Something new : Baylor University

Ana dan Martin berhasil mendarat dengan selamat setelah melakukan penerbangan dari Inggris menuju Texas. Kini, mereka sedang menunggu taksi. Lebih tepatnya taksi untuk Ana karena Martin akan dijemput oleh supir pribadinya menuju hotel.

"Apa kau yakin langsung pergi ke asramamu?" tanya Martin dengan ragu.

Ana mengangguk cepat. "Lagipula kelas pertama akan dimulai empat hari lagi, jadi lebih baik aku cepat menempati asrama kampusku."

"Baiklah kalau begitu." Martin memakai kacamata hitamnya saat supirnya sudah tiba. "Jika kau ingin berubah pikiran, menginaplah dulu di hotel. Lusa baru aku akan mengantarmu ke asrama."

Ana tersenyum dan menggelengkan kepalanya. "Tidak usah ..., kau sudah banyak membantuku."

Pria itu tertawa kecil. "Oke, baiklah."

Martin lumayan lama menatap Ana kemudian berkata, "kau tahu, aku sudah tertarik padamu sejak pertemuan pertama kita. Kau sungguh menggemaskan."

Sedangkan si gadis sudah memalingkan wajahnya yang kemerahan dari hadapan Martin karena menahan malu.

Melihat hal itu, Martin tersenyum sangat tipis. Ia kemudian masuk ke dalam mobilnya dan menurunkan kaca mobil untuk berbicara pada Ana. "Jaga dirimu baik-baik, Ana. Kau tidak tahu siapa saja orang jahat di sekitarmu."

Awalnya Ana sedikit merasa bingung. Tapi, gadis itu tak mau ambil pusing. Ia lalu bertanya, "kau akan menetap di kota Waco juga?"

"Aku akan ke kota Valley Mills bertemu pamanku. Ada banyak hal yang akan kuurus di sana juga di kota ini," jawab Martin.

Ana mengangguk paham. "Hati-hati."

Martin juga mengangguk bersamaan dengan mobilnya yang perlahan menjauh dari pandangan. Dan, tidak lama setelahnya taksi yang akan mengantar Ana telah sampai.

...----------------...

Saat sampai di gedung asrama, Ana hanya menaruh barang-barangnya di kamar dan langsung saja melenggang pergi untuk berkeliling karena merasa bosan. Bukannya istirahat setelah menempuh perjalanan jauh, gadis itu malah memilih untuk bersantai di salah satu bangku taman di Baylor sambil menikmati pemandangan di sekitarnya.

Rupanya tak hanya dirinya yang sudah menempati asrama-asrama di kampus ini karena Ana melihat banyak mahasiswi yang sedang berkumpul membentuk sebuah kelompok dan membahas sesuatu, banyak juga sekelompok lelaki muda yang sedang bermain layaknya anak kecil, ada yang sedang berolahraga di sekitar taman dan beberapa juga ada yang hanya berkeliling sambil bergosip, serta melakukan piknik.

Melihat itu semua seketika membuat Ana merasa suram. Gadis itu merindukan para sahabatnya, Soni, Alinskie, Grafel, dan Angelia. Dia hanya berharap bisa berkumpul lengkap bersama mereka, walaupun Ana tahu itu mustahil untuk dilakukan.

Ana memeluk dirinya sendiri yang dibalut kardigan rajut berwarna oranye, lalu menundukkan kepalanya.

Entah kenapa Ana merasa sangat sedih dan kesal secara bersamaan. Ia rindu dengan lelucon konyol Soni dan Grafel, rindu dengan tingkah random Alinskie, dan rindu dengan sikap dingin Angelia.

Tak lama kemudian, seseorang menepuk bahunya yang membuat Ana mengangkat kepalanya. Rupanya orang yang menepuk adalah seorang gadis seumurannya.

Tanpa dipersilahkan gadis tersebut duduk di samping Ana dan memperkenalkan dirinya. "Hai, aku Alyssa brook! Kau bisa memanggilku Alyssa atau Aly ... terserah padamu," seru gadis tersebut sambil tersenyum cerah pada Ana.

Ana membalas dengan senyuman kemudian berkata, "aku Analeigh faine, panggil saja Ana."

Alyssa mengangguk dengan antusias. "Baiklah, Ana."

Ana memperhatikan gadis di sampingnya. Alyssa mengingatkannya pada sosok sahabatnya, Alinskie. Mereka berdua sama-sama atraktif, hanya saja Alyssa lebih modis.

Alyssa mengenakan rok mini dengan turtleneck dipadukan dengan kardigan kebesaran, juga memakai topi baret yang membuatnya terlihat sangat imut. Ana jadi yakin bahwa Alyssa berasal dari keluarga kaya dan terpandang.

"Kenapa kau menemuiku?" tanya Ana dengan tampang polos.

Alyssa seketika tertawa. "Kenapa aku menemuimu? Tentu saja karena aku ingin berteman denganmu, Ana," jawab gadis ceria itu.

"Maksudku ..., apa kau tidak punya teman?" Seketika Ana melipat bibirnya ke dalam karena merasa bersalah telah menanyakan hal bodoh seperti itu.

Mata Alyssa berkeliling. "Itu!" Tunjuknya pada dua gadis kembar yang terlihat sedang berusaha menarik perhatian seorang lelaki tampan. "Mereka berdua temanku. Yang berambut pirang itu Chloe howard dan yang berambut hitam Beatrix howard."

Ana menatap kedua gadis kembar tersebut yang diakuinya memang sangat cantik dan modis seperti Alyssa. Hanya saja sedikit mengganggu Ana karena mereka terlihat centil.

Alyssa menatap Chloe dan Beatrix dengan jengah. "Sebenarnya mereka hanya memanfaatkan diriku. Tapi, aku tak peduli karena mereka aslinya orang baik."

"Maksudmu?" tanya Ana penasaran.

"Mereka mau berteman denganku agar bisa dekat dengan lelaki yang mereka incar. Dia kakakku, Alexander brook. Orang-orang memanggilnya Alex."

Ana baru paham, ternyata lelaki tampan yang digoda oleh gadis kembar tersebut merupakan kakak Alyssa. Pantas saja wajah Alexander dan Alyssa sekilas mirip menurut Ana.

Ana dan Alyssa pun kembali berbincang mengenai asal dan kehidupan mereka. Ana hanya menceritakan sedikit tentang asalnya, dan Alyssa menceritakan tentang asalnya yang berasal dari Chicago juga alasan ia dan Alexander masuk ke Baylor.

Alyssa dan Alexander terpaut satu tahun. Dan, ternyata Alexander punya banyak masalah dengan nilainya saat berkuliah di Chicago karena hanya fokus pada olahraga ketimbang mata pelajaran dalam jurusan yang ia ambil. Itulah yang membuatnya harus mengulang kembali dan terpaksa harus pindah ke universitas Baylor, juga harus masuk asrama atas perintah ayah mereka. Alyssa pun harus mengikuti sang kakak untuk masuk asrama dan Alyssa sama sekali tidak masalah dengan itu. Gadis tersebut benar-benar mensyukuri hidupnya.

...----------------...

Tok, tok, tok...!

Suara ketukan pintu di kamar Ana sukses membuat gadis itu harus mematikan musik di ponselnya, yang sedang memutar lagu 'Boulevard of Broken Dreams' dari band punk rock asal Amerika—Green day.

"Oh, hai, Alyssa." Ana tidak menyangka bahwa yang mengetuk pintu kamarnya adalah Alyssa. Ana kira dia akan kedatangan teman sekamarnya dan gadis itu berharap semoga dia saja yang menempati kamar ini.

Seperti yang diketahui, Alyssa itu selalu ceria dan antusias. "Ayo turun ke bawah untuk makan malam, Ana!"

Kedua gadis itu pun pergi menuju ruang makan asrama yang letaknya di samping gedung asrama mereka.

Sesampainya di sana, Ana dibuat takjub karena tempatnya yang sangat luas. Mungkin luasnya tiga kali lipat dari rumah Ana. Gadis itu juga mengira bahwa ruang makan laki-laki dan perempuan dipisah tapi ternyata tidak.

"Hey, Aly! Ayo ke sini. Aku sudah menyimpan tempat untukmu," seru Beatrix dari arah kanan.

"Ajak temanmu itu juga, Aly!" sahut Chloe sambil melambaikan tangan pada Ana, yang juga dibalas oleh Ana dengan kaku.

Menanggapi itu, Alyssa memutar kedua bola matanya dengan malas. "Ayo, Ana kita ke tempat mereka."

Keempat gadis itu pun makan malam sambil sesekali bergosip tentang banyak hal. Ana hanya jadi pendengarnya saja. Gadis itu akan ikut masuk ke dalam percakapan jika yang dibahas adalah topik film.

Ana dan Alyssa juga ternyata satu asrama, yaitu asrama Heritage house. Mereka berdua juga bahkan mengambil jurusan yang sama, yaitu jurusan manajemen SDM. Sedangkan si kembar berada di asrama yang berbeda, yaitu Texana house.

NOTE: Universitas baylor memiliki beberapa pilihan asrama, seperti : Earle hall, Heritage house, Kokernot hall, Penland hall, Texana house, dan masih banyak lagi.

Tiba-tiba Beatrix memukul meja dengan telapak tangannya yang membuat ketiga gadis itu tersentak karena merasa kaget. "Alex sudah datang! Sangat keren!" jerit Beatrix saat Alex dan kawan-kawannya memasuki ruang makan asrama.

Chloe ikut menjerit. "Kakakmu benar-benar tampan, Aly! Doakan aku agar bisa menjadi kekasihnya."

Beatrix menyenggol lengan Chloe dan mencibirnya.

"Heyyy!?" protes Chloe tak terima.

Alyssa mendengus kesal melihat perdebatan kecil si kembar di depannya. Dan, Ana masih saja tidak peduli sekitar dan kembali fokus pada bacaan komik online di ponselnya. Cerita favoritnya baru saja mengeluarkan episode baru.

"Aku lebih tertarik pada Dawson, dia lebih tampan. Oh, bahkan seratus kali lebih tampan dari kakakku," ungkap Alyssa.

Chloe mengangguk-anggukkan kepalanya. "Tidak bisa dipungkiri kalau dia juga tampan."

"Tapi tetap saja, Alex yang terbaik," ujar Beatrix.

"Setuju!" sahut Chloe.

Alyssa mengerutkan wajahnya. "Apa yang kalian lihat dari kakakku, sih. Selera kalian benar-benar aneh," ejek Alyssa, yang membuat si kembar menjadi kesal.

Ana yang mendengar perdebatan kecil mereka bertiga jadi ikut penasaran dan menaikkan kepalanya yang awalnya fokus pada ponsel.

Saat pandangan Ana berpendar mencari lelaki yang dibicarakan ketiga kawannya itu, ia tanpa sengaja menangkap sosok Richard. Kedua mata Ana melebar dan degup jantungnya berpacu dengan cepat. Seketika perasaan gadis itu bercampur aduk.

"Lihat, 'kan? Ana saja setuju denganku jika Dawson lebih tampan dan menarik," jelas Alyssa, mengikuti arah pandang Ana. Chloe dan Beatrix pun juga melakukan hal yang sama.

"Richard," gumam Ana, masih terus menatap tak percaya dengan apa yang dilihatnya.

Alyssa menatap Ana dengan bingung. "Richard? Dia bukan Richard, Ana. Tapi Dawson. Dawson el collins."

"Sepertinya kau ketinggalan banyak berita panas di kampus kita," ucap Beatrix yang diangguki setuju oleh Chloe.

Tiba-tiba Richard yang juga bernama Dawson itu beralih menatap Ana dan pandangan mereka berdua seketika bertemu. Beberapa detik kemudian lelaki itu tersenyum miring pada Ana dan seketika itu juga Ana merasa dejavu.

Bersambung...

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!