saja aku sebutkan. Sementara itu tidak ada kamera pengawas di ruang area tempat ku melakukan pertunjukkan.
Seperti yang sudah aku katakan supervisi yang saat ini bekerja denganku adalah orang yang keempat sebagai supervisi di apotek kami.
Dimanakah tiga supervisi sebelumnya?
Akulah yang terakhir kali melihat mereka. Aku akan menceritakannya.
Saat itu aku baru saja datang ke tempat kerja. Kemudian aku bertemu dengan orang baru yang memperkenalkan dirinya sebagi supervisi apotek yang baru. Di lantai bawah sudah ada kiriman yang langsung sudah di taruh di dalam bak mandi. Mayat itu adalah orang yang sering kulihat sebelumnya. Mayat itu adalah supervisi yang sebelumnya.
Dan begitu jugalah yang terjadi dengan dua supervisi lainnya. Mereka dibersihkan di tempat mereka sendiri bekerja.
Aku tidak yakin secara pasti alasan apa yang membuat mereka harus dibersihkan. Yang pasti keberadaan mereka sudah mulai menjadi ancaman. Aku sama sekali tidak tertarik untuk mengetahui lebih dalam profil mayat-mayat itu dengan membaca dokumen-dokumen yang berada di meja supervisi.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Comments