Bab. 005

Keyla masuk ke dalam rumahnya. Menutup pintu dengan perlahan agar tidak bersuara kemudian menguncinya.

Lampu ruang tamu sudah gelap, tentu saja seluruh keluarganya pasti sudah terlelap.

Keyla tersenyum kecut sambil melangkah menuju kamar. Langkah gadis itu terhenti saat mendengar seseorang menyapa dirinya.

"Bagus, jam segini baru pulang. Mau jadi apa kamu?!" seru Jelita berdiri di belakang Keyla dengan kedua tangan yang dilipat di dada.

Entah sejak kapan lampu menyala, yang jelas kali ini Keyla tidak bisa menghindar lagi dari ibu tirinya yang bawel itu.

Keyla memejamkan matanya menahan kesal. Tanpa menghiraukan Jelita, ia memilih meninggalkannya.

Dengan langkah cepat, Jelita menghampiri Keyla. Menghalangi langkah kaki putri tirinya. "Mau kemana? Ibu belum selesai bicara Key," lanjutnya.

Masih tetap sama, Keyla enggan menjawab pertanyaan yang Jelita lontarkan. Karena baginya itu tidaklah penting.

Keyla memutar tubuhnya. Memilih pergi ke dapur karena rasa haus yang tiba-tiba menghampirinya.

Keyla membuka kulkas, menuangkan air putih ke dalam gelas dan meneguknya. "Ibu belum tidur?" tanya Keyla sambil mengusap sudut bibirnya.

"Belum. Kalau bukan karena kamu, Ibu sudah tidur dari tadi," jawab Jelita mengeraskan rahangnya.

Belum lama, Herman marah-marah pada Jelita karena Keyla belum juga pulang. Padahal, Herman sudah menyuruh supir untuk menjemputnya.

Tapi entah kemana perginya supir tersebut karena sampai sekarang belum kembali.

"Bisa nggak sehari saja kamu menuruti ucapan Ibu? Jadilah anak yang berbakti. Bukan hanya menyusahkan seperti ini," ucap Jelita lagi.

"Key selalu jadi anak berbakti. Cuma nggak pernah terlihat di mata kalian. Mirip debu," sahut Keyla dengan begitu entengnya.

Keyla meletakkan gelas yang ada di tangannya ke atas meja. Menatap Jelita yang saat ini juga menatapnya.

"Dimana ayah?" tanyanya.

"Di kamar Tasya. Dia mengeluh sakit perut. Jadi ayahmu—" belum selesai Jelita melanjutkan perkataannya, Keyla meninggalkannya begitu saja.

Jika kalian bertanya bagaimana perasaan Keyla saat ini. Rasanya sangat menyakitkan. Tidak hanya sekali Herman memperlakukan Keyla tidak adil.

Seakan-akan Tasya lah putri kandung Herman, bukan Keyla.

"Key mau tidur, ngantuk," ketus Keyla.

"Jangan bersikap seperti anak kecil, Key! Seharusnya kamu mengerti kenapa suamiku lebih mengutamakan Tasya dibandingkan kamu. Semua karena ulah kamu sendiri yang nggak bisa diatur."

Jelita meluapkan kekesalannya pada putri tirinya itu.

Setiap hari Keyla selalu pulang larut malam bahkan terkadang tidak pulang. Keyla membolos sekolah, nilainya selama beberapa bulan ini jelek tidak seperti biasanya.

"Seharunya kamu mencontoh Tasya. Dia selalu bersikap sopan sama orang tua dan menggunakan kepintarannya untuk hal yang baik. Nggak seperti kamu, mirip gadis brandal yang nggak tahu aturan. Bikin malu saja," sindir Jelita.

Lagi-lagi wanita itu membandingkan Keyla dengan Tasya.

Tak mau ambil pusing, Keyla memilih pergi meninggalkan Jelita. Lebih baik Keyla mengalah, sebelum telinganya semakin panas. Bisa-bisa kepalanya ikut meledak mendengar ocehan Jelita yang mirip bon cabe level tiga puluh.

"Dasar gadis pembangkang. Nggak bisa diatur dan selalu seenaknya sendiri. Bagaimana bisa suamiku mempunyai putri menyebalkan seperti dia?" gerutu Jelita, melihat punggung Keyla yang mulai menjauh dari pandangannya.

"Lebih baik aku tidur dan meregangkan otot-otot wajahku. Terlalu sering melihat Keyla membuatku emosi. Bisa-bisa kulit wajahku yang mulus ini jadi keriput." Jelita mematikan lampu ruang tamu dan kembali menuju ke kamarnya.

******

Sedangkan Keyla, gadis itu langsung melempar tas punggungnya ke sembarang tempat. Kemudian menjatuhkan tubuhnya ke atas tempat tidur.

Keyla menatap langit-langit kamarnya dengan wajah sendu.

Apa yang terjadi hari ini cukup menguras tenaganya. Apalagi saat Keyla kepergok gurunya sendiri saat berada di cafe tadi.

"Dasar guru killer nyebelin. Apa sih yang dia lakukan di sana tadi? Apa jangan-jangan dia mengikuti aku?" Keyla menggigit bibir bagian dalamnya. "Nggak! Toh hari ini emang nggak ada mata pelajaran dia kan?"

Beginilah Keyla, ia terlihat tak menghiraukan pertengkarannya dengan Jelita ataupun sikap Herman yang lebih memilih Tasya daripada dirinya.

Baginya, ia sudah terbiasa diperlakukan tidak adil oleh ayah nya sendiri. Sampai-sampai Keyla tak lagi menginginkan kasih sayang dan kehangatan seorang ayah.

Yang Keyla khawatirkan sekarang adalah Lio.

"Tunggu." teringat akan sesuatu, Keyla bergegas bangkit dari atas tempat tidur, berjalan menuju meja belajarnya. "Habis aku! Besok mata pelajaran pak Lio lagi."

Keyla mondar mandir, gelisah memikirkan apa yang akan terjadi besok jika ia bertemu lagi dengan Lio.

Terpopuler

Comments

Sri Suhartini

Sri Suhartini

heemmm takut jga dia

2024-06-30

0

Mulyanthie Agustin Rachmawatie

Mulyanthie Agustin Rachmawatie

hmm...knpa polah nya spti gadis liar , apal dua org tua nya tal peduli pd nya
....

2024-06-15

0

Aidah Djafar

Aidah Djafar

gmn c pak Herman ayh kandung ko' ngk perhatian sama putri kandungny sendiri hadeeh 🤦

2024-03-06

0

lihat semua
Episodes

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!