Bab. 12

"Key, sini duduk di samping Ayah." Herman menepuk sofa kosong yang ada di sampingnya. Meminta Keyla agar duduk di sana.

Herman terlihat sangat bahagia. Senyuman sejak tadi tak luntur dari bibir pria paruh baya itu. Sepertinya, Herman baru saja mendapatkan sebuah undian berhadiah besar.

Keyla mengangguk.

Ia mendekat pada sang ayah dan duduk di sampingnya.

"Ada apa, Yah? Maaf, Key pulang terlambat lagi. Soalnya tadi macet jadi—"

"Gapapa. Ayah ngerti," ucap Herman memotong kalimat Keyla.

Keyla mengernyit bingung. Tak biasanya Herman bersikap manis dan lembut padanya begini. Kecuali beberapa tahun lalu, sebelum Herman menikah dengan Jelita.

Sikap Herman berubah drastis semenjak wanita itu masuk ke dalam kehidupan mereka. Keharmonisan ayah dan anak itu sirna entah kemana.

"Kamu masih ingat ucapan Ayah beberapa hari lalu, kan?" Herman bertanya dengan wajah serius. Kedua matanya berbinar, Keyla bisa melihat itu.

Jujur saya Keyla merasa sangat bahagia mendengar pertanyaan sang ayah. Herman memperlihatkan tatapan hangat dan bersahabat pada Keyla.

Keyla pun menjawab dengan anggukkan kepala. "Iya, Yah. Key masih ingat." seketika kebahagiaan yang menghampiri Keyla beberapa detik lalu sirna.

Mengingat pembicaraan ayahnya mengenai perjodohannya dengan anak sahabat ayahnya itu.

"Memangnya kenapa, Yah?" tanya Keyla. Alisnya bertaut, penasaran.

Sambil menunggu apa yang akan Herman katakan, Keyla meraih gelas berisi teh hangat yang baru saja bibi buat untuknya lalu meneguknya.

"Besok Ayah akan mempertemukan kalian berdua. Dan satu minggu lagi kemungkinan kalian akan segera menikah," tutur Herman.

Keyla menyemburkan teh tersebut tepat ke wajah Herman. "S-satu minggu lagi?" cetus Keyla sembari mengusap bibirnya.

Tersadar jika kini wajah Herman basah karena ulahnya. Keyla cepat-cepat mengambil tisu kering, lalu membersihkannya.

"Keyla Putri! Apa yang kamu lakukan!" sahut Tasya. Baru saja pulang, ia dikejutkan dengan kelakuan Keyla. "Astaga, Ayah. Muka sama bajunya jadi basah gini."

Tasnya merebut tisu dari tangan Keyla dan duduk di samping Herman. Tak mempedulikan Keyla dengan tatapan penuh kebenciannya pada kakak tirinya itu.

"Udah, Ayah gapapa." Herman menahan pergelangan tangan Tasya, menjauhkan darinya.

"Gapapa gimana. Ini kotor, Yah. Dan semua gara-gara dia." Tasya menunjuk Keyla dengan dagunya.

Keyla terdiam.

Mau seperti apapun dia protes, tetap saja Tasya lah yang akan memenangkan perdebatan ini.

"Dasar sok cari perhatian ayah," gumam Keyla dalam hati.

Entah mengapa, melihat kedekatan Herman dan Tasya membuat perasaan Keyla tak tenang. Perhatian yang Tasya berikan pada Herman seakan-akan bukan seperti perhatian seorang anak pada ayahnya.

Ah! Terserahlah.

Keyla tidak mau pusing memikirkan itu. Yang paling penting baginya adalah bagaimana caranya supaya Keyla bisa kabur dari pernikahan ini.

Enak saja. Dia masih muda, masa iya harus menikah dengan om-om tua, botak, gendut dan kumisan.

Setidaknya itulah yang ada di otak Keyla sekarang.

Jika ayahnya berniat menjodohkan dirinya dengan alasan perusahaan bangkrut, bukankah Keyla akan menikah dengan om-om?

"Ayah mau kemana? Tasya bantu ke kamar ya bersihin baju Ayah." Tasya memapah Herman, memaksa pria itu agar masuk ke kamarnya.

"Tapi Ayah belum selesai bicara dengan adik kamu," tolak Herman.

Tasya tetap bersikukuh. Sedangkan Herman hanya bisa pasrah. Berhubung Jelita sedang pergi ke ibunya dan menginap di sana, Tasya lah yang mengambil alih mengurus Herman.

"Non, mau makan apa. Biar bibi siapkan," tanya Inem, pembantu rumah tangga Keyla.

Keyla tak bergeming.

Tatapannya masih terus tertuju pada kedua punggung pria dan wanita yang menghilang di balik pintu kamar.

"Non..." ulang Inem menarik pelan lengan Keyla.

"Eh... iya. Key mau makan seperti biasa aja." Keyla menyimpan tas punggungnya, menarik kursi lalu duduk. "Apa mereka suka berduaan di kamar, Bi?" tanya Keyla membuat langkah Inem terhenti.

Inem menggaruk tengkuk lehernya yang tak gatal. Kemudian berbalik. "N-nggak tahu, Non. Bibi biasanya jam segini belanja ke pasar sore buat masak besok pagi. Soalnya non Tasya suka request minta dimasakin yang aneh-aneh," jawabnya panjang lebar.

Kecurigaan Keyla semakin bertambah. Ia sendiri selama beberapa bulan ini selalu pulang larut malam. Hari ini saja Keyla pulang sore.

"Ya, udah. Bibi lanjut masak aja."

"Iya, Non." Inem berjalan ke dapur.

Selesai menikmati makan malam yang Inem siapkan. Keyla berdiri, menyambar tasnya. Berjalan mengendap mendekati kamar Herman.

Hening. Di dalam sana seperti tidak ada tanda-tanda kehidupan sama sekali. Apa Herman sudah tidur sore-sore begini?

"Stop mikir negatif, Key! Buang jauh-jauh rasa penasaran kamu. Sekarang, lebih baik kamu mandi terus tidur!"

Hingga getaran ponsel mengalihkan fokus Keyla. Ia cepat-cepat masuk ke kamar dan mengunci pintunya.

"Nomor baru? Punya siapa?" Keyla membuka pesan tersebut. Seketika raut wajahnya berubah terkejut dengan mulut menganga lebar. "I-ini nggak mungkin!"

Terpopuler

Comments

Qaisaa Nazarudin

Qaisaa Nazarudin

Cuuiihhh DASAR PENJILAT..🤮🤮🤮

2024-06-10

0

Aidah Djafar

Aidah Djafar

bisa jadi dugaan Key bener ,🤔y ampun mngkn Tasya menggoda ayh tirinya ☺️🤦😏

2024-03-06

1

merry jen

merry jen

gmn cerita yaa kkk tri jdi emk tiri Kayla pdhll Kayla jg pyn emk tirii ,,si jelita itu jdi nenek dr ank y tasyaa sdgkn Herman jdi PP baruu ,,dan itu adiky Kayla ,,ribet dechhh ,,

2024-03-01

0

lihat semua
Episodes

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!