Bunyi tamparan begitu nyaring dan menggema memenuhi ruangan seperti markas. Markas tersebut diisi oleh enam pria. Lima pria yang merupakan anak buah berdiri menghadap kepada seorang pria tua yang begitu disegani, atasan mereka. Kelima anak buah tersebut sering dikumpulkan ketika ada tugas, entah untuk menghilangkan nyawa musuh-musuh sang atasan ataupun untuk menyelidiki target.
Pria tua itu menarik kerah salah satu lelaki muda yang berjajar di depannya. "Jangan mentang-mentang kau dibawa ke sini secara spesial, jadi kau boleh bersikap semaunya terhadap tugasmu!"
"Kau memiliki tugas yang paling mudah dibanding mereka berempat. Tapi apa hasilnya? Kau sama sekali tidak becus dalam hal itu, Richard!" bentaknya sambil menunjuk empat pria lain yang menundukkan kepala karena ketakutan.
Emosi pria tua itu semakin naik kala Richard di depannya hanya menatap dengan datar dan dingin.
Melihat ekspresi Richard yang seperti menantang dirinya, suara tawa menyeramkan menggema di ruangan tersebut. Pria tua itu tertawa keras lalu kemudian mengelap kedua sisi matanya yang berair.
PLAK!
Satu tamparan lagi berhasil lolos. Richard yang tadinya menampilkan ekspresi datar kini memperlihatkan wajah kesal sekaligus kesakitan. Pipinya terasa nyeri bahkan sedikit lecet. Dalam hati, dia menyumpah serapahi manusia di depannya itu. 'Dasar tua bangka! Kenapa tidak kau saja yang membunuh gadis itu?!' batinnya.
Pria tua itu menarik napas panjang lalu mengembuskannya. "Apa kau banci?" Sudut bibirnya terangkat. "Membunuh satu gadis lemah dan bodoh saja kau tak becus!" timpalnya dengan sinis.
Richard yang merasa tak terima pun membela dirinya. "Maaf, tapi aku hanya menjalankan tugas dari atasanku yang sebenarnya," sanggah Richard. Tatapan lelaki itu kian menajam. "Aku harus memainkan mental gadis itu terlebih dahulu. Masalah membunuh, itu akan direncanakan olehnya lebih lanjut." Sorot matanya menunjukkan bahwa lelaki ini sedang frustrasi.
"Cih, omong kosong!" Sambil menyesap cerutu yang baru ia bakar, pria tua itu berjalan menuju sofa dan mendaratkan bokongnya di sana. "Kau harusnya sadar dengan segala hal yang sudah diberikan. Kau pikir itu semua gratis?"
Richard menggelengkan kepalanya.
Pria tua itu menatap Richard tepat pada iris mata birunya. "Kau harus membayarnya dengan membunuh gadis itu."
...----------------...
Cheltenham Bournside School
Suara langkah kaki menggema kencang di lorong sekolah ini. Sol sepatu dan lantai bergesekan cepat, menghasilkan suara yang berasal dari hentakan lantai dan dinding yang memantulkan raungan sang pembuat.
Ana berlari dengan tergesa-gesa menuju ruang kelasnya. Ini buruk, karena gadis itu terlambat. Saat sudah sampai di depan pintu kelas, semua murid telah mengucapkan salam hormat pada guru.
"Ana? Kenapa bisa masuk ke dalam area sekolah padahal sudah terlambat?"
Ana sontak menjadi pusat perhatian di kelas ini. Gadis itu bisa masuk karena memanjat gerbang belakang sekolah. Dan, keberuntungan berada di pihaknya saat itu karena petugas keamanan yang biasanya berjaga di belakang sekolah sedang tidak ada.
'Tapi malah ketahuan kalau terlambat. Sia-sia saja,' batinnya.
"Ms. Faine? Pertanyaanku belum kau jawab," ujar Mrs. Lucy dengan tatapan mengintimidasi.
Ana merasa tenggorokannya tercekat. Ia menelan saliva dengan susah payah.
"Ermm,... petugas keamanan tadi lupa menutup gerbang, jadi kupikir aku masih ada kesempatan mengikuti kelas hari ini," jawab Ana sembari menggaruk tengkuknya yang tidak gatal sama sekali.
Ana beralih menatap horor teman-teman kelasnya yang sedang menahan tawa. Sebagian dari mereka cekikikan mendengar jawaban dari Ana.
"Baik kalau begitu, silakan duduk. Jika aku melihatmu terlambat lagi, kau tidak boleh mengikuti kelasku selama dua minggu. Paham?"
Setelah mengiyakan perkataan Mrs. Lucy, Ana pun langsung menuju ke bangkunya. Ia mulai menyimak pembelajaran dengan tidak semangat serta pikiran yang terus melayang.
...----------------...
"Baru kali ini aku melihatmu terlambat ke sekolah, ada apa?" tanya Alinskie bingung. Teman kelas sekaligus sahabat Ana.
Sekolah saat ini sedang memasuki jam istirahat. Ana dan para sahabatnya memutuskan ke kafetaria untuk makan siang sambil menunggu Soni membawa pesanan mereka.
"Semalam aku begadang baca komik sampai lupa waktu," jawab Ana lalu mengambil taco pesanannya yang dibawakan oleh Soni.
Ana berbohong, tentu saja. Ia belum siap memberitahu mereka kejadian teror yang membuatnya sulit tidur akhir-akhir ini.
Alinskie, Angel, Grafel, serta Soni yang baru datang hanya ber 'oh' ria saja.
Grafel yang sejak tadi menatap Angel melamun menatap makanannya lantas berdalih. "Memangnya kau tahu apa yang sedang dibahas, Soni?" canda Grafel.
"Tidak, sih." Tawa Soni meledak disertai tatapan tajam dari siswa siswi lain di kantin.
"Dasar Soni gila, bikin malu saja," ejek Alinskie.
Mendengar itu, mereka semua serempak tertawa terbahak-bahak. Dan untuk kedua kalinya, mereka mendapat tatapan tajam dari para murid yang sedang makan siang.
Kelima sahabat ini pun terbatuk canggung dan kembali tenang sambil melanjutkan makan siang mereka. Dengan sesekali Soni dan Grafel membagikan sebuah lelucon yang aneh.
...----------------...
Panggilan masuk membuyarkan lamunan Ana yang sejak tadi sudah menjamur karena menunggu jemputan kakaknya yang tak kunjung datang.
"Aku sudah menunggumu sejak tadi!" ucap Ana kesal.
"Sorry, Sweety. Sepertinya aku tidak bisa menjemputmu. Pulang sendiri saja ya? Soalnya bosku menghubungi bahwa akan ada rapat mendadak, aku sangat sibuk hingga hampir mati karena bosku itu." Nada suara Loi terdengar dramatis dan berlebihan.
Ana merotasikan bola matanya. "Oke!"
Belum sempat Loi menjawab, panggilan sudah dimatikan lebih dulu secara sepihak oleh Ana.
Siang hari ini memanglah sebuah kutukan bagi pejalan kaki tanpa pelindung seperti Ana ini. Sinar matahari yang sangat terik menyentuh kulit para manusia yang terkena sinarnya. Belum lagi pancaran polusi atau udara kotor yang disebabkan oleh knalpot maupun bahan kimia yang berkeliaran ada di lingkungan ini.
Ana sangat kesal. Dia terpaksa harus berjalan kaki untuk sampai ke rumah yang jaraknya lumayan jauh dari sekolah.
Gadis itu baru saja ketinggalan bus, jadi menunggu bus selanjutnya hanya akan membuang waktu. Dia juga tak bisa memesan taksi online ataupun uber, dikarenakan uang yang dia bawa ke sekolah tadi pas hanya untuk membeli makan siang.
Sebenarnya bisa saja Ana memesan taksi online lalu membayarnya di rumah. Tapi apalah Ana sudah terlanjur darah tinggi sampai dia tak memikirkan hal itu. Yang ada di pikirannya saat ini hanyalah pulang ke rumah. Persetan seberapa jauh rumahnya dengan hanya berjalan kaki.
Ana menendang batu kerikil yang ada disetiap tapak jalan yang ia lalui sambil sesekali menggerutu tak jelas.
Sampai salah satu tendangan batu kerikil mengenai punggung pria dengan bodi nacho di depannya, yang baru saja keluar dari toko roti.
"Oh, God. Sial sekali aku hari ini," ringis Ana pelan sambil berjalan ke depan pria bersetelan kemeja berwarna sage green yang menatapnya datar.
"Apa ini ulahmu?" tanya pria itu.
Ana tebak umurnya sekitar tiga puluh tahun. Tampan, tapi sepertinya garang.
"Maaf aku tidak bermaksud. Itu adalah salah batunya, kau tahu. Batunya sedang marah," jawab Ana dengan tampang yang tak mau disalahkan.
Pria itu hanya menatap Ana dengan tatapan yang menusuk. Ia seakan mengatakan, 'kau pikir aku orang bodoh yang percaya saja jika batu memiliki emosi seperti manusia?'
"Baiklah, aku percaya." Pada akhirnya apa yang diucapkan oleh pria ini berbanding jauh dengan apa yang dipikirkannya.
"Kau pasti baru pulang sekolah. Kenapa sendirian? Tak takut diculik?" tanya pria itu.
"Ermm, ya. Aku pulang sendiri karena penjemputku mati di tengah jalan."
Setengah terkejut pria di depan Ana menjawab, "hah?! Mati?"
"Bercanda, Sir."
"Jangan panggil aku begitu, aku masih muda. Dua puluh tiga tahun."
Ana hanya menganggukkan kepala. Ternyata pria di depannya tidak garang seperti yang dikhawatirkan Ana tadi. Dan umurnya juga ternyata jauh lebih muda dari perkiraannya.
...----------------...
"Terima kasih karena sudah mau memberi tumpangan."
Akhirnya, Ana ditawarkan untuk diantar pulang oleh pria itu. Entah karena kasihan atau bagaimana Ana tak peduli. Yang terpenting dia bisa pulang dengan selamat saja.
"Sama-sama. Tunggu ... kita belum berkenalan, namamu siapa?" tanya pria itu dengan sedikit tersenyum.
"Analeigh Faine. Panggil Ana saja, kalau kau?"
Setelah mengatakan namanya, sebelah alis pria itu terangkat lalu dengan cepat mengubah ekspresi wajahnya dengan senyuman hangat.
"Nama yang cantik," katanya yang membuat Ana setuju dalam hati. "Aku Martin ajax morpheus. Kau bisa panggil Martin."
Martin memperkenalkan dirinya dengan masih mempertahankan senyuman hangatnya. Guratan keriput terlihat di kedua sisi matanya. Ciri khas wajah Italia dengan rahang yang tegas sangat terlihat pada wajah pria ini. Mata biru yang tajam itu juga membuat Ana seketika terpesona.
"O-oh oke, Martin."
Setelah itu tak ada pembicaraan yang terjadi lagi hingga mereka sampai. Kecuali jika Martin bertanya tentang jalan apa saja yang akan dilewati.
Selama dalam perjalanan, Ana sedikit merasa ada sesuatu dalam dirinya. Sebuah getaran dalam relung hatinya. Seketika Ana merasa rendah diri karena secepat itu memperhatikan pria asing ini. hanya saja menurut Ana, Martin terlihat mempunyai kepribadian yang sangat baik dan cerah. Walau begitu, ia tidak mau membuang waktu menebak perasaan yang ada pada dirinya.
Ana tak mau meluangkan waktunya memikirkan orang yang bahkan tidak akrab dengan dirinya. Apalagi itu adalah orang yang baru dikenal.
Setelah sampai di pekarangan rumah Ana, Martin pamit pulang dan langsung berbelok pulang ke tujuan awalnya sebelum bertemu Ana. Gadis itu pun juga masuk ke dalam rumahnya dan menutup serta mengunci pintu dari dalam.
Ana pun menjalankan aktivitas rutinnya tersebut sambil sesekali memikirkan Martin. Perasaan ini ... ya, perasaan aneh yang dirasakan Ana tadi masih tidak hilang dan sulit untuk diekspresikan. Ana bingung sendiri jadinya.
Bersambung...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 22 Episodes
Comments