Hari ini adalah hari sabtu, dan panas dari terik matahari semakin terasa memenuhi salah satu kota yang ada di daerah McLennan. Ana duduk di depan jendela kamarnya sambil menikmati es krim mochi cokelat. Sepertinya kegiatan tersebut sudah menjadi kebiasaan gadis itu akhir-akhir ini.
Entah mengapa konser yang diadakan nanti malam, yang mendatangkan band favoritnya tak sedikit pun membuat Ana semangat. Apa mungkin karena dirinya harus pergi bertemu Dawson empat mata? Karena memikirkan lelaki itu saja sudah membuat Ana cukup frustrasi apalagi jika berbicara langsung dengannya. Ana harap bukan itu penyebabnya. Walaupun tak dapat dipungkiri, ia merasa cukup kecewa karena tak akan bisa turut hadir menonton konser. Firasatnya sangat kuat memaksa dirinya untuk bertemu Dawson sore ini.
Melihat Ana yang mengusap poninya yang lumayan panjang ke belakang dengan frustrasi, Alyssa segera beranjak dari tempatnya dan menghampiri Ana. "Apa berkencan dengan Dawson sebegitu menakutkannya untukmu?" Alyssa menatap Ana dengan intens. Gadis itu merasa curiga sekaligus penasaran pada hubungan Dawson dan Ana yang sebenarnya.
Ana lalu tersenyum. Dalam hati ia menyesal karena menceritakan tentang isi kertas yang diberikan Dawson padanya. "Aku tidak apa-apa. Itu hanya firasatmu saja ... mungkin aku hanya sedih karena tak bisa ke konser bersama kalian," jawab Ana.
"Oh, baiklah. Aku mengerti."
"Dan satu lagi," ucap Ana, "aku tidak pergi berkencan dengannya. Jadi berhenti menggodaku, Alyssa," sambungnya dengan tegas seperti tak ingin dibantah.
Alyssa merapatkan bibirnya untuk menahan tawa. "Baiklah, Nona," ejek Alyssa dan segera berlari pergi setelah mengejek Ana.
Ana hanya merotasikan bola matanya dengan malas.
Tak lama kemudian, terdengar suara musik rock bersamaan dengan teriakan Chloe yang menggema memenuhi kamar asrama Ana. Diikuti oleh Beatrix yang sedang bergerak dengan brutal di atas kasur Ana. Gadis itu berlagak seperti gitaris rocker profesional. Sedangkan Alyssa sedang duduk di kursi depan meja rias sambil melanjutkan kegiatan memoles krim di wajahnya yang sempat tertunda, ia juga ikut menikmati irama musik rock tersebut dengan menggerakkan kepalanya tak jelas.
Namun berbeda dengan Ana yang sama sekali tidak terusik dengan kehebohan ketiga temannya di belakang. Gadis itu justru menikmati pemandangan dari luar jendela sambil sesekali menggigit mochi cokelatnya.
...----------------...
Sekarang sudah pukul enam sore. Ana tahu dia terlambat dan tak tepat waktu menemui Dawson. Tapi, dirinya sungguh tak peduli akan hal itu. Lebih tepatnya karena Ana sempat ketiduran tadi.
Dan benar saja, Dawson ternyata telah menunggu Ana sejak tadi. Lelaki itu sedang duduk menunggunya sambil sesekali melempar batu kerikil ke danau, ekspresi lelaki itu juga terlihat datar dengan tatapan yang kosong, atau mungkin mengantuk karena kelelahan menunggu Ana.
Ana pun segera menghampiri Dawson dan duduk di sebelahnya. Suasana di tempat itu sangat sepi, hanya ada mereka berdua di sana. Wajar saja karena semua orang sedang berkumpul di pusat Baylor untuk menghadiri konser. Jadi beberapa tempat di kampus mereka memang terlihat sepi.
"Ha–halo, maaf aku tadi ketiduran." Ana membuka percakapan dengan sangat canggung.
Dawson yang merasa kaget seketika berbalik dan mendapati Ana telah duduk di sebelahnya. "Kau sudah datang ternyata," katanya mengabaikan sapaan Ana.
Dawson kemudian menghela napasnya. "Kenapa kau lama sekali? Aku menunggumu selama satu jam. Kau dengar? Satu jam! Aku sangat tidak suka menunggu," ujarnya kesal.
'Huh?! Bukannya tadi aku sudah bilang ya kalau aku itu ketiduran, lagipula aku juga sudah minta maaf, 'kan?! Dasar laki-laki.' Ana ingin sekali meneriakkan hal itu di telinga Dawson namun Ana lebih memilih untuk sabar dan menetralkan emosinya.
"Sudahlah, yang penting aku sudah datang. Jadi, apa yang ingin kau bicarakan?" balas Ana langsung ke titik pembicaraan.
Bukannya menjawab, lelaki muda itu justru menatap Ana dengan sangat intens, membuat Ana jadi salah tingkah saat ditatap oleh mantan orang yang pernah berlabuh di hatinya.
"Berhenti menatapku seperti itu."
"Apa maksudmu 'menatapku seperti itu'?"
"Menatapku dengan sangat intens, seperti ingin memakanku."
"Benarkah? Aku tidak merasa begitu. Jangan terlalu percaya diri."
Ana merotasikan bola matanya. Dulu dan sekarang sama saja, berdebat dengan Dawson hanya akan membuatnya lelah sendiri.
"Bisakah kita kembali ke topik yang harus dibicarakan?" pinta Ana.
Lelaki itu tersenyum miring. "Kau ... apa kita pernah berhubungan sebelumnya?" bisik Dawson.
Ana seketika merasa tenggorokannya tercekat, badannya pun juga ikut menegang. 'Jadi benar dugaanku bahwa Richard memang kehilangan ingatannya.'
"Ya begitulah ... apa hanya itu saja yang ingin kau bicarakan? Membuang waktuku saja." Ana ingin berdiri untuk pergi. Namun, lengannya segera ditarik oleh Dawson agar duduk kembali di sampingnya.
"Sakit tahu!!" Ana meringis kesakitan. Dawson sendiri hanya mengendikkan bahunya tak peduli.
"Sebenarnya aku tidak mengerti apa yang terjadi dengan diriku, begitu rumit dan sulit. Jujur saja aku sangat kaget saat mengetahui satu fakta bahwa musuhku sendiri adalah mantanku. Ini membuatku semakin bingung," ungkap Dawson, yang lucunya tidak terlihat sedang menjalankan misi untuk membuat Ana menderita di kampus.
"Tunggu dulu, kenapa kau menganggapku sebagai musuhmu?" tanya Ana dengan heran.
"Nanti kau akan tahu."
"Menyebalkan."
Dawson kemudian mengeluarkan ponselnya dan membaca kembali isi pesan yang dikirimkan Carnolius tadi siang.
Carnol
Ada tugas untukmu.
Buatlah Ana datang ke Valley mills
denganmu. Frederico akan menjalankan rencananya.
Oke.
Read
Dawson merasa bingung. Apa ia harus membawa Ana? Lelaki itu merasa dilema saat ini. 'Sial! Kenapa aku bingung begini?! Harusnya kubawa saja Ana, kalau perlu secara paksa. Aku, 'kan membencinya.'
"Ada apa, Dawson?" tanya Ana saat melihat lelaki itu hanya diam saja sambil menatap ke layar ponselnya.
"Sebenarnya aku ingin mengajakmu ke kota Valley mills saat liburan akhir pekan nanti. Kalau kau mau."
Tanpa berpikir panjang, Ana segera menyetujui ajakan Dawson karena tujuannya memang sama. "Tentu saja aku mau," jawab Ana.
'Padahal aku berharap kau menolaknya, Ana. Entah kenapa firasatku sangat buruk soal ini.' Dawson menatap Ana dengan perasaan bersalah. Pikirannya mungkin bisa mengatakan bahwa ia membenci Ana. Tapi, hati kecilnya tidak akan pernah bisa menyembunyikan fakta bahwa rasa cinta masih tersimpan untuk gadis itu walaupun hanya sedikit.
Tiba-tiba sebuah ide konyol terlintas di kepala Ana. "Apa kau ingin mengetahui seberapa dekat hubungan kita dulu?" tanya Ana sambil menaik-turunkan kedua alisnya. Lucu sekali karena gadis itu jadi berubah drastis di hadapan Dawson saat ini. Perubahan itu seperti Ana yang dulu saat masih menjalin hubungan bersama.
Dawson yang bingung kemudian menggeleng. "Tidak, terima kasih," katanya dengan sedikit sombong.
Sudut mulut Ana mencibir sambil mengeluarkan ponselnya. Membuka aplikasi galeri dan mencari foto Dawson dengan wajah dan ekspresi lucu saat mereka masih menjalin hubungan dulu. "Ini, lihatlah wajahmu yang sangat konyol itu, kau juga dulu sangat gila," ejek Ana sambil menunjukkan beberapa foto Dawson yang terlihat konyol.
Dawson yang melihat foto-foto itu seketika berpaling ke arah lain. Wajahnya saat ini sudah merona merah karena menahan malu. Bukannya merasa kasihan, Ana malah semakin tertawa puas saat melihat wajah tertekan dari lelaki di sampingnya.
"Kau ini benar-benar ... singkirkan foto-foto sialan itu! Kau memang ingin merusak wajah tampanku dengan hasil selfie jelekmu itu," sergah Dawson. Wajahnya terlihat sangat tertekan karena tidak menyangka bahwa dirinya dulu sekonyol itu.
"Apa kau bilang? 'Wajah tampan' katamu?" cerca Ana. Tawanya semakin kencang dan itu membuat Dawson ingin melempar gadis itu sekarang juga ke danau.
"Ayo singkirkan atau kulempar kau ke danau sekarang juga. Kudengar ada buaya di dalam sana." Dawson berniat mengancam Ana agar gadis itu takut dan mau menghapus foto-fotonya.
"Coba saja kalau berani. Lagipula aku bukan anak kecil yang bisa kau bohongi begitu saja." Ana mengibaskan rambutnya ke belakang. Ia tak takut sama sekali dan malah merasa tertantang dengan ucapan Dawson.
Beberapa detik kemudian Dawson berdiri menghampiri Ana dan ingin menarik gadis itu jatuh ke danau. Tapi, sayangnya dia terlambat karena Ana segera bangun dan berlari menjauh. Dan terjadilah kegiatan saling kejar-kejaran di antara mereka berdua. Ana yang berlari menghindari Dawson sambil tertawa terbahak-bahak, membuat Dawson semakin berhasrat untuk mengejarnya.
...----------------...
Peluh membasahi wajah dan leher mereka yang sedang terbaring lelah di atas rumput. Napas mereka terlihat memburu, karena kelelahan setelah saling mengejar dan dikejar satu sama lain.
Dawson mengambil satu kerikil kecil di sampingnya dan melempar batu itu ke arah danau. "Larimu kencang juga, Ana. Kusarankan kau masuk klub lari," sarkas Dawson.
Ana menatap lelaki itu dengan skeptis. "Kau saja yang terlalu lamban," sindirnya.
Dawson mendengus. "Sial. Kau benar-benar membuat emosiku naik turun, Ana."
Ana tertawa mendengar hal itu. Kemudian, gadis itu bangun dan mengubah posisinya menjadi berdiri sambil mengibas-ngibaskan baju bagian belakang serta celana jeansnya.
"Kau mau pergi ke mana?" tanya Dawson. Lelaki itu segera merasa aneh setelah menanyakan hal tersebut pada Ana, pasalnya ia terlihat seperti tak ingin ditinggalkan.
"A–aku mungkin akan menyusul ke pusat Baylor untuk mengikuti konser," jawab Ana kaku. Gadis itu awalnya mengira bahwa bertemu Dawson mungkin hanya memakan waktu sebentar saja. Tapi nyatanya, hari sudah gelap.
Dawson menaikkan satu alisnya ke atas lalu mengecek ponselnya sebentar untuk melihat jam. "Lebih baik kau ke gedung asramamu saja dan istirahat. Ini sudah jam delapan malam. Lagipula konser sebentar lagi akan usai jadi percuma saja kau datang ke sana," tukas Dawson.
Ana menganggukkan kepalanya. Dia pikir Dawson ada benarnya. Tubuhnya memang sudah sangat lelah dan ia juga harus membersihkan dirinya karena habis berkeringat.
"Baiklah. Kau bagaimana?" tanya Ana karena melihat lelaki itu masih santai berbaring di atas rumput.
"Aku masih ingin di sini. Kau duluan saja," jawab Dawson.
Ana mengangguk sekali lagi lalu berlalu pergi. Saat punggung Ana terlihat semakin samar dan jauh, mulut Dawson melengkung membentuk senyuman yang tulus. "Terima kasih karena sudah mengembalikan sedikit ingatanku."
Lalu kemudian, Dawson juga ikut bangun dan berdiri, setelah itu berjalan berlawanan arah menuju gedung asramanya.
Bersambung...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 22 Episodes
Comments