"Mampus aku! Dia kesini lagi," gumam Keyla.
Keyla menelan ludahnya dengan susah payah. Keringat sebesar biji jagung menetes begitu saja membasahi kemejanya.
"Keyla Putri, kemari kamu!" pinta Lio dengan nada penuh penekanan dan tak mau dibantah. "Jangan menguji kesabaran saya, cepat!" ulang Lio yang geram melihat Keyla sama sekali tidak bergerak dari posisinya.
"Key, dipanggil pak Lio. Buruan kesana, sebelum jurus andalan dia keluar," bisik Jenny, heran tidak biasanya Keyla dia tak berkutik seperti ini.
Lio melangkah menghampiri Keyla. Sorot mata tajam, setajam elang milik Lio terus tertuju ke arah Keyla. Dimana saat ini, wajah Keyla terlihat pucat dengan tubuh gemetar.
"Ayolah, Key. Kamu nggak mungkin takut 'kan sama guru killer itu?" ucap Keyla namun hanya dalam hati.
Perutnya kembali sakit. Keyla memejamkan matanya sesaat menahan nyeri.
"Maaf, Pak. Saya izin ke toilet. Mules." Keyla berpura-pura memegang perutnya, menunjukkan wajah memelas.
Keyla melewati Lio begitu saja. Seakan Lio sudah mengiyakan dan memberikan Keyla izin.
"Yakin mau ke toilet?" belum sempat Keyla kabur, Lio sudah menarik lebih dulu kerah kemeja Keyla yang sontak membuat langkah gadis itu terhenti.
"Y-ya, yakin, Pak! Kalau Bapak nggak percaya, Bapak bisa ikut menemani saya. Masuk juga boleh," sahut Keyla.
Teman satu kelas Keyla tertawa mendengar jawabannya yang tidak ada takut-takutnya sama sekali dengan Lio.
Di antara mereka semua, hanya Keyla yang berani melawan guru killer itu.
"Diam kalian! Mau di hukum juga?!" teriak Lio. Mereka semua langsung diam dan kembali fokus mengerjakan tugas yang Lio berikan.
"Lari lima belas kali keliling lapangan!" perintah Lio.
"Saya, Pak?" Keyla memutar tubuhnya menghadap Lio. "Wah, Bapak kalau bercanda jangan keterlaluan dong. Ini masih pagi Pak."
"Memangnya wajah saya ini kelihatan sedang bercanda di mata kamu?" Lio melipat kedua tangan di depan dada.
Keyla menggeleng.
Dari dulu sampai sekarang, guru killer itu memang tidak pernah bercanda dengan ucapannya.
"Kenapa masih di sini. Cepat keluar dari kelas saya, Keyla Putri!" Keyla bisa melihat kalau saat ini Lio sedang tersenyum mengejeknya.
"Bisa dikurangi lima kali aja nggak, Pak? Atau dua kali deh," tawar Keyla.
Berlari satu putaran saja mungkin Keyla tidak akan kuat. Lihat saja ukuran lapangannya dua kali lebih besar dari lapangan biasa.
Ditambah lagi, Keyla tidak sempat sarapan karena kesal dengan ibu dan kakak tirinya.
"Boleh... tambah lima kali!" tegas Lio.
Keyla mengangkat satu tangannya hendak protes. Namun, Lio sudah lebih dulu melayangkan tatapan tajamnya.
"Saya belum sarapan, Pak. Nanti kalau saya pingsan gimana? Memangnya Bapak mau tanggung jawab?" Keyla bicara dengan lirih, berharap Lio meringankan atau mungkin membatalkan niatnya menghukum Keyla.
Bukankah tidak adil? Keyla hanya berteriak karena ulah Jenny yang menjahilinya. Lalu kenapa dia saja yang dihukum?
Apa karena semalam Keyla menendang naga perkasa milik Lio? Jadi, Lio ingin membalas dendam padanya?
"Kalau kamu pingsan, ya, itu derita kamu!"
"Bapak pendendam banget sih. Semalam saya 'kan nggak sengaja." Keyla menatap Lio sendu. Tapi sepertinya, Lio tidak akan memaafkan Keyla semudah itu.
"Nggak sengaja gadis ini bilang? Apa dia nggak tahu kalau naga perkasa saya jadi lemas terus sekarang karena ulahnya semalam. Nyerinya saja masih terasa," umpat Lio dalam hati.
Tak mau berlama-lama mendengar ocehan murid bar-bar nya itu, Lio bergegas menarik pergelangan tangan Keyla, keluar dari ruang kelas.
"Lepas, Pak. Sakit!"
"Pokoknya saya nggak mau tahu. Kamu lari sekarang atau—" Lio mendekati Keyla dan berbisik tepat di samping telinganya, "Saya adukan kejadian semalam pada orang tua kamu," ancamnya.
Keyla membeku di tempat.
Wajahnya semakin pucat. Membayangkan apa yang akan ayahnya lakukan jika tahu, kalau putri kesayangannya nongkrong dan minum alko hol.
"Iya, Pak. Iya saya lari sekarang," jawab Keyla malas.
"Terus kenapa malah mau masuk kelas lagi?"
"Ya, saya ngumpulin tenaga dulu Pak. Sebentar, biar kuat larinya," sahut Keyla dengan santainya kembali masuk ke kelas dan duduk di bangkunya.
"Sekarang, Keyla!" teriak Lio sambil memijat pelipisnya. Punya satu murid seperti ini saja sudah membuatnya pusing, apalagi banyak.
Mereka yang ada di sana hanya bisa menggelengkan kepala melihat kelakuan Keyla.
Keyla langsung beranjak dan berlari keluar lapangan sebelum Lio kembali meneriakinya.
"Urusan kita belum selesai." Keyla menoleh sekilas lalu pergi begitu saja.
"Saya tunggu dengan senang hati," gumam Lio senyum-senyum sendiri memandang kepergian Keyla. "Gadis aneh..."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 88 Episodes
Comments
Aidah Djafar
bilang naksir pak guru sama murid bar barmu 😁😂
2024-03-06
3
jaran goyang
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣𝘬𝘮 𝘫𝘨 𝘢𝘯𝘦𝘩
2024-02-28
0
Yani Cuhayanih
Aku tebak pas lari keyla sakit perut nahan lapar baru 2 keliling..dah joprak tepar pingsan..ilang kesadaran...alias te emut kata orang sunda...matakan g mun bade sakola teh sarapan heula..meh te salatri(kelaparan)..ngartos othor ..
2024-02-26
2