..."Apa kau percaya bahwa kematian merupakan rencana dari Tuhan? Aku juga percaya. Tapi, tidak dengan yang satu ini. Yang satu ini rencana dari makhluk ciptaan Tuhan."...
...----------------...
Setelah kepergian Soni, seharian ini Ana hanya termenung di lantai balkon kamarnya. Kedua matanya sembab dan bengkak, hidung yang merah, serta perasaan yang kacau sebab Soni telah pergi meninggalkan mereka semua untuk selamanya.
Ana menggeleng pelan lalu menunduk dengan raut wajah yang sangat memprihatinkan. "Apakah ini semua terjadi karena diriku? Apakah aku penyebab Soni meninggal? Apa yang harus aku lakukan ... aku tidak tahu apa-apa. Aku tidak tahu bagaimana menghentikan semua ini. Aku terlalu bodoh dan lemah untuk menghadapi masalahku sendiri," ucap Ana dengan parau.
Gadis itu mengusap air matanya yang terus mengalir tanpa henti dengan kasar. Ini terlalu menyedihkan untuknya.
Tak jauh dari tempat Ana, kedua orang tuanya sedang mengamati putri mereka dari balik pintu. Mereka lalu menarik napas sejenak sebelum pergi ke tempat Ana dengan niat ingin menenangkan putri bungsunya itu. Loi juga turut ikut di belakang kedua orang tua mereka.
"Apa yang kau pikirkan, Sayang. Ingatlah semua ini bukan salahmu," jelas Laetitia sambil memeluk Ana dari samping. Gadis itu hanya bisa menganggukkan kepalanya.
Adrieto kemudian berjalan ke depan putri bungsunya itu lalu jongkok dan menggenggam kedua tangan Ana. "Nak, jangan bersedih terus. Soni pasti sekarang tidak bisa hidup bahagia di atas sana kalau melihatmu menangisi dia tanpa henti."
Laetitia memukul pelan bahu Adrieto karena ucapannya barusan itu tidak seharusnya di situasi sekarang.
"Hey ... dengarkan ibu. Tidak masalah jika kita menangisi orang yang kita sayangi telah pergi. Itu sangat wajar...," Laetitia meraih dagu Ana dan menatapnya dengan tulus. "...tapi jangan sampai kau melupakan semua hal yang harus kau pertanggung jawabkan. Ingat, 'kan kalau kau saat ini masih ujian sekolah? Ibu tidak mau beban pikiranmu bertambah di situasi sekarang." Setelah mengatakan itu, Laetitia keluar dari kamar Ana disusul oleh Adrieto.
Loi berdehem pelan lalu mengusap rambut adiknya itu dengan sayang. "Ikhlaskan dia, Ana. Aku tahu kau gadis yang kuat. Mungkin berat mengikhlaskan seseorang secara cepat. Tapi, itulah yang harus kau lakukan. Aku selalu di sini bersamamu."
"Terima kasih. Kau sangat baik hari ini."
Loi kemudian duduk berpangku tangan. "Jadi, apa tujuanmu kuliah di Gloucestershire tetap dilaksanakan?"
Ana meringis setelah mendengar pertanyaan kakaknya. "Aku harap begitu. Tapi, sayangnya aku sudah membulatkan tekadku untuk kuliah di Texas."
Loi sedikit terkejut dengan keputusan Ana. "Apa yang kau pikirkan ... apa tujuanmu ingin kuliah di sana?" tanya Loi penasaran.
Bahu Ana merosot. "Entahlah, firasatku mengatakan aku harus ke sana."
...----------------...
Pemakaman siang ini penuh haru dan kesedihan. Orang tua Soni selaku keluarga inti, serta kawan-kawan Soni di sekolah juga turut berduka cita atas kepergian orang yang terkasih. Sedangkan Ana hanya diam termenung dengan wajah yang sudah letih. Air mata gadis itu sudah mengering sejak kemarin sore.
Terik matahari dan panasnya cuaca, serta pengapnya tempat pemakaman sepertinya sangat menambah kesan buruk dan kebuncahan setiap orang yang hadir di tempat ini.
Sepulang sekolah pasca ujian untuk hari kedua ini berakhir, Ana dan para sahabat Soni, juga kawan-kawan yang lain memang sudah berencana untuk mengikuti upacara pemakaman.
Ana datang lalu memegang kedua tangan Ibu Soni. Ia berniat untuk menguatkannya. "Bibi ikhlaskan, ya. Dia sudah bahagia di atas sana." Hanya itu yang mampu Ana katakan sebagai obat penenang pada wanita tua itu.
Ibu Soni hanya mengangguk samar dengan air mata yang berlinang.
Setelah upacara pemakaman selesai dan orang-orang sudah pergi satu persatu, kini tinggal Ana saja yang berada di depan pemakaman sahabatnya itu.
Ana tersenyum untuk menguatkan dirinya sendiri, lalu mengatakan sebuah kalimat yang seharusnya ia katakan pada Soni sebelum dia pergi.
"Terima kasih karena sudah mencintaiku. Aku menyayangimu."
...----------------...
Seorang pria dengan baret kotak bergradasi abu dan hitam, sedang menyesap dengan khidmat cerutu yang sudah setengah batang. Pria itu berpangku tangan lalu menyandarkan tubuhnya di tiang kayu yang sudah lapuk.
"Kita harus segera menyingkirkan satu per satu orang tercinta dari cucu Antonius Faine, sebagai bentuk pembalasan dendam," ucap pria tua itu terhadap pria lain, yang sedang memainkan jam pasir di depannya.
Pria bersetelan rapi dengan rambut belah samping itu lantas menghentikan kegiatannya memainkan jam pasir. Pria bersetelan hijau, serta mata biru setajam elang tersebut mengangkat kepalanya dan menatap pria tua di hadapannya dengan tatapan yang sulit diartikan. Martin benar-benar merasa dilema saat ini.
"Bukankah kau sudah terlalu kejam? Aku tahu pembalasan dendam ini sudah kita sepakati dari dulu dan tetap harus dilaksanakan." Martin berdiri dan menepuk pundak si pria tua tadi. "Tapi, menurutku jika dilakukan tanpa jeda, itu akan menimbulkan kecurigaan."
Ujung bibir pria tua itu terangkat. "Justru untuk itulah kita memanipulasi bocah tengik itu. Menjadikannya kambing hitam."
"Aku memang sengaja melakukannya dengan cepat agar pembalasan dendam ini bisa berjalan sesuai harapan. Dan, tentunya mendapat kepuasan yang sepadan," lanjutnya lagi.
Pria tua itu menarik napas sejenak sambil menerawang jauh ke depan. Pikirannya kembali memutar kilas balik kejadian dua puluh delapan tahun yang lalu. Di mana kepalanya akan panas setiap mengingat momen buruk itu.
Antonius Faine.
Itulah salah satu kartu member yang saat ini menggantung di depan pintu masuk laboratorium uji coba proyek 'Tempore foedum'.
"Kenapa kau menyerahkan tanggung jawab sebesar ini padaku?" ucap Antonius secara lugas di depan Bill dan di depan beberapa anggota keluarga Bill yang juga turut andil dalam proyek ini.
Bill tersenyum. "Aku hanya ingin memberikan apa yang sejak dulu ingin kau lakukan."
"Tapi tidak dengan cara licik seperti ini, Bill sialan! Apa kau sadar bahwa kau sedang merendahkanku?!!" Antonius naik pitam dibuatnya.
"Demi Tuhan. Aku tidak pernah ada niat untuk merendahkanmu. Aku hanya ingin memperbaiki kerusakan hubungan yang terjadi pada kita berdua." Bill menjeda perkataannya dan semakin menatap Antonius dengan serius. "Kau iri padaku. Pada semua pencapaianku. Bahkan sejak kita berada di satu jurusan saat pertama kali menjadi mahasiswa. Aku sudah tahu bahwa kau membenciku Antonius," sambung Bill dengan penekanan di akhir kalimat.
Mendengar hal itu, Antonius menggeram marah. Kepalan buku-buku jari tangannya sudah siap meninju wajah Bill. Tapi, niatnya itu dia urungkan dan menggantinya dengan senyum menyeringai. "Baiklah kalau itu maumu. Aku akan membantumu sebisaku."
Bill tersenyum lega mendengar hal itu. Pikirnya bahwa Antonius sudah ingin berdamai.
BUK!!
Pria tua itu meninju kayu lapuk di sampingnya dengan kuat.
Mengingat kejadian dua puluh delapan tahun silam hanya membuatnya emosi dan semakin kalut, akan pembalasan dendam untuk kakaknya yang meninggal karena menjadi monster menjijikkan. Semua itu tak akan bisa kembali lagi. Kesengsaraan keluarganya, perusahaan yang jatuh bangkrut. Tidak akan ada yang bisa membayar rasa kehilangan, kerugian, dan keputusasaannya.
"Antonius itu sangat mudah sekali ditebak. Setelah mengiyakan proyek, dia langsung melancarkan aksi gilanya. Entah apa yang sudah dia campurkan pada zat itu sehingga kakakku jadi seperti itu." Pria tua itu memijit pelipis kepalanya dan melanjutkan. "Lebih gilanya lagi, dia menumbalkan anaknya. Karena dia pikir pembalasan dendam suatu saat akan pergi ke anaknya." Pria tua itu tertawa cekikikan.
Dalam hati dia mengejek Antonius. Keluarga Bill itu tidaklah bodoh. Bukan anaknya yang di incar karena itu tidak akan bisa membuat keseruan di antara keluarga mereka. Dan, tentu saja permainan ini sangat mudah ditebak, bukan.
Maka dari itu, cucunya lah yang akan dijadikan mangsa utama. Analeigh Faine.
Martin beralih kemudian menatap sosok pria yang sejak tadi hanya diam sambil menyimak pembicaraan mereka. Pria yang dimaksud adalah Carnolius.
Merasa seperti diperhatikan, Carnolius segera memperbaiki letak kacamatanya dan pergi menghampiri Martin yang hanya sejauh lima langkah.
"Jadi rencanamu sekarang apa?" tanya Martin setelah Carnolius sudah berada di hadapannya.
Pria tua itu pun membuang cerutunya ke tanah lalu menginjaknya. Ia lalu menepuk bahu Carnolius. "Hei anak jenius. Sekarang tugasmu buat strategi pembunuhan selanjutnya."
"Siapa targetmu kali ini?" tanya Martin.
"Sahabatnya, Alinskie Wang."
...----------------...
Sepulangnya Ana dari pemakaman Soni, ia langsung merebahkan diri dengan posisi terlentang di atas kasurnya. Ia merasa déjà vu. Sepertinya dia tidak akan membuka ponselnya untuk saat ini. Jadi, dia memutuskan untuk tidur. Walau sejak tadi terlihat banyak notifikasi yang masuk dan membuat dirinya gatal ingin melihat itu.
Deringan ponsel terus mengganggu Ana. Pada akhirnya, Ana terpaksa bangun dari tidurnya dan menjawab panggilan tersebut yang ternyata dari Grafel.
"Halo, Fel. Ada apa?"
Terdengar dari seberang sana Grafel menangis dengan tersendat-sendat. Suaranya juga sangat parau. Ini membuat Ana jadi tidak tenang.
"Ana ... Alinskie ... di-dia kera-racunan dan...," ucap Grafel terbata-bata. Perkataannya terjeda karena dirasa tak mampu berkata lagi.
Ana membulatkan matanya. Dia marah, takut, sedih, hancur. Semua bercampur aduk.
"Katakan padaku, ada apa?!!"
"Alinskie meninggal Ana ... di-dia sudah tidak ada," lanjut Grafel disertai tangisan.
Seketika ponsel di tangan Ana jatuh ke atas karpet. Jantungnya berpacu lebih cepat. Tubuhnya bergetar dan persendiannya melemas seketika.
Bersambung...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 22 Episodes
Comments