M.A.M

Pagi hari pukul tujuh lewat tiga puluh, Ana terlihat sedang memasangkan dasi berwarna biru tua pada kerah bajunya lalu mengambil almamater sekolahnya yang berwarna hitam. Setelah itu ia turun ke bawah dimana keluarganya juga tengah bersiap-siap untuk melakukan aktivitas sehari-hari.

Hari ini Ana sudah masuk sekolah setelah berada di rumah selama dua hari.

Setelah turun, terlihat Loi yang sedang sarapan havermut sebelum ke kantor, lalu ada Adrieto yang sedang menyantap roti gandum dengan selai kacang—sambil mengerjakan pekerjaan kantor di laptopnya yang tertunda—, serta Laetitia yang sedang memotong sayuran.

Semuanya terlihat sibuk dengan urusan masing-masing.

Ana bergegas menuju ke meja makan lalu mulai menyantap sarapannya. Dia memutuskan untuk mengambil havermut karena ingin ikutan kakaknya.

Laetitia yang sedang memasukkan kotak bekal berwarna oranye ke dalam tas Ana menoleh. "Makan roti saja, Ana. Jangan mengikuti kakakmu, dia sedang diet," kata Laetitia menasihati.

"Tidak apa, Bu. Aku sengaja makan havermut karena Soni bilang akan membawakan shepherd's pie buatannya." Ana mengucapkannya sebelum menegak susu hingga tandas.

"Yasudah kalau begitu, hati-hati dan jaga dirimu baik-baik." Laetitia mengecup kening Ana lalu memberikan ransel berwarna hitam milik Ana.

Setelah Ana dan Loi pamit pada kedua orang tuanya, mereka segera berangkat dengan Loi yang membawa mobil. Tidak ada percakapan selama perjalanan itu.

Ana lalu memutuskan untuk memulai percakapan. Menghela napas panjang lalu menghembuskannya, setelah itu merenggangkan otot-otot badannya dan menoleh pada Loi yang ternyata risih melihat tingkah Ana.

"Kapan aku bisa bawa mobilku sendiri? Aku juga ingin belajar bawa mobil, soalnya aku malas bertemu wajahmu tiap hari."

Mendengar hal itu, Loi menatap Ana dengan tatapan membunuh. Kalimat yang cukup efektif membuat emosi di pagi hari yang cerah.

"Tidak bisa. Apa kau lupa? Bagaimana jika nanti kau sedang mengendarai mobil lalu si peneror malah merusak mobilmu? Uangnya akan terbuang percuma." Loi tertawa satiris pada Ana.

Sedangkan orang yang ditertawakan hanya merenggut sebal. Bisa-bisanya Loi lebih memikirkan keburukan yang terjadi pada kendaraan dibanding nyawanya.

...----------------...

Kini mereka sudah sampai di depan gerbang sekolah. Ana melepas sabuk pengaman yang mengunci badannya, lalu keluar dari dalam mobil memasuki area sekolah.

Ana melihat sekeliling halaman sekolahnya dan mendapati Soni, Alinskie, Angelia serta Grafel yang ternyata telah menunggu dirinya.

Gadis itu segera berlari kepada mereka dan memeluk sahabatnya satu persatu. Padahal mereka baru tidak bertemu dua hari, tapi rasanya seperti tidak bertemu selama dua tahun.

"Akhirnya kau datang juga. Aku sangat merindukanmu," sahut Alinskie yang diangguki setuju oleh Grafel dan Angelia.

Ana hanya tersenyum sambil memasang cengirannya.

Soni menyodorkan kotak bekal berwarna biru pada Ana. "Seperti janjiku di pesan, aku membuatkanmu shepherd's pie spesial untuk sarapan," katanya dengan memperagakan chef's kiss.

Soni memang yang terbaik dalam urusan masak memasak.

"Wahhh ... terima kasih, kau yang terbaik. Yasudah, aku ke kelas duluan, ya. Mau makan," ucap Ana lalu segera masuk menuju ke kelas meninggalkan mereka semua yang tengah menatap cengo dirinya.

...----------------...

Jam dinding di kelas menunjukkan angka tiga lewat lima belas, yang itu artinya anak-anak sekolah Cheltenham telah menyelesaikan semua pelajaran untuk hari ini.

Ana segera membereskan buku biologi yang tebalnya bukan main. Beserta alat tulis yang lain ke dalam tasnya, dan segera berlalu keluar kelas menemui para sahabatnya. Mereka mengobrol dan bercanda tawa bersama selama berjalan di koridor sekolah menuju halaman parkir.

Selama mereka mengobrol, entah kenapa Ana selalu merasa risih pada tanggapan yang dikeluarkan oleh Angelia. Gadis itu benar-benar seperti batu. Orang-orang berpikir jika Angelia itu sosok tsundere. Tapi menurutnya, Angelia adalah sosok yang sangat misterius dan sangat terencana.

Ana juga sebenarnya merasa bingung. Bagaimana bisa Angelia hidup dengan ekspresi datar seperti itu. Ana pun bahkan sempat bertanya-tanya bahwa apakah sahabatnya yang lain juga merasakan hal yang sama atau hanya dia saja.

Saat sudah sampai di parkiran sekolah mereka berpisah. Angelia duluan menuju gerbang sekolah lalu setelahnya dia menghilang entah kemana. Alinskie yang menumpang di mobil Soni, dan Grafel yang bergabung bersama rekan kerja kelompoknya menuju kafe terdekat. Tersisa Ana yang masih menunggu jemputan kakaknya.

Saat Ana sedang mengamati sekitar secara acak, tidak sengaja dia menangkap sosok Martin berdiri sambil menelepon seseorang di depan mobilnya yang berada ... 'Sedang apa dia di depan gerbang sekolahku?!'

Martin kemudian menangkap basah Ana yang tengah memperhatikannya dari kejauhan. Pria itu memberikan senyum manisnya sambil melambaikan tangan menyuruh Ana menghampirinya. Jujur saja Ana malas, dia berpikir bahwa Martin lah yang harus menghampirinya karena dia yang perlu. Tapi lelaki itu malah setia menunggu Ana. Jadi dengan terpaksa, Ana lah yang mengalah.

Saat sampai di hadapannya, Ana cukup tercengang sebentar karena baru menyadari satu fakta bahwa Martin rupanya sangat tinggi. Tingginya sekitar 1,89 m.

"Ha–hai, kita bertemu lagi. Kau ada perlu apa di depan sekolahku?" tanya Ana sekadar basa basi.

"Aku ada perlu denganmu, Ana–leigh?" jawabnya ragu-ragu.

"Tunggu ... tahu dari mana aku bersekolah di Cheltenham?" Ana merinding saat membayangkan Martin menjadi stalker jahat.

"Kau lupa saat kita bertemu di jalan waktu itu? Seragam yang kau kenakan adalah seragam sekolah ini. Dan aku lupa bilang bahwa aku juga dulu bersekolah di sini."

"Ah ... maafkan aku." Ana jadi merasa bersalah karena sempat membayangkan Martin menjadi orang jahat.

Penampilan Martin hari ini sangat segar. Ia memakai setelan kemeja berwarna xanadu. Terlihat sangat tampan dan menawan seperti biasanya.

'Apakah Martin menyukai sesuatu yang berhubungan dengan hijau? Karena setelannya dari kemarin serba hijau,' batin Ana penasaran.

"Ngomong-ngomong kau ada perlu apa denganku?" tanya Ana.

"Ini...." Martin menyodorkan sebuah kartu. Terdapat tulisan M.A.M corporation di pojok atas kartu. Ana menerimanya dengan baik tapi wajahnya terlihat bingung.

"Kartu nama perusahaanku. Besok malam aku ingin mengajakmu ke pesta hari jadi perusahaan yang ke delapan. Aku harap kau bersedia menjadi pendampingku," ucapnya dengan lugas.

Ana merasa terkejut. Bukan tanpa sebab, masalahnya mereka baru bertemu tapi dirinya langsung diundang dan dijadikan pasangannya pula. Mimpi apa Ana semalam.

"Kau yakin? Memangnya kau tidak punya pacar atau istri?" tanya Ana yang malah membuat Martin tertawa terbahak-bahak. Awalnya Ana memang merasa kesal. Tetapi tidak jadi karena tawa Martin membawa aura yang positif. Bahkan dalam situasi seperti ini pun, gadis itu bisa menjadi plin plan.

"Kau ini ... apa kau tak bisa memikirkannya? Jika aku sudah punya pacar atau istri, aku tidak akan memintamu untuk mendampingiku." Martin lalu tertawa lagi. Perut pria itu benar-benar seperti dikocok karena Ana yang terlampau jujur dan polos. Padahal bagi Ana, pertanyaannya biasa-biasa saja.

"Kenapa tidak dengan kenalanmu yang lain saja? Kenapa harus aku. Kita baru saja bertemu," tanya Ana lagi yang masih merasa kurang puas dengan jawaban Martin.

Pria itu kembali bersikap tenang. "Entahlah ... aku hanya ingin kau yang mendampingi. Apa kau takut aku berbuat jahat? Aku tidak seperti itu, aku bisa menjamin. Kau bisa mencari tahu informasi mengenai diriku lewat kartu yang tadi kuberikan." Ekspresinya berubah sangat serius saat menatap Ana tepat pada matanya.

Ana menatap kembali kartu perusahaan yang berada di genggamannya. 'Sepertinya dia memang jujur, aku tidak melihat hal yang mencurigakan.' Pikirnya dalam hati.

Pada akhirnya Ana mengangguk samar dan menerima ajakan Martin. Gadis itu membuat sosok Martin tersenyum bahagia. "Besok aku akan menjemputmu di rumah, kau bisa mengirimiku pesan lewat nomor ponselku yang sudah kutulis di belakang kartu, agar aku bisa menyimpan nomormu. Dan, tenang saja kita tidak pulang larut malam."

Ana tersenyum lalu mengangguk.

"Kalau begitu aku permisi dulu. See you tomorrow night, Ana." Setelah mengatakan itu, Martin segera masuk ke dalam mobil sedan hitam miliknya dan menjauh dari halaman sekolah.

Mendengar kalimat terakhirnya seketika membuat hati Ana berbunga-bunga. Gadis itu merasakan gelenyar aneh di perutnya, lalu rona merah muda perlahan memenuhi pipinya.

'Tapi, dia datang ke sini hanya untuk mengatakan itu?' Ana pikir Martin ingin sekalian mengantarnya pulang. Bukannya ia halu atau terlalu percaya diri. Namun, menurut Ana tampangnya tadi dan maksud kedatangannya itu yang seperti ingin menjemput seseorang. Salahkah jika Ana merasa sedikit tersinggung atas kepulangan Martin begitu saja.

Ana menarik napas pelan. Gadis itu berpikir mungkin Martin memang ada keperluan yang sangat penting. Ia tak mempedulikan lebih lanjut.

Ana kembali ke parkiran tempatnya tadi menunggu. Dan ternyata, di sana sudah ada Loi yang berkacak pinggang di samping mobil sambil menyesap kopi kaleng. Loi memandangi Ana dengan tampang mencemooh.

"Tolong kau jangan kumat lagi," ungkap Ana yang sepertinya sudah tahu jelas ejekan seperti apa yang akan dilontarkan Loi kali ini.

"Wow, Ana. Incaranmu sekarang yang ber-uang ya hihihi." Setelah mengatakan itu, Loi segera berlari masuk ke dalam mobil.

"ARGHHH DASAR SIALAN!"

...----------------...

Saat Martin baru sampai di rumah besar miliknya, Ia bergegas menuju dapur dan menegak segelas air putih untuk menghilangkan rasa haus. Setelah itu dia mengisi gelas air yang kosong tadi hingga penuh, lalu menuju ke salah satu ruangan yang bernuansa sacramento dipadukan dengan warna putih.

Terlihat ada seorang gadis remaja berusia sekitar lima belas tahun dengan kulit putih bersih, rambut hitam sepinggang, memakai gaun sederhana berwarna putih tulang yang sedang menikmati makanannya dengan tenang.

Setelah meneguk air putih yang Martin bawa dari dapur, Martin menghampiri gadis itu dan mendaratkan bokongnya di kursi depan meja tersebut.

"Jadi, apa yang seharian ini kau lakukan?"

"Seperti biasa. Aktivitas rutin," jawab gadis itu lalu memasukkan satu buah ceri ke dalam mulutnya.

Martin tersenyum sangat tipis. "Maksudku ketika di rumah ... apa yang kau lakukan?"

"Aku menghabiskan waktuku di lab mu. Mempelajari struktur atom, setelah itu ke sini untuk makan," jawab gadis itu seadanya.

"Apa kau kesulitan dalam mempelajarinya?"

"Tidak juga. Aku hanya kurang memahami saja karena konsepnya yang abstrak dan kompleks sehingga membutuhkan pemahaman yang mendalam untuk mempelajarinya. Kalau kau bagaimana?"

Martin tersenyum. "Kau tahu ... aku sangat senang sekali hari ini. Aku bertemu dengan gadis cantik sepertimu."

Gadis itu mengangguk-angguk sambil menatap datar pria di depannya yang wajahnya sudah seperti kepiting rebus. "Aku tahu, sangat terlihat dari rona merah di wajahmu itu. Jika ayah senang, aku juga senang." Sesudah mengatakan itu, gadis tersebut berjalan menuju samping tempat tidurnya.

Martin masih tersenyum sambil menatap gadis di depannya ini. Pria itu mengusap kepalanya dengan sayang lalu mengecup keningnya singkat. "Kau harus istirahat setelah hari yang melelahkan." Sesudah itu Martin keluar dari dalam kamar dan kembali menuju ke kantor alias perusahaannya. Sedangkan gadis tadi sudah terlelap dalam tidurnya.

Bersambung...

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!