Menteri Li mengajak si kembar berkeliling. Suasana Nanjing jauh lebih ramai dari wilayah lain di kekaisaran Jing. Si kembar sangat senang diajak berkeliling oleh sang kakek.
"Kita mau kemana kek?" tanya jin Hai sambil terus berjalan di samping sang kakek.
Satu tangannya juga digandeng agar tidak terpisah . Sehingga Menteri Li berjalan sambil menuntun si kembar di kanan kirinya.
"Bagaimana kalau kita ke paviliun seni?"ajak Menteri Li dengan semangat.
"Tempat apa itu kek?"
"Di sana kita bisa melihat berbagai pertunjukan seni," jawab Menteri Li.
"Jia ndak suka. Lebih enak jika kita cali makan saja. Pelut Jia udah lapal," jawab Jia Yi menghentikan Jin Hai yang ingin menjawabnya.
"Balu juga makan udah lapal lagi," sindir Jin Hai dengan sinis.
"Bialin ! Kan makannya tadi . Dali tadi kita jalan telus, makanya pelutnya lapal lagi ."
"Baiklah. Ayo kita ke restoran di depan sana. Ada kue enak-enak yang dijual," ucap Menteri Li menghentikan perdebatan keduanya .
"Ayo!" ajak Jia Yi dengan semangat.
Menteri Li merasakan kehangatan sebuah keluarga. Mungkin karena saat ketiga anaknya masih kecil, dia tidak mempunyai waktu untuk bersantai seperti ini.
Jia Yi yang merasa senang langsung melepaskan pegangan tangannya dan berlari ke restoran. Dia berlari tanpa memperdulikan kondisi jalan. Naasnya ada kuda yang melaju dengan kencang.
"Jia!" teriak menteri Li dengan panik.
"A.....!"
Jia Yi pun ketakutan. Tubuhnya terdiam di tengah jalan. Karena posisi restoran berada di seberang jalan . Sehingga mereka harus menyeberang .
Tiba-tiba tubuhnya diangkat sebelum kuda itu sempat menabraknya.
Deg...deg...deg....
"Kamu baik-baik saja gadis kecil?" tanya orang yang menyelamatkan Jia Yi.
Merasa dirinya baik-baik saja, Jia Yi langsung membuka matanya. Matanya mengerjap lucu.
Pangeran Chen terpesona dengan keimutan gadis di gendongannya. Tapi entah kenapa wajahnya terasa tidak asing baginya.
Jia Yi sendiri menatap sosok penyelamatnya dengan kagum. Rasa takut yang sempat ia rasakan tadi perlahan menghilang.
"Jia, kamu baik-baik saja Sayang? " tanya Menteri Li yang sudah berdiri di samping mereka dengan Jin Hai gendongannya.
"Paman ini menolong Jia kakek, " jawab Jia Yi.
Menteri Li menatap wajah penolong sang cucu. Betapa terkejutnya Menteri Li saat mengetahui identitas orang itu. Dia pun menundukkan tubuhnya dan memberi hormat.
"Terimalah_"
Tidak perlu sopan paman. "
"Terimakasih pangeran. Kalau bukan atas pertolongan pangeran, entah apa yang akan terjadi pada Jia Yi."
"Tidak masalah paman. Kebetulan saya ada disini. Tapi lain kali paman harus berhati-hati menjaga mereka," ucap pangeran Chen dengan tulus.
"Mereka siapa Paman?" lanjut Pangeran Chen yang merasa penasaran dengan anak kecil itu .
"Mereka berdua cucuku," jawab Menteri Li bangga. Tiba-tiba Jin Hai menghadap kearahnya.
Deg deg deg.....
Pangeran Chen merasakan jantungnya berdetak dengan kencang. Wajah kecil di depannya sangat mirip dengannya saat masih kecil.
"Loh, kok Jin Hai bisa mirip sama paman tampan," pekik Jia Yi heboh.
Menteri Li langsung menatap keduanya dengan bergantian. Matanya langsung membola begitu sadar jika ucapan Jia Yi memang benar.
Bagaimana mungkin cucunya mirip dengan Raja perang?
"Ayah! "
Sapaan dari jenderal Huang memulihkan kesadaran menteri Li dan Pangeran Chen.
"Jendral ...ada dirimu juga? Bukankah Ling-ling bilang kalau kalian pergi ke luar kota?" tanya Menteri Li heran.
"Kami baru saja kembali ayah. Kebetulan saya ada perlu dengan pangeran Chen," jawab jenderal Huang jujur.
"Oh_"
"Ayah sama siapa?" tanya jenderal Huang sambil menatap anak laki-laki yang berada di gendongannya.
Matanya langsung melotot begitu mengetahui kemiripan anak itu dengan pangeran Chen.
"Kakek, Jia Lapal!"
"Astaga, Kakek sampai lupa. Maaf pangeran, cucu saya lapar."
"Bagaimana kalau kita makan bersama?" usul pangeran Chen. Dia merasa tak rela menurunkan gadis kecil di gendongannya.
Menteri Li merasa tidak enak menolaknya. Jadi mereka pergi ke restoran bersama-sama. Jia Yi masih tetap di gendongan pangeran Chen. Sedangkan Jin Hai meminta turun. Dia lebih suka jalan sendiri.
Setibanya di dalam restoran mereka langsung menyebutkan pesanan masing-masing. Mereka menunggu pesanan sambil berbincang.
"Meraka siapa, Yah?" tanya jenderal Huang yang penasaran dengan identitas si kembar. Apalagi wajahnya memiliki kemiripan dengan lelaki yang duduk disampingnya.
Bukan hanya jenderal Huang saja yang penasaran dengan identitas si kembar . Namun pangeran Chen pun turut penasaran dengan alasan yang berbeda.
Pangeran Chen yakin jika si kembar adalah anaknya. Anak yang lahir karena ulahnya. Itulah yang menyebabkannya tidak rela jika harus meninggalkan si kembar.
"Meraka anak Lin'er."
Deg!
Jenderal Huang merasakan sakit di hatinya. Padahal Ia sendiri yang memutuskan pertunangan dan menikah dengan Ling-ling. Meski atas paksaan ibunya.
Sudah lama jenderal Huang tidak bertemu dengan Lin Hua.Sampai saat ini pun perasaannya masih sama. Namun ia sadar jika tidak ada lagi peluang untuknya. Kecuali Lin Hua bersedia menjadi selirnya. Namun.. Apakah mungkin?
"Siapa Lin'er?" tanya pangeran Chen dengan serius.
"Dia putri kedua saya pangeran. Dia_"
"Boleh aku bertemu dengannya?" pinta pangeran Chen tanpa basa basi.
"Ha???"
"Silahkan dimakan, " kata pelayan yang mengintrupsi pembicaraan mereka.
Permintaan pangeran Chen harus tertunda karena makanannya sudah datang. Semua fokus dengan makanan masing-masing.
Pangeran Chen menatap kedua anaknya yang sedang makan. Si kembar makan dengan baik. Sepertinya ibu si kembar mendidik mereka dengan baik.
"Aku harus berhasil menikah dengan Lin'er," gumam pangeran Chen dalam hati. Dia mematri nama Lin Hua dalam hatinya.
"Bagaimana makanannya sayang?Enak?" tanya menteri Li saat makanan si kembar habis tak tersisa.
"Enakan masakan mama."
"Mama?" beo pangeran Chen dan jenderal Huang bersamaan.
"Mereka memanggil ibunya dengan sebutan mama. Lin'er tidak suka dipanggil ibu."
"Oh."
"Apa Lin'er telah menikah Paman?" tanya pangeran Chen sebelum melangkah lebih jauh .
"Dia mana berfikir soal pernikahan. Waktunya ia habiskan untuk si kembar dan semua usahanya."
"Apa dia punya usaha Paman?"
"Dia mempunyai usaha pembuatan berbagai minyak."
"Minyak?"
"Minyak merupakan salah satu bahan untuk memasak. Masakan akan lebih enak jika bumbunya di goreng lebih dulu."
"Wow, Aku jadi pengen merasakannya."
"Kakak ipar sudah membangun satu restoran di sini. Hanya saja letaknya agak jauh. Di sana Pangeran bisa memakan berbagai hidangan yang dimasak dengan cara digoreng."
"Kalau begitu lain kali aku akan kesana. Sekarang aku harus permisi terlebih dahulu," ucap pangeran Chen sambil berdiri.
"Paman mau pulang?"
"Iya sayang. Masih banyak pekerjaan yang harus paman selesaikan"
"Padahal Jia masih pengen main sama paman tampan."
"Lain kali paman pasti ajak kalian main. Sekarang paman mesti berangkat. Sampai jumpa lagi!"
Pangeran Chen keluar diikuti oleh Jenderal Huang dibelakangnya. Kemudian menteri Li beserta si kembar juga kembali ke rumah.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 53 Episodes
Comments
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
𝒂𝒚𝒐 𝒅𝒐𝒏𝒌 𝒑𝒂𝒏𝒈𝒆𝒓𝒂𝒏 𝑪𝒉𝒆𝒏 𝒕𝒆𝒎𝒖𝒊𝒏 𝑳𝒊𝒏 𝑯𝒖𝒂
2024-10-09
0
Dewi Ansyari
Akhirnya Pangeran Chen dan so kembar akan segera bersatu begitu juga dengan Lin hua
2024-10-01
2
Oi Min
ikatan batin ayah ma anak g bisa bohong ges
2024-05-02
0