Stuck in Confusion

Ana terbangun dari mimpi yang hampir merenggut sebagian nyawanya. Kini tampilannya urak-urakan dengan rambut lepek nan berantakan, bagai rambut singa. Sekujur tubuhnya berkeringat seperti habis mandi, serta tampilan wajah yang kacau. Buku sekolah juga sudah tercecer sana sini akibat tendangan darinya.

Ana merotasikan bola matanya lalu mengembuskan napas kasar. Ia merasa pusing sekali melihat tampilannya yang seperti gembel di balkon kamarnya.

Saat sedang membereskan buku sekolah, tiba-tiba sebuah botol kaca jatuh dari saku celana Ana dan menggelinding di lantai. Gadis itu bingung sebentar sebelum membulatkan kedua bola matanya dengan mulut yang terbuka. "I-ini yang ada di mimpiku semalam. Kenapa bisa sampai ke sini?!"

Ana menutup mulutnya dengan kedua telapak tangan. Perasaan gadis itu sedang terguncang. Ini lebih buruk dibanding kabar kematian Dolly, burung tetangganya di seberang.

Tidak salah lagi, mimpinya semalam bukan sembarang mimpi. Itu memberikannya sebuah petunjuk.

...----------------...

Sekarang ini Ana sedang berada di depan meja rias sambil mengeringkan rambutnya. Selepas mandi tadi, tubuh dan kepalanya sudah lebih segar.

Pandangannya kosong ke depan kaca. Namun, pikirannya berkelana. Setelah mengeringkan rambutnya, Ana segera mengambil botol kaca yang atasnya sudah tak berbentuk itu. Memeriksanya dan ternyata kode nomor dengan lambang tornado masih terpampang jelas sesuai dengan mimpinya semalam.

Perasaan gadis itu sampai sekarang masih terguncang. Bagaimana tidak, benda yang ada di bawah alam mimpinya bisa terbawa hingga ke dunia nyata.

Nasib baik sedang berpegang pada Ana saat ini karena hari ini dia libur sekolah. Jadi, dirinya bisa dengan leluasa menyelidiki botol mencurigakan yang terbawa itu.

Pertama-tama, Ana akan menghubungi Carnolius untuk menanyakan sedikit hal tentang Martin.

"Halo, selamat pagi. Apa aku sedang mengganggu?" tanya Ana sesaat saat panggilan berhasil terhubung.

"Pagi juga ... ah, tidak. Aku sedang libur," jawab Carnolius seberang sana.

"Jadi begitu ...."

"Jadi apa yang ingin kau bicarakan? Sepertinya ada hal yang serius." Carnolius tertawa kecil.

Ana sedikit merasa lega karena Carnolius tak secanggung Martin saat diajak mengobrol. Orangnya terkesan santai.

"Tak begitu serius. Aku ingin menagih tawaran bantuan yang diberikan. Aku ... ingin tahu beberapa hal tentang Martin," jawab Ana sambil tertawa canggung.

"Ya, tanyakan saja. Aku berpihak padamu, Ana."

Sebelah alis Ana terangkat saat mendengar kata berpihak dari mulut Carnolius. Tapi ia tak ambil pusing. Dirinya hanya menganggap itu merupakan bentuk pembelaan Carnolius agar dirinya percaya pada pria ini.

"Baik. Aku ingin bertanya apa Martin punya keponakan atau adik yang seperti robot?"

Spontan di seberang sana Carnolius tertawa terbahak-bahak. Lalu tak lama terdengar helaan napas dari pria itu. "Aku tidak terlalu tahu mengenai keluarganya. Tapi, setahuku dia pernah bilang kalau punya anak angkat yang kaku tapi sangat jenius. Cuman aku tidak tahu anak angkatnya tinggal di mana." Nada suara Carnolius berubah serius.

"Lalu menurutmu ... Martin itu orang yang seperti apa?" Ana terkekeh geli dengan pertanyaannya sendiri. Terlihat sekali kalau dia sedang tertarik pada Martin.

"Entahlah, Ana. Menurutku dia adalah manusia yang sangat misterius. Tapi yang pasti, dia adalah tipe orang yang tidak ingin rencananya gagal sedikit pun. Dia akan terus melakukan apa yang ingin dia capai walau itu merenggut nyawa orang lain. Kejam, tapi itulah dirinya. Meski begitu, dia adalah manusia yang sopan dan mudah bergaul. Begitulah pandanganku terhadapnya."

Ana tak menyangka jika Martin memiliki sisi buruknya tersendiri yang seperti itu.

"Baiklah, terima kasih atas waktu dan bantuannya. Sepertinya hanya itu yang ingin kutanyakan padamu."

"Sama-sama. Jika kau butuh bantuan, jangan sungkan-sungkan ya."

"Tentu," jawab Ana mengakhiri panggilan.

...----------------...

Ana meregangkan tulang lehernya kemudian menarik kursi tempatnya duduk ke dalam meja, yang meninggalkan suara deritan. Dirinya akan memulai aksi untuk menyelidiki sang botol kaca tadi.

Dia menulis kode angka yang ada di botol pada secarik kertas. Saat ini otaknya sedang berpikir keras. Jika ingin memulai dari kode angka sepertinya dia tidak bisa memecahkannya. Karena sejujurnya, iq yang dia miliki tidak tinggi dan dia tidak begitu pandai dalam pelajaran matematika.

"Mari kita mulai dari lambang tornado imut ini," ucap gadis itu dengan senyum simpul di wajahnya.

Tornado ....

Kata itu terus terngiang di kepala Ana. Yang dia tahu, tornado adalah sebuah badai angin. Angin tornado. 'Lalu apa hubungan lambang tornado ini?' Ana terus memikirkan hal tersebut hingga sebuah ide terlintas di pikirannya.

Ana mulai mengetikkan sesuatu di laptopnya dan mencari tahu bahwa badai tornado paling sering terjadi di bagian mana. Layar laptopnya menampilkan Amerika serikat sebagai jawaban.

'Tapi Amerika serikat itu luas,' pikirnya lagi. Senyumnya memudar dan dia mendengus. Gadis itu butuh yang lebih spesifik agar bisa memecahkan kode angkanya.

Saat sedang mencari tahu, muncul sebuah artikel yang mengatakan bahwa; Texas merupakan negara bagian yang paling banyak dilanda tornado tiap tahunnya.

Ana memicingkan matanya dengan raut wajah yang serius, lalu berjalan ke wikipedia untuk mencari tahu tentang biografi negara ini—negara Texas.

Saat sedang sibuk membaca dari atas hingga ke bawah, dirinya mendapati informasi dimensions negara Texas yang tidak asing bagi kode angkanya. Gadis itu kemudian mencoba mencocokkan dan ternyata hasilnya sama persis.

Sekarang dia paham. Angka 1,289 mengartikan sebuah panjang. 1,244 mengartikan lebarnya, 520 adalah ketinggian, lalu yang terakhir merupakan titik tertingginya yaitu 2.667,4. Dimensions ini persis dengan yang ada di botol kaca.

Ana kembali teringat dengan mimpinya di tempat ketiga saat bertemu Richard. Di sana bernuansa koboy. Bukankah itu sangat amat menggambarkan Texas? Sungguh tak terduga bahwa hasilnya membawa dirinya menuju negara Texas.

Ana hening sejenak memikirkan bahwa apa dia harus ke sana atau tidak.

Gadis itu menggelengkan kepalanya. Pikirnya dia sudah gila. Mana bisa dirinya ke Texas lalu sampai di sana hanya planga plongo tanpa tujuan yang jelas.

Tetapi saat memikirkan hal itu, Ana tertawa kencang dengan alis yang bertautan. "Apa-apaan ini. Aku pikir memecahkan kode dan teori akan serumit dan sesusah di film-film. Tapi ternyata hanya dengan sekali ketikan, aku sudah bisa menyimpulkannya dengan mudah." Ana tampak meremehkan pekerjaan yang baru saja ia lakukan. Kemudian, raut wajahnya berganti dengan ekspresi cemberut yang mendramatisir wajahnya.

"Sepertinya Tuhan sangat sadar akan batas kemampuan otakku. Itulah mengapa tantangan memecahkan kodenya sesederhana itu."

...----------------...

Cheltenham Bournside School

Sekarang sudah waktunya pulang sekolah. Ana bersama para sahabatnya saat ini sedang berkumpul sambil bergosip ria di bangku panjang yang menghadap ke parkiran sekolah.

"Apa aktivitas kalian saat liburan kemarin?" tanya Soni membuka percakapan.

Alinskie tertawa lalu menyikut rusuk Soni dengan kuat. "Tentu saja tidur. Apalagi."

"Sialan, sakit banget," rintih Soni. Lelaki jangkung itu memberikan tatapan membunuhnya pada Alinskie yang malah bersikap tidak peduli.

Ana hanya menggelengkan kepala melihat tingkah dua sahabatnya itu. "Kalau aku kemarin habis jadi detektif bohongan," tukas Ana sambil tersenyum mengingat aksinya kemarin.

"Aku sibuk menemani bibiku membeli perlengkapan bayi," timpal Grafel, "bibiku hamil lagi, entah ini anak yang keberapa," lanjutnya dengan keluhan.

Grafel berbalik menatap Angelia yang sedang menatap bunga mawar di depannya. "Bagaimana denganmu, Angelia?" tanya Grafel.

"Tidak ada," jawabnya sambil menoleh pada Grafel dan kawan-kawan. Seperti biasa, apa yang kau harapkan dari Angelia?

"Ngomong-ngomong, Ana. Apa kau tidak ingin membawa masalah penerormu ke ranah hukum? Seperti melapor pada polisi," tanya Alinskie yang sekarang mengubah raut wajahnya menjadi serius.

Soni menyambar. "Kau gila! Kenapa tidak bilang dari kemarin?!"

"Kau yang gila! Aku, 'kan baru kepikiran sekarang!"

Soni tak menghiraukan Alinskie dan berbalik menatap Ana. "Jadi, bagaimana menurutmu?"

Grafel menganggukkan kepalanya cepat. Pertanyaannya sama dengan Soni.

Ana mengembuskan napas pelan. Sedikit menjeda kalimat yang akan dikeluarkan karena memikirkan sesuatu.

"Kalau misalnya masalah ini dibawa ke ranah hukum, itu akan semakin memper-rumit keadaan. Karena yang pertama, peneror itu sepertinya bukan orang yang biasa. Aku merasa peneror tersebut bekerja untuk orang lain yang pengaruhnya setara dengan pemerintah." Ana teringat bahwa masalah ini bahkan terbawa ke mimpinya. Itu artinya ini bukan jenis masalah yang bisa diselesaikan kepolisian.

Bahkan mungkin jika dia beberkan secara rinci pada polisi, sudah pasti akan ditertawakan karena dianggap ceritanya tidak masuk akal. Selain itu kepolisian di negaranya juga suka setengah-setengah jika melaksanakan tugas.

"... dan yang kedua, masalah ini rumit. Jadi biar aku saja yang memikirkannya. Kalian tak perlu cemas," lanjut Ana lagi.

"Hidupmu rumit sekali ya, Ana," ungkap Soni sambil melirik ke atas langit yang luas.

"Benar ... entah apa salahmu hingga diteror seperti ini," ujar Alinskie menatap Ana iba.

"Jika kau butuh bantuan, katakan saja. Jangan terlalu memaksakan dirimu. Ingatlah bahwa kami selalu ada bersamamu." Grafel tersenyum tulus setelah mengatakan itu, lalu merangkul Ana. Sedangkan Ana hanya mengangguk yakin pada mereka semua.

Jauh di dalam lubuk hatinya berkata bahwa sebenarnya dia cukup bersenang-senang dan terkesan santai terhadap masalahnya ini. Lagi-lagi sikap labil itu muncul. Sudah biasa bagi diri Ana. Dirinya menganggap bahwa dia sedang berada dalam sebuah permainan film yang skenarionya ditulis oleh Tuhan.

"Aku rasa ini tidak seru," kata Angelia secara tiba-tiba.

Soni berbalik. "Hey, kau masih waras? Maksudmu tidak seru jika tak melibatkan kepolisian, begitu?"

Angelia mengangguk. "Iya."

Alinskie menepuk punggung Angelia dengan raut masam. "Dasar kau ini."

Bersambung...

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!