Bab. 19

"Karena hari sudah semakin larut. Kami mau pamit. Terima kasih sudah menyambut keluargaku dengan baik. Maaf, hanya Lio saja yang ikut. Putra dan putriku yang lain tidak ada di sini," ucap Bara mengulurkan tangannya kepada Herman dan di sambut oleh calon besannya itu.

"Seharusnya aku yang berterima kasih padamu, Bar. Kalau bukan karena bantuan darimu, mungkin saja perusahaan ku saat ini sudah gulung tikar," ucap Herman dengan wajah sedih.

Herman juga sangat malu. Kenapa nasibnya seburuk ini. Herman dulu memiliki segalanya. Tapi sekarang, semuanya lenyap.

Bara mengerti apa yang sedang Herman rasakan. Dia menepuk pundak Herman dan memeluknya.

"Nggak usah terlalu dipikirkan. Yang paling penting untukku adalah putrimu. Kamu lihat betapa bahagianya wajah istriku saat putrimu setuju untuk menikah dengan Lio dan ingin memberinya sebelas cucu?" tanya Bara melirik sekilas Krystal yang sedang mengobrol dengan Keyla.

Krystal memang sudah memiliki cucu dari Flora. Namun, bukan itu alasan mereka satu-satunya ingin menikahkan Lio secepat mungkin.

Selain kabar yang beredar kalau Lio memiliki kelainan karena sampai sekarang belum memiliki kekasih, ada hal lain yang membuat mereka terpaksa menjodohkan Lio.

"Kamu harusnya bersyukur punya Keyla. Dia cantik dan penurut. Entah kalau gadis lain, mungkin saja Keyla sekarang sedang memikirkan cara untuk kabur dari pernikahan ini," ucap Bara lagi.

Herman terdiam mencerna ucapan Bara yang begitu menusuk relung hatinya. Herman sadar, selama ini dia memang kurang memberikan perhatian pada Keyla.

Apalagi semenjak Herman menikah dengan Jelita, semua waktunya dihabiskan hanya untuk bersama wanita itu dan Tasya—putri tirinya.

Bukan tanpa alasan, Herman lebih memperhatikan Jelita dan Tasya. Mereka lebih membutuhkan dukungan karena mantan suami Jelita meninggal beberapa hari sebelum mereka menikah.

Sedangkan Keyla, bukankah Keyla sudah cukup mendapatkan kasih sayang dari Herman sejak kecil? Dan sekarang, Keyla sudah dewasa. Dia bisa mengurus dirinya sendiri. Itulah yang Herman pikirkan.

Herman tidak menyangka jika perbuatannya selama ini membuat Keyla merasa terabaikan. Mungkinkah ini penyebab Keyla sering membolos dan selalu berbuat ulah di sekolah?

"Astaga, apa yang aku lakukan pada putri kandungku sendiri? Apa aku Ayah yang jahat?" batin Herman sambil terus menatap Keyla.

Setelah berpamitan Herman mengantar keluarga Alfredo sampai ke mobil.

Tidak dengan Keyla dan Jelita, mereka berdiri di depan pintu sambil melambaikan tangan. Kemudian mereka saling menatap satu dengan tatapan tajam permusuhan.

"Dasar munafik! Ibu pikir kamu nggak mau menikah sama si ganteng itu. Tapi ternyata Ibu salah. Kamu lebih gatel dari yang Ibu kira. Sok mau ngasih sebelas cucu lagi," cibir Jelita sambil melipat kedua tangan di bawah dada. Kedua manik matanya tertuju pada mobil berwarna hitam yang mulai menjauh dari pekarangan rumahnya.

"Seharunya kamu itu bersyukur dan berterima kasih pada Ibu. Karena kamu sebentar lagi akan menikah dengan pria mapan dan juga kaya. Nggak seperti ayahmu yang miskin itu!" seru Jelita bicara dengan kalimat yang begitu menusuk Keyla.

Ada rasa sesal di hati Jelita, kenapa bukan Tasya saja yang menikah dengan Lio? Kenapa malah putri tirinya yang nggak sopan itu?

Keyla memutar bola matanya malas. Enggan menanggapi Jelita yang langsung pergi begitu saja menghampiri Herman dan meninggalkannya seorang diri.

"Miskin teriak miskin!" Keyla berdecak kesal. "Karena ulah mak lampir, sekarang aku yang jadi korban."

Keyla terus mengumpat. Tak mau ambil pusing, ia memutuskan untuk masuk ke kamarnya dan tidur. Hari ini terasa cukup melelahkan untuknya.

Sesampainya di kamar, Keyla menghapus mak up yang ada di wajahnya dan melepaskan gaun sempit yang ia kenakan.

"Ternyata jadi wanita dewasa itu nggak enak." Keyla melempar asal gaunnya ke keranjang cucian kotor lalu masuk ke kamar mandi.

Langkahnya terhenti mendengar getaran ponselnya yang ada di atas meja. Keyla menyambarnya dan membaca isi pesan tersebut.

[Besok pagi saya akan jemput kamu pukul 06.30! Jangan terlambat dan jangan ada drama, mengerti?!]

Keyla melempar ponselnya ke atas tempat tidur tanpa membalasnya. Bagaimana bisa guru killer menyebalkan itu tahu nomornya?

Disisi lain, Lio sedang menunggu dengan gelisah. Fokusnya terus tertuju pada benda pipih yang ada di tangannya.

"Kenapa, Ar? Nggak dibalas? Diabaikan, atau diacuhkan? Kasihan sekali sepupuku yang tampan ini," ejek Sean menahan tawanya mati-matian.

Baru kali ini Sean melihat wajah menggemaskan Lio ketika sedang marah hanya karena seorang gadis kecil.

"Diam atau saya adukan kelakukan kamu selama ini pada om Tristan dan tante Violet!" ancam Lio yang sontak membuat Sean menutup rapat bibirnya.

"Dasar tukang ngadu mirip emak-emak!" umpat Sean dalam hati.

🤣🤣 jangan julid Sean...

Aku kasih bonus visual Sean. Hanya pemanis ya, silahkan bayangkan sendiri sesuai imaginasi kalian🤭

Terpopuler

Comments

Dyah Oktina

Dyah Oktina

ya gemana ngak lenyap.. kamu melihara kapak keruk d rumah mu..🤭. ngak sadar ya

2025-03-25

0

Babar Dbabarian

Babar Dbabarian

lebih gantaengan sean dari pada pak lio

2024-07-02

1

galaxi

galaxi

brati lio td beneran yibo dong thor...wahwah......😍

2024-06-29

0

lihat semua
Episodes

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!