009

Kisah ini mulai menapaki tangga berikutnya. Akan banyak peristiwa-peristiwa yang membakar jiwa.

Aku kedatangan seorang penting dari kami. Ia datang bersama satu orang lain yang mengawalnya yang aku tahu sebagai salah satu eksekutor berbahaya.

Ada kabar apa sehingga dua orang itu rela turun untuk bertemu langsung denganku? Pastinya bukan sebuah berita yang menyenangkan yang akan disampaikan. Kami selalu menghapus jejak pesan dalam berkomunikasi pada setiap pergerakan. Kami mengutamakan untuk pertemuan secara tatap muka untuk perkara yang genting.

Sebuah file yang berisi lembaran-lembaran wajah dari anggota kami diperlihatkan kepadaku. Sayangnya tanda silang merah yang mencoreng muka anggota kami menandakan bahwa pahlawan-pahlawan itu sudah gugur. Dalam kurun waktu yang tidak terlalu lama kolega-kolegaku berhasil diketahui identitasnya, ditemukan dan dimatikan. Ada sebuah kebocoran informasi di dalam pekerjaan kami. Ada orang yang berkhianat diantara kami yang menjual informasi tentang kami sehingga musuh-musuh kami dengan mudah bisa menargetkan dan melemahkan kami.

Dua orang itu datang kepadaku untuk memperingatkan aku supaya berhati-hati. Sudah tidak banyak lagi yang tersisa diantara kami. Dan yang masih ada pun belum tentu bisa semua dipercaya. Diantaranya pastilah berpihak kepada mereka.

Bisakah aku mencurigai supervisi yang hampir setiap hari aku bertemu dengannya? Sejauh ini aku belum menemukan tanda-tanda yang mencurigakan tentangnya. Tapi pesan yang aku dapatkan adalah untuk bersikap waspada kepada siapa saja diantara kami karena belum ada nama yang muncul sebagai sumbu kekacauan ini.

Di malam hari aku berjaga sebuah mobil datang berhenti di depan toko untuk mengantarkan kiriman. Satu orang turun dari mobil itu. Aku langsung tahu kalau dia dari divisi lapangan. Anehnya kenapa dia langsung masuk ke dalam toko untuk menemui ku, bukannya membuka ruko yang bersebelahan dengan apotek yang juga milik kami yang difungsikan sebagai alur masuk kiriman datang untuk dibawa ke lantai bawah.

Rupanya ia datang kepadaku untuk meminta bantuan mengangkat kiriman itu karena yang ia bawa beratnya setara tiga orang dewasa. Aku kembali mencium kejanggalan. Setiap divisi lapangan harusnya bekerja dengan dua orang anggota tapi ia hanya seorang diri. Kami berdua cukup kerepotan untuk membawa mayat bertubuh besar itu ke lantai bawah. Dan benar saja setelah kubuka penutup jenazahnya, tanpa membaca profilnya pun aku tahu mayat itu adalah partner kerja dari orang divisi lapangan yang baru saja membawanya sebagai kiriman yang harus ku bersihkan.

“Apa yang terjadi?”, tanyaku sebelum dia pergi.

“Apa?! Apa kau ingin membunuhku?!”, tanyanya sambil mengacungkan pistol kepadaku.

Aku membiarkan amarah dan perasaannya stabil untuk menunggu penjelasan darinya.

“Sebaiknya kita pergi tinggalkan semua ini. Kita sedang diburu. Lihatlah”, jawabnya masih emosional sambil menunjuk teman baiknya yang sudah tak bernyawa.

“Apa kau tahu siapa yang membunuhnya?”, tanyaku.

“Aku tidak tahu. Aku akan pergi”, katanya yang kemudian berlalu meninggalkanku.

Aku mengetahui mereka berdua dengan baik. Mereka kerap mengantar kiriman ke tempatku. Aku juga masih mengingat bagaimana mereka di awal bekerja bersama kami. Waktu begitu cepat berlalu mereka sudah mengalami banyak perubahan dan berkembang. Ada informasi penting yang dibawanya beserta kiriman yang datang. Aku yakin saat ini kami dalam keadaan yang riskan.

Pagi datang dengan malam yang selalu lebih cepat berlalu. Aku masih berada di ruang bawah ketika supervisi datang. Aku baru saja menyelesaikan tugasku. Bobot yang besar membutuhkan waktu yang lama pula untuk melarutkannya. Tidak ingin cairannya meluber kemana-kemana aku membagi tubuhnya menjadi beberapa bagian dengan menggunakan dua bathtub sekaligus untuk membersihkannya.

Setelah tugasku selesai aku hendak pulang. Tapi aku dikagetkan dengan suara langkah supervisi yang menuruni tangga. Mau apa dia pagi-pagi sudah langsung turun ke lantai bawah?

Ketika dia sampai di ruang bawah aku pun memberikan isyarat bahwa aku akan segera pulang. Dengan sendirinya dia akan mengetahui aku baru saja ada pembersihan. Aku pun melewatinya tanpa bertegur sapa sama seperti biasanya.

Tiba-tiba aku merasakan sakit di punggungku. Ternyata si anak bau kencur ini menusukkan sesuatu kepadaku. Dia menyuntikkan bius total. Terdengar seperti ia berencana untuk menyingkirkan ku.

Beruntunglah untuk menjaga jarak dan tidak mengenal satu sama lain di pekerjaanku ini. Beruntungnya aku, supervisi yang sekarang berada di hadapanku ini masih belum begitu mengenalku. Segera aku mencengkram tenggorokannya dengan tangan kananku kencang sekuat tenaga hingga menghancurkannya. Aku menghabisinya dengan cara mengoyaknya keluar. Aku melepaskannya membiarkannya mati karena kehabisan darah. Sementara aku mulai merasa pusing dan lemas efek dari bius yang mulai merasuki tubuhku. Sebentar lagi aku akan tidak sadarkan diri untuk waktu yang entah untuk berapa lama kadar bius itu diramu. Sebaiknya aku mengamankan diriku berjaga jikalau ada yang lain datang.

Aku terbangun di malam harinya. Selain efek dari anestesi kondisi tubuhku juga mempengaruhinya. Aku yang begadang semalaman membersihkan mayat dengan ukuran yang jumbo ditambah dengan datangnya pikiran-pikiran yang sedang kucoba uraikan tentang situasi pelik di ranah pekerjaan harus menerima bius dari partnerku sendiri yang sekarang juga harus aku bersihkan.

Kejadian ini memberikanku hipotesis lain dengan keadaan yang sedang terjadi diantara kami.

Di pertemuan sebelumnya dengan supervisi keempat ini, aku dan dia sempat menyinggung persoalan kami dan dari sikapnya terlihat jelas bahwa ia sama sekali tidak menaruh curiga kepadaku. Namun tadi pagi dia seolah sangat yakin bahwa aku adalah ancaman nyata yang akan membunuhnya terlebih dahulu. Untuk itulah dia menyerang ku dengan anestesi layaknya serangan kejutan untuk selanjutnya ia akan menghabisi ku.

Aku sangat yakin bisa mengambil kesimpulan lain dari kejadian ini. Sepertinya sudah tidak akan ada lagi supervisi yang kelima sebagai penggantinya.

Di situasi ini aku berhak menentukan keputusan sendiri. Aku akan menghentikan pembersihan di apotek ini. Tanpa sidik jari dan tanpa bukti-bukti aku akan menutup toko ini.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!