Bear Day

Ana memandang jalanan lewat kaca mobil dengan perasaan gelisah. Ia sedang merasa takut akan kenyataan baru yang akan dilihatnya malam ini.

Taksi yang ditumpanginya tanpa sadar sudah berhenti. Itu artinya, Ana telah sampai di alamat rumah Dawson yang diberitahu Alexander sore tadi. Tanpa berlama-lama Ana segera bergegas turun setelah membayar sopir taksi tersebut kemudian membuka ponselnya, sekadar mengecek jam yang ternyata sudah menunjukkan pukul tujuh malam. Gadis itu lalu mengamati sekitar rumah Dawson. Letak rumahnya ternyata tidak jauh dari kampus dan ada di sisi hutan McLane.

Ana kembali fokus pada pekarangan rumah Dawson yang lumayan luas. Beruntungnya, pagar yang mengelilingi rumah ini hanyalah pagar kayu yang di cat cokelat gelap, tinggi pagar itu juga hanya sebatas pinggang orang dewasa. Tanpa membuang waktu lagi Ana segera memanjat dan pergi ke samping rumah Dawson sambil mengendap-endap. Tingkahnya saat ini sudah persis seperti seorang pencuri.

Salah satu jendela berpintu dua yang terbuka mengalihkan perhatian Ana. Gadis itu lalu mengintip dan betapa terkejutnya dia saat melihat sosok Carnolius.

Mata Ana berkelebat, jantungnya berdebar sangat kencang. Bagian bawah kaos yang dikenakannya sudah menjadi pelampiasan amarah dari remasan tangan Ana yang begitu kuat.

Dasar orang-orang licik! makinya dalam hati.

Ana segera menajamkan pendengarannya saat melihat Carnolius mulai bercengkerama dengan seorang pria tua.

"Aku tahu bagaimana rasanya memegang dua pekerjaan sekaligus," kata Carnolius.

"Oh, jangan mengadu nasib seperti ini. Kau tahu sendiri seberapa keras aku meneliti perusahaan itu," ucap si pria tua tadi.

Carnolius tertawa. "Baiklah, ngomong-ngomong apa keponakanmu tidak ingin menemuiku, Frederico?" tanyanya.

Ternyata pria tua itu adalah Frederico bill dan dia adalah pamannya Martin, yang benar saja!? Ana benar-benar tak habis pikir. Seorang paman dan keponakan bekerja sama untuk menghabisi dirinya.

Frederico membuka botol kaca tequila dan menuangkannya masing-masing ke dalam dua gelas kecil. "Dia tak bisa karena sedang sibuk mengurus cabang baru. Kita berdua yang akan menyusulnya ke Kota Valley Mills."

Carnolius mengambil satu gelas berisi tequila tersebut lalu bertanya, "apa besok?"

"Tidak, tapi minggu depan. Lagian aku masih ingin mendengar kabar buruk bocah itu dari Dawson." Tawa Frederico seketika pecah.

Melihat hal itu membuat Ana mengepalkan kedua buku jarinya. Percakapan kedua pria tadi juga sudah terdengar samar akibat si gadis yang sudah tenggelam akan amarah. Ana lalu segera pergi dari rumah Dawson secara diam-diam dan memesan taksi untuk segera pulang ke asrama. Selama perjalanan pulang, Ana terus berusaha agar tak meneteskan air matanya. Ia begitu kecewa dan sakit hati. Semua orang yang dianggapnya tulus ternyata diam-diam ingin membuatnya menderita.

...----------------...

Siang hari yang cerah dan terik matahari yang panas membuat Ana enggan untuk beraktivitas. Gadis itu saat ini sedang bersantai menikmati es krim mochi sambil memandang ke arah luar jendela kamarnya.

Tak lama kemudian, Alyssa, Chloe dan Beatrix datang dan mengagetkan Ana dari arah belakang. Sayangnya, Ana tak terkejut sama sekali dan membuat ketiga gadis itu merengut sebal. Melihat hal itu membuat Ana tertawa geli.

"Ada apa kalian bertiga ke sini?" tanya Ana membuka percakapan.

"Kami ingin mengajakmu ke mall berbelanja baju," sahut Beatrix yang diangguki setuju oleh Alyssa.

Ana menaikkan sebelah alisnya. "Apakah akan ada pesta atau semacamnya?"

Chloe menepuk keningnya dan berkata, "oh, Ana ... jangan bilang kau lupa kalau besok malam akan ada konser di kampus kita."

Sontak Ana membulatkan kedua matanya. Gadis itu baru ingat kalau besok adalah hari libur Universitas Baylor, yang disebut 'diadeloso' atau hari beruang. Pada hari tersebut semua kelas akan dibatalkan sehingga para siswa dapat menonton dan berpartisipasi dalam turnamen atletik, juga menghadiri konser gratis.

Dalam sekejap Ana melupakan segala penderitaannya dan tersenyum lebar. Gadis itu sangat menantikan hari beruang di kampusnya. Apalagi setelah tahu bahwa band rock favoritnya—Muse—akan tampil besok malam.

Alyssa ikut tersenyum saat melihat wajah Ana yang berseri. "Ikutlah, Ana. Dawson dan kakakku juga akan ikut berbelanja dengan kita," katanya.

Seketika senyum Ana sirna begitu saja ketika mendengar nama Dawson disebutkan. Karena tidak ingin mengecewakan ketiga temannya dan merasa tidak enak jika menolak, Ana hanya mengangguk pasrah dan mengiyakan ajakan mereka.

...----------------...

Dawson terus mengganggu Ana selama mereka berbelanja di salah satu toko baju yang ada di dalam pusat perbelanjaan. Teman-teman Ana yang melihat itu menganggap bahwa Dawson hanya menggoda Ana saja. Sedangkan Ana segera mengambil asal baju atasan dan langsung pergi melangkah ke kasir. Gadis itu sangat risih dengan kehadiran Dawson. Di matanya, lelaki itu ingin membunuhnya secara perlahan. Tapi, di mata teman-temannya lelaki itu justru seperti menaruh perasaan pada Ana.

Saat mereka semua selesai membeli baju dan menunggu pesanan di kedai es krim, Alyssa maju ke samping Ana dan menyikut lengannya.

"Aku yakin Dawson menyukaimu. Kalian harus berpacaran," kata Alyssa sambil berbisik.

Ana justru merasa kesal dan memilih untuk diam saat melihat wajah tengil Alyssa yang menggodanya.

Seandainya kau tahu bahwa dia itu mantanku yang brengsek, Aly, ungkap Ana dalam hati.

"Kalian berempat ... jangan lupa untuk menonton aku dan Dawson di pertandingan baseball besok siang," ucap Alexander sambil memberikan Ana es krim pesanannya.

Chloe menyaut, "tentu saja, kami akan mendukungmu!"

"Tim baseball Baylor tidak pernah mengecewakan," tukas Beatrix. Alyssa membenarkan dengan mengangguk antusias.

Di sisi lain, Dawson yang memperhatikan adegan Ana tersenyum sambil menerima es krim dari Alexander hanya berdecih pelan, entah kenapa dia tiba-tiba merasa jengkel pada laki-laki itu. Dawson kemudian melangkah maju dan dengan sengaja menyenggol lengan Ana yang membuat es krimnya terjatuh di atas lantai.

"Kau pasti sengaja, 'kan? Dasar jahat!" teriak Ana.

"Jangan menuduh orang sembarangan," balas Dawson dengan tatapan tajam yang menusuk.

"Sudah-sudah ... aku bisa pesankan lagi untukmu," ujar Alexander dengan lembut.

Darah mendesir merangkak naik di wajah Dawson. Kali ini lelaki itu benar-benar ingin meninju wajah Alex. Sedangkan Alyssa, Chloe, dan Beatrix hanya saling bertatapan tanpa arti. Mereka sangat bingung dengan situasi saat ini.

...----------------...

Suara jeritan penonton di stadion Baylor ballpark bergema riuh. Akhirnya hari yang ditunggu telah tiba. Hari beruang merupakan salah satu momen paling penting dan bersejarah bagi setiap orang di kampus ini. Ribuan penonton tumpah ruah bergabung menjadi satu. Nyanyian yel-yel tiap masing-masing tim saling bersautan, membanggakan tim kesayangan mereka.

Stadion olahraga tersebut berbentuk lingkaran dengan kapasitas lima ribu bangku penonton. Di tengahnya terdapat lapangan baseball berbentuk bujur sangkar, dengan base yang terletak di tiga sudut dan jarak antara base satu dengan base lainnya sekitar dua puluh delapan meter.

Kedua tim yang akan bertanding berjalan memasuki lapangan. Suara riuh penonton semakin terdengar meneriakkan pemain idola, termasuk Chloe dan Beatrix yang tengah meneriakkan nama Alexander dengan begitu lantangnya.

Di dalam lapangan, kedua tim tengah mengambil posisi masing-masing. Tim Broflakes—tim Dawson dan Alexander—bertindak sebagai tim pemain atau batter sedangkan lawannya, tim Agullas bertindak sebagai tim pelempar.

Di tengah lapangan, Alexander terlihat sedang meregangkan urat-urat lehernya yang sedikit kaku. Tangan kanannya terkulai di samping tubuhnya sambil memegang tongkat bisbol atau bat yang terbuat dari logam. Hingga akhirnya pertandingan dimulai, sang pitcher menatap Alexander tajam seraya menyunggingkan seringai dan melirik catcher di belakang Alexander yang tengah memberikan instruksi dan strategi dengan bahasa isyarat.

Alexander melebarkan kakinya, memasang kuda-kuda dan mengangkat bat sejajar dengan bahunya. Telinganya berusaha meredam semua jeritan dan sorak sorai penonton, berkonsentrasi penuh menajamkan penglihatannya pada pitcher yang tengah memutar bola di belakang tubuhnya. Sang pitcher lalu melempar bola sekencang dan secermat mungkin ke arah Alexander yang langsung disergap Alexander dengan pukulannya yang sangat keras, mengakibatkan bola melambung tinggi di daerah infield. Dengan cepat, Alexander berlari ke arah base demi base, menginjak satu persatu base secara berurutan, berlawanan arah jarum jam dan kembali lagi ke arah home plat dan mencetak run pertama untuk tim Broflakes.

Sorak sorai pendukung Broflakes membahana di sepenjuru stadion, meneriakkan nama Alexander dan Broflakes berulang kali.

"Wow ... Alex sangat cepat," gumam Ana terperangah melihat kecepatan Alex yang melewati base demi base.

"Itu kelebihannya. Kakakku memiliki kemampuan berlari yang sangat luar biasa," jawab Alyssa dengan bangga.

Tim Broflakes bermain sangat kuat. Dari semua batter, hanya satu orang yang gagal mencapai home plat dikarenakan tim Agullas yang bergerak sangat luwes hingga bola kembali dilemparkan mengenai tubuh sang batter. Pada saat tim Broflakes bertukar tempat menjadi pelempar di mana Dawson yang berjaga menjadi infielder, terlihat sekali wajah para pemain tim Agullas menjadi pucat dan sangat cemas.

Siapa yang tidak mengenal Dawson, infielder tercepat yang masuk ke tim inti baseball dari tim Broflakes. Dan benar saja pada saat batter telah memukul bola dan berusaha berlari menuju base pertama, Dawson telah lebih dulu melesat cepat menangkap bola dan melemparnya dengan sangat kencang pada pemain first baseman. Dari kesekian batter tim Agullas, hanya tiga orang yang berhasil mencetak run.

Pertandingan berjalan semakin sengit hingga mencapai inning ke sembilan dengan tim Broflakes yang sementara berhasil memimpin pertandingan. Suara penonton terdengar semakin lantang tatkala Dawson menjadi batter terakhir, pitcher menatap Dawson sengit dan rahang yang mengeras yang dibalas Dawson dengan senyuman angkuh dan mengejeknya.

Mata Dawson melirik sekilas ke arah bangku penonton, melihat Ana yang juga sedang menatapnya. Melihat wajah Ana yang tanpa sadar tersenyum padanya seolah membangkitkan sisi liar dan jiwa muda yang menggelora dalam dirinya.

Fokusnya kembali pada sang pitcher yang melempar bola dengan sangat kencang dan akurat. Seperti gerakan slowmotion, bola tersebut seolah bergerak sangat lambat ke arahnya yang langsung saja ditangkis dengan bat miliknya dengan sangat keras hingga bola melambung tinggi dan—

"HOME RUN!" teriak sang pemandu pertandingan, yang diimbangi dengan teriakan kemenangan para pendukung tim Broflakes. Chloe dan Beatrix bahkan meloncat-loncat kegirangan dan saling berpelukan.

Tanpa sadar Ana menyunggingkan senyum penuh bangganya pada anggota tim Broflakes yang sedang bersorak sembari mengangkat tubuh Dawson. Dan, dengan senyum penuh kemenangan Dawson pun juga menatap Ana. Seketika pandangan mereka berdua beradu selama beberapa detik dan diputuskan oleh Ana saat Chloe dan Beatrix menyambar memeluk gadis itu.

Bersambung...

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!