Ana segera pergi meninggalkan ruang makan asrama dengan tergesa-gesa. Gadis itu bahkan tak peduli dengan ketiga temannya yang terus memanggil namanya. Yang Ana pedulikan saat ini hanyalah pergi jauh hingga tak melihat sosok Richard.
Ana berjalan cepat memasuki sebuah koridor panjang. Hening pun dipecahkan langkahnya yang berderap menggema. Ia akan pergi menuju gedung asramanya yang letaknya ada di sebelah ruang makan asrama. Situasi saat ini pun juga sangat sunyi, dikarenakan semua orang berkumpul untuk makan malam.
Sesampainya di Heritage house, Ana segera menaiki tangga, kamarnya terletak di lantai dua asrama ini. Setelah sampai, gadis itu mengunci kamarnya dari dalam dan merebahkan tubuh letihnya di atas tempat tidur tunggal.
Tok, tok, tok...!
Suara ketukan pintu membuat diri Ana terbangun dari tidurnya. Saat matanya melirik ke arah jam, gadis itu baru sadar ternyata dia sempat ketiduran selama beberapa menit. Ia lalu segera pergi membuka pintu kamarnya.
"Mr. Rex tadi menitipkan ini padaku," kata Penelope sambil memberikan sebuah amplop putih pada Ana. Penelope Grites, kamarnya tepat berada di depan kamar Ana, Alyssa yang memberitahunya.
Ana tersenyum tipis sambil menerima amplop itu, 'Elois Benessa' tertera di bagian nama pengirim. "Terima kasih, Penelope."
Gadis bertubuh kecil dengan rambut merah tersebut mengangguk. "Tidak masalah. Tapi, siapa yang mau mengirim surat malam-malam begini?" tanya Penelope penasaran.
"Ini kakakku. Dia pasti mengirimnya di siang hari dari Inggris, dan baru tiba malam ini," jawab Ana. Penelope hanya ber-oh ria lalu pamit kembali ke kamarnya.
...----------------...
Sudah sejak tadi Ana mengembuskan napasnya berkali-kali. Ia merasa bimbang dengan isi surat yang dikirimkan Loi untuknya. Tentu saja, karena suratnya ditulis langsung oleh mendiang neneknya.
Namun pada akhirnya, Ana berhasil memantapkan diri untuk membaca surat tersebut. Dirobeknya amplop putih yang melapisi secarik kertas, lalu mulai membacanya dengan serius.
Di bagian pertama berisi tentang bagaimana rasa sayang Nenek Josephine terhadap Ana. Gadis itu tersenyum tulus selama membacanya. Nenek Josephine juga menulis kenangan indah yang sudah dilalui sekaligus meminta maaf pada Ana karena sudah merahasiakan banyak hal. Ana menggeleng pelan. Air mata gadis itu sudah mengalir tanpa sadar.
Namun, rasa takut seketika terlukis di wajah Ana saat membaca bagian terakhir surat. Isinya mengatakan; 'Tolong berhati-hatilah pada orang yang bernama Martin ajax morpheus dan Frederico bill, mereka berdua berambisi untuk menghancurkanmu, Nak. Dan, semua teror yang kau alami, itu semua berhubungan dengan mereka.'
Malam ini, adalah sebuah mimpi buruk bagi Ana. Ia yakin tidak akan bisa tidur dengan nyenyak setelah dua hal buruk menimpanya sekaligus.
Pertama, Ana bertemu dengan Richard, mantan pacarnya yang masih tidak diketahui oleh Ana atas dasar apa lelaki itu mengganti identitasnya. Dan kedua, peringatan dari neneknya untuk berhati-hati pada Martin. Pria misterius yang sudah membuatnya jatuh cinta.
...----------------...
Tidak terasa, sudah satu bulan Ana berada di Universitas Baylor dan tinggal di asrama bersama ketiga teman barunya. Aktivitas perkuliahan pun sudah berjalan seperti biasa. Ana, Alyssa, Chloe, dan Beatrix juga sudah disibukkan dengan mata kuliah sesuai dengan jurusan masing-masing. Keempat gadis tersebut juga semakin akrab, walau terkadang Ana masih sering merasa risih pada sikap centil si kembar Howard setiap berhadapan dengan laki-laki tampan di kampus ini.
Saat ini mereka sedang berada di ruang makan asrama untuk makan siang. Sebenarnya bisa saja mereka memilih makan siang di kafetaria kampus. Tapi, makan di ruang makan asrama jauh lebih praktis. Selain gratis dan menghemat uang saku, makanan yang disediakan juga sangat enak.
Berbeda dengan ketiga temannya yang selama satu bulan ini selalu ceria dan bersemangat, Ana malah semakin suram dan tak bersemangat sama sekali dalam melakukan segala aktivitasnya. Pemicu terbesarnya adalah Richard, yang sampai sekarang masih membuat Ana mati penasaran kenapa laki-laki itu mengganti identitasnya dan apa maksud dan tujuannya berada di sini menghantui dirinya.
Lebih gilanya lagi, Ana sampai tak melihat sosok asli Richard yang dia kenal selama ini. Lelaki itu berubah menjadi sosok polos yang diam-diam memikat hati ketiga temannya. Padahal Richard yang dia kenal dulu adalah orang yang humoris dan selalu nekat.
Ana juga sampai dibuat bingung dengan aksennya yang berubah drastis. Benar-benar mendalami peran sebagai orang Amerika. Padahal kenyataannya, Richard adalah orang Inggris tulen.
Tiba-tiba Chloe menepuk bahu Ana yang sejak tadi sedang melamun. "Sejak hari pertama kau selalu terlihat stres," ungkapnya.
Ana sedikit tersontak lalu menjawab, "aku hanya sedang rindu dengan keluargaku." Sebenarnya Ana tidak sepenuhnya berbohong. Gadis itu memang rindu dengan keluarganya. Terakhir kali ia menelepon Laetitia dan Loi adalah seminggu yang lalu. Kemarin malam pun ia juga sempat melakukan panggilan video dengan Grafel, itu jadi perbincangan terhangat dan terlama mereka.
Satu alis Beatrix terangkat. "Benarkah? Kurasa tidak begitu. Kau seperti ini sejak melihat Dawson di ruang makan asrama malam itu," ujarnya yang membuat Ana seketika terdiam.
Kemudian terdengar helaan napas dari Alyssa. "Sudahlah, Beatrix. Jangan memojokkannya seperti itu." Alyssa lalu merangkul Ana dan tersenyum manis ke arahnya. "Kapan pun kau siap, berceritalah pada kami," ucapnya yang diangguki oleh Ana.
Tak lama kemudian, Dawson terlihat menghampiri meja mereka. Seperti dugaan, Chloe dan Beatrix segera merapikan penampilan mereka agar bisa menarik perhatian Dawson. Melihat hal itu, Alyssa dan Ana hanya menatap mereka dengan skeptis.
"Hai, Girls. Boleh aku pinjam teman kalian sebentar?" ucap Dawson tersenyum sambil melirik Ana dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Tentu saja boleh," sahut Chloe dan Beatrix bersamaan.
Ana balas menatap Dawson dengan tajam. "Sebenarnya apa maumu, Richard?"
Ana sudah berada di ambang batas kesabarannya. Lelaki di depannya ini benar-benar munafik, selalu seperti itu. Saat di depan orang lain, dia bersikap sangat baik. Tetapi, saat berhadapan dengan Ana, yang ada hanya ancaman dan gangguan.
Contohnya seperti kemarin, saat Dawson dan Alex bergabung dengan kawanan Ana untuk membantu mengerjakan tugas praktik Chloe. Di situ Dawson terlihat sangat bijak dan pendiam, tidak lupa dengan senyuman khas yang selalu terpatri di wajahnya setiap kali dia berbicara.
Sedangkan saat berpapasan dengan Ana, gadis itu malah diseret ke belakang taman kampus, hanya untuk diberikan ancaman 'mati' yang sudah terdengar basi di telinga Ana. Juga hanya pada Ana saja Dawson memberikan tatapan membunuh, dan itu membuat Ana sudah sangat muak.
Alyssa yang merasa hawa di sekitarnya mulai panas segera menengahi mereka. "Teman-teman, kurasa ini tidak perlu diperpanjang. Dawson dan Ana, kalian bisa membicarakan masalah kalian di sini. Aku dan si kembar ini juga akan pergi ke gedung asrama."
"Mengapa kau selalu dipanggil Richard oleh Ana?" tanya Chloe sambil menunggu Alyssa membereskan barang-barang mereka.
"Mungkin karena Ana punya sosok masa lalu yang bernama Richard, dan orang itu mirip aku?" jawab Dawson yang seperti bertanya balik.
Saat Chloe ingin berbicara lagi, Alyssa segera menariknya beserta dengan Beatrix agar pergi meninggalkan Dawson berdua dengan Ana.
Saat itu juga, Dawson mengubah ekspresi wajahnya yang awalnya selalu tersenyum manis, menjadi sangat datar dengan tatapan tajam yang selalu siap melahap Ana kapan saja.
"Aku tidak mengerti dengan dirimu. Kau ini siapa?" tanya Ana dengan wajah yang jelas menggambarkan kekecewaan mendalam.
Dawson tersenyum miring. Baginya, melihat Ana di bawah tekanan adalah sesuatu yang menyenangkan.
"Aku ini malaikat mautmu."
"Kau memang sudah gila, Richard."
"Hmm, mungkin. Richard siapa?"
"Berhentilah berpura-pura bodoh! Kau kemanakan otakmu itu!?"
Kali ini Dawson mengkerutkan wajahnya. Ana jadi dibuat heran dengan perubahan ekspresi lelaki itu yang terlihat ... bingung.
"Sepertinya kau lah yang bodoh, Ana. Mungkin kau terlalu dimabuk cinta oleh si Richard-Richard itu hingga melampiaskannya padaku. Ya, memang aku sempat dipanggil Richard oleh pria culun yang membiayai kehidupanku. Tapi, aku sama sekali tidak mengerti dengan pemikiran anehmu itu."
'Setelah semua yang terjadi, tidak mungkin dia amnesia, pasti ada sesuatu yang tidak beres. Aku harus memancingnya,' batin Ana.
"Dawson...," panggil Ana.
Dawson tersenyum sumringah yang malah dianggap mengerikan oleh Ana. "Akhirnya kau waras juga." Lelaki itu terkikik geli.
"Apa Martin itu ayahmu?" tanya Ana.
Sebenarnya Ana sudah tahu itu adalah pertanyaan yang bodoh. Karena ia sendiri sudah pernah bertemu dengan keluarga besar Richard. Namun, ini hanyalah pertanyaan jebakan.
Tepat sasaran. Ana berhasil karena Dawson langsung tertawa kencang. "Apa kau bilang? Martin ayahku? Pertanyaan macam apa itu, aku tidak sudi menjadi anaknya."
'Sudah kuduga ada yang tidak beres. Dari jawabannya sangat jelas menunjukkan bahwa Richard memang mengenal Martin, mereka berdua pasti berhubungan dengan peneroran yang aku alami,' batin Ana lagi.
Dengan segera Ana berlalu dari hadapan Dawson. Kali ini, bagaimanapun caranya dia harus bisa tahu di mana tempat Martin dan Frederico agar semuanya jelas terungkap.
"Hey, kau mau pergi ke mana! Aku masih belum puas mengganggumu!" teriak Dawson saat melihat Ana tiba-tiba berlari meninggalkannya.
Sedangkan Ana segera pergi menuju ruangan kepala asrama untuk meminta ijin keluar. Ana akan beralasan untuk menjenguk bibinya yang sedang sakit agar diijinkan untuk keluar. Karena malam ini, gadis itu akan pergi ke rumah Dawson secara diam-diam.
Keberuntungan berada di pihak Ana kali ini, karena kakak dari Alyssa yaitu Alexander berteman akrab dengan Dawson. Jadi, akan sangat mudah mendapat informasi rumah lelaki itu di kota ini.
Bersambung...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 22 Episodes
Comments