Bab. 13

Sore menjelang. Keyla dan Jenny sudah bersiap untuk pulang. Mereka berdua sedang berada di dalam toilet perempuan.

Lebih tepatnya kedua sahabat itu berdiri depan cermin. Bukannya pulang, Keyla malah mengajak Jenny pergi kesana hanya untuk berdandan.

"Tingkah kamu lama-lama aneh, Key. Nggak biasanya kamu dandan gini." Jenny terus memperhatikan apa yang Keyla lakukan. Meminjam beda dan juga lipstik miliknya.

Padahal, setahu Jenny, Keyla paling anti dengan kedua benda itu.

Keyla tidak pernah berdandan. Ia lebih suka berpenampilan apa adanya. Tanpa make up atau pewarna bibir. Meski begitu, Keyla nampak cantik natural.

"Mau kemana sih?" tanya Jenny penasaran.

"Pulang," jawab Keyla singkat sembari memberikan bedan dan lipstik milik Jenny. "Nih, aku kembalikan. Terima kasih sahabat baik aku." Keyla menepuk pelan pipi Jenny.

Jenny mendengus kesal mendengar jawaban Keyla yang menurutnya masih belum mengobati rasa kepo nya. Maklum, jiwa emak-emak Jenny sangat tinggi.

"Mau pulang dandan segala. Mau mangkal kali," celetuk Jenny.

Keyla langsung melirik ke arah Jenny. Wajahnya yang sejak tadi sumringah berubah menjadi murung.

Keyla membuang nafas. Cukup baginya berpura-pura senang dan tidak ada masalah apapun saat ini. Ingin sekali Keyla menceritakannya pada Jenny.

Namun, Keyla belum siap. Mungkin, setelah pertemuannya dengan calon suaminya berjalan lancar, Keyla akan memberitahu sahabatnya.

"Key, kok malah bengong? Kebiasaan." Jenny melipat kedua tangan, kedua manik matanya terus mengawasi gerak gerik mencurigakan Keyla.

"Bisa nggak sehari aja nggak usah kepo? Kurang kerjaan tahu!" Keyla merapikan rambut dan pakaiannya.

Sesekali fokus Keyla tertuju pada ponsel yang ia letakkan di atas wastafel. Takut kalau-kalau supir suruhan ayahnya menelfon. Herman berpesan pada Keyla untuk tidak datang terlambat.

"Kamu itu sahabat aku, Key. Wajah dong kalah aku khawatir sama kamu." Jenny merangkul pundak Keyla.

Keyla menoleh, menatap Jenny. "Sebelum pulang, ayah menyuruhku untuk berdandan. Kalau nggak uang jajan aku bakalan di potong lima puluh persen. Dan kamu tahu itu artinya apa?"

Yang ditanya hanya menggeleng. Apa hubungannya uang jajan Keyla dengannya, pikir Jenny.

Keyla menarik kepala Jenny mendekat lalu membisikan sesuatu. "Kamu nggak bakalan dapat traktiran bakso lagi."

Mendengar itu, kedua bola mata Jenny melotot sempurna. Jenny lupa kalau Keyla sering mentraktirnya seminggu sekali.

"Eits, nggak bisa! Traktir aku itu udah mutlak seminggu sekali nggak boleh di ganggu gugat, titik!" protes Jenny tak terima. "Ya udah pulang sana!" Jenny mendorong pelan punggung Keyla, seakan sedang mengusirnya.

"Makan doang yang ada di otak kamu!" kesal Keyla. Sedangkan Jenny, hanya nyengir memperlihatkan deretan gigi putih rapinya.

Keyla sempat bertanya-tanya dalam hati, sebenarnya apa yang ada di pikiran Herman. Sampai-sampai, ayahnya itu meminta dirinya berdandan.

Apa Keyla tidak cantik? Sungguh, ingin sekali Keyla menenggelamkan wajahnya ke dasar laut sekarang. Apa kata dunia, seorang Keyla berdandan.

"Jangan-jangan, kamu mau dijual, Key. Atau mungkin dipaksa nikah sama om-om botak, gendut, pendek dan berkumis." lagi-lagi, Jenny mengejek Keyla. Membuat gadis yang memiliki tahi lalat kecil di bawah mata itu kesal.

"Aww! Sakit, Key!" pekik Jenny mengusap lengannya yang terasa panas karena pukulan Keyla.

"Mau masuk rumah sakit jalur mana, hmm?" tawar Keyla mengangkat tangannya kanan dan kirinya yang terkepal erat bergantian.

Jenny menggeleng cepat dan dengan cepat berlari kabur dari sana sebelum Keyla memberinya bogeman mentah.

Tak lama setelah Jenny pergi, Keyla keluar menuju tempat parkir karena supir pribadi Herman sudah menunggunya.

"Selamat sore, Non." Bambang membuka pintu mobil dan mempersilahkan Keyla untuk masuk.

"Tumben jemput saya, Pak. Biasanya juga nggak pernah," sindir Keyla dengan nada kesal.

Tentu saja, ucapan Keyla membuat Bambang tak tahu harus menjawab apa. Pasalnya, Herman selalu menyuruh Bambang untuk mengantar jemput Keyla.

Namun, Jelita—istri Herman— mengancamnya, meminta dirinya untuk tidak melaksanakan perintah Herman dan membiarkan Keyla naik angkutan umum.

"Kenapa diam, Pak? Apa Key salah bicara?" Keyla tersenyum kecut. Ia yakin kalau diamnya Bambang ada hubungannya dengan Jelita.

"Em... anu, Non, itu..." Bambang menggaruk tengkuk lehernya.

"Nggak usah dijawab. Anggap aja Key nggak pernah bertanya apapun sama Bapak," sahut Keyla.

Tatapannya tertuju ke luar jendela mobil, melihat gedung-gedung tinggi dan jalanan kota yang padat sore ini.

"Maafkan saya, Non." Bambang akhirnya membuka suara. Supir pribadi Herman yang sudah mengabdi pada keluarga Keyla merasa tidak enak hati.

"Gapapa, Pak. Saya nggak akan bilang apapun sama ayah." melihat Bambang yang merasa bersalah membuat Keyla tak tega.

"Makasih, Non." Bambang melajukan mobilnya menuju tempat yang sudah di pesan oleh Herman.

"Aneh..." gumam Keyla dalam hati.

Terpopuler

Comments

Mulyanthie Agustin Rachmawatie

Mulyanthie Agustin Rachmawatie

ibu tiri yg sgt menyebalkan spti itu...huuuft...

2024-06-18

2

Aidah Djafar

Aidah Djafar

jelita vs Tasya rebutan Herman nih nanti 🤦🤣🤣🤣

2024-03-06

1

jaran goyang

jaran goyang

𝘴𝘶𝘢𝘵𝘶 𝘴𝘢𝘢𝘵 𝘬𝘮 𝘱𝘴𝘵 𝘵𝘢𝘶 𝘯𝘯𝘵🥰💞💯

2024-03-02

0

lihat semua
Episodes

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!