"Jadi bagaimana, apa kamu bersedia memberikan salah satu putrimu padaku sebagai jaminannya?" tanya Bara pada Herman—sahabatnya yang dulu pernah menolong dirinya.
Setelah pertengkarannya dengan Krystal semalam, Bara memutuskan untuk bertemu dengan Herman.
Apalagi Herman juga belum lama ini menghubunginya, berniat meminta bantuan pada Bara karena perusahaannya yang sedang goyah.
Herman membutuhkan dana yang tidak sedikit. Sedangkan Herman sendiri tidak punya biaya sebesar itu.
"Aku sudah membicarakan ini dengan putriku beberapa hari yang lalu," ucap Herman kemudian menghela nafas kasar.
Semoga saja keputusan yang Herman ambil adalah keputusan yang terbaik. Herman berharap, ia tidak menyakiti hati Keyla.
Herman yakin, Keyla akan sangat bahagia menikah dengan salah satu putra Bara.
"Apa putrimu menyetujuinya?" Bara kembali bertanya karena penasaran. Ia sudah tidak sabar menunggu jawaban Herman.
Kalau Herman menjawab ya, itu artinya Bara bisa membuat senyum di wajah Krystal kembali. Krystal terus mengurung diri di kamarnya. Bahkan meminta Bara untuk tidur diluar, sebelum ia berhasil membawa calon untuk Lio.
Sedangkan Herman, pria paruh baya itu terdiam cukup lama. Ia nampak berpikir sejenak, bingung harus memberikan jawaban apa pada Bara.
Sudah jelas kalau Keyla menolak perjodohan ini.
"Kalau putrimu menolaknya, nggak masalah. Aku akan mencari calon lain untuk putraku," ucap Bara melirik sekilas Herman. Ia sengaja menarik ulur, supaya Herman bimbang. "Lalu, kamu hanya tinggal mempersiapkan diri."
Herman menautkan alisnya. "Mempersiapkan diri untuk apa?" tanyanya.
Bara bangkit dari kursi kerjanya, kemudian berjalan mendekati Herman. Menepuk pelan pundak sahabatnya itu. "Perusahaan mu akan gulung tikar dalam hitungan jam," bisik nya.
Herman menelan saliva nya dengan susah payah. Tidak bisa membayangkan jika perusahaannya benar-benar bangkrut.
Mau dikasih makan apa Jelita dan Tasya. Belum lagi biaya kuliah putra tirinya yang sedang bersekolah di luar negeri. Gaya hidup Jelita yang suka berfoya-foya juga membuatnya cukup pusing.
"Apa keputusanmu?" Bara tersenyum. Sejujurnya, ia tidak tega mengatakan ini pada Herman.
Tapi mau bagaimana lagi. Kalau bukan karena Krystal yang terus mendesaknya, Bara lebih memilih Lio menjomblo seumur hidup dari pada menyusahkan nya begini.
Belum menikah saja sudah membuat kepalanya sakit, apalagi kalau sudah menikah. Bisa-bisa Krystal menangis sepanjang malam karena harus berpisah dengan Lio.
Waktu Flora menikah dan dibawa ke luar negeri saja, satu bulan Krystal tidak berhenti menangis. Dan lagi-lagi, Bara lah yang menjadi sasaran empuk wanita itu.
"Beri aku jeda waktu sebentar," pinta Herman.
"Waktumu tidak banyak. Karena lusa aku harus melakukan perjalanan bisnis ke luar kota. Sebelum itu, aku ingin mereka segera bertemu. Lebih cepat kamu memutuskannya, akan lebih baik."
Herman mengusap dahinya, lalu menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskan nya perlahan.
"Baiklah. Kita segera pertemukan mereka saja," jawab Herman tanpa ragu. Kalau bukan Bara, siapa lagi yang akan mau membantunya.
"Yakin? Tidak akan menyesal, kan?" tanya Bara seraya menyodorkan segelas air ke arah Herman, tahu kalau sahabatnya sedang gugup.
"Aku tidak akan pernah menyesal," sahut Herman.
Bara tertawa terbahak lalu menepuk kuat punggung Herman. "Aku nggak nyangka, kamu tega menjual putrimu sendiri padaku hanya demi uang. Ayah macam apa kamu ini," sindir Bara. Menyayangkan keputusan Herman.
Meski sebenarnya, Bara sangat bersyukur karena tidak perlu lagi mencari calon menantu yang tidak jelas asal usulnya.
Bara tahu, seperti apa keluarga Herman, sederhana dan tidak macam-macam. Itulah alasan Bara memilihnya.
"Sudahlah, kamu tidak usah meledekku dan terima kasih untuk bantuannya. Aku butuh uangnya sore ini." Herman mendengus kesal.
Bisa-bisanya di saat seperti ini, Bara malah mengejeknya. Padahal, Bara sendiri yang menawarkan diri untuk membantunya. Tapi dengan syarat di luar nalar.
"Aku tidak mengejek mu, bodoh. Hanya memberikan solusi. Kalau begitu, besok malam pukul enam atur pertemuan mereka di tempat biasa."
Herman mengangguk pasrah. Ia menerima sebuah cek dari Bara dan menyimpannya ke dalam saku kemeja. "Atur saja," jawabnya singkat.
Setelah berpamitan, Herman melangkah keluar meninggalkan ruangan Bara.
"Kamu masih sama seperti dulu, Herman..."
Bara menyambar ponselnya yang ada di atas meja, berniat menghubungi Krystal. Kalau dia sudah mendapatkan calon yang pas untuk Lio.
*****
Sorot mata tajam Lio tidak berhenti memperhatikan gadis berseragam SMA yang sedang berlari mengelilingi lapangan.
Gerakan kaki gadis itu semakin lama semakin melambat. Entah apa yang terjadi, yang jelas raut khawatir mulai terlihat dari wajah Lio.
Hingga tak lama, bel pertama pertanda selesainya mata pelajaran Lio berbunyi.
Jenny menghampiri Lio. "Pak, ini tugas anak-anak," ucapnya sembari memberikan satu tumpuk buku pada guru killer itu.
Lio menjawab dengan anggukan kepala. Tatapannya masih tertuju ke arah Keyla. "Apa tadi pagi teman kamu itu tidak sarapan?" tanyanya dengan lirih, membuat Jenny harus mendekatkan telinganya pada Lio.
"Hah? Bapak nanya apa barusan?" Jenny balik bertanya.
"Lupakan!" ketus Lio menyambar buku dari tangan Jenny dan berlalu dari sana.
Namun, tiba-tiba langkah Lio terhenti. Tumpukan buku yang ada di tangannya jatuh begitu saja ke lantai saat mendengar teriakan Jenny.
"P-pak, Keyla pingsan!"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 88 Episodes
Comments
A Z I Z A H
nunggu karmanya bapak model gini
2024-07-14
1
Mulyanthie Agustin Rachmawatie
seorg ayah yg sgt tdk adil kpd putri nya sndri...! ! !
2024-06-15
2
Elizabeth Zulfa
istri dan anak tiri foya2 disanggupin aja tpi anak sendiri malah gak diperhatiin dan trsisihkn... sungguh tdak adil
2024-05-15
1