Richard and the Events before the Incident

"Nenek Josephine telah tiada, Ana. Beliau ditemukan tewas dalam keadaan tergantung tali di ruang keluarga. Menurut kepolisian, Nenek Josephine bunuh diri dengan cara gantung diri."

"Aku tidak tahu kenapa bisa senekat itu. Tapi, menurut tim investigasi Nenek Josephine ingin lari dari sesuatu. Sesuatu yang lampau dan membuatnya tidak tenang. Ayah dan Ibu juga memutuskan akan pindah dan menetap di desa Bibury, sesuai wasiat yang ditinggalkan sebelum Beliau pergi."

"Oh, ya. Kau juga punya surat darinya. Akan 'ku kirimkan surat itu ke asramamu jika kau sudah tiba di sana."

Pernyataan Loi di telepon tiga puluh menit yang lalu membuat diri Ana masih merasa lemas. Jantungnya serasa ditarik paksa untuk keluar.

Gadis itu membasuh wajahnya yang sembab karena menangis. Kemudian, mematikan keran air dan berlalu ke ruang tunggu penumpang. Saat ini dirinya dan Martin sedang menunggu penerbangan selanjutnya setelah melakukan transit dari London.

"Sudah setengah jam lebih kau di toilet," ujar Martin saat melihat bayangan Ana muncul dari pintu toilet umum wanita. "Astaga! Ada apa denganmu?!"

Ana berjalan dan duduk di samping pria berkaos hijau lengan pendek itu. "Aku mendapat kabar bahwa nenekku telah tiada," ucapnya dengan lirih sambil memaksakan senyum.

Martin mengernyitkan wajahnya. "Kapan?"

"Kemarin. Aku baru diberitahu keluargaku," jawab Ana.

Martin mengusap punggung Ana pelan, berniat untuk menghiburnya walau sedikit. "Kenapa bisa Beliau meninggal secara tiba-tiba?"

Air mata kembali memenuhi mata Ana. "Dia bunuh diri. A-aku tidak tahu kenapa dia melakukan hal itu," terang gadis itu dengan tersendat-sendat.

"Aku turut berduka cita," ungkap Martin.

Martin lalu menyodorkan toast sandwich yang tadi dibelinya pada Ana. "Ini, makanlah. Kau belum sarapan, 'kan."

"Terima kasih," balas Ana sambil menerima toast sandwich tersebut.

...----------------...

Hujan baru saja reda digantikan dengan kabut dingin yang menutupi hampir sebagian wilayah Waco, Texas. Padahal ini adalah bulan juli, bulan di mana Texas memasuki musim panas. Tapi, hari ini hujan deras datang mengguyur salah satu kota yang ada di McLennan County tersebut.

Seorang lelaki muda bertubuh tinggi dan atletis tampak sedang membuat secangkir cokelat hangat. Setelah selesai, lelaki itu pergi menuju teras belakang rumahnya dan menikmati secangkir cokelat hangat yang ia buat tadi.

Semilir angin membuat surai cokelat keemasan lelaki tersebut menjadi sedikit berantakan. Bekas air hujan yang memenuhi lantai kayu teras membuat telapak kakinya terasa dingin. Mata birunya yang indah dan bintik-bintik cokelat yang ada di pipinya membuat ia terlihat begitu mempesona.

Ya ..., sosok lelaki muda tersebut tidak lain dan tidak bukan adalah Richard. Richardo Piriyef.

Mata biru Richard menatap lurus jauh ke depan, pikirannya saat ini tengah terombang-ambing.

Entah kenapa, semenjak dirinya terbangun di dalam ruang laboratorium milik perusahaan M.A.M, memori kepalanya selalu menampilkan hal-hal yang begitu janggal. Ia seperti mengalami amnesia, sebagian memorinya seperti dipisah dan diganti dengan memori baru. Entah apa yang terjadi pada dirinya sebelum terbangun di laboratorium itu.

•••

Seorang pria tua memegang kedua bahu Richard. "Kau harus sadar bahwa Analeigh adalah pelaku dari pembunuhan adikmu, yang membuatmu merasa menderita selama ini."

•••

Ana mengusap lengan Richard. "Kenapa pria bermasker itu terus menatapmu seperti itu, Chard? Apa kau baik-baik saja?"

•••

"Akhirnya kau sadar. Bagaimana perasaanmu?"

"Pak, dia sudah sadar. Sepertinya ini berhasil!"

•••

"Argghhh!!" Richard berteriak frustrasi sembari mencengkeram kuat rambut kepalanya.

Kelopak matanya terkulai. Semuanya terus berputar dengan acak di dalam kepalanya. Orang-orang yang hadir dalam ingatannya hanya seperti sebuah siluet. Ia benar-benar dibuat bungkam tentang kehidupannya yang sebenarnya.

Drrt ... Drrtt ....

Suara deringan ponsel mengalihkan perhatian Richard. Lelaki itu segera masuk ke dalam rumah dan memeriksa deringan ponsel yang ternyata merupakan panggilan masuk dari Carnolius.

Sudut bibirnya mencibir. Malas sekali rasanya berurusan dengan bocah sok berperawakan jenius itu.

Walaupun Carnolius lebih tua sepuluh tahun darinya, tapi tingkah konyol dan menyebalkan orang itu membuat Richard semakin tidak yakin jika Carnolius merupakan seorang profesor muda.

Richard pertama kali bertemu dengan Carnolius saat baru terbangun di laboratorium. Dan, orang itu langsung mengenalkan dirinya sebagai ayah angkat dari dia. Mengingat hal itu membuat Richard ingin muntah.

Drrt ... Drrtt ....

Panggilan masuk dari Carnolius masuk lagi. Kali ini Richard mengangkatnya.

"Halo ..., ada apa?" tanyanya dengan malas.

"Hei kau ini benar-benar, ya! Ingatkah kau bahwa aku itu ayahmu?!"

"Gila sekali jika aku menganggapmu sebagai ayahku! Lagipula aku ini masih punya sosok ayah, hanya saja aku lupa bagaimana rupanya."

"Terserahlah ..., ingatkan saja aku untuk memenuhi kebutuhanmu, karena yang memberimu semua fasilitas itu adalah aku!"

"Oke."

Terdengar dengusan kesal dari Carnolius.

"Aku sedang dalam perjalanan menuju rumahmu, ada hal penting yang ingin kusampaikan."

"Baiklah aku tidak keluar rumah."

"Aku berangkat dari kota Valley Mills. Sebentar lagi aku akan sampai."

Dan panggilan pun terputus.

...----------------...

Carnolius menaruh kacamata hitamnya di atas meja ruang keluarga. "Sejak kapan perjalanan dari kota Valley Mills ke kota Waco macet? Biasanya hanya memakan waktu sekitar dua puluh tujuh menit saja."

"Mana aku tahu," tukas Richard.

Carnolius mendengus kesal. "Bisa tidak berikan aku alasan yang logis?"

"Itu sudah logis," cerca Richard. Lelaki muda itu mengangkat alisnya. "Jadi, apa yang ingin kau bicarakan?"

Carnolius tampak memandang langit-langit rumah Richard. "Kau sudah dapat info mengenai Analeigh, bukan?"

"Sudah. Untuk itulah aku tinggal di sini."

Richard baru saja pindah ke kota Waco di awal bulan juli, sesuai rencana yang telah diatur Martin bersama pamannya. Sedangkan Carnolius lebih dulu tiba di kota Valley Mills dari awal bulan februari dengan pamannya Martin.

Carnolius menyilangkan kedua tangannya di depan dada. "Ya, benar. Karena kau akan berkuliah di universitas yang sama dengan Analeigh. Universitas Baylor."

"Aku sudah mendapat info jika Analeigh akan masuk di fall semester. Kau juga akan masuk saat fall semester," lanjut Carnolius.

Richard memicingkan matanya. "Apa aku akan menjadi mata-mata kalian kali ini?

"Tentu saja tidak, itu sudah pasaran." Carnolius menatap Richard dengan serius. "Kau harus mendekatinya. Kalau perlu, buat dia tidak betah berada di sana."

Sudut mulut Richard tanpa sadar muncul. "Sepertinya akan menyenangkan."

"Kau juga akan berganti identitas."

Carnolius memberikan beberapa dokumen dan kartu tanda pengenal serta beberapa jenis kartu identitas yang mungkin akan diperlukan oleh Richard nantinya.

Richard mengambil salah satu kartu identitas tersebut dan membaca nama yang terpampang di atasnya.

"Dawson el collins?" tanya Richard memastikan.

Carnolius mengangguk sebagai jawaban.

"Asalku berasal dari kota Dallas?" Richard bertanya lagi.

"Benar. Namamu akan berganti dari Richardo piriyef menjadi Dawson el collins, lalu asalmu yang awalnya dari desa Bibury, Inggris menjadi kota Dallas, Texas. Kuharap kau memperhatikan itu dengan baik," jelas Carnolius panjang lebar.

"Lalu bagaimana dengan aksen british yang kumiliki? Bukankah itu terlalu mencurigakan untuk seorang lelaki yang lahir dan besar di bagian Amerika?" pungkas Richard.

"Aku pikir kau cukup jenius mengatasi masalah yang satu ini," jelas Carnolius yang sudah memejamkan matanya bersiap untuk tidur sejenak.

Sedangkan Richard malah merotasikan bola matanya karena kesal dengan sikap seenaknya Carnolius.

Bersambung...

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!