Melahirkan.

"Aduh, " pekik Lin Hua saat merasakan sakit di perutnya.

Sebenarnya sejak tadi Lin Hua sudah merasakan kontraksi pada perutnya. Namun ia berusaha untuk bersikap tenang. Saat ini sakit yang ia rasakan lebih sering dibanding sebelumnya.

Lin Hua pernah mendengar jika wanita melahirkan memerlukan beberapa pembukaan sebelum bayinya lahir. Jadi dia tidak ingin mengganggu tidur ibunya sebelum pembukaan mendekati sempurna.

Perlahan Lin Hua bangun dari tidurnya. Kemudian turun dari ranjang. Ia berjalan perlahan di area kamar.

Ternyata sang ayah dari bayi turut merasakan hal yang sama dengan yang dirasakan oleh Lin Hua.

"Aduh..." pekik lelaki itu tiba-tiba.

"Kenapa Pangeran?" tanya pengawal pribadi pangeran Chen. Namanya Ji Sho. Saat ini Ji Sho memang sedang menemani Pangeran Chen melakukan patroli.

"Entahlah. Perutku sakit sekali," jawab pangeran Chen sambil meringis.

"Apa perlu saya panggilkan tabib, Pangeran?" tanya Ji Sho panik.

"Suruh ke tenda," ucap pangeran Chen singkat. Setelah itu perlahan pangeran Chen berjalan ke tendanya. Ji sho bergegas untuk mencari tabib.

Rasa sakit yang pangeran Chen rasakan terasa campur aduk. Tak lama kemudian tabib pun datang .Dia memeriksa pangeran Chen dengan teliti . Namun...

"Bagaimana Tabib Yi?" tanya Ji Sho yang ikut masuk ke dalam tenda milik pangeran Chen.

Tabib Yi mengerutkan dahinya . Tidak ia temukan jenis penyakit yang dirasakan oleh pangeran Chen.

"Ehm....maafkan hamba pangeran.Tapi_"

"Apa yang terjadi dengan perutku?"

"Maaf, Hamba tidak menemukan adanya penyakit dalam tubuh Pangeran. Tubuh Pangeran dalam kondisi baik-baik saja."

"Ji Sho!"

"Maaf Pangeran. Apa kamu yakin Tabib Yi?"

"Maafkan saya tuan, " ucap tabib Yi dengan menunduk. Bahkan tubuhnya bergetar.

"Kalau begitu , kamu boleh keluar !"

"Maafkan Hamba pangeran, " ucap tabib Yi sekali lagi.

"Sudahlah."

"Tapi_"

"Tapi apa?"

"Begini tuan...saya punya pengalaman dengan seorang yang pernah merasakan sakit seperti yang pangeran rasakan.Tapi_"

"Jangan bertele-tele!"bentak Ji Sho tak sabar. Sedangkan pangeran Chen memejamkan matanya sambil merasakan sakit di perutnya.

"Orang itu merasakan sakit , seperti yang dirasakan oleh sang istri saat melahirkan."

"Uhuk..uhuk ..uhuk !"

Deg!

Pangeran Chen tiba-tiba teringat dengan malam panas yang pernah ia lakukan dengan wanita yang tidak ia kenali. Apa mungkin wanita itu melahirkan anaknya?

Di tempat yang berbeda, rasa mulas yang dirasakan oleh Lin Hua makin intens . Ia merasa anak-anaknya sudah tidak sabar untuk lahir ke dunia.

Lin Hua memang mengandung dua bayi kembar. Sayangnya tidak ada mesin usg di sini . Sehingga ia tidak bisa mengetahui jenis kelamin masing-masing.

Merasa tidak tahan, Lin Hua segera keluar dari kamarnya. Perlahan ia jalan ke kamar yang ditempati oleh Li Qin.

Tok tok tok

"Bu!" panggil Lin Hua . Tapi tidak ada tanggapan dari dalam. Lin Hua kembali mengetuk pintunya.

Tok tok tok

Li Qin langsung terbangun begitu mendengar ketukan di pintunya. Ia bergegas turun dari ranjang dengan tergesa-gesa. Entah kenapa ia merasa kepikiran soal Lin Hua

Ceklek!

"Lin'er!" pekik Li Qin terkejut.

"Perutku sakit," ucap Lin Hua singkat.

"Apa!"

Li Qin langsung panik. Namun tidak dengan Lin Hua yang terlihat tenang. Tidak raut kekhawatiran sama sekali. Karena Lin Hua menunjukkan raut datar .

"Bagaimana ini?" gumam Lin Qin sambil mondar-mandir di depan Lin Hua. Yang ada malah membuat Lin Hua pusing.

"Tidak perlu panik bu."

"Tapi_"

"Dari pada panik lebih baik kita pergi ke rumah tabib Yin sekarang juga. Jangan sampai anakku lahir di depan kamar ibu," goda Lin Hua agar ibunya tidak terlalu panik. Ternyata itu berhasil . Li Qin mulai dapat berpikir jernih .

"Ibu akan suruh seseorang untuk menjemputnya. Lebih baik kamu tunggu di dalam kamar saja."

"Baik."

Lin Hua menurut. Dia pun kembali berjalan ke kamarnya. Sesekali Lin Hua meringis merasakan sakit di perutnya.

Merleen yang saat ini menempati tubuh Lin Hua memang orang yang kuat. Dia bisa menahan rasa sakit yang orang lain tidak mampu menahannya.

Merleen tidak hanya pernah terkena tembakan maupun luka sabetan benda tajam. Namun dia pernah dijahit tanpa anestesi sama sekali. Jadi sakit yang ia rasakan saat ini baginya bukanlah apa-apa.

Setelah Li Qin meminta pengawal untuk menjemput tabib Yin, dia menyuruh para pelayan untuk mempersiapkan peralatan yang akan dipakai dalam persalinan. Salah satunya menyediakan air panas.

Tak lama kemudian tabib Yin pun datang. Li Qin segera membawanya ke kamar Lin Hua.

Setelah diperiksa ternyata Lin Hua sudah siap untuk melahirkan. Atas bantuan tabib Yin, Lin Hua berhasil melahirkan kedua bayinya dengan lancar.

Rasanya sungguh luar biasa . Sakit yang ia rasakan langsung hilang begitu melihat kedua anaknya lahir dengan selamat.

"Selamat Sayang. Kamu sekarang sudah resmi menjadi ibu. Anak kamu cantik dan tampan," ucap Li Qin dengan mata berbinar.

Saat ini Lin Hua ditempatkan di dalam kamar yang lain. Sebab kamarnya telah dibuat untuk melahirkan.Bayinya telah dibersihkan. Keduanya di tidurkan di atas ranjang yang sama dengan Lin Hua

"Tapi mereka tidak ada mirip-miripnya dengan ku," keluh Lin Hua sambil menatap kedua buah hatinya.

Wajah kedua anaknya sangat tampan dan cantik. Pasti ayahnya juga tampan. Sayangnya ia tidak mempunyai ingatan apapun tentang Lin Hua yang asli. Meskipun begitu ia akan menyayangi mereka dengan sepenuh hati.

Li Qin terenyuh mendengar keluhan dari Lin Hua. Namun ia bingung bagaimana menjawabnya. Untungnya kakak iparnya masuk kedalam kamar.

"Sekarang waktunya makan," seru Jia li.

Jia li membawa nasi dan juga sayur yang di rebus. Lin Hua yang melihat itu langsung tidak nafsu makan.

"Lauknya tidak ada yang lain Bi?"

"Tidak boleh pilih-pilih makanan dulu. Sayur ini sangat cocok agar air susu kamu lancar. Kasihan anak-anak kalau air susu kamu cuma sedikit," Jawa Jia li penuh pengertian.

"Ya...setidaknya ada daging atau ikan lah. Bibi kan tahu sendiri aku tidak suka sama sayur," ucap Lin Hua dengan cemberut.

Li Qin dan Jia li saling pandang dan tersenyum. Mereka sampai melupakan hal tersebut.

"Biar ibu yang ambilan," ucap Li Qin dengan lembut.

Li Qin segera bangun dan keluar dari kamar. Untungnya tadi para pelayan memasak daging. Jadi tidak perlu memasak kembali.

Tak lama kemudian Li Qin kembali masuk kedalam sambil membawa sepiring daging dan buah. Lin Hua langsung tersenyum cerah.

"Ibu memang terbaik. Terimakasih ibu...terimakasih Bibi."

"Tidak perlu berterima kasih. Sekarang makanlah."

Lin Hua pun mulai memakan makanan itu. Meski rasanya masih jauh dari seleranya. Namun ia tetap menghabiskan. Apalagi tenaganya sudah habis buat melahirkan.

Di zaman ini orang masak hanya dengan di rebus dan di kukus. Bumbu yang mereka gunakan pun sederhana.

Di zaman ini juga belum ada yang namanya minyak. Sungguh keberuntungan bagi Lin Hua jika ingin membangun usaha.

Lin Hua berencana untuk membuka bisnis minyak kelapa. Hanya saja karena kehamilannya, ia cenderung malas.

Setelah makan Lin Hua menyusui putrinya yang menangis, Lin Hua tidak pernah menyangka jika kehidupannya berubah seratus delapan puluh derajat.

"Apa kamu sudah menemukan nama yang cocok untuk mereka?" tanya Li Qin sambil memperhatikan sang cucu yang sedang minum Asi.

" Jin Hai dan Jia Yi ,"jawab Lin Hua sambil tersenyum. Lin Hua tidak begitu pintar memiliki nama.

"Bagus juga," ucap Li Qin jujur. Lin Hua tersenyum mendengarnya.

Setelah menyusui Jia Yi, kini giliran Jin Hai yang menyusu . Putra Lin Hua ini lebih kuat menyusu dibanding Jia Yi.

Lin Hua yang belum pernah merawat anak merasa kesulitan merawat si kembar. Namun dia bersyukur ibunya tidak lepas tangan begitu saja. Belum lagi pelayan yang di khususkan untuk membantu merawat si kembar.

Hari-hari Lin Hua dihabiskan untuk mengasuh si kembar. Namun setelah kondisinya mulai pulih ia melakukan olahraga ringan . Setiap pagi Lin Hua tidak melewatkan berjalan pagi di sekitar rumahnya .

Setelah kondisinya pulih total , Lin Hua mulai melakukan latihan bela diri yang pernah ia kuasai. Selain untuk mengembalikan bentuk tubuhnya, latihan itu juga berguna untuk ketahanan tubuhnya

Usia di kembar sudah menginjak enam bulan. Wajah mereka semakin menggemaskan. Tubuh mereka juga semakin montok.

"Duh duh duh....ini anak siapa sih cantik gini?" goda Lin Hua pada Jia Yi. Seakan mengerti pertanyaan mamanya, Jia Yi menjawab dengan celotehan yang tidak ia mengerti sambil tersenyum.

"Ba ba ba ba. "

"Kamu gemesin banget sih sayang. Mama kan jadi pengen gigit."

Lin Hua memang sengaja membiasakan dirinya dipanggil mama. Meski sempat debat dengan sang ibu.

"Maaf Nona. Ada yang ingin bertemu dengan Anda," ucap Nian yang tiba-tiba masuk kedalam kamarnya. Karena kamar Lin Hua memang tidak ditutup.

"Siapa?"

"Orang yang pernah Nona datangi waktu itu. katanya dia sudah membawa pesanan Anda."

"Kalau begitu tunggu sebentar."

Lin Hua membawa Jia Yi kedalam gendongannya sebelum keluar dari kamar. Sedangkan Jin Hai sedang bersama Qiang. Entah kemana sepupunya itu membawa Jin Hai

"Selamat siang Nona," sapa tamu Lin Hua. Ternyata orang itu ahli besi yang pernah ia datangi.

"Selamat siang. Apa pesanan saya memang sudah siap?"

"Sudah Nona. Bahkan kami sudah membawa pesanan anda kemari."

"Betulkah?"

"Tentu saja Nona. Mari kita lihat ke depan."

Lin Hua dengan semangat mengikuti orang itu ke depan. Begitu melihat hasilnya Lin Hua terperangah melihatnya.

Tidak menyangka jika wajan yang ia inginkan benar-benar mirip dengan hasil lukisannya. Orang itu itu benar-benar berbakat .

"Bagus. Sesuai dengan yang aku inginkan," ucap Lin Hua puas .

"Apa anda masih butuh barang yang lain?"

"Lain kali aku akan ke tempat anda langsung. Untuk saat ini cukup ini dulu. Ini untuk biaya kekurangannya."

Lin Hua memberikan sekantong uang padanya . Jumlahnya lebih besar dari kesepakatan.

"Ini kelebihan Nona."

"Tidak papa . Hitung-hitung buat hadiah karena hasilnya sangat bagus "

"Terimakasih Nona."

Terpopuler

Comments

Sandisalbiah

Sandisalbiah

Lin Hua mulai beraksi

2025-02-21

0

💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕

💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕

𝒍𝒏𝒈𝒔𝒏𝒈 𝒅𝒑𝒕 𝒕𝒘𝒊𝒏𝒔 👏👏

2024-10-09

0

Oi Min

Oi Min

kira2 pangeran Chen akan mengenali anak2nya ato tdk y???

2024-05-01

1

lihat semua
Episodes

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!