Ada sedikit sisa kisah lucu tentang pengalamanku kemarin saat menghabisi bos mafia. Perantara datang kepadaku. Sebelum ia menyampaikan inti pertemuannya denganku ia terlebih dahulu bercerita.
Anak bos mafia yang telah aku bunuh ingin menyewa jasaku untuk mencari dan membunuh pelaku yang telah menghabisi nyawa ayahnya. Mana mungkin aku bisa melakukan itu.
Perantara tidak asal-asalan menerima tawaran yang akan disodorkan kepadaku. Sering kali perantara menolak dan mengelak, menyatakan bahwa ia tidak tahu jika aku memanglah benar-benar ada atau pun masih hidup.
Tentang kematian bos mafia di cerita sebelumnya. Mereka tidak akan menemukan aku sebagai pembunuhnya. Aku tidak hanya mengubah penampilanku saja saat menyamar. Aku juga mengubah gestur tubuh dan suaraku saat berbicara.
*
Perantara membawa sebuah penawaran yang sangat menarik. Aku sendiri sangat excited untuk melakukannya. Ini akan menjadi pengalaman berharga sekaligus tantangan baru untukku.
Situasinya adalah aku harus mengeksekusi beberapa orang dalam satu waktu secara bersamaan. Tidak hanya satu atau dua orang. Tapi delapan orang yang kini berada di lokasi yang sama. Di dalam penjara.
Aku menerimanya. Aku akan melakukannya. Harus aku lakukan dengan rencana benar-benar yang matang.
*
Aku seorang sipir yang baru dipindah tugaskan ke lapas penjara dimana terdapat delapan orang yang akan menjadi tergetku. Butuh waktu yang tidak sebentar dan dana yang tidak sedikit untuk mengurus dokumen-dokumen palsu supaya aku secara meyakinkan mendapatkan identitas sebagai seorang petugas sipir penjara.
Cukup dengan waktu dua kali aku masuk sif pagi untuk mengamati perilaku 8 orang yang menjadi targetku. Aku tidak boleh salah sasaran. Itu akan terdengar sangat buruk dan menurunkan kredibilitas ku yang telah muncul sebagai seorang eksekutor yang handal.
Tidak mungkin untuk membunuh mereka satu per satu. Itu akan memakan waktu yang bisa membongkar identitasku. Bukan seperti itu caranya.
Aku juga tidak mungkin untuk langsung berhadapan dengan mereka. Bukannya aku takut akan kalah. Tapi yang jelas akan menimbulkan keributan dan mengundang perhatian petugas penjara dan narapidana yang lain. Aku juga tidak boleh lupa menyebutkan bahwa delapan orang itu semuanya adalah anggota gangster.
*
Saat yang tepat itu akhirnya datang setelah aku melakukan beberapa penyesuaian. Tindakan-tindakan yang aku lakukan sendiri tanpa diketahui oleh sipir yang lain.
Sebelumnya aku telah memastikan 8 tahanan itu menjadi satu ruangan di dalam satu sel penjara.
Ada 15 orang di dalam sel itu. Aku mengeluarkan 7 orang lainnya untuk aku pindahkan ke sel penjara yang lain.
Aku hanya mengucapkan apa yang aku perlukan. Selebihnya aku hanya diam dengan memasang tampang sangar sambil membawa senjata laras panjang yang menakutkan. Aku tidak menjawab pertanyaan para tahanan yang menanyakan alasan kenapa mereka harus pindah ruangan.
Begitu juga dengan sipir penjara lainnya yang sama sekali tidak menaruh curiga dengan apa yang aku lakukan. Pada saat jaga malam mereka lebih sibuk untuk mencari permainan mereka sendiri-sendiri supaya bisa membunuh waktu dan lekas pulang.
Lewat tengah malam tiba. Waktu yang aku nantikan. Di luar sana langit begitu gelap. Suara hujan deras terus menderu tidak akan berhenti sampai pagi datang. Sesekali terdengar gemuruh suara guntur dan petir dahsyat yang menggelegar.
Aku mendatangi sel penjara yang kini hanya berisikan 8 orang tersebut. Delapan orang yang menjadi terget eksekusi ku.
Tentu saja aku tidak akan masuk ke dalam sel penjara dan membunuh mereka dari jarak dekat. Itu bodoh namanya. Aku akan mengeksekusi mereka dengan satu kali tembakan di tiap-tiap kepala mereka.
Bukan senjata laras panjang yang terdaftar untuk lapas penjara yang akan aku gunakan untuk melakukannya. Aku membawa senjata ku sendiri.
Dua buah glock 17 yang sudah aku pasang silencer atau peredam. Ini juga akan menguji kembali skill menembak ku. Sebenarnya aku jarang membunuh dengan menggunakan senjata api. Kecuali saat pertarungan terbuka.
Aku sudah berada di depan sel mereka. 8 anggota gangster itu sedang tertidur pulas berjajar di tengah cuaca dingin malam musim penghujan.
Aku memasang kuda-kuda. Tangan kanan dan tangan kiriku sudah memegang senjata. Aku sudah memastikan pelurunya penuh dan pengamannya telah terbuka.
Kini saatnya aku beraksi.
“1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8”, aku menghitungnya.
Dari ujung kanan lalu ujung kiri. Pistol di tangan kanan menembak dari ujung kanan. Pistol di tangan kiri menembak dari ujung kiri. Hingga berakhir bertemu di tengah-tengah. Tidak ada yang meleset. Aku berhasil mengenai kepala mereka.
Peluru kaliber 9 mm menembus tempurung kepala lalu bersarang di dalamnya. Itu sudah cukup fatal. Mereka bisa dipastikan sudah tidak lagi bernyawa.
*
Bagaimana aku melarikan diri dari sana?
Aku tidak melakukannya. Aku pulang saat pergantian sif pagi datang. 8 orang itu akan diketahui sudah dalam keadaan mati ketika petugas penjara sif pagi memeriksa mereka.
Tugasku selesai. Berakhir dengan indah. Langkah berikutnya aku tinggal menghilang menggunakan identitasku yang lain.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Comments