Terror

Seorang pria dengan setelan rapi ditemani dengan kedua pria kekar yang berbadan bongsor sedang menuju lift untuk sampai ke tujuan. Salah satu pria kekar atau sebut saja pengawal pribadi menekan tombol lift lalu mereka pun masuk. Pria bersetelan rapi tersebut dengan iris mata birunya yang mempesona sedang sibuk mengetik sesuatu di ponselnya. Garis wajahnya yang tegas terpahat sempurna layaknya sebuah patung dewa.

"Kalian hanya bertugas setengah hari untuk hari ini. Aku ingin menghabiskan waktu di rumah setelah meeting selesai."

"Baik, Pak Martin."

Pria yang disapa Martin itu pun tampak sedang menghubungi seseorang. "Ada yang ingin kuberitahu," ucapnya setelah panggilan tersambung.

"Begini...," Martin tampak memikirkan sesuatu. "Tidak kusangka jika akan bertemu Analeigh di jalan menuju perusahaan," ucapnya sambil menaikkan satu sudut bibirnya.

Sekarang dia sudah berada di depan ruangannya. Martin kemudian memberikan isyarat pada kedua pengawal pribadinya untuk pergi meninggalkan dia sendiri dan menikmati libur setengah hari yang sudah diberikan.

"Huh ... jadi selama ini kau sendiri tidak tahu rupa korbanmu? Apa kau sudah gila?" sarkas orang itu.

Martin tertawa kecil. "Aku tahu itu fakta yang konyol. Begini saja, kau akan menjalankan tugasmu ketika sudah kuperintahkan."

Orang yang di telepon menggeram. "Padahal sudah susah payah kucari tahu dia agar kau puas," ucap orang itu dengan menekankan kata 'puas' di akhir kalimat.

Martin terdiam sesaat kemudian tersenyum penuh arti. "Aku hanya ingin mengetahui lebih banyak dulu tentang dirinya." Setelah itu Martin memutuskan panggilan mereka.

...----------------...

"Sebenarnya apa yang membuatmu senyum-senyum sejak tadi? Kau sedang kasmaran lagi ya." Loi merasa risih sendiri karena memperhatikan adiknya yang tersenyum seperti orang gila.

08.28 p.m

Ana melihat jam dinding yang terpajang di dekat lemari pendingin. Sudah waktunya makan malam ternyata, dan dari tadi dirinya hanya melamun di meja makan sambil menopang dagu. Ana merasa kasihan pada kakaknya. Kesusahan sendiri menyiapkan makan malam. Tapi sesekali tidak apa, karena Loi memang suka membuatnya terpelatuk juga.

TUK!

Loi memukul dahi mulus adiknya itu karena kesal dari tadi ucapannya hanya dianggap angin lewat.

"Tsk ... kau ada masalah apa, sih," kata Ana kesal, "ngomong-ngomong, tadi siang aku bertemu pria tampan loh hi-hi." Raut wajah Ana yang tadinya kesal kini menjadi sumringah.

"Lalu?" Loi malah terlihat tak peduli sama sekali.

Tanpa menghiraukan kakaknya, Ana kembali bercerita. "Dia lebih tua enam tahun dan sepertinya sudah berkarir. Selain itu dia sangat karismatik dan punya daya tarik yang manis," ungkap Ana dengan kedua tangan tertaut sambil memasang ekspresi kagum.

"Lebih baik kita mulai makan malam. Telingaku sudah geli mendengar celotehan manismu itu."

Ana mengibaskan tangannya di depan wajah malas lalu kedua bersaudari itu makan dengan tenang sambil menyelami pemikiran masing-masing.

Setelah makan malam selesai, Ana membantu kakaknya membereskan meja makan hingga bersih.

"Kau harus hati-hati jika berpacaran dengan pria tampan yang kau maksud itu. Aku hanya menasihatimu, loh. Mengingat kau ini labil dan mudah dibodohi," ucap Loi tiba-tiba tanpa merasa bersalah saat menuntaskan cucian piring kotor.

Mendengar hal itu Ana lalu menghentakkan kakinya dan berbalik. "Hey ... kami baru berkenalan. Dan apa itu tadi? Aku mudah dibodohi? Tega sekali kau mengatakan itu pada adikmu yang lucu ini."

Setelah selesai mencuci piring, Loi berbalik serius menatap Ana. "Kau benar-benar sudah melupakan bajingan itu?"

Ana yang sejak tadi menatap ponselnya menoleh dengan malas. Ia merotasikan bola matanya lalu menjawab dengan nada cuek. "Untuk apa mengingat dia lagi? Dia saja tega padaku, masa aku harus buang-buang waktu mengasihani takdir."

Loi terkikik geli sambil menutup mulutnya dan berkacak pinggang di depan Ana. "Baiklah-baiklah. Aku mengerti, nyonya manis ... aha-ha-ha."

"Hahhh, terserah kau saja."

...----------------...

Saat ini sekolah sudah jam pulang. Tadinya para sahabat Ana ingin mengajaknya pulang bersama tetapi Ana memilih untuk tinggal dan menyuruh mereka untuk pulang duluan. Itu karena Ana masih harus menyelesaikan tugas-tugas tambahan dari guru biologinya, dikarenakan tadi pagi Ana lupa membawa buku tugasnya.

Setelah selesai, Ana segera membereskan semua buku-bukunya lalu pergi ke kafetaria membeli minuman favoritnya. Gadis itu juga menyempatkan diri pergi ke atap sekolah. "Sepi sekali ... sepertinya anak-anak yang biasa main ke sini sudah pulang semua," katanya sambil meregangkan leher ke kiri dan kanan.

Ana saat ini tengah menatap langit luas ditemani sekotak jus apel di atap sekolah. Ia sedang membayangkan bagaimana nasib masa depannya nanti setelah lulus mengikuti semua ujian dan selesai menempuh pendidikan.

Tak terasa lagi ujian tingkat lanjut akan dilaksanakan. Berbagai pesta anak remaja menyambut akhir tahun sekolah juga akan datang. Ingin sekali rasanya Ana menjadi anak kecil yang tak pernah beranjak dewasa agar dirinya bisa fokus dengan kebahagiaan dan tidak terlibat kisah asmara menyakitkan dengan Richard.

Ana menutup matanya dan menikmati terpaan angin di sore hari. Semilir angin membuat anak rambut Ana sedikit terjuntai-juntai. Mendadak Ana merindukan sosok Richard. Biasanya mereka bertemu di sini dan belajar bersama. Banyak kenangan manis yang tersimpan di tempat ini.

Ana jadi penasaran apakah di Texas lelaki itu bahagia atau tidak. 'Mungkin dia juga sudah punya pengganti.' Ana segera menggelengkan kepalanya karena memikirkan hal itu. Sifat labilnya mulai lagi. Sudah cukup, Richard adalah masa lalu. Ia harus melupakannya.

Setelah selesai dengan urusannya di atap sekolah, Ana segera turun ke bawah karena melihat hari juga sudah semakin gelap. Bisa-bisa ia diomeli kakaknya karena izin kerja tugasnya sangat lama.

Saat tengah berjalan di lorong sekolah, tiba-tiba saja ada yang melemparinya dengan batu bata merah dengan sangat kuat hingga dahinya berdarah. Saking kuatnya lemparan itu, batu bata merah yang mengenai dahi Ana sampai hancur terbelah dua.

'Shhh, apa lagi ini?!' gerutu Ana dalam hati. Gadis itu meremas kepalanya yang tiba-tiba berdenyut kencang hingga ia merasakan pusing hebat.

Ana lalu berjongkok pelan dan mengambil secarik kertas kusam yang diikat dengan tali rami. Ia menarik dan membuka kertas itu lalu membacanya.

'KAU TAK PANTAS UNTUK HIDUP!'

Spontan Ana membulatkan kedua matanya. Dia segera mengedarkan pandangannya ke seluruh sisi lorong dan tidak menemukan siapapun di sini.

Entah pelakunya sudah pergi atau tidak Ana tidak peduli. Yang ia khawatirkan sekarang ialah; siapa yang mengirimkan teror ini? Apakah orang itu adalah orang yang sama dengan peneror yang ada di desa Bibury? Jika iya, mengapa orang gila itu nekat mengikutinya sampai sejauh ini?

Sungguh nasib yang buruk sekali.

Saat sedang berjalan dengan sempoyongan menuju parkiran tempat Loi menunggunya, tak sengaja Ana melihat seseorang dibalik pohon yang berada di taman sekolahnya. Orang itu seperti sedang mengawasinya bahkan menatapnya dengan sangat intens. Seketika tatapan mereka bertemu dan saat itu juga Ana merasa déjà vu. Orang itu menggunakan pakaian yang sama persis seperti yang waktu itu ia lihat di toko kue.

Mendadak rasa trauma menyerang dirinya. Tidak salah lagi, mereka adalah orang yang sama. Tanpa berlama-lama, Ana langsung berlari. Gadis itu mengerahkan semua sisa tenaga yang dia miliki. Dia tidak mau mati di sini, dikuliti oleh orang gila itu.

Tiga puluh menit sebelumnya...

Loi sudah merasa kesal karena waktu yang Ana katakan untuk mengerjakan tugas sudah lewat, bahkan tidak ada tanda-tanda adiknya itu akan datang.

"Anak ini kenapa lama sekali, sih. Kalau pulang duluan seharusnya dia menghubungiku terlebih dahulu." Loi memijit keningnya dengan heran.

Tak berselang lama, Ana datang dengan napas yang terengah-engah sambil memukul kaca mobil Loi. "Cepat buka pintunya, Kak!"

Jantung Loi seketika mau loncat dari tempatnya. Bagaimana tidak, dari tadi ditunggu giliran muncul tampilan kacau seperti habis dikejar monster.

Ana terlihat seperti habis mandi karena keringat yang mencucur begitu banyak. Bulir-bulir keringat yang bercampur dengan darah mengalir dari kening, pipi, hingga dagunya.

Loi buru-buru membuka pintu mobilnya.

"Orang gila itu menerorku lagi, kita harus pergi dari sini!" teriak Ana dengan suara bergetar dan bahu yang naik turun. Gadis malang itu jadi kesulitan bernapas setelah berlari.

Rahang Loi jatuh dan membulatkan kedua matanya. "Teror lagi?! Ya ampun ada apa ini sebenarnya."

Tanpa menunggu waktu lagi, Loi langsung saja menancap gas dan meninggalkan area sekolah. Yang terpenting sekarang adalah Ana selamat lengkap dengan nyawa dan organ tubuh yang lengkap. Walaupun nanti dirinya yakin teror ini tidak akan selesai begitu saja sampai mereka tahu apa penyebabnya. Itupun jika mereka tahu cara menghentikannya.

Setelah mobil Loi benar-benar hilang dari area sekolah, sosok lelaki yang merupakan pelaku atas teror yang selama ini menimpa Ana keluar dari tempatnya, lalu terlihat wajah yang tertutupi oleh masker. Matanya menyipit dan kedua sisi matanya mengkerut. Dia tersenyum.

Bersambung...

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!