006

Jangan sampai jatuh hati. Kami tidak membawa cinta ke dalam pekerjaan kami.

Terkadang itulah yang menjadi pertentangan bagi pekerja seperti kami. Dunia kami membuat kami menjadi manusia yang dingin. Sebaliknya perasaan itu menghangatkan.

Mungkin itulah salah satu alasan yang menjadi kriteria mengapa kami dipilih. Karena kami benar-benar seorang diri.

Aku terpaksa melakukan pengabaian kepada mereka yang tertarik menjadi dekat denganku. Orang-orang yang sering datang ke toko untuk membeli obat. Tempat-tempat yang sering aku lalui dalam perjalananku berangkat ke tempat kerja.

Bagaimana sikapku sekarang ini aku sama sekali tidak menjadikan beban dengan melakukannya tapi malah yang terjadi aku justru menikmatinya. Untuk menjadi penyendiri.

Apa yang menjadikan kami seperti ini? Apakah karena semata semua kejadian-kejadian yang menimpa kami di masa yang telah berlalu.

Tapi aku rasa sama halnya dengan semua orang yang hidup, apa dan siapa kami sekarang ini adalah karena sebuah pilihan dan kami sendirilah yang memilihnya.

Perempuan yang masih muda itu setiap satu minggu sekali datang untuk menebus resep yang dituliskan untuk ayahnya. Sebelumnya aku belum pernah sama sekali menjumpainya. Aku hanya sempat beberapa kali melihatnya dari rekaman CCTV. Biasanya ia akan datang di waktu sore di hari jumat sepulangnya ia bekerja. Namun pada hari itu di kamis malam ia datang ke toko di waktu aku sedang berjaga. Itu adalah kali pertama aku dan dia bertemu secara langsung.

“Sudah mau tutup?”, tanya suara kecilnya.

“Ya. Kebetulan aku harus pergi. Ada yang bisa aku bantu?”, kataku.

“Aku mau menebus ini”, perempuan itu memberikan resepnya.

“Tunggu sebentar”, kataku.

Dia datang di larut malam mengejutkanku. Aku baru saja selesai menutup setengah pintu lipat besi ruko. Aku harus tutup karena ada kiriman yang harus aku bersihkan.

“Maaf jika aku merepotkan mu. Aku biasanya datang esok hari, tapi besok aku ada acara mendadak jadi aku harus menebusnya malam ini”, kata perempuan itu setelah menerima obat yang aku berikan.

"Tidak perlu minta maaf ini sudah tugasku. Kau bisa datang kapan saja, tempat kami buka 24 jam”, kataku mengiringi perempuan itu pergi.

Setelah perempuan itu pergi aku menutup apotek. Kemudian aku memakai APD ku untuk bekerja. Malam ini aku kembali membuka bak mandi - bak mandi yang sudah lama terbalut plastik untuk aku gunakan kembali. Ada lima mayat yang harus aku bersihkan.

Tanpa menunggu supervisi datang aku pulang terlebih dahulu setelah kerja lembur semalam hingga menjelang pagi. Badanku terasa lelah ingin rasanya segera berada di tempat tidur. Tapi sebelum itu aku harus sarapan dalam porsi yang banyak terlebih dahulu.

Ketika dalam perjalanan pulang aku terlebih dahulu berhenti di tempat jualan nasi yang baru pertama kalinya aku datangi. Tepat setelah antrian ku aku bertemu kembali dengan perempuan yang tadi malam. Ia berada di urutan setelahku.

“Sudah pulang”, ia menyapa.

“Ya”, kataku.

Aku segera pergi setelah mendapatkan pesananku tanpa menyambung percakapan dengan perempuan itu.

Aku mengabaikan perasaanku. Dengan menggunakan logika aku akan menghapusnya.

Perempuan itu adalah sebuah stimulus yang datang. Aku mengabaikan rangsangan itu dengan bersikap pasif berlaku sewajar mungkin sesuai kebutuhan berinteraksi. Jika aku menyambutnya dan memberikan balasan maka akan terjadi sebuah benih-benih ikatan. Aku menghindari itu semua dan memilih untuk tidak berkenalan dengannya. Aku menghapus perempuan itu. Aku meniadakan ingatan-ingatan tentangnya.

Ini semua perlu dilakukan untuk menjadi yang terbaik untuk diriku sendiri di bidang pekerjaan yang aku geluti.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!