Who?

Saat cahaya matahari menembus horden kamar Ana, gadis berusia tujuh belas tahun itu mengernyitkan wajahnya sambil membalikkan badan demi menghalau cahaya silau pada wajah.

BRAK!!

"Aww...!"

Ana bangun tepat saat badannya menyentuh lantai lalu segera menuju ke kamar mandi untuk menyegarkan pikiran serta badannya.

Karena deringan ponsel yang terus mengganggu dirinya sejak kemarin, Ana jadi tidak bisa tenang untuk tidur. Akibatnya, dia baru bisa tidur jam tiga dini hari.

"Kesialan macam apa ini?!"

"Aku lebih suka kehidupanku yang biasa."

Berulang kali Ana meraung di dalam kamar mandi. Berulang kali juga ia mengatakan kalimat yang sama dengan nada yang keras ditemani air mata yang mengalir. Sungguh dirinya tengah ditimpa kesialan.

Hari ini suasana hatinya benar-benar kacau. Andai saja kemarin dia tidak ikut Loi untuk piknik di taman desa Bibury, mungkin dia tak akan pernah dapat teror. Ya ... semua itu hanyalah perandaian, karena kenyataan sudah tak bisa dihindari.

Tok, tok, tok...!

"Hey, Ana, ada apa denganmu? Berisik tahu." Loi yang sedang mengerjakan laporan keuangan kantor di kamarnya merasa terganggu.

Kamar mandi yang sering mereka berdua gunakan berada di tengah-tengah dua kamar sebagai sekat. Kamar mandinya pun juga tidak terlalu kedap suara. Itu sebabnya bising yang diciptakan Ana bisa terdengar sampai ke kamar Loi.

Loi sebenarnya merasa bersalah. Bukan tanpa sebab, tapi ia berpikir kalau saja dirinya tak mengajak Ana, hal seperti itu tidak akan terjadi, bukan. Penyesalan memang selalu ada di akhir, dan kita akan menyadari itu ketika sudah terkena dampak buruknya.

"Iya, iya. Maafkan aku. Emosiku sedang tidak stabil," jawab Ana sedikit lantang dari dalam kamar mandi. Sepertinya anak itu sudah sedikit membaik.

Loi menghela napas. "Kalau begitu cepat. Aku ingin mandi juga setelah pekerjaanku selesai."

...----------------...

Hari ini adalah hari dimana Loi dan Ana akan pulang ke rumah mereka di kota Gloucester setelah seminggu liburan di kampung halaman, desa Bibury. Orang tua mereka tak ikut karena masih ingin menetap di rumah nenek Josephine, sosok ibu dari ayah Ana.

Seharusnya hanya Loi yang pulang karena kantornya berada di kota, sedangkan Ana akan pindah ke sekolah asrama putri di Bibury. Namun, setelah melihat Ana yang selalu tampak murung di kamarnya membuat kedua orang tuanya jadi tak tega meninggalkan Ana di asrama. Di kota jugalah terdapat sahabat-sahabat Ana. Setidaknya masih ada hal yang membuat kedua putri bungsu mereka kembali ceria.

Pagi, siang, dan sore hari pun telah berlalu. Di sinilah Loi dan Ana. Mereka saat ini tengah makan malam di meja makan. Suasana sangat hening, hanya ada suara sendok dan garpu yang berdentingan berebut satu sama lain untuk mengambil makanan di sebuah piring.

Mereka tiba di rumah tepat pada pukul tujuh malam. Makanya sepulang dari rumah nenek, mereka langsung menyiapkan makanan dan makan malam saja. Toh, mereka juga sudah sangat lelah dan perut sudah minta untuk diisi.

"Ana apa kau ba—"

"Iya, kau tak perlu cemas," potong Ana pada kakaknya. Ana tersenyum. "Tidak apa-apa, lupakan saja masalah itu. Kalau pun nanti aku tiba-tiba hilang, itu artinya aku telah dimutila—"

Ctak!

Loi memukul jidat mulus adiknya itu menggunakan sendok bekas makan yang tadi dia pakai. "Apa yang sedang kau bicarakan hah!? Jangan sembarangan ya, Ana. Nanti kau aku rebus, mau?!" galaknya dengan mata melotot.

Ana meringis sakit sambil meraba jidatnya yang ia yakin sudah memerah. Bahkan menurut Ana, kakanya lebih psikopat dibanding lelaki itu. "Aku hanya bercanda tahu!" seru Ana tak terima.

Loi menatap Ana tidak percaya. Malas sekali meladeni adik labilnya itu.

Loi lalu menuju tangga berniat ke kamarnya untuk tidur. Saat di pertengahan tangga, ia berbalik ke arah Ana yang masih melahap makanannya. "Kau jangan lupa cuci piring. Aku sudah sangat lelah apalagi besok sudah masuk kantor. Kau, 'kan masih libur."

Ana mengiyakan dengan dehaman.

...----------------...

11.15 p.m

Ana masih terjaga dalam tidurnya. Dengan gaya terlentang di atas kasur, gadis itu menatap kosong ke langit-langit kamarnya. Ia kembali mengingat momen buruk saat pertama kali bertemu dengan sosok lelaki misterius.

Ana tidak tahu jelas rupa lelaki itu karena dia memakai pakaian yang serba tertutup hingga wajah. Tapi, entah mengapa Ana merasa akrab dengan orang itu saat mendengar suaranya. Sosok misterius tersebut sangat mengingatkan dirinya dengan mantan pacarnya, Richard.

"Itu tidak mungkin! Richard, 'kan sedang berada di Texas." Ana merasa dirinya mungkin sudah gila setelah ditinggal Richard setahun yang lalu.

Ana kemudian mencari posisi ternyaman untuk tidur. "Mengapa sangat sulit melupakan dirimu." Setelah menggumamkan kalimat itu, Ana menarik selimut dan matanya perlahan terpejam.

Dua hari sebelumnya....

"Kakak, ayo belikan aku mochi! Sepertinya toko itu juga menjual mochi!" Tunjuk Ana pada salah satu toko kue kecil di pinggir jalan.

"Bisa santai saja tidak? Lama-lama kau yang aku jual." Loi menggeram karena adiknya bertingkah seperti anak balita yang tidak tahu malu.

"Berikan aku uang. Katamu tadi mau mentraktirku," kata Ana.

"Sejak kapan aku bilang begitu? Parah sekali kau memfitnahku," ujar Loi sambil mengeluarkan selembaran uang sebesar 10 pound dari dalam dompet kulitnya dan memberikannya pada Ana.

"Terima kasih kakakku tercinta dan tercantik sealam semesta!" Ana mengambil  uang tersebut lalu segera berlari ke toko kue yang lebih mirip minimarket. Ia lalu masuk menelisik area dalam toko tersebut untuk mencari kulkas, tempat biasa ditaruhnya es krim serta camilan dingin lainnya.

Ana lalu bergegas memilih beberapa varian mochi dingin kesukaannya lalu mendadak dirinya ditabrak seseorang hingga membuat mochi ditangannya jatuh dan bergelinding di lantai. Untungnya toko kue ini lumayan sepi, sehingga tidak menjadi bahan tontonan orang-orang yang sedang lewat.

"Maaf karena sudah menghalangi jalanmu." Ana tertawa canggung. Dalam hati, gadis itu menyalahkan si penabrak karena seharusnya dialah yang meminta maaf.

Tidak menunggu respon orang di depannya, Ana segera merapatkan blazer abu bercorak kotak-kotaknya, kemudian berjongkok memungut mochinya yang berserakan.

Sedangkan orang di depan Ana sepertinya sedang menunggu. Sadar akan hal itu, Ana lantas menghadap ke orang tadi lalu tiba-tiba saja ia ditarik paksa ke pojok belakang toko dan lehernya ditahan menggunakan belati yang sudah pasti tajam.

Ana bersumpah jika orang di depannya saat ini adalah orang tidak waras. Lelaki itu memiringkan kepalanya aneh lalu kembali semakin memajukan belatinya.

Hal ini membuat Ana hanya bisa terdiam mematung dan berdoa dalam hati tanpa berani sedikit pun untuk melawan. Karena jika dia bergerak sedikit saja, sudah dipastikan kulit lehernya akan tergores.

Lelaki itu tak berbicara sepatah katapun. Hanya sibuk menyeret Ana pergi sambil menatap gadis itu dengan tatapan yang sulit diartikan. Bahkan Ana sudah hampir hilang dibawa kabur oleh lelaki ini, jika saja Loi tidak datang dan membawa orang-orang di sekitar taman untuk membantu menyelamatkan dirinya.

"Sialan, aku tidak bisa membunuhmu hari ini," lirih lelaki itu dengan tatapan yang tajam dan menusuk.

"Ka–kau ingin mem–membu-nuhku." Nada suara Ana bergetar karena ketakutan. Sedangkan lelaki di depannya baru sadar jika ucapan lirihnya ternyata terdengar.

Dengan segera, lelaki itu menarik kembali belatinya dan langsung pergi secepat mungkin sebelum orang-orang menangkapnya. Sedangkan Ana yang baru saja mengalami kejadian tersebut, merasakan bahwa hidupnya setelah ini tak akan tenang dan damai lagi.

Bersambung...

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!