Ana will Wander

Tahun 2016 - Kota Gloucester, Inggris

Terik sinar matahari begitu menyengat. Riuh jalanan salah satu county di Inggris selalu ramai setiap harinya. Tapi entah kenapa, akhir-akhir ini Gloucester muram, bau wangi hujan atau hangat mentari terasa tidak lagi sama. Semua berubah, atmosfernya berbeda.

Sudah satu tahun serangkaian peristiwa buruk menimpa Ana. Dan, dalam kurun waktu satu tahun itu, nyawa orang-orang yang tersayang pergi satu persatu.

Ana saat ini sedang berada di salah satu kafe di Gloucester, kafe Brimble's. Itu adalah tempat yang dulunya sering dijadikan sebagai tempat berkumpul Ana dengan para sahabatnya.

Ana menyesap espresso macchiato miliknya. Walaupun asap kecil masih mengepul pada lingkaran cangkir kopi itu, dirinya tidak peduli. Panas yang menjalar di lidahnya tak seberapa dengan panas yang menjalar di pikiran serta hatinya.

Gadis itu memilih duduk di ujung dekat jendela sambil menikmati indahnya kafe bernuansa abad ke-19 ini, dengan sesekali menyesap kopinya. Setidaknya gadis itu masih diberi kesempatan untuk ke tempat ini, sebelum ia pergi meninggalkan kota dengan beberapa kenangan buruk di dalamnya.

Tiba-tiba suara deringan ponsel menandakan adanya panggilan masuk membuyarkan lamunan Ana. Nama 'Loi' tertulis jelas di atas benda tipis persegi panjang itu.

"Ada apa meneleponku, Kak?" ujar Ana tanpa basa basi.

"Kau masih di kafe itu? Jangan berlama-lama dan segeralah pulang ke rumah. Kita akan membahas mengenai kuliahmu ke kota Waco di Texas."

"Apakah kampusnya sudah ditentukan?"

"Iya, Universitas Baylor. Kau hanya tinggal mengurus dokumenmu."

"Aku segera ke sana." Panggilan pun terputus.

Ana segera menegak espresso macchiato miliknya yang masih banyak dan berusaha menahan hawa panas yang menjalar di tenggorokannya.

TRIINGG~

Bunyi lonceng pintu kafe berdenting nyaring saat Ana melewati pintu keluar untuk pulang.

Gadis itu mengendarai sepeda miliknya. Karena jarak antara kafe ke rumahnya tidak terlalu jauh, sekitar 1,1 km. Hanya memerlukan waktu sekitar delapan menit untuk sampai ke rumah.

...----------------...

"Akhirnya kau sampai juga," ujar Loi yang membuat Ana terkejut saat akan berbalik menyimpan sepatunya. "Ayo, ke ruang keluarga."

Ana mendahului Loi menuju ruang keluarga dan di sana sudah terdapat Adrieto dan Laetitia.

"Apa kau yakin ingin kuliah di Waco, Nak?" tanya Laetitia setelah Ana dan Loi mendaratkan bokongnya di atas sofa ruang keluarga.

Ana lalu tersenyum dan mengangguk. Dia tahu bahwa orang tuanya belum siap berpisah jauh dengan dirinya. Secara Ana dan Loi tidak pernah pergi keluar dari Inggris sebelumnya, kecuali ke Kota Edinburgh. Itupun masih bersama kedua orang tua.

Sejak kecil, Ana dan Loi juga tidak pernah bersekolah di luar kota Gloucester. Kakaknya Loi bahkan menyelesaikan pendidikannya dan bekerja di kota ini juga. Loi menghabiskan separuh hidupnya untuk kota Gloucester. Sisanya untuk kacang rebus.

Adrieto menghela napasnya sebentar lalu memberikan paspor serta dokumen-dokumen yang mungkin akan diperlukan oleh Ana.

Ana tak perlu membuat paspor karena dia sudah memilikinya saat akan ke Skotlandia empat tahun yang lalu. Dia hanya perlu memperpanjang masa berlaku paspornya. Setidaknya beban Ana berkurang sedikit. Sedangkan untuk visa, sedang diuruskan oleh Loi dari seminggu yang lalu dan masih dalam proses pengerjaan. Mungkin dalam waktu satu bulan akan selesai dan itu di bulan depan.

Itu artinya, Ana hanya tinggal mengirim dokumen-dokumennya secara lengkap dan segala persiapan untuk ke Universitas Baylor.

"Oh, ya, aku akan tinggal di mana nanti?" Bisa-bisanya Ana lupa akan hidup di mana jika sudah sampai di sana.

Kali ini Adrieto yang bertanya. "Kamu sendiri ingin masuk asrama atau memilih tinggal sendiri di apartemen dekat kampus?"

"Hei! Aku menyarankan lebih baik kau masuk asrama saja, untuk menghindari hal buruk yang terjadi. Kau tahu maksudku, 'kan?"

Ana mengangguk. Loi ada benarnya juga. Dia lebih baik masuk asrama dibanding hidup sendiri di apartemen. Bisa-bisa si peneror gila akan semakin leluasa menghantui hidupnya.

"Aku masuk asrama saja, Ayah," ucap Ana dengan lugas.

Adrieto pun mengangguk. "Kalau begitu, kau akan masuk asrama Heritage House...," Adrieto menyesap kopinya sebelum melanjutkan, "... fasilitas di sana juga sangat memadai dan bagus. Kau akan merasa nyaman tinggal di sana. Asramanya juga memiliki banyak kegiatan menarik. Berusahalah membaur dan jangan terlalu memberatkan pikiranmu."

"Baik, Ayah. Terima kasih atas bantuannya."

"Berterima kasih juga pada kakakmu. Dia sampai mengambil cuti untuk membantumu, loh." Laetitia tersenyum penuh arti pada Ana.

Loi yang merasa terpanggil pun segera mengalihkan pandangan ke arah Ana dan menaik-turunkan kedua alisnya berulang-ulang.

"Terima kasih juga atas bantuanmu, Kak," jawab Ana pada akhirnya.

Loi mengangkat kedua jempolnya, sedangkan Laetitia malah terkikik geli melihat tingkah kedua anaknya yang tak kunjung dewasa.

...----------------...

Saat ini, Ana sedang berada di rumah Grafel. Salah satu sahabatnya yang tersisa.

Dia ke rumah Grafel untuk berpamitan. Bukan untuk selamanya tapi hanya untuk sementara. Sebelumnya dia juga sudah pergi bertemu Angelia di kafe Brimble's pagi tadi. Hanya saja, momen berpamitan mereka cuma sebentar dikarenakan Angelia yang banyak urusan. Angelia akan berangkat ke Norwegia malam ini dan akan langsung melamar kerja saat sampai di sana.

"Aku akan pergi jauh dari keluarga yang mungkin kusebut keluargaku, Ana." Ucapan Angelia barusan membuat Ana tertegun.

Sejak kapan Angelia jadi berekspresi seperti ini?

"Apa maksudmu, aku tidak mengerti."

Angelia tersenyum. "Bukan masalah. Aku ingin pergi jauh dari keluargaku, aku ingin memulai hidup baru. Dan, mungkin kita tak akan pernah bertemu lagi."

Ana membulatkan kedua matanya. Entah kenapa tiba-tiba dia ingin menangis. Hatinya serasa teriris, sebab orang-orang dekatnya kian menjauh meninggalkannya.

"Kenapa begitu? Apa aku ada salah padamu?" ucap Ana mulai parau. Ana memang tidak punya salah pada Angelia, tapi hati nurani gadis itulah yang punya banyak dosa terhadap gadis ini. Karena Ana sering memendam rasa benci terhadap Angelia akibat sifat dinginnya itu.

"Tidak sama sekali, Ana. Kalaupun ada, itu adalah salahku bukan salahmu."

"Bicaramu semakin tidak jelas saja, aku tidak mengerti apa yang sedang kau bicarakan."

Rasanya Ana lebih suka dengan Angelia yang pendiam seperti robot dibanding yang banyak bicara.

Angelia tertawa. "Kalau begitu aku pamit sekarang. Aku akan menghubungi Grafel jika sudah sampai di rumah."

Ana tertegun sekali lagi.

"Pelukan terakhir, Sahabat?" Angelia merentangkan kedua tangannya pada Ana.

"Ya, pelukan terakhir ..., Sahabat."

Mereka berdua pun berpelukan untuk terakhir kalinya.

"Ini, minumlah." Grafel tiba-tiba datang dan membawa minuman dingin dari lantai bawah.

Ana mengambil satu minuman dingin itu dan meneguknya. "Kau akan kuliah di mana, Fel?" tanya Ana.

"Aku akan kuliah di Glasgow," jawab Grafel sambil membuka sekaleng soda.

Ana menarik napas panjang lalu mengembuskannya. Saat ini mereka berdua tengah berbaring di balkon kamar Grafel dengan masing-masing minuman dingin di tangan.

"Entah kenapa, aku merasa hidupku semakin suram saja. Banyak yang datang dan pergi begitu saja dengan akhir yang mengerikan maupun menyedihkan. Tidak ada yang pergi dengan akhir yang sempurna." Ana berbalik pada Grafel sesaat setelah mengatakan itu. "Tinggal kau saja sahabatku saat ini, Fel. Kuharap kau pergi dengan akhir yang sempurna itu."

Grafel tersenyum tipis. "Kau tahu, Ana. Di dunia ini tidak ada akhir yang sempurna seperti yang kau inginkan. Tidak ada akhir yang bahagia, hanya ada akhir yang selamanya menjadi misteri."

Ana mengangguk lalu bangkit dan duduk di samping Grafel yang masih berbaring. "Aku jadi rindu pada Soni dan Alinskie."

"Aku juga."

Grafel turut bangkit dan memposisikan dirinya di samping Ana. "Aku ingin membicarakan sesuatu."

"Apa itu?" jawab Ana yang diselimuti rasa ingin tahu.

"Waktu pesta prom night sekolah kita kau tidak datang, benar?"

Ana mengangguk.

"Di hari pengambilan ijazah pun kau tak datang, 'kan?"

Ana mengangguk lagi.

"Asal kau mau tahu saja ..., selama kau tidak datang ke sekolah Richard datang ke sekolah."

Ana membulatkan kedua matanya, dia terkejut. Mantan pacarnya datang ke sekolah setelah keluar dari sana dan memutuskannya begitu saja?

"Apa yang dia lakukan di sana?" Ana benar-benar penasaran kali ini.

"Dia hanya berkeliling di sekolah, melihat-lihat, dan semacamnya. Aku pikir dia ingin bernostalgia atau apalah itu. Tapi ..., ada yang aneh."

Ana mengangkat satu alisnya ke atas.

"Dia seperti hilang ingatan. Dia bahkan tidak mengenal kawan lamanya bahkan tidak tahu tentangmu saat aku dan teman-teman yang lain memberitahunya. Dia bertindak seperti orang lain, dia bukan Richard yang kami kenal, Ana." Grafel merasa frustrasi sendiri dibuatnya.

"Mungkin saja dia habis kecelakaan dan amnesia," jawab Ana dengan santai.

Grafel membuka mulutnya setelah mendengar penuturan Ana. Dia rasa Ana punya dendam pribadi pada Richard.

"Tidak, masalahnya adalah dia tahu wajahmu, namamu, tapi tak mengingat kau siapanya dan bagaimana kau dengannya dulu. Begitu juga dengan kami, hanya mengingat nama dan wajah. Dia bahkan menanyakan apa Alinskie dan Soni benar-benar meninggal atau tidak."

Ana terdiam dan matanya menatap lurus ke depan. Menurutnya hal itu sangat mencurigakan. Sudah banyak hal aneh yang terjadi dalam hidupnya selama ini.

"Grafel ..., aku takut."

"Apa yang kau takutkan? Anggap saja yang kubicarakan barusan itu hanya angin lalu."

"Bukan itu. Tapi, aku takut ada hal buruk yang terjadi padamu, pada keluargaku, pada kita semua." Ana menggigit bibir bawahnya dengan cemas.

Grafel menggeleng kuat dan memeluk Ana. "Itu tidak akan terjadi. Berharaplah akan semua yang terbaik dan kau akan baik-baik saja. Percayalah."

Ana tersenyum miris. "Aku sudah tidak sanggup berharap lagi."

Grafel melepaskan pelukannya dan memegang kedua bahu Ana. "Tapi harapan itu ada, masa depan itu nyata. Aku akan selalu berusaha ada buatmu karena kau itu berharga."

Ucapan Grafel yang tulus itu membuat Ana menangis dalam eratnya persahabatan.

...----------------...

Sore hari yang mencekam karena hari sudah mulai gelap dan Ana berjalan sendirian di sunyinya perjalanan pulang.

Beberapa menit telah berlalu dan hari semakin gelap saja. Ana yakin sekali waktu sudah menunjukkan pukul tujuh malam karena hawanya semakin dingin. Gadis itu memeluk dirinya sendiri sambil berjalan kaki.

Ana merutuki dirinya karena menolak tawaran Grafel untuk diantar pulang oleh supirnya. Gadis itu lebih memilih untuk berjalan kaki dengan alasan bahwa rumahnya tidak jauh dari rumah Grafel.

Tak lama kemudian, cahaya silau dari depan menghalangi pandangannya. Rupanya cahaya silau itu berasal dari lampu depan mobil seseorang.

Tanpa Ana sangka, mobil tersebut berhenti di depannya dan pemiliknya keluar dari dalam mobil.

Pemilik mobil itu adalah Martin.

'Mungkin kami berjodoh,' ucap Ana dalam hati.

Ana menggelengkan kepalanya. Pemikirannya yang tidak biasa itu muncul lagi.

"Apa yang kau lakukan malam-malam begini?" Martin menghampiri Ana dan memasangkan sebuah mantel hangat pada punggung gadis itu.

"Itu ..., aku habis dari rumah sahabatku. Kami keasikan mengobrol," jawab Ana dengan kikuk.

"Ayo, masuklah. Biar aku antar kau pulang."

Ana hanya mengangguk dan masuk ke dalam mobil disusul oleh Martin.

......................

"Kau merasa kedinginan? Apa perlu kumatikan AC-nya?" tanya Martin saat mereka sudah berada di dalam mobil menuju rumah Ana.

Ana menggeleng cepat. "Jangan, justru aku akan merasa kepanasan."

Martin tertawa. "Baiklah."

"Ngomong-ngomong, apa kau sudah memutuskan akan kuliah di mana?" tanya Martin mengganti topik percakapan.

"Aku akan kuliah di Universitas Baylor. Aku sisa mengurus kepergianku ke sana."

"Baylor, ya. Itu berarti kau akan ke Waco, Texas?" tanya Martin lagi.

Ana mengangguk sebagai jawaban.

"Kebetulan sekali ..., aku juga akan ke sana bulan depan," gumam pria itu.

Ana melotot tidak percaya. "Kau serius?! Aku juga akan berangkat bulan depan. Apa tujuanmu ke sana?"

"Aku berencana membuka cabang perusahaanku di Waco dan Valley Mills. Itu adalah wilayah yang cocok. Mungkin aku ke sana di akhir bulan." Setelah mengatakan itu, Martin terlihat berpikir sebentar. "Bagaimana kalau kita berangkat bersama saja?"

Bagi Ana, sebenarnya itu ide yang bagus. Lagipula hanya Martin yang dia kenal di Waco ... untuk sekarang.

"Boleh saja," jawab Ana kemudian.

Martin mengangguk antusias. Raut wajah pria itu terlihat sangat senang karena dirasa kesempatan untuk dekat dengan Ana semakin banyak.

Bersambung...

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!