Frederico dan Carnolius baru saja sampai di kota Valley mills. Lebih tepatnya, sekarang mereka sedang berjalan memasuki sebuah gedung perusahaan M.A.M. Gedung ini merupakan salah satu cabang dari perusahaan elektro milik Martin.
"Kenapa kalian tak langsung ke sana saja?" Kemunculan Martin yang tiba-tiba itu sedikit mengagetkan Frederico juga Carnolius.
Carnolius kemudian bangun dari sofa yang berada di depan meja resepsionis diikuti oleh Frederico.
"Aku hanya mengikuti si Pak Tua ini," jawab Carnolius asal. Martin menggelengkan kepalanya sambil sesekali melirik ke arah Frederico, berjaga-jaga kalau pamannya akan melempar Carnolius.
Frederico rupanya tak peduli dan berjalan mendahului kedua pria itu. "Aku menunggumu. Ayo, waktuku tidak banyak."
Mereka bertiga pun segera memasuki lift untuk menuju lantai bawah tanah. Carnolius menggeser sebuah penutup di antara tombol-tombol lift yang menutupi satu tombol, lalu menekan tombol yang tak memiliki angka itu. Lift kemudian membawa mereka ke lantai paling dasar gedung ini yang belum pernah dikunjungi dan tak pernah diketahui oleh siapa pun kecuali mereka bertiga. Martin menamakan tempat ini sebagai ruang bawah tanah rahasia.
Sesampainya mereka di sana, Frederico langsung pergi mendaratkan bokongnya di sebuah sofa. Martin duduk di depan meja persegi, dan Carnolius yang seperti biasa akan berdiri di pojok sambil melipat tangan di depan dada.
"Aku sudah memikirkan bagaimana cara kita membawa Analeigh dan mengurung gadis itu di sini," ucap Frederico membuka percakapan.
"Bagaimana?" tanya Carnolius.
"Kau akan memberitahu Richard lewat pesan untuk membawa gadis itu bersamanya ke Valley mills, lalu aku akan memberi tahu Richard untuk memanipulasi Analeigh agar dia membawa gadis itu ke ruang bawah tanah ini. Sangat mudah. Gadis itu akan menanggung semua penderitaan yang keluarga Bills rasakan," jawab Frederico tersenyum miring.
"Apa tidak ada cara lain untuk membalaskan dendammu, Paman?" tanya Martin tiba-tiba. Martin merasa sebagian dirinya tidak menyetujui rencana pamannya. Pria itu jelas merasa bersalah dan akan sangat menyesal jika melakukan sesuatu yang kejam dan buruk pada Ana. Karena biar bagaimana pun Ana telah mengisi hatinya. Martin tak bisa mengelak jika dirinya telah jatuh dalam pesona seorang Analeigh faine.
Rahang Frederico seketika terkatup dan ekspresinya mengeras. Frederico kemudian bangun dan berjalan pelan ke arah Martin. "Apa maksud dari pertanyaanmu itu?! Tentu saja tidak ada cara lain!" Darah mendesir merangkak naik di wajahnya. Frederico murka.
Carnolius yang berada di pojok seketika menghirup udara dalam-dalam saat menyaksikan pertikaian keluarga di depannya. 'Dia sangat mencintai Ana. Tapi, tak bisa berbuat apa-apa karena telah bersumpah pada keluarganya. Martin yang malang ... harus menyaksikan pujaan hatinya tersiksa,' batin Carnolius.
Kedua alis Martin saling bertautan sambil memandang Frederico. "Apa mengambil nyawa orang-orang yang dia sayangi masih tidak cukup untukmu? Jujur saja, aku sudah muak dengan rencana kekanakanmu itu, Paman."
Frederico menarik kerah baju Martin dan menatapnya dengan nyalang. "Apa perlu kuingatkan sumpahmu untuk membalas dendam, hingga gadis yang saat ini kau bela mati sengsara? Jangan jadi pria pengecut, Martin. Sedikit lagi kita akan sampai di tujuan dan kau malah ingin menggagalkannya?!" sergah Frederico.
"Tapi ini terlalu—"
"Simpan saja rasa empatimu itu karena aku tak akan peduli. Kau, aku dan Carnolius akan tetap menjalankan rencana ini. Dan, jangan sekali pun kau menghalangiku jika tidak ingin kena imbas." Setelah mengatakan itu, Frederico segera pergi menuju lift.
Carnolius kemudian datang menghampiri Martin dan menepuk bahu kiri pria itu, kemudian pergi menyusul Frederico di dalam lift.
Pintu lift tertutup menyisakan Martin seorang diri. Pria itu tampak menatap ke langit-langit sambil menahan air mata. "Maafkan aku, Ana," lirihnya.
...----------------...
Suhu di asrama Heritage house terasa dingin. Seusai hujan deras mendera beberapa saat, suhu turun beberapa derajat. Hal itu membuat kabut malam senantiasa beringas menggigit kulit dengan hawa dingin yang setia mengelilingi.
Setelah mengeringkan rambut dengan pengering rambut, Ana mengambil sebuah selimut dari atas kasurnya yang cukup untuk membuatnya tetap hangat. Ia lalu duduk bersandar di depan jendela kamar sambil mengambil posisi ternyaman dengan selimut yang menutupi hingga perut.
Pemandangan yang terlihat dari jendela menjadi buram karena kabut yang menutupi. Suhu enggan meninggikan diri. Binatang melata juga turut menghangatkan diri di tempat yang terlindungi sambil menanti hangatnya hari esok.
Ana menghela napasnya sejenak lalu beralih pada ponsel yang ada di genggamannya. Gadis itu sedang menunggu Grafel untuk menjawab panggilannya.
"Hey ... tumben meneleponku tanpa memberitahu, kau baik-baik saja, 'kan?" Terdengar suara Grafel dari seberang sana.
"Aku baik-baik saja. Aku hanya ingin menceritakan sedikit kejadian tak terdugaku dengan Richard. Pasti kau akan kaget," seru Ana. Sepertinya kedua gadis remaja itu akan mulai bergosip lagi.
"Wah! Apalagi yang laki-laki berengsek itu lakukan padamu?!" tanya Grafel menggebu-gebu.
"Tadi itu ... kami bercanda tawa bahkan saling berkejaran," jawab Ana berterus terang. Dan, terdengar pekikan keras dari ponsel Ana.
"Apa?!! ... maaf ... aku sangat terkejut. Apa kalian kembali berpacaran? Kau jangan gila, Ana. Kau lupa kalau dia sudah membuatmu menderita?"
"Sudah kuduga kau akan terkejut. Aku tidak akan pernah mau berpacaran lagi dengan manusia itu. Itu hanya kejadian yang tidak disengaja."
"Oh, thank God."
"Oh, ya ... dia ternyata memang kehilangan ingatannya. Tapi, itu bukan bagian pentingnya, karena bagian pentingnya adalah Richard mengajakku pergi ke kota Valley mills saat liburan akhir pekan nanti. Aku menerima ajakannya jadi itu artinya kami akan berangkat lusa," jelas Ana.
"Apa kau tak merasa curiga sedikit pun, Ana? Maksudku ... kalau si berengsek itu berniat mengajakmu berkencan, mengapa harus ke kota Valley mills?"
"Aku memang sudah curiga saat dia mengajakku. Karena Richard dan Martin saling mengenal dan Martin juga pernah mengatakan padaku jika dia akan pergi ke Valley mills untuk mengurus sesuatu bersama pamannya. Tentu itu bukan suatu kebetulan," jelas Ana lagi.
"Lalu kenapa kau menyetujui ajakannya, bodoh. Bisa saja nyawamu terancam." Terdengar geraman tertahan dari Grafel.
Ana tertawa sejenak lalu berkata, "mau usaha sekeras apa pun, aku tetap tak akan bisa menghindari mereka. Aku ini lemah. Sadarkah kau bahwa selama ini sebenarnya aku hanya berusaha untuk kabur dan bersembunyi dari masalah-masalah yang menghampiriku ini?" Ana mengusap air mata yang mengalir di pipinya.
"Tapi ini membahayakan dirimu, Ana!"
"Aku tahu. Aku menerima ajakan Richard karena aku hanya ingin mengetahui yang sebenarnya dari peristiwa yang menimpa keluargaku, semua hubungan buruk yang terjalin sebelum aku lahir, dan pertanyaan lain yang masih membelenggu ... itulah tujuanku. Dan, itu akan terjawab jika aku bertemu Martin dan pamannya di Valley mills," ucap Ana.
"Kumohon ... kau jangan gegabah dalam mengambil tindakan. Pikirkan juga yang lainnya."
"Maafkan aku. Kuharap kau tak membenciku karena keputusan bodohku ini. Aku hanya ingin menceritakan ini padamu karena kau sahabatku satu-satunya. Selamat malam, Grafel." Panggilan itu pun diputuskan oleh Ana.
Ana menutup matanya sebentar. Ia sungguh merasa tertekan dan mungkin sebentar lagi akan gila. Gadis itu kemudian menghirup udara dalam-dalam. Malam ini dia tak akan bisa tidur dengan nyenyak lagi.
...----------------...
Mentari pagi datang dan memaksa masuk ke sela-sela gorden jendela kamar Dawson. Sepertinya sang empu tak bisa dibangunkan oleh pengeras suara asrama yang terus bersuara nyaring. Maka dari itu, cahaya matahari yang silau dan menusuk datang untuk mengganggu tidur nyenyak lelaki ini yang seketika terbangun dan menuju kamar mandi.
Saat Dawson sedang mengeringkan rambutnya dengan handuk, terdengar suara ketukan pintu yang mengharuskannya menjeda sebentar kegiatan mengeringkan rambutnya.
"Ayo bergegaslah dan segera ke bawah, Dawson. Mr. Wilson menyuruh anggota asrama Earle hall agar segera berkumpul di podium sebelum jam sarapan pagi," ucap Alex sambil memasukkan laptop ke dalam tasnya. Lelaki itu terlihat terburu-buru.
Dawson mengangkat satu alisnya ke atas. "Memangnya ada apa?" tanyanya penasaran.
Alex mengangkat kedua bahunya. "Mungkin ingin memberi tahu bahwa akan ada pemeriksaan mingguan. Jadi, kita harus membereskan kamar," jawab Alex.
Dawson hanya mengangguk sebagai jawaban. Saat akan mengambil tasnya, tiba-tiba ponselnya berdering menandakan adanya panggilan masuk yang rupanya dari Martin. Sejenak Dawson dibuat mematung karena penasaran sekaligus bingung.
"Ada apa, Dawson?" tanya Alex.
"Tidak ada. Kau duluan saja, aku akan menyusul sebentar lagi," jawab Richard.
"Baiklah." Alex pun segera pergi dari kamar.
"Halo, ada apa?" tanya Dawson membuka percakapan.
"Aku ingin kau membantuku. Tapi, hanya kita berdua saja yang boleh mengetahuinya," jawab Martin.
"Oke, katakan."
"Besok saat kau dan Ana pergi ke Valley mills, jangan bawa gadis itu ke tempat yang Frederico suruh."
Wajah Dawson terlihat bingung. "Aku tidak yakin itu akan berhasil, Martin. Bukannya apa ... tapi kau tahu, 'kan kepalaku bisa saja dipenggal oleh kakek-kakek mengerikan itu jika tak melaksanakan perintahnya. Kau pun juga akan bernasib sama," ucap Dawson.
"Aku tidak akan membiarkan itu terjadi. Kau bisa percaya padaku."
"Ya sudah ... firasatku juga berkata buruk jika aku menjalankan perintahnya. Jadi, kau ingin aku membawa Ana ke mana?" Raut wajah Dawson berubah serius.
"Bawa dia ke mansionku di Valley mills, lokasinya akan aku berikan. Lebih baik kusembunyikan dia di sana daripada harus tersiksa melihatnya di ruang bawah tanah itu."
"Baiklah kalau begitu," kata Dawson mengakhiri panggilan mereka.
Dawson mengambil tasnya kemudian menutup pintu kamar dan segera menuruni tangga menuju podium. Hari ini aktivitasnya akan padat dan normal seperti biasanya.
Bersambung...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 22 Episodes
Comments